by

JANGAN MEREGUK SEMARA DALAM BUANA MAYA

JANGAN MEREGUK SEMARA DALAM BUANA MAYA

Oleh:

Ervina Emma Wardani

Hiruk-pikuk yang terpilin dari beberapa ragam bahana manusia, yang singgah di salah satu kedai kopi di pinggir jalan asyik hilir-mudik, hingga bermuara pada sepasang gendang telinga saya, juga kidung yang alunan nada maupun lirik dalam saban lariknya teramat familier—sebuah kidung yang acapkali memestaporakan malam tatkala saya hendak mengatupkan kedua pelupuk netra.

Pancaran kerlap-kerlip yang berasal dari jajaran lampu yang menghiasi tepi jalanan seakan mengundang Batari Candra, yang hanya mengepulkan aram temaram agar menghadiri sebuah pergulatan, sebagai penentu siapa yang pantas mencengkam padmasana atas afsun gemerlap malam kali ini. B

erkelainan dengan mahligai yang berdiri kokoh di hamparan kalbu saya, ia tidak perlu lagi turut andil dalam pagelaran semacam itu sebab padmasana atas debar jantung saya suah menemukan sang pemenang. Duh, memikirkan hal itu saja sanggup mencipta sekuntum askar candra pada tapak roman saya yang dibarengi buaian detak hingga detik-detik persona, yang duduk di kadera sebelah saya membuyarkan lamunan yang suah tercipta.

“Sedari tadi, aku memergokimu sedang asyik senyum-senyum sendiri. Apakah aku perlu mengantarmu ke rumah sakit sebab aku merasa bahwa kamu sudah kehilangan kewarasan, La?”

Sepasang netra saya berkalih merenung roman persona yang bahana berasal darinya suah menginterupsi lamunan saya. Dia ialah teman teramung yang suah memafhumi segenap seluk-beluk yang termaktub dalam diri saya, termasuk ihwal sang pemenang. Dia memiliki perawakan selira bak tiang listrik yang bertengger di depan gerha saya dengan rambut berwarna hitam pegam.

Jikalau saya berdiri di sampingnya, niscaya jemala saya sekadar kuasa bersejajar dengan lengan atasnya—belum mencapai pundaknya yang mahabesar. Bisa ditafsirkan, saya ialah kurcaci, sedang dia ialah raksasa dengan tampang yang cukup rupawan. Agaknya penuturan saya dibenarkan oleh semesta sebab kulitnya yang bersampul sawo matang seakan berpinar.

“La ….” Dia memanggil asma saya sambi membumikan salah satu telapak tangan pada dahi saya lalu melanjutkan perkataannya. “Ah, kamu pun tidak sedang demam.”

Tidak perlu menunggu lama, salah satu tangan saya segera saja menampik tangannya yang bersarang pada roman saya. Kemudian, saya melontarkan sebuah protes. “Kamu mengganggu saja. Lagi pula, saya memang tidak demam, apalagi tidak waras. Saya masih seratus persen waras, ya.”

Dia menganggukkan jemala berkali-kali sambi berujar, “Kalau begitu, kamu pasti sedang memikirkan dia lagi. Memang berbeda, ya?”

Saya mencipta kerut-merut pada dahi sebab saya tidak memafhumi kalimat terakhir yang dituturkan olehnya. “Apa yang kamu maksud dengan berbeda?”

Baca Juga  Bayi Merah dalam Gendongan

Dia menjawab dengan lugas. “Orang yang sedang dimabuk kepayang oleh semara.”

Sekuntum askar candra yang menyingsing pada roman saya suah membenarkan perkataannya meski tidak ada bahana yang berasal dari mulut saya menyahut. Akan tetapi, askar candra tersebut tidak sanggup bertahan terlalu lama sebab kedua netra saya sedang menangkap roman sosok yang sedari tadi bercengkerama dengan saya berubah—entah mengapa menjadi serius.

“Berapa lama, La?”

Saya membisu sejenak, memikirkan hari-hari yang suah saya lewati bersama sosok yang sedang kami bahas. Setelah itu, saya menjawab, “Kalau berkenalan, mungkin sudah menyentuh enam bulan, tetapi kalau menjalin hubungan, masih berjalan sekitar tiga bulan. Kenapa memang?”

“Tidak apa-apa. Hanya saja aku sebagai teman masa kanak-kanakmu ingin berkata jujur kepadamu. Agaknya kamu ….”

“Terima kasih, ya. Kalau begitu, saya hendak pulang terlebih dahulu sebab kantuk sudah mulai bersemayam dalam sepasang pelupuk netra saya. Kamu tidak perlu mengantar saya,” ujar saya sambi menepuk pelan pundaknya.

Sesampainya saya di beranda gerha, saya segera menatih derap langkah ke arah bilik kamar lalu menggantungkan jaket yang suah saya pakai ke gantungan yang bernaung di lemari di bagian sudut kamar. Setelah itu, saya merebahkan diri ke ranjang guna memanjakan selira dan jemala saya yang hampir saja bertonase melebihi kapasitas. Tatkala saya hendak memejamkan kedua netra saya, indra pendengaran saya tiba-tiba menangkap bahana dering ponsel sehingga salah satu tangan saya menyambar ponsel yang tergeletak di meja dekat ranjang.

“Halo,” sapa saya tanpa menilik asma yang terpatri di layar ponsel.

“La, kamu sudah pulang?”

Bahana itu ….

Tatkala kedua gendang telinga saya menerima bahana yang kerap mencipta gejolak-gejolak di dasar palung kalbu saya, sepasang pelupuk netra saya yang sebelumnya hendak terpejam tiba-tiba saja merengkah, seperti kusuma Prunus serrulata yang mekar di musim semi. Setelah itu, saya pun menjawab pertanyaan yang melontar dari mulutnya di seberang ponsel. “Iya. Saya baru saja hendak mengatupkan kedua pelupuk netra saya,  Ra, tetapi dering ponsel mencegahnya.”

“Kalau begitu, aku akan menutup teleponnya. Kamu segera tidur, ya? Maafkan aku sebab aku sudah mengganggu tidurmu.”

Dalam rentang beberapa detik, saya menjawab, “Eh, tidak usah, Ra. Lagi pula, saya ingin mendengar bahanamu terlebih dahulu.”

“Agaknya kamu sedang ada masalah, ya?”

“Saya sedang tidak ada masalah. Hanya saja ada seperangkat pergumulan yang baru saja tercipta dalam benak saya, tetapi saya baik-baik saja.”

Baca Juga  Kala Manis Tak Seindah Madu

“Perihal apa, La? Kamu tidak usah terlalu membebankan benakmu dengan pikiran-pikiran yang bersarang di dalamnya, ya? Kamu harus mengasihani jemalamu sesekali.”

Ya …, seperti biasa. Penuturan darinya yang bermuara pada gendang telinga saya selalu saja menyiratkan bahwasanya temali aksara yang keluar dari mulutnya mengandung sukrosa. Tidak bermaksud menyinggung, tetapi manis madu yang tercipta dari alai-belai madukara berada di kasta yang terletak di bawah kasta penuturannya. Entah sudah berapa kali askar candra melengkung pada tapak roman saya dalam sehari ini. Semua itu disebabkan oleh persona yang sama—persona yang sedang bercengkerama dengan saya melangkaui ponsel.

Dia pun berujar lagi sebab saya tidak kunjung memberikan respons. “La? Apakah kamu masih di sana?”

“Saya masih di sini, Ra,” jawab saya sambi terkekeh pelan.

“Aku pikir kamu sudah terlelap.”

Sepasang gendang telinga saya menangkap gelegak tawanya yang membarengi bahana kekeh saya lalu saya berkata, “Ra, saya hendak meneroka ke pelataran mimpi. Bolehkah saya meminta sesuatu darimu?”

“Tentu boleh, Sayang.”

“Saya ingin mendengarmu menyanyikan kidung yang berjudul Karena Kamu Cuma Satu, seperti biasa,” ujar saya sambi merengkuh guling yang tergeletak di samping saya.

            “Kalau aku menyanyikan kidung itu, kamu malah tidak bisa tertidur nanti.”

“Saya menginginkan kidung tersebut, Ra.”

“Baiklah, Sayang. Namun, sebelum itu, aku juga hendak meminta tolong kepadamu. Saat pagi nanti, aku memintamu untuk membangunkanku sebab aku rindu, teramat rindu dengan keabsurdanmu. Rasanya sudah lama sekali kamu tidak membangunkanku dengan mengirim puluhan pesan yang sebagian besar malah diisi gombalan pantun. Penulis memang berbeda, ya. Namun, aku suka membaca aksara-aksara darimu yang berjajar sangat panjang mengalahi kereta api sebab entah mengapa kamu malah terlihat semakin menggemaskan,” ucapnya yang lagi-lagi sanggup menstimulasi gelegak tawa saya.

Denganmu semua air mata menjadi teman suka ria,

akankah kau selalu ada menemani dalam suka duka?

Denganmu aku bahagia, denganmu semua ceria,

janganlah kau berpaling dariku karena kamu cuma satu untukku.

Keesokan hari, saya mengirimkan pesan sesuai permintaan dengan jumlah yang mungkin mencapai 65 pesan, juga spam telepon yang hanya berakhir tanpa jawaban satu pun. Sebelumnya, saya berpikir hal itu ialah hal yang wajar. Akan tetapi, saat jarum jam yang bersemayam di salah satu dinding bilik kamar sudah menunjukkan pukul satu siang, berbagai pergumulan dalam benak saya mulai bergejolak, termasuk kelebat-kelebat yang hanya dihuni oleh pikiran-pikiran kurang baik. Berbagai perasaan pun mulai menampakkan diri di depan bilik-bilik kalbu saya: khawatir, cemas, kecewa, maupun takut.

Baca Juga  TENTANG AKU DAN WAKTU

Segenap keporak-porandaan yang suah tercipta semakin menggelora, tatkala kedua retina saya merekam denting jam yang berdetak sembilan kali. Batari Candra yang bertakhta di mahligai bumantara bermandikan kilau hitam sabak pun suah menilik sedari tadi. Akan tetapi, belum ada satu pun balasan dari sang pemenang yang termaktub dalam kotak pesan saya hingga satu hari berkalih.

Satu bulan.

Dua bulan.

Tiga bulan.

Satu tahun berkalih.

Dia suah hirap di antara kepulan harap yang saya titip padanya. Dia benar-benar hirap bak ditelan bentala, begitu pun semua akun media sosialnya.

Benak saya acapkali berusaha mengulik segenap memoar yang suah kami cipta dahulu, tetapi nihil. Tidak ada satu pun hal yang mungkin saja menjadi alasan di balik kepergian persona yang suah mencuri kalbu saya tanpa mengembalikannya terlebih dahulu. Saya malah menemukan ingatan ihwal sekelebat bahana, yang merupa nasihat yang sesungguhnya suah saya kebumikan secara paksa dahulu. Bukan dari sang pemenang, melainkan  ….

“Agaknya kamu jangan semakin memperdalam rasamu kepadanya, jangan terlalu jatuh untuknya, sebab dia masih bisa meninggalkanmu kapan saja. Sebaik apa pun lelaki, tidak akan pernah ada sosok yang bertahan dengan seorang perempuan tanpa bertatap muka. Sebagian besar lelaki pasti lebih memilih seseorang yang bisa membersamai tanpa sebuah palang berupa layar ponsel. Aku pun seperti itu. Aku lebih memilih seseorang yang bisa menemaniku saat berkendara, menonton film di bioskop yang terletak di ujung kota, meminum kopi di salah satu kedai seperti yang kita lakukan sekarang, membaca buku bersama di perpustakaan kota, atau mungkin hal-hal sederhana, seperti mendengarkan kidung dengan saling berbagi earphone. Bukan bermaksud suuzan, tetapi aku tidak mau kamu berakhir di dalam kungkungan lara, La.”

Kini, saya memafhumi bahwasanya perkataan teman semasa kanak-kanak saya ialah sebuah bainah, begitu pun jalinan aksara yang menghiasi sebuah potret yang suah saya temukan dahulu di salah satu timeline media sosial.

Apa yang bisa diharapkan dari sosok virtual?

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment