by

Istana Kaisar

Istana Kaisar

Oleh:

Hervianna Artha

Sepasang kaki jenjang Kamila yang pagi itu terbalut celana training tiga per empat akhirnya berhenti menapak. Kepayahan selama satu jam melewati jalan tanjakan berbatu tidak menyirnakan keceriaan di wajahnya. Sepatu sport yang dikenakannya pasti telah meredam lelah di kakinya dengan baik.

“Sar, aku datang. Kamu di mana? Tidakkan kamu ingin menyambutku?” bisik Kamila penuh rindu. Dia kini berdiri di depan gerbang rumah besar berdinding batu. Diakui Kamila, aura kemegahan rumah berlantai dua yang terlihat dari balik gerbang itu tidak lagi sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Namun, sosok menjulangnya cukup membangkitkan kenangan yang sebenarnya selalu segar.

“Sungguh ini rumahmu?! Tak kusangka ada bangunan sebesar dan seindah ini di puncak bukit. Laksana dongeng. Menurutku, ini bukan rumah! Ini istana! ISTANA KAISAR! Istanamu! Kamu setuju, bukan?” Celotehan riang terus meluncur dari bibir Kamila.

Untuk kesekian kalinya, Kaisar mengagumi semangat yang dimiliki gadis berusia 18 tahun yang terkenal dengan lesung pipi dan rambut kepang sepinggangnya itu. Dengan semangat itu pulalah dia tadi bersikeras mengantarkan Kaisar sampai ke rumah. Ketika Kamila mulai terengah-engah menuntun sepeda mininya di pertengahan jalan yang terus menanjak, Kaisar malah tersenyum diam-diam. “Pipi chubby-mu sangat menggemaskan, Kamila.” Suara hati Kaisar itu tentu saja tidak pernah sampai ke telinga Kamila.

Semangat dan harapan Kaisar tidak pernah bermimpi untuk memiliki dua hal itu. Penyakit bawaan yang dideritanya sejak kecil telah memupuskan harapannya untuk sembuh. Ketiadaan harapan untuk sembuh akibat vonis beberapa dokter membuat semangat hidupnya hilang.

Namun, dunianya yang gelap seketika meluncur ke arah cahaya ketika Kamila masuk ke dalam kelasnya dan memperkenalkan diri sebagai murid baru. Jantung Kaisar berdegup tidak biasa. Tubuhnya menghangat, bukan karena demam.

Sepanjang hari itu, Kaisar merasa tubuh dan pikirannya memperoleh infus energi. Energi tersebut cukup untuk memberi senyum terhangatnya kepada Kamila, juga menawarinya bekal makan siang. Sesederhana itulah awal mula persahabatan mereka yang kemudian terjalin hingga hampir tiga tahun lamanya.

Kamila masih belum puas mengagumi keindahan “Istana Kaisar” dengan matanya. Ketika menyadari Kaisar tengah memandanginya dari bangku taman, Kamila mengusir jengah dengan lekas-lekas berkata, “Jangan salah paham. Aku hanya melakukan kewajiban sebagai sahabatmu. Jika tidak kuantar pulang, lalu kamu pingsan lagi seperti di sekolah tadi, siapa yang akan menolongmu? Jadi, tidak ada alasan khusus aku melakukan mmm… ‘kebaikan’ tadi.” Keheningan yang diterima dari lawan bicaranya membuat Kamila terpaksa berpura-pura sibuk memasang standar sepedanya.

Baca Juga  Aku Bukan Anak Durhaka

“Omong-omong… kamu sadar atau tidak? Jalan menuju rumahmu serupa dengan hutan. Aku tidak melihat rumah lain sejak awal jalan menanjak tadi. Di kiri-kanan penuh semak belukar.” Kamila kini duduk di sebelah Kaisar. Ketampanan di wajah pucat Kaisar semakin mendebarkan jika dilihat dari jarak dekat. Kamila sering menyandingkannya dengan patung batu yang terpahat sempurna.

“Aku belum pernah menceritakan kepadamu, ya? Ayahku seorang arsitek. Dia yang merancang dan mengawasi pembangunan rumah ini.” Kaisar akhirnya berbicara. Kamila lega. Tidak lucu jika dirinya sendiri yang terus berbicara. “Kata ayahku, suasana seperti di sinilah yang menginspirasi karya-karyanya. Jadi, sejak kecil aku sudah terbiasa hidup tanpa tetangga. Selain itu, udara segar di sini baik untuk orang yang berpenyakitan sepertiku.”

Untuk menepis nuansa pesimis dari ucapan Kaisar, Kamila mengeraskan suara bicaranya. “Di sekitar sini pasti gelap sekali pada saat malam hari. Kamu tidak takut?”

“Kamila, sejak aku dapat bernalar, hanya kematianlah yang terus mengejar dan menakutiku. Kegelapan?” Kaisar memberi jeda pada ucapannya. “Barangkali dialah yang akan menjadi satu-satunya sahabatku setelah kematian.”

Kamila tidak berani menerjemahkan ucapan Kaisar. Hatinya selalu hancur setiap kali sahabatnya itu berbicara tentang kematian. “Sar… Aku sudah pernah mengatakan kepadamu, bukan? Aku akan berusaha menjadi dokter. Jika Tuhan mengizinkan, dan jika kamu mau, aku akan menjadi dokter yang menyembuhkanmu.”

Kaisar menepuk lembut kedua pipi Kamila dengan kedua telapak tangannya. “Aku akan menunggu saat itu tiba. Berjuanglah, sahabatku sayang.”

Hingga saatnya Kamila pulang, tidak banyak lagi percakapan yang terjadi. Namun, Kamila masih ingat untuk memberikan sesuatu yang sudah seminggu tersimpan di dalam tasnya.

“Hadiah untukmu. Besok ulang tahunmu, bukan?”

Kaisar menerima sesuatu yang dibungkus kertas itu dan segera membukanya. Sehelai kaos biru. Senyumnya mengembang. Dia terlihat bahagia. “Terima kasih, Kamila. Akan kukenakan sehingga kamu bisa memujiku.”

Kamila tersipu mendengar candaan itu. “Happy birthday, Kaisar. Masuk dan beristirahatlah. Aku pulang sekarang.”

Itulah percakapan terakhir mereka. Keesokan harinya, dan pada hari-hari selanjutnya, Kaisar tidak pernah lagi muncul di sekolah. Kata wali kelas, penyakit Kaisar semakin parah. Dia sedang mengalami terapi dan tidak boleh dikunjungi oleh siapa pun.

Kamila tidak menggubris ucapan wali kelasnya. Pada hari itu juga sepulangnya dari sekolah, Kamila nekat datang ke Istana Kaisar. Gerbangnya terkunci. Kamila berteriak berulang kali memanggil nama sahabatnya. Dia sedang tidak peduli pada tata krama sebagai seorang tamu. Akhirnya, ayahnya Kaisar yang datang menemui. Dengan singkat, ayahnya berkata, “Pulanglah, Nak. Jangan temui dia lagi. Biarkan dia beristirahat.”

Baca Juga  Cerpen: Hikayat Duha

Sepuluh tahun kemudian, sama seperti saat itu, Kamila berteriak memanggil Kaisar berulang kali. Dia berharap ayah Kaisar akan keluar menemuinya dan memberitahunya kabar tentang Kaisar. Namun, Kamila segera menghentikan usahanya. Sejak awal, dia sudah tahu apa yang akan dihadapinya. Ditatapinya seluruh pemandangan di depannya dengan raut putus asa. Sebagian atap yang berlubang, daun pintu yang lapuk, dan halaman yang penuh tertutup ilalang, cukup menjadi bukti bahwa rumah itu sudah lama tidak berpenghuni. Artinya, orang yang dirindunya pun tidak ada di situ.

Kenyataan itu sebenarnya sudah diketahui Kamila sejak kemarin dari Ranti. Ranti adalah teman sebangku Kamila di kelas 3 SMA, sekaligus tempatnya berbagi cerita. Keduanya terputus komunikasi setelah lulus SMA. Kamila mengikuti kedua orang tuanya pindah ke kota dan melanjutkan pendidikan di sana. Sedangkan menetap di desa menjadi pilihan Ranti untuk membantu ibunya mengembangkan usaha dagang kuenya.

“Benarkah ini kamu, Kamila?!” Ranti menjerit histeris sembari merentangkan kedua tangan dan melingkarkannya ke tubuh teman SMA-nya itu. Kamila tertawa lepas dan balas melakukan hal yang sama. Keduanya kemudian asyik bertukar cerita di salah satu sudut santai di toko kue keluarga Ranti. Toko kue itu terhitung sangat berkelas untuk standar toko di desa.

“Hebat! Kamu berhasil menjadi dokter! Mulai sekarang, aku akan memanggilmu Dokter Kamila,” Ranti terdengar sangat tulus menyambut cerita kesuksesan sahabatnya.

Kamila menunduk malu. “Yah, kamu tahu… Dialah alasanku menjadi dokter. Jadi aku…” Kamila seolah berbisik ketika mengucapkannya, “…aku ingin berterima kasih kepadanya.”

Ranti langsung tanggap menggodanya. “Aish! Bilang saja kau ingin bertemu dengannya. Apakah laki-laki di kota belum ada yang sanggup menggantikan posisinya di hatimu?”

Kamila ingin menjawab “ya” untuk pertanyaan Ranti, tapi dia memilih untuk mengabaikannya dengan balik bertanya. “Bagaimana kabarnya?” Ketika Ranti tidak memberikan jawaban, Kamila pura-pura merajuk. “Ah, bodohnya aku. Tentu saja kau tidak akan mengetahui kabar orang yang tinggal di tempat terpencil seperti itu. Seharusnya aku langsung ke rumahnya, bukan malah bertanya kepadamu.”

“Bersyukurlah kamu menemuiku terlebih dahulu. Jika tidak, sia-sialah usahamu.”

Rona kemerahan di wajah Kamila meredup. “Apa maksudmu? Apakah dia telah kalah oleh penyakitnya? Atauuu…?”

Baca Juga  Cerpen: Hanya Uang

“Bukan itu maksudku, Dokter Kamila. Beberapa warga desa sempat melihat ayahnya berkendara naik mobil ke luar desa. Mobilnya penuh muatan barang. Tidak terlalu jelas terlihat karena kaca mobilnya gelap. Setelah itu, tidak ada yang melihat ayahnya kembali ke desa ini. Warga menganggapnya sudah pindah dari sini.”

“Kapan?”

“Sekitar lima tahun yang lalu.”

“Menurutmu, Kaisar ikut pindah bersama ayahnya?”

Ranti mengangguk. “Tentu saja. Jika tetap di sini, siapa yang akan menjaganya? Ibunya sudah tidak ada sejak dia masih kecil, bukan?”

Kamila mengangguk tidak kentara. Dia terhanyut dalam berbagai pertanyaan yang muncul bertubi-tubi di kepalanya.

“Jangan khawatir, Dokter. Jika dia jodohmu, kalian pasti akan bertemu. Berharaplah dia sudah dibawa ayahnya ke rumah sakit khusus untuk menjalankan pengobatan. Semoga dia sudah sembuh, dan sekarang sedang sibuk mencarimu.”

“Benarkah begitu?” Kamila ragu dengan pengandaian Ranti. Ada yang mengganjal di hatinya. Maka, Kamila langsung memutuskan untuk datang ke Istana Kaisar esok paginya.


Kali ini Kamila berteriak histeris sembari mengguncang pintu gerbang untuk melampiaskan rasa sesak di dadanya. Tidak ada yang dapat dilakukannya selain berteriak sepuasnya. “Saaar! Besok aku akan kembali ke kotaaa! Tidak dapatkah kita bertemuuu?! Di mana kamuuu?!”

TRANG!

Gembok pintu gerbang yang berkarat terlepas tanpa diduga. Kedua pintunya kini terpentang. Air mata Kamila masih mengalir deras, ketika dia memutuskan untuk melangkah masuk ke halaman rumah yang sudah berubah menjadi sarang aneka serangga.

Derit pintu depan yang dibuka paksa oleh Kamila terdengar gemanya hingga ke lantai dua. Di lantai itulah kamar Kaisar dulu berada. Di dalam kamar yang sekarang gelap dan lembab itu, hanya terlihat satu kasur dan satu kursi. Seandainya Kamila nanti tiba di kamar itu, selembar kertas bertulisan tangan yang sengaja ditinggalkan di sana pasti akan segera terlihat oleh Kamila. Tulisannya pun masih jelas terbaca.

“Jika nyawaku akhirnya terlepas dari ragaku, izinkan aku tetap tinggal di sini, Ayah. Kumohon. Walaupun dia tidak berhasil menyembuhkanku, setidaknya biarkan dia menemukanku.”

Selembar kertas itu tergenggam erat di tulang jemari tengkorak yang mengenakan kaos biru. Posisinya terbaring rapi di atas kasur.

TAMAT

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment