by

Hello, Wendy!

Hello, Wendy!

Oleh:

Sinta Aulia

Aku Wendy. Mungkin saat aku memperkenalkan diri kepada kalian saat ini, kalian semua nggak kenal siapa aku. Yaps, aku emang tidak seterkenal itu untuk dikenal oleh siapa pun orang baru yang pertama kali mendengar namaku.

Dan juga, aku takkan berusaha untuk membuat kalian mengenal siapa aku saat ini. Tapi sebelum itu, aku hanya ingin kalian mendengar cerita yang akan kuceritakan kepada kalian semua.

Dan sebelumnya lagi, izinkan aku memperkenalkan sedikit tentang diriku—terserah, kalian akan mengingatnya di kemudian hari atau tidak. Itu terserah kalian. Pada intinya, namaku adalah—

“Clara Wendy!”

Yeah, itu namaku. Aku menoleh ke belakang, seorang guru wanita tampak berdiri dengan garang. Dia adalah sosok Kepala Sekolah dari tempatku bersekolah. Bergegas saja kuhampiri wanita yang terpaut lima meter jauhnya dariku, sambil membenarkan kacamata bulat—bukan kacamata baca, ataupun minus, melainkan kacamata photochromic untuk gaya-gayaan—yang menggantung di pangkal hidungku.

“Iya, Bu?”

“Itu, di tangan kamu,” ujar wanita gempal itu, sambil menunjuk sebuah cup coffee yang ada di peganganku.

Kulirik minuman di tanganku yang masih tersisa setengah lagi tersebut lalu kembali beralih untuk menatap ke arah wanita berwajah garang itu. “Kenapa?”

“Huft. Yang lain pada puasa, kamu nggak kasihan sama mereka yang lagi puasa setelah lihat kamu minum di depan mereka? Itu lagi,” Wanita itu menunjuk kembali crepes yang tersembunyi di dalam kresek putih yang tergantung di lipatan sikuku, “Simpan. Nanti dimakan saat kamu sudah di tempat sepi.” Lah?

Tanpa ada niatan sama sekali untuk membantah, segera saja aku membungkuk di hadapan sang Kepala Sekolah lalu melenggang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Puasa? Kenapa aku harus peduli pada orang lain? Mereka semua saja bahkan tidak peduli padaku.

Yeah, aku adalah seorang ateis. Dari semua agama resmi di Indonesia, entah kenapa tak ada satupun yang mampu membuatku dapat memercayai adanya keberadaan Tuhan. Tuhan? Persetan. Jika Tuhan ada, lalu apa?

Buktinya, Dia tak pernah ada selama aku meminta untuk ditolong. Lalu, kenapa aku harus percaya bahwa Tuhan itu ada? Bullshit, Wendy. Terdengar munafik, tapi bukan itu intinya.

Awal dari semua ceritaku belum sepenuhnya dimulai. Bahkan belum pernah kumulai hingga detik terakhir kalian membaca kalimat ini hingga titik.

Pada saat kalian membaca bagian ini, itu artinya aku sudah memulainya. Maka, bersiap-siaplah.

Hari itu, aku baru saja pulang dari sekolah, menginjak lantai rumah bobrok milik mendiang ayahku. Saat tiba-tiba saja sebuah pemandangan membuat kakiku berhenti tepat di ambang pintu masuk.

Tapi itu tak mengejutkanku, mengingat Mama sering melakukannya, bahkan setiap hari. Maksudku, kalian pasti paham apa yang sedang kubicarakan, kan? Ya, Mamaku sering mengundang para pria ke rumah untuk diajak minum-minum, atau bahkan bermain judi dan hal yang-mungkin-tak-bisa-kusebutkan-di-sini.

Kulepas sepatuku, menaruhnya ke samping pintu lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Mama menoleh lalu bertanya—tentunya, pria yang merangkulnya juga ikut menoleh ke arahku yang saat ini memasang wajah tanpa ekspresi.

“Itu ada barang, anter,” ujar Mama kepadaku. Aku sejenak melirik ke samping pria yang tersenyum menjijikan ke arahku lalu melengos dan segera menutup pintu kamar.


And here we go. Ingat barang yang tadi disebut oleh Mama? Okay, tanpa kusebut pun kalian akan tahu apa benda berupa serbuk putih yang saat ini terbungkus dalam kresek hitam di genggamanku.

Bersama dengan hoodie hitam yang membalut tubuh mungilku, serta tudung hoodie yang senantiasa menutupi rambutku yang terurai, aku pun mulai melangkah memasuki sebuah klub malam setelah menunjukkan KTP palsu kepada penjaga di depan pintu.

Tanpa membuang waktu, aku pun melangkah masuk, menjelajahi dunia malam yang sudah kesekian kalinya kujejaki hanya untuk mengantar barang yang-kata-orang haram ini.

Setelah mencari selama beberapa saat, tiga orang cowok tampak melirik ke arahku dengan gelagat aneh. Yeah, itu mereka yang kucari. Langsung saja kuhampiri mereka yang saat ini berdiri di pijakan tangga.

Kuberikan bungkusan itu diam-diam, bersamaan dengan itu, salah satu cowok berbaju kotak-kotak merah menyelipkan segepok uang kepadaku. Namun, hal tidak diduga tiba-tiba terjadi. Salah satu dari mereka langsung saja merampas bungkusan itu dengan alis menukik tajam, membuatku lantas terperanjat.

Setelah mengintip isi dari bungkusan yang kubawa itu, tiba-tiba saja ia menoleh ke arahku dengan alis yang semakin menukik tajam.

Kami semua kaget melihat respons itu. Setelah melakukan itu, tanpa diduga sama sekali, cowok itu segera menarik tanganku dan menarikku dengan kasar untuk mengikutinya entah ke mana.

Aku berteriak, di sela langkahnya yang cepat membelah tubuh-tubuh berbusana minim kain tersebut, hingga sampailah kami di belakang area klub. Kusentak tangannya keras-keras lalu berteriak, “WHAT THE HELL?!”

Seet!

Ia tarik maskerku hingga lepas, membuat wajahku seketika tampak di hadapannya. Holy crap!

“Lo anak Bintang Selatan, kan?” tanyanya dengan wajah intens. Aku menatapnya marah.

Tanpa menjawab, kurebut benda itu darinya, tapi cowok itu dengan kilat menjauhkannya dariku tanpa sekali mengalihkan pandangannya dari wajahku.

“Ini apa?” tanyanya. “Lo pengedar?”

“Kenapa lo harus tahu!” tukasku. “Ini bukan urusan lo!”

“Tentu ini urusan gue.” What—? “Gue Ketua OSIS, dan tentu aja ini jadi urusan gue.”

Aku mendelik.

“Apa peduli gue, bangs@t!”

“Gue bilang ini juga urusan gue!” balasnya, tak berteriak kepadaku. Maksudku, dari nada bicaranya tak sama sekali ada niatan untuk menggertak, hanya saja, dari intonasinya barusan terdengar marah tapi seperti marah dengan nada kalem. “Karena lo ngedarnya ke temen gue.”

Baca Juga  Cerpen: Sebab Kamu Hanya Mencintainya

“Itu bukan urusan lo, anjing!”

Cowok itu menatapku tajam dengan durasi yang cukup lama, sebelum ia pun beranjak dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Dalam detik-detik menyebalkan, tanpa kuduga sebelumnya, cowok itu pun membakar bungkusan itu.

Aku membelalak. Belum sempat aku menyelamatkan benda berharga itu, api itu sudah berhasil melahap seluruh isinya tanpa sisa, menyisakan bongkahan plastik yang menyala-nyala, terbakar api, dan jatuh ke tanah.

Aku abstain. Setelahnya, kudorong tubuhnya sambil berteriak, “LO NGAPAIN, HAH?! KENAPA LO NGEBAKAR ITU, BANGS@T! KENAPA!!!” jeritku tidak tertahan, sembari memukuli dadanya. “LO NGGAK TAHU SEBERAPA BERHARGANYA ITU BAGI GUE! LO PIKIR—LO PIKIR TINDAKAN LO BENER? LO PAHLAWAN?”

SHIT.

Aku menangis meraung-raung. Mama takkan pernah memaafkanku. Dan sudah dipastikan lagi, aku akan menderita setelah ini.

“Lo berengsek. Apa sementang lo Ketos jadi lo harus peduli semua murid di sekolah? INI BUKAN SEKOLAH, BAJINGAN!”

“Iya gue tahu—”

“KALO LO TAHU KENAPA LO—”

“Narkoba itu nggak kayak yang lo bayangin, Wendy!”

Wendy? Dia barusan menyebut namaku.

“Saat lo udah terlibat olehnya, nggak ada jalan keluar lagi. Selamanya lo akan terjebak di sana. Lo mau berhenti? Lo nggak bisa. Nggak akan bisa! Entah itu pengedar atau pecandu!”

Sial…

“Gue nggak tahu lo bekerja untuk siapa, tapi adalah urusan gue untuk hentikan lo untuk ngelanjutin kegiatan haram ini!”

“Kenapa lo har—”

“Karena lo muncul di hadapan gue!”

“Kalo seandainya gue nggak muncul di hadapan lo, apa lo nggak bakal ngelakuin hal menjijikan ini ke gue?”

“YA!”

Aku sukses terhenyak. Menatap kedua bola matanya yang menyorot dengan intens.

“Gue nggak kenal sama LO,” tekanku.

“Tapi gue tahu. Lo Clara Wendy, dari kelas 11 IPS 3.”

Aku terpaku. Ada yang mengenalku? Aneh. Mengingat selama ini aku adalah orang buangan yang selalu dilupakan bahwa aku pernah ada.

“Hina,” umpatku. “Lo juga hadir untuk mencaci gue, kan? ENYAH KEPARAT!”

Dan setelahnya, aku pun segera berlari meninggalkan si berengsek Ketua OSIS dua periode itu—seingatku, namanya adalah Muammar Dhiaurrahman, kalau tidak salah, karena saat itu tak sengaja aku lewat dan melihatnya berorasi di panggung dan berkata dia akan bertanggung jawab untuk masa jabatan dua tahunnya. PERSETAN, WEN!


Dan benar saja. Mama langsung meminta uang bayaran kepadaku, dan aku berkata bahwa  tak ada uang bayaran untuk itu. Ini sudah kesekian kalinya, saat Mama melempar wajahku ke bathtube, memukulku dengan kayu, serta mengurungku di gudang penuh tikus.

“ANAK KURANG AJAR! NGGAK GUNA! BODOH! SIA-SIA AJA MAMA NGELAHIRIN KAMU KALAU KAMU NGGAK BECUS BEGINI! MATI AJA KAMU!!!”

Itu segelintir makian dari mulut Mama. Masih banyak lagi yang tak kutulis di sini. Jalang, sampah, benalu. Semuanya. Semua tebakan yang ada di benak kalian, mungkin memang sudah kudengar semua dari bibir Mama.

Aku tergugu di sudut ruangan usai menerima beberapa pukulan di punggung. Garis lebam berwarna merah keunguan tampak di punggungku. Jijik, kuputuskan untuk menutupnya dengan hoodie lalu menjatuhkan wajah di antara lipatan lutut.

Itu semua gara-gara Ketos sialan itu.


Beberapa hari kemudian, aku tiba di sekolah dengan jaket putih yang menutupi sekujur tubuhku. Kudaratkan bokongku di kursi lalu merebahkan kepala di atas meja, merasakan sakit luar biasa yang masih senantiasa melekat di sekujur tubuhku.

Kugigit roti yang kubeli tadi di jalan. Para ular menatap ke arahku, yang tak puasa, dan dengan lancangnya makan di hadapan mereka. Shit, apa peduliku tentang puasa mereka?

Dari arah pintu, kulihat figur seseorang tampak sedang berbicara dengan salah satu ular kelas. Setelahnya, cowok itu menatap ke arahku. Sial, itu si keparat Ketos itu!

Usai itu, ia pun berjalan ke arah mejaku, tapi tak ada niatan sama sekali untukku menatapnya.

“Wendy.” Ia memanggil namaku. Haha, aku bahkan sudah lupa kapan warga sekolah—kecuali guru-guru—memanggil namaku. Dan dia resmi menjadi yang pertama dalam hampir dua tahun.

Terdengar bisik-bisik jahannam yang satu persatu mulai masuk ke indera pendengaranku tatkala Ketos dua periode itu tiba-tiba saja menghampiri mejaku. Apa? Mereka sinis? Takut pangeran mereka direbut oleh sampah sepertiku?

“Gue nyariin loh, lo ke mana aja tiga hari nggak masuk sekolah tanpa kabar?”

“Apa peduli lo?” jawabku, memilih menatap lantai dengan renungan.

“Setelah malam itu.” Ia menjeda. “Terjadi sesuatu, kan?” lanjutnya bertanya.

Hahahaha. Apakah orang cerdas selalu bisa menebak dengan tepat? Tentu saja, Keparat!

“Nggak ada,” tandasku dingin.

Tanpa menatap wajahnya pun aku sudah tahu, wajahnya sarat akan kekhawatiran. Apa? Kenapa ia harus peduli?

“Kak Ammar, kenapa ngobrol sama dia?” tanya seorang ular kelas kepada cowok bernama Ammar itu.

“Ada, kan?” tanyanya lagi. Hei? Si ular pasti malu karena dicueki. Haha.

Aku tak menyahut. Satu detik, dua detik. Hingga lima detik kemudian tanganku diangkat, dan pergelangan tangan hoodieku disibak hingga menampilkan fitur tanganku yang dipenuhi oleh lebam-lebam merah.

Aku refleks menegakkan tubuh. Sementara cowok bernama Ammar itu melotot, dan sedetik kemudian ia segera menurunkan kembali pergelangan hoodieku untuk menutupi pergelangan tanganku yang tampak sangat JELAS di hadapannya.

Kaget. Mungkin itu ekspresi yang dapat mendeskripsikan wajahnya saat ini.

Baca Juga  Seandainya Saja

“Itu… kenapa?” Terdengar seperti repetan.

Hei, aku tidak bertenaga untuk menggertak. Kusentak tangannya lalu beranjak dari kelas.

Tanpa kuduga lagi, cowok itu segera mengikutiku.

“Wendy,” panggilnya.

Aku abai.

“Wendy.” Lagi, ia memanggil, meraih tanganku, namun kusentak sekali lagi.

“WENDY!”

“APA!”

Seisi koridor menoleh. Ah, sialan.

“Tangan lo, itu kenapa?”

“Gue bilang jangan peduli ya jangan peduli! Lo nggak ngerti, KAK AMMAR?”

Kak Ammar terdiam. Ia sepertinya kalem, buktinya suaranya seperti selalu terdengar kalem.

“Gue bertanggungjawab untuk ini. Siapa pun yang ngelakuin ini ke lo, gue yakin dia bukan manusia.”

“Iya, dia anjing.”

“Anjing?”

Aku mendecih tertawa dan menyahut, “Anjing itu adalah Mama gue.”

Entah untuk kali ke berapa, cowok itu kembali terhenyak. Terlihat jelas sekali bahwa ia kehabisan kata-kata.

“Udahlah, gue yakin lo lagi puasa. Lo pasti haus, kan? Percuma debat sama gue, bikin lo haus aja.”

Aku berbalik meninggalkannya, tapi…

“Kenapa?” Nada itu masih terdengar terhenyak. Aku berhenti, tak menoleh. “Kenapa Mama lo ngelakuin itu ke lo? Maksud gue…”

“Ya.” Aku menoleh cepat. “Karena Tuhan itu nggak adil.”

Kulangkahkan kakiku untuk mendekatinya dan menatap fitur wajahnya. “Tuhan? Agama? Apa itu semua ada?”

Aku mendecih.

“Kalau Tuhan itu ada nih ya… dia pasti bertindak adil, kan? Tuhan menciptakan kita sebaik-baiknya? Bullshit.”

Kak Ammar terdiam.

“Dia cuma memihak orang yang menurut Dia pantas untuk dipihak.”

“Jadi sekarang lo menyalahkan Tuhan?” tanya Kak Ammar tanpa diduga.

“Iya!” gertakku. “Karena gue terlahir dari keluarga yang hina. Ayah meninggal karena dibunuh rentenir, lalu meninggalkan seorang ibu yang jalang dan anak yang nggak ada guna? Mau apa lo? Mau komentari hidup gue yang menyalahkan keberadaan Tuhan-Tuhan kalian semua?”

Untuk kali terakhir, Ammar bergeming. Sorotnya menatapku nanar. Oh, shit. Aku benci tatapan itu. Iba, merasa kasihan, apa aku harus selalu mendapatkan tatapan seperti itu?

“Maaf.” Aku terperangah. Maaf? “Maaf karena gue nggak tahu harus bilang apa.”

Sedetik hening. Lalu detik berikutnya, aku mendecih tertawa sambil melengos.

“Lo nggak usah bilang apa-apa, Kak. Gue nggak butuh suara lo untuk menghibur gue.”

“Tapi, maaf untuk kali kedua.” Ia menjeda ucapannya. “Karena harus mengatakan ini.” Apa? “Seperti yang lo bilang tadi, Tuhan menciptakan kita dalam bentuk sebaik-baiknya. Sebut aja Tuhan gue, Allah. Apa yang lo ucapkan nggak salah. Nggak ada yang bullshit, Wen, saat hati lo berkehendak untuk mulai terbuka untuk menyadari keberadaan Tuhan. Tuhan itu adil kepada hambanya, tapi terkadang kita yang sering nggak menyadari itu semua. Karena hati kita, lo, gue, atau kita semua, masih sekeras batu, dan belum sepenuhnya menerima Tuhan.”

Aku mendecih.

“Heh! Wendy!” Aku menoleh ke belakang. Ketua Kelas di kelasku berlari ke arahku berlari menghampiriku, ia pun berkata, “Mama lo.”

Mama? Kenapa dengan wanita jalang itu?

“Mama lo ditemukan meninggal.”

JEDARRR.

Bagai sambaran petir, aku terpaku tanpa bisa berkutik.


Dibunuh, dan ditemukan di dekat tempat sampah di ujung gang. Begitu yang kudengar dari cerita polisi yang mengobrol denganku.

Kulepas helm yang membingkai kepalaku, turun dari motor vespa modern milik Kak Ammar seraya melempar helm miliknya entah ke mana. Bendera kuning tampak menancap di depan rumah. Setelahnya, aku pun berlari masuk ke dalam dan bertemu sapa dengan para tetangga—yang dapat dihitung jari—berada di dalam sana dengan mayat Mama yang ditutup kain putih.

Begitu aku sampai di sana, mereka menghampiriku dan bertanya, “Kami belum bisa melakukan acara doa, karena kami nggak tahu apa agama yang dianut sama Mama kamu, Wendy.” Begitu ucapnya.

Aku yang tak bisa berkata-kata hanya mampu terperangah.

“Agama…” gumamku. “Agama… Mama nggak punya agama.”

Para tetangga bergeming, wajah mereka jelas bingung.

“Lalu, dengan cara apa kami memakamkan beliau?”

Aku… aku nggak tahu…

“Apa harus memakamkan dengan cara agama?” tanyaku.

Pertanyaan retoris. Tampaknya. Buktinya tidak ada yang menyahut.

Pergelangan tanganku disentuh, Kak Ammar berdiri di sampingku. Kutatap kedua matanya dengan nanar. Setelahnya, cowok itu pun beralih menatap tetua di area sekitarku tinggal.

“Tadi kita mau makamkan beliau secara Islam, itu sebabnya kita nunggu Nak Wendy datang dulu.”

“Gimana?” tanya Kak Ammar, menatapku. Aku menatapnya nanar. Apa? “Lo mau Mama lo dimakamkan secara Islam?”

“Hah?” Aku tak mengerti sama sekali, sumpah.

“Mama lo harus dimakamkan, Wen. Kasihan beliau kalau menunggu terlalu lama.”

Aku menangis. Tapi Kak Ammar segera memegang pundakku seraya menguatkan, ia dekatkan wajahnya dan berkata, “Nggak apa-apa. Nggak apa-apa.”

Aku mengangguk, setelah yakin dengan keputusanku barusan. Kak Ammar mengangguk lalu beralih menatap tetua, “Silakan dimakamkan dengan cara Islam, Pak.”

“Baik.”

Dan setelahnya… kalian tahu kan apa yang terjadi? Bagaimana pemakaman dalam cara Islam. Aku tak tahu, ini menyayat hatiku. Setelah semua selesai, Kak Ammar menyuruhku duduk di samping Mama. Dan cowok itu pun duduk di sampingku, meraih sebuah buku dan membukanya.

“Ini yasin,” ujarnya. “Kita harus antar Mama lo dengan cara yang paling indah.”

Aku hanya mampu menatap wajahnya tanpa berkata-kata. Cara paling indah? Benarkah?

Kak Ammar tersenyum tipis ke arahku lalu mulai membaca buku itu dengan suaranya yang… ehm, indah, mungkin?

Aku tak ingat kapan pernah mendengar bacaan indah seperti ini. Tapi percayalah, kegentaran memenuhi relung dadaku sekarang. Seolah lantunan ayat-ayat itu mampu membuat ruang yang lebar di hatiku. Tenang, sekaligus indah di saat yang bersamaan.

Baca Juga  Ibu

Beberapa menit kemudian, Kak Ammar selesai membaca. Ia tutup buku itu lalu menatapku dan berkata, “Ini bulan ramadhan, Wen. Bulan paling baik, dan semua berkah-Nya ada pada bulan ini. Dan lo tahu? Mama lo meninggal di bulan ini, bulan yang paling baik. Gue yakin, Allah pasti tempatkan Mama lo di tempat terbaik yang Dia punya.”

Aku menatapnya nanar. Benarkah itu, Kak Ammar?

“Tapi Mama penuh dosa.”

“Heh?” ujar Kak Ammar, kalem. “Kita manusia nggak tahu seberapa besar dosa seseorang itu, begitu juga lo, juga gue. Cuma Allah yang tahu. Ingat, Wen, Tuhan itu maha pengampun. Cuma dia yang tahu seberapa besar dosa seseorang. Dan kita cuma bisa berdoa kepada-Nya. Berharap pengampunan dan ridho-Nya. Kamu paham?”

Aku mengangguk, lalu langsung menghambur ke dalam pelukan hangat cowok itu.


Beberapa hari kemudian, aku kembali ke sekolah. Berkat bantuan Kak Ammar, aku berhasil meyakinkan diri untuk bangkit kembali. Sepulang sekolahnya, aku ajak cowok itu untuk berkeliling sebentar, sekaligus mengatakan bahwa ada sesuatu hal yang ingin kukatakan padanya.

“Makasih,” ujarku sembari menyambut dua mangkuk batagor, duduk di sampingnya dan memberikan satu mangkuk kepadanya yang sudah duduk menghadap indahnya pemandangan danau bersama dengan pancaran sinar oranye yang menerpa wajah putihnya.

“Makasih,” ujarnya dengan senyum.

Aku balas tersenyum, “Iya.”

Kuambil sesendok batagor, menyuapnya.

“Eh? Kok nggak dimakan?” tanyaku begitu melihat mangkuk itu hanya tergeletak di sampingnya.

Kak Ammar tersenyum kalem, “Belum buka puasa, Wen.”

“Oh, iya. Lupa. Maaf, Kak.”

Kak Ammar tersenyum lagi dan lagi.

Setelahnya hening.

“Kak.”

“Ya? Eh, udah buka, gue buka dulu, ya?” ujarnya. Aku mengangguk sebentar dengan senyum. Setelah membaca doa, ia pun menyuap batagornya. “Nggak ada minum, ya?” tanyanya.

“Eh?”

Kak Ammar melebarkan senyum, amat sangat lebar sampai-sampai membuatku lantai terikut tersenyum.

“Ah!” seruku sambil memukul pundaknya. “Nanti deh, makan dulu, ya? Tahan bentar, hahaha!”

 Tawa pertamaku.

“Oke, oke!” Ia tergelak pelan.

Hening setelahnya.

“Eh, tadi lo mau ngomong apa?”

Aku kembali gugup.

“Mmm…” Kuturunkan mangkuk batagorku lalu berdeham pelan, sambil menatap kedua matanya dengan serius. “Mmm… ajari gue Islam.”

Kak Ammar berhenti mengunyah. Ia tampak kaget, sekilas.

“Hah?”

“Ajari gue Islam, Kak Ammar.”

Kulebarkan senyumku, seraya meyakinkan cowok itu sekali lagi, bahwa aku ingin berubah. Aku ingin mengenal Tuhan, dan aku ingin menjadi orang baik. Cukuplah sampai Mama yang tidak tahu akan keberadaan Tuhan sampai akhir hidupnya, tidak denganku. Aku ingin berubah.


Mungkin bagi sebagian orang, seorang ateis itu terlalu kukuh. Sepertiku contohnya. Berkat kematian Mama dan kehadiran seorang Kak Ammar, seperti menyadarkanku akan satu hal. Aku harus punya Tuhan untuk berpegangan. Kumulai semuanya dari awal, sholat, lalu puasa di bulan ramadhan yang hanya tersisa empat hari lagi ini. Itu semua dibantu oleh Kak Ammar. Dan sekali lagi, Kak Ammar. Sebagai lenteraku menuju ke jalan-Nya.


Empat hariku puasa di bulan ramadhan berhasil, dan kebahagiaan jelas tampak dariku, juga Kak Ammar.

“Makasih, Kak Ammar,” ujarku. “Udah mengenalkan gue kepada Islam, Tuhan, dan mengajari gue caranya beribadah. Dan mengenalkan gue pada bulan ramadhan yang indah ini.”

Kak Ammar tersenyum. Cahaya oranye dari langit sore menemani kami sore itu. Lebaran kedua, adalah hari ini. Aku sengaja mengajaknya bertemu untuk berterima kasih.

“Terima kasihlah kepada Allah, Wen.”

“Iya. Dan gue juga mau berterima kasih kepada lo.” Aku tersenyum.

“Iya…” Ia terkekeh pelan. Suaranya enak sekali, baru kusadari itu.

“Btw, mau lanjut ke mana, Kak?”

“Kuliah, ya?”

“Iya.”

“Oh…” Kak Ammar menunduk lalu tersenyum, “Di Saudia Arabia, Wen. Alhamdulillah keterima beasiswa di sana.”

Aku berbinar, “SERIUS? IH! Keren banget, Kak!” teriakku.

Kak Ammar tertawa pelan. Setelahnya, hening lagi.

“Jadi ramadhan tahun depan, Kakak nggak di sini lagi, ya?”

Hei?

“Iya…” Ragu.

Kumainkan kukuku lalu bertanya lagi, “Di sana lama, ya? 4 tahun?”

“May…be?”

“Oh…”

Oh? Haha, ironi.

“Kalo kayak gitu, Kak Ammar yang semangat, ya! Kesempatan nggak dateng dua kali.”

“Iya, harus dong…”

“Oh, ya? Kemaren pas puasa gue hampir mau pecah loh.”

“Seriusan?”

“Iya…”

Dan begitulah.

Tahun ini indah. Bulan ini juga indah. Bulan yang mempertemukanku dengan sosok baik hati bernama Muammar Dhiaurrahman. Dan bulan ini juga yang mempertemukanku dengan Tuhan.

Terima kasih, Tuhan. Sudah menyadarkanku, melalui seseorang yang kauhadirkan sedemikian rupa baiknya untuk mengubahku.

Okay, selesai. Cerita ini sudah selesai kuceritakan. Aku, Clara Wendy, izin pamit undur diri. Entah kalian akan mengingatku atau tidak setelah ini, atau justru kalian juga akan mengingat sosok Ammar sang Ketua OSIS Dua Periode?

Terserah. Sampai jumpa lagi di bulan ramadhan berikutnya!

TAMAT.

Ditulis cewek kelahiran 2002 bernama Sinta Aulia yang punya cita-cita menjadi seorang produser dan screenwriter sukses di masa depan. Memiliki hobi menulis berbagai genre cerita, dan berharap suatu hari dapat diangkat ke layar lebar. Suka dengan hal-hal menyenangkan serta keramaian. Dan juga berharap suatu hari bisa mempunyai karya yang dikenal oleh banyak orang.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment