by

Hari Ketika Istriku Menghilang

Pagi itu kami bertengkar hebat. Istriku mengamuk karena merasa diabaikan. Katanya aku tidak banyak membantu pekerjaan rumah dan mengurus keempat anak kami. Hei, bukankah sudah menjadi tugas istri untuk mengurus rumah dan anak-anak? Kenapa dia jadi merasa seperti pembantu yang tidak dibayar! Itu sudah tanggung jawabnya.

Tugasku mencari nafkah. Titik. Melihatnya yang berkoar-koar, aku tersulut juga. Balas mengatainya sebagai istri yang tidak menghargai suami. Membandingkannya dengan para wanita karir, yang pintar mengumpulkan rupiah dan tidak hanya menadah pada suami.

Seperti kebanyakan perempuan lain, istriku cerewet dan banyak bicara. Dia selalu berulang kali mengomeliku untuk mengganti sabun dan pasta gigi yang sudah habis di kamar mandi, membuang sampah bekas makanan ringan yang kuselipkan di bawah kasur, atau mengembalikan piring dan gelas kotor sehabis kupakai.

Aku mengacak rambutku kesal. Mengapa untuk urusan sekecil itu dia harus mengomel? Bereskan saja tanpa banyak bicara! Lagipula aku heran, kenapa dia terlihat begitu iri saat aku membunuh waktu dengan melakukan hobiku. Kalau dia mau, silakan saja dia melakukan hobinya. Aku tak pernah melarang.

Tak hanya itu, untuk urusan mengasuh anak pun sering diributkan. Katanya aku harus ikut seminar parenting lah, menyimak apa kata pakar parenting tentang peran ayah lah, membuat visi misi keluarga dan bla bla bla lainnya. Ah, bagiku itu terlalu ribet.

Kenapa harus pusing dengan teori-teori! Orang tua zaman dulu saja bisa mendidik anak dengan baik tanpa mengikuti seminar-seminar semacam itu.

Setelah percekcokan panas kami pagi itu, aku pergi bekerja dengan dada yang berdentum-dentum kesal. Sepulang kerja, aku sengaja mengulur waktu untuk tidak segera pulang. Malas bertemu istriku. Ketika senja telah sempurna tenggelam, aku baru beranjak pulang. Namun, tak kudapati istriku di rumah hingga jam tidur tiba. Tak ada makanan di meja makan. Biasanya, sekesal apa pun dia padaku, dia tetap menyiapkan seluruh keperluanku.

Baca Juga  Ramadhan Terakhir Bersama Kakak

Saat kutanya si sulung yang bertugas menjaga ketiga adiknya, dia berkata bahwa istriku pergi bersama orang tuanya. Apa dia begitu emosi sampai-sampai pulang ke rumah orang tuanya tanpa membawa anak-anak? Kuperiksa lemari pakaian kami. Baju-bajunya masih terlipat rapi. Tas besar yang biasanya kami gunakan untuk bepergian jauh juga masih ada di tempatnya.

Ah, biarlah. Aku sudah capek setelah seharian bekerja. Kulemparkan tubuhku ke atas kasur. Namun, belum sempat punggungku mencicipi nikmatnya rebahan, bungsuku merengek minta dibuatkan susu.

Dia menarik-narik lenganku tak sabar. Mau tak mau kupenuhi keinginannya. Dua anak yang lain ribut mengajakku main padahal mataku sudah tidak bisa diajak kompromi. Sementara si sulung bertanya beberapa materi pelajaran yang tidak dia mengerti.
Argh, aku mengacak rambutku kesal. Kubentak mereka berempat agar segera tidur. Rumah yang semua berisik dengan suara-suara mereka yang bersahutan mendadak hening.

Ketiga orang anakku lekas melesat ke dalam kamar sementara si bungsu terisak ketakutan. Aku pun menarik tubuh kecil ke dalam dekapan. Ya Tuhan, baru beberapa jam dan aku sudah kewalahan menghadapi ulah para bocilku. Bagaimana dengan istriku yang dua puluh empat jam menghabiskan waktu bersama mereka? Ke mana sebenarnya dia? Aku jadi merasa bersalah.

**

Hatiku seperti dikoyak menjadi remahan kecil saat dia kembali sibuk dengan aktivitasnya di luar rumah. Dia sering mengatakan kalau sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Aku paham kalau dia ingin berkontribusi banyak di masyarakat.

Silakan saja, aku ikhlas, dengan catatan dia mampu membagi waktunya dengan seimbang dan tak melalaikan tanggung jawabnya sebagai ayah. Kalau yang dia maksud tanggung jawab hanya sekadar mencari nafkah, dia salah besar. Untuk apa dia bermanfaat bagi banyak orang kalau anak istrinya sendiri tidak merasakan manfaat dari dirinya?

Baca Juga  Memeluk Erat Luka Stigmatisasi

Kulontarkan banyak pertanyaan padanya yang hanya dia jawab sekenanya. Apa mendidik anak itu hanya tugas ibu? Apa definisi ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya, lantas membuat para ayah bisa berlepas tangan dan menyerahkan pengasuhan sepenuhnya pada ibu? Apa hanya ibu yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak, tentang bagaimana dia mendidik anak-anaknya?

Jika lantas kemudian sang anak sukses tumbuh menjadi sosok yang berakhlak mulia, maka yang disebut-sebut adalah nama ayahnya. Hellow… Tidakkah mereka tahu kalau ada ibu yang rela melepaskan cita-citanya berkarir di luar rumah, demi mendampingi tumbuh kembang anaknya?

Mungkin mereka tak pernah mengira kalau ada begitu banyak menit, yang dihabiskan untuk menggali ilmu tentang parenting sebagai bekal mendidik anak. Lalu, di mana para ayah? Sebagian besar seminar parenting didominasi ibu-ibu. Kalau pun ada para ayah jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Itu pun termasuk laki-laki istimewa yang paham dan SADAR.

Ya, banyak suami yang paham tapi tidak sadar bahwa tanggung jawab pengasuhan tidak hanya terletak pada ibu semata, tapi lebih banyak membutuhkan peran ayah. Seperti halnya dialog ayah dan anak, yang lebih banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an dibandingkan dialog antara ibu dan anak.

Sebagaimana peran ayah hebat yang mencetak generasi luar biasa. Sebut saja Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim, Lukman Hakim, dan lain-lain. Mereka para ayah yang terlibat langsung pada pengasuhan anak.

Argh, aku capek! Ini sudah kesekian kalinya aku berbicara panjang lebar hingga mulutku seolah berbusa-busa, tapi kelakuannya kembali terulang. Dia berjanji akan membantuku mengurus keempat buah hati kami yang jarak usianya berdekatan. Namun, setiap kali libur, laki-laki itu sibuk mengurus komunitas pecinta burung yang dia dirikan. Saat tidak ada agenda di luar rumah, dia akan tidur hampir sepanjang hari dengan alasan capek.

Baca Juga  Tokek

Kalau tidak begitu, dia membuang-buang waktu dengan bermain game seharian. Atau dia akan bermain-main dengan lima ekor burung lovebird kesayangannya. Menghabiskan waktu untuk membersihkan kandangnya yang penuh kotoran, memandikan, dan menjemurnya di bawah sinar matahari pagi.

Abai pada rumah yang tak ubahnya dagangan PKL yang terjaring razia, karena aku sibuk mengurus dua orang balita yang tingkahnya luar biasa aktif. Belum lagi dua orang kakaknya yang minta diajak main atau dibacakan buku.

Apalagi dua hari ini si bungsu sakit. Hari pertama, badannya demam. Dia rewel dan tak bisa tidur semalaman. Aku pun jadi tak bisa memejamkan mata. Sibuk mengelap seluruh tubuhnya dengan air hangat, membubuhkan parutan bawang merah yang dicampur dengan minyak telon di tubuhnya, membuatkan madu hangat, hingga berkali-kali mengompres keningnya.

Hari kedua, demamnya mulai turun tapi batuk dan pileknya yang ganti muncul. Dia menolak makan dan hanya tidur seharian. Memintaku berbaring di sisinya dan memeluknya. Aku membujuknya tetap makan roti atau camilan yang mengenyangkan. Saat dia sudah pulas dalam mimpinya, aku bergegas memenuhi kebutuhan tiga buah hatiku yang lain dan menyelesaikan pekerjaan rumah.

Ketika si bungsu sembuh, tiga anakku yang lain gantian sakit. Kurasakan tubuhku yang mulai menjerit. Sinyal-sinyal yang diberikan otot-otot tubuh kuabaikan. Sekujur tubuhku menggigil kedinginan dan seperti habis kena gebuk orang sekampung. Tepat saat orang tuaku datang menengok cucu-cucunya, aku pun ambruk dan dilarikan ke rumah sakit. []

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.