by

Geng Bund’r

Maemuna menunggu dengan tak sabar. Zainal, suaminya, sedang menghidupkan mesin motor matic. Tampak laki-laki itu mengentak engkol starter manual berkali-kali. Motor menggerung kemudian senyap.

“Akinya soak,” keluh Zainal sembari menghapus keringat yang meleleh di jidatnya.

“Coba terus, Bang!” desak Maemuna.

Maemuna tahu, beberapa hari ini Zainal mesti bekerja keras untuk menghidupkan mesin motor. Ia juga tahu, suaminya sudah menyisihkan uang gaji sejak bulan lalu untuk membeli aki yang baru. Apa mau dikata, ia harus mengganti uang arisan yang terpakai. Hal yang kerap ia lakukan.

Maemuna memiliki anak tunggal yang duduk di kelas satu Sekolah Dasar. Saban pagi, ia mengantar sang buah hati ke sekolah. Walaupun jarak antara rumah dan sekolah tidaklah jauh, ia memilih menunggui putranya hingga pelajaran usai.

Murid kelas satu dan kelas dua belum belajar sehari penuh. Mereka pulang lebih awal, dari kakak-kakak kelas mereka yang duduk di kelas tiga hingga enam. Durasi belajar mereka terbilang pendek. Beberapa bunda memilih tetap berada di sekolah untuk menghemat waktu. Bagi Mae, menunggui putranya merupakan hiburan pelepas penat.

Mae merasa sumpek dengan tetek bengek urusan rumah tangga; mulai dari memasak, mencuci, hingga beberes rumah. Ia merasa senang bisa berhaha-hihi dengan para bunda, pikirannya menjadi segar, hatinya ceria.

Ketika bel masuk berbunyi, Penjaga Sekolah menutup rapat pintu gerbang. Para bunda yang menunggu, termasuk Mae, berpencaran ke kios-kios penjual makanan di seberang sekolah. Ada penjual bakso, bubur kacang hijau, soto ayam, kue-kue basah dan gado-gado. Kios mana pun yang ia singgahi, Maemuna membeli teh tawar selalu. Bukan karena ia penggemar berat teh tawar, melainkan uang jajannya hanya cukup untuk membeli minuman itu.

Belakangan, Maemuna selalu menumpang duduk di kios bubur kacang hijau Teteh Erna. Ia mendapat suguhan teh tawar gratis dari si pemilik usaha. Awalnya, Maemuna berpura-pura keberatan. Ia memaksa Teteh Erna menerima selembar uang dua ribuan darinya. Lama-lama ia tak lagi sungkan. Tiap kali duduk di kursi kayu di dalam kios, ia akan berujar, “Teh Erna, biasa, ya.”

Teteh Erna menyahut singkat, “Siap, Bund!” Dari sudut kios, suami Teteh Erna memasang wajah masam tanpa berani melontarkan protes.

Selain Mae, beberapa bunda merasa lebih nyaman berada di kios burjo Teteh Erna. Dimulai dari saling melempar senyum, bertegur sapa, bertukar cerita, hingga akhirnya Mae menjadi akrab dengan mereka.

Iseng-iseng, ia mencetuskan ide membentuk geng ‘Bunda Rempong’ atau disingkat Geng Bund’r. Mae tak mengelak ketika Geng Bund’r membentuk arisan dan ia didapuk menjadi bendaharanya.

Secara istilah, Bund’r merupakan plesetan dari kata ‘bundar’ yang mewakili bentuk tubuh sebagian besar anggota geng, termasuk Mae. Sedangkan ‘Bunda Rempong’ bisa mengacu pada perangai para anggotanya yang senang berbicara heboh serta mengusik ketenangan umum.

Mae merasa sebutan Geng Bund’r sungguh sempurna.

Baca Juga  Cerpen : Ditemukan untuk Kehilangan

“Ma, udah siang, nih,” tiba-tiba si kecil Randy merengek.

Spontan Mae mengalihkan tanggung jawab kepada suaminya, “Belom bisa juga, Bang?”

Zainal menghela napas, jengkel bercampur putus asa. Sekali lagi ia menarik tuas rem sembari menekan tombol starter electric, berharap ada sebuah keajaiban. Hal yang mustahil terjadi.

“Kakak jalan kaki ya ke sekolah. Motor Papa enggak mau nyala, nih,” ucap Zainal.

“Enggak bisa!” sergah Mae. “Kasian Kakak nanti capek. Kalau Kakak sakit, Papa mau tanggung jawab?”

Malas mendengar istrinya merepet lebih panjang, Zainal langsung mengentak kick starter sekuat tenaga. Dalam hati ia menggerutu, bukan anaknya yang pingin diantar tapi ibunya. Pulang pun biasa berjalan kaki karena ia tak bisa menjemput.

Terdengar mesin menggerung, Zainal buru-buru menarik gas.

“Akhirnya…” Zainal sungguh lega. Sepeda motor bergetar lembut tanda mesin mulai bekerja. Setelah menurunkan standar dua, ia meminta anak dan istrinya segera ikut naik ke atas motor.

Mae hendak meletakkan pantat di atas jok ketika sebuah mobil pick up berhenti di depan rumah mereka. Matanya berbinar menatap motor matic keluaran terbaru yang nangkring di bak belakang pick up.

Laki-laki di sebelah sopir sibuk berbicara melalui ponselnya. Mae sempat menangkap ucapannya, “Oo, nomor 35. Siap, Bu. Siap.” Lantas dengan ponsel masih di dekat telinga, ia berbicara kepada sopir di sebelahnya, “Depanan lagi, Bray!”

Sebentar kemudian, Bu Nunik, tetangga sebelah, keluar dari dalam rumah. Ia menyambut mobil pick up dengan wajah berseri-seri.

Mae melempar senyum sinis. “Motor baru, paling kreditan.”

Zainal mendengar ucapan istrinya. Ia sengaja berseru dengan suara lantang, “Motor baru, Bu Nunik? Waaah, keren!”

Bu Nunik, perempuan yang telah ditinggal wafat suaminya itu menoleh seraya tersenyum. “Dibelikan anak, Pak.”

“Berkat doa Ibu.”

Alhamdulillah…”

Mae merengut. Ia mencubit pinggang suaminya hingga Zainal mengaduh. “Enggak perlu basa-basi. Udah siang,” bisiknya dengan nada mengancam

“Mari, Bu Nunik. Anter Randy sekolah dulu.”

“Ya, Mari…”

Di atas motor, bibir Mae semakin mengerucut. “Udah tua ngapain sih pake beli motor baru?”

Entah mengapa, hati Mae terasa panas. Bu Nunik sudah lama menjanda. Ia hanya pengandalkan usaha berjualan kue kering, tetapi mampu membesarkan dan menyekolahkan kedua anaknya hingga pendidikan tinggi. Kedua anaknya sekarang sudah bekerja. Dua bulan ini ada saja barang yang anak-anak Bu Nunik belikan untuk ibu mereka. Bulan ini sepeda motor. Bulan sebelumnya kulkas sebesar lemari.

Mae memandang wajah suaminya melalui kaca spion. “Neng rasa, anak bontot Bu Nunik korupsi. Masa baru kerja beberapa bulan sudah mampu beli ini-itu.”

“Siapa tahu yang beliin anak sulungnya,” sahut Zainal.

“Anak sulungnya lagi nyicil rumah baru. Lagian, berapa sih gaji PNS sekarang,” tukas Mae nyinyir.

Zainal menjawab sekenannya, “Pastinya jauh lebih gede dibanding gaji Abang.”

Mae mendengus. Ia jengkel karena Zainal berseberangan pendapat dengannya. Saat tiba di sekolah Randy, Mae bergegas turun tanpa mencium tangan suaminya. Ia hanya pamit dengan wajah judes seraya berkata, “Bang, pergi dulu.”

Baca Juga  Ziarah

****

Putra Mae tiba di sekolah tepat saat bel masuk berbunyi. Setelah kegiatan belajar dimulai, Mae dan Geng Bund’r beranjak ke tempat tongkrongan mereka, kios burjo Teteh Erna.

Bunda-bunda kemudian sibuk memilih tas selempang dari toko online. Mereka kompak hendak membeli model serupa, warnanya boleh berbeda sesuai selera. Geng Bund’r hendak menunjukkan eksistensinya kepada dunia .

Kalau sudah urusan mengeluarkan uang, Mae menjadi tak bersemangat. Ia berpura-pura setuju walaupun hatinya menolak. Ia takut dikucilkan apabila berterus terang.

“COD aja, ya!” terdengar seorang bunda berkata.

Semua setuju, kecuali hati kecil Mae.

Salah satu dari mereka sudah melakukan transaksi untuk Mae. Mae tinggal menunggu barang tiba di rumah, dan tentu saja menyiapkan uangnya. Sekian ratus ribu untuk tas macam itu! Batin Mae menjerit tapi mulutnya tak berani bersuara.

Waktu berjalan amat lambat pada hari itu.

****

Motor matic Bu Nunik belum memiliki pelat nomor.  Entah mengapa, tiap kali Mae memandang benda itu, hatinya menjadi susah. Apalagi, saat ia melihat si pemilik menungganginya, bolak-balik di jalan kecil di depan rumah.

“Randy sudah pulang, ya?”

“Ya, Bude,” balas Mae menjawab dengan manis, mewakili putranya. Sejurus kemudian, ia menoleh ke arah lain dengan mimik wajah yang bertolak belakang. Ia benci harus bermanis-manis di hadapan perempuan itu.

“Sekolah yang rajin, Randy, biar sukses kayak Mas Putra dan Mbak Putri.”

“Ya, Bude. Terima kasih,” ucap Mae, sekali lagi mewakili putranya.

Begitu berada di dalam rumah, Mae menunjukkan ekspresi mual seperti mau muntah. Ia meniru ucapan Bu Nunik tadi dengan suara lucu dan ekspresi mengejek. “Sekolah yang rajin, Randy, biar sukses kayak Mas Putra dan Mbak Putri. Huek…”

Mae mendadak salah tingkah ketika menyadari Randy memperhatikannya sejak tadi. “Mama lucu,” ucap bocah kecil itu. Tawanya menghambur bebas.

Mae ngeloyor ke dapur. Ia malu tertangkap basah oleh mata putranya. Namun, baru beberapa tindak, terdengar bunyi letusan. Arahnya dari depan rumah.

Spontan Mae menyuruh putranya sembunyi di kolong tempat tidur. Ia berlari ke luar untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi.

Mae menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, seorang pria membawa kabur motor baru Bu Nunik. Tampaknya, ia berkawan dengan pengendara di depannya. Dalam hitungan detik, kawanan itu pergi membawa motor rampasan.

“Rampok! Begal! Maling! Tolong! Tolong!!!” pekik Mae membelah kesunyian menjelang tengah hari.

Beberapa orang warga yang semula hanya berani mengintip, satu demi satu mulai berdatangan dan merubung tempat kejadian perkara.

Bu Nunik duduk menggelesor di tanah. Wajahnya pias. Mae dan seorang tetangga memapahnya masuk ke dalam rumah.

Bu Nunik bercerita tentang kejadian tadi. Ia sedang menjajal motor baru, bolak-balik di jalan kecil di depan rumah. Ketika hendak pulang, dua orang laki-laki berboncengan motor mengadangnya. Salah satu dari mereka turun lalu meletupkan senjata api. Bu Nunik tak berkutik ketika laki-laki itu merampas lalu membawa kabur motornya.

Baca Juga  Tukang Sapu

“Duh, seram betul. Untung Bu Nunik enggak kena tembakan, ya,” ucap Mae berpura-pura berempati. Dalam hati ia merasa senang, sepeda motor baru Bu Nunik baru saja melayang.

Ketika Zainal pulang, Mae segera membagi berita itu. Di akhir cerita, ia memberi penutup, “Kalau beli pakai uang haram, ya gitu…”

Istighfar, Neng,” cetus Zainal sembari geleng-geleng kepala. “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan.”

Mae mencibir kata-kata suaminya.

****

Mae ketakutan. Ia terpaksa sembunyi di rumah Bu Nunik untuk menghindari bunda-bunda Geng Bund’r.

Sudah seminggu ini Mae memaksa Rizal menggantikan tugasnya mengantar-jemput putra mereka. Ia tak berani menampakkan diri di sekolah. Ia belum punya uang.

Ketika kurir pengantar barang datang, Mae tak memegang uang sepeser pun. Ia terpaksa memakai uang arisan Geng Bund’r untuk membayar tas selempang yang ia beli dengan sistem COD tersebut. Ketika waktu mengocok arisan tiba, uang kurang, Rizal pun belum gajian. Mae terpaksa kabur-kaburan untuk menghindari Geng Bund’r.

Para bunda sudah habis kesabaran. Mereka menyambangi rumah Mae untuk meminta pertanggungjawabannya. Mae tak berani menemui. Diam-diam, ia keluar melalui pintu belakang lalu sembunyi di balik kandang ayam Bu Nunik.

Untunglah Bu Nunik mengenali Mae dan tidak meneriakinya maling.

Mae memilih tidak menghubungi suaminya. Waktu gajian masih lama. Zainal takkan bisa membantu apa-apa. Lagi pula, menjelang siang hari begini, pembeli di toko plastik tempat Zainal bekerja sedang ramai-ramainya.

Mae bercerita panjang lebar tentang masalahnya kepada Bu Nunik. Setelah itu, ia merasa lega sekaligus menyesal. Lega karena sudah berbagi beban; menyesal karena ia merasa perempuan itu tak layak mengetahui masalahnya.

“Bu Mae, saya ada sedikit simpanan. Uang itu cukup untuk menutup uang yang Ibu pakai.”

Tenggorokan Mae tercekat. Dadanya bergemuruh. Ia tak sudi menerima belas kasihan Bu Nunik! Alih-alih menolak, Mae meraih lembaran ratusan ribu dari tangan perempuan itu.

Mae ingin menangis, bukan lantaran kebaikan hati Bu Nunik, melainkan akibat konflik yang hebat dalam batinnya.

“Keadaan sudah aman. Pulanglah Bu Mae. Semoga urusan Ibu lekas selesai,” ucap Bu Nunik lembut.

Mae menurut. Ia juga menurut ketika Bu Nunik memintanya keluar melalui pintu depan. Di teras rumah, Mae melihat sepeda motor matic yang masih gres terpampang dengan manis. Menurut Bu Nunik, atasan anaknya membelikan motor itu setelah mengetahui peristiwa pembegalan tempo hari.

Mae melangkah gontai. Rumahnya seperti berada di ujung dunia. Dari kejauhan, ia melihat bunda-bunda Geng Bund’r menuju ke arahnya.

Sayup-sayup, Mae mendengar seorang bunda berseru, “Hei, Maemuna, mau kabur ke mana lagi kamu?” ****

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.