oleh

Gadis Pilihan Gilang

Selly masuk ruang kelas dengan sejuta bunga yang bermekaran di dalam hati karena rasa cinta dan kekaguman yang mendalam terhadap Gilang Prayoga, lelaki sedingin kutub utara yang baru saja menerima penghargaan dari kepala sekolah di lapangan upacara berkat prestasinya di kancah nasional.

“Ya ampun, keren banget! Keren banget, sumpah, gue nggak pernah berhenti tergila-gila sama dia, Sus!” pekik Selly di hadapan teman sebangkunya, Susi.

“Ya udah, embat aja, keburu diambil orang, tahu nggak!” sahut Susi pada gadis jangkung berkulit gelap itu.

Selly mendengkus. Dia melipatkan kedua tangan di atas meja, lalu membenamkan kepalanya di situ. Susi lantas duduk di sebelahnya dan menyibakkan rambut yang menutupi telinga Selly.

“Buruan, perjuangkan cinta lo sebelum lo nangis di pojokan karena Gilang disambar orang,” bisik Susi.

Selly mengangkat kepalanya. “Gue bukannya nggak berusaha, Sus, tapi lo tau sendiri tampilan gue kayak gini, sedangkan di luar sana saingan gue mungkin ribuan. Mana Gilang mau sama cewek dekil kayak gue? Orang gue lewat juga dia diam aja.”

“Ya diam, lah. Kan, cuman lewat, coba kalau manggil, dia pasti nengok. Nggak usah minder duluan, sih. Lo itu cantik, pintar, tinggi semampai kayak foto model internasional. Siapa tahu seleranya Gilang cewek yang kulitnya eksotis kayak lo.”

Rasa percaya diri Selly perlahan muncul. Dia yang semula ingin jadi seperti Susi yang berkulit putih dan berbadan semok dengan pembawaan sedikit centil, lantas tersenyum sambil memikirkan cara untuk mengeksplor dirinya.

“Iya, ya. Setidaknya gue juga harus punya prestasi supaya gue pantas untuk mendekati Gilang,” ujar Selly.

“Nah. Semoga aja lo menang lagi di olimpiade matematika besok, supaya lo juga bisa dapat penghargaan di depan satu sekolah kayak Gilang tadi. Semua mata pasti akan tertuju sama lo, termasuk Gilang.” Susi mengacungkan kedua ibu jarinya.

Selly mengembangkan senyuman. Dia bersyukur Susi tidak menyukai Gilang, lelaki berperawakan tinggi kurus yang sekilas mirip dengan artis Dimas Beck, sebab gadis itu sudah lebih dulu kepincut dengan Andi, ketua kelas mereka di kelas 11 yang sudah beberapa bulan ini mereka jalani.

Selly begitu bersemangat dan yakin bahwa dia bisa membanggakan sekolahnya lagi di ajang tingkat provinsi, setelah bulan lalu namanya diumumkan oleh kepala sekolah sebagai satu dari dua wakil yang lolos di tingkat kabupaten, mewakili SMA 1.

**

Dua minggu kemudian ….

“Selly Fitriana dan Eko Susanto, silakan tampil ke muka untuk menerima penghargaan dari sekolah,” ujar Kepala Sekolah di akhir upacara penaikan bendera, Senin pagi.

Baca Juga  Geng Bund'r

Selly pun muncul dari tengah barisan dan melenggang dengan anggun ke tengah lapangan upacara. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena akan mendapat penghargaan, tetapi karena mata sang pemimpin upacara yang melirik tajam ke arahnya. Selly merasa semua sudah diatur oleh Tuhan.

“Selamat, ya, kami pihak sekolah akan terus mendukung prestasi kalian sampai ke kancah internasional, Aamin, ya robbal alamin,” kata Kepala sekolah di tengah sambutannya setelah memberikan piagam penghargaan kepada kedua muridnya yang berada di tengah lapangan.

Telapak tangan Selly basah oleh keringat. Hatinya begitu yakin Gilang akan mendekatinya selepas upacara, karena mata pemuda itu tak lepas dari wajah manis yang kadang menebar senyum karena dibuat salah tingkah oleh Gilang.

Benar saja, ketika kepala sekolah adalah meninggalkan lapangan upacara dan barisan telah dibubarkan, Selly tidak bisa begitu saja beranjak dari tempatnya berdiri karena Gilang memberinya isyarat untuk menunggu.

“Selamat ya, kamu hebat banget bisa mewakili sekolah kita sampai ke tingkat provinsi. Aku kagum sama kepintaran kamu,” ucap Gilang sambil mengulurkan tangannya. Hampir tak ada senyum di wajahnya, hanya sorot mata yang menyiratkan kekaguman.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Selly dengan segenap rasa bangganya menyambut uluran tangan Gilang. Darahnya seolah berdesir melihat pesona lelaki berkulit bersih itu. Selly merasa itu adalah momentum terbaik bagi dirinya untuk bisa mendekati sang pujaan, dan dia tidak ingin kehilangan itu.

“Kamu juga hebat. Kamu bisa mewakili sekolah kita ke pertandingan basket skala nasional,” jawab Selly malu-malu diiringi teriakan anak-anak satu sekolah.

Mereka berjalan menuju koridor sambil mengobrol. Susi yang biasanya menjejeri Selly seakan mengerti. Dia berjalan di belakang mereka, di antara teman-teman kelas 11 A sambil memberi kode melalui suara batuk yang dibuat-buat.

Selly menoleh ke belakang dan tersenyum lebar. Gilang ikut menoleh dan tersenyum pula pada Susi yang pagi itu tampak cantik dengan wajah bulat dan rambut panjang berponi.

“Itu teman sekelasmu?” tanya Gilang.

“Iya, kenapa?” Selly agak ketar-ketir mendengar Gilang menanyakan Susi.

“Nggak apa-apa. Ngomong-ngomong, jam istirahat nanti boleh nggak aku ke kelas kamu?” tanya Gilang.

Jantung Selly seakan melonjak di tempatnya. Sebuah kalimat yang dia impikan sejak memakai seragam putih abu-abu, beberapa bulan belakangan. Tanpa ragu dia mengiyakan ajakan Gilang. Mereka berpisah di sudut koridor sebelah timur, sebab kelas Gilang ada di situ.

Baca Juga  Cerpen: Akar Berpulas Tak Patah

Setelah Selly sendirian, Susi menubruknya dari belakang sambil mengacak-acak rambut gadis 170 sentimeter itu sambil sedikit berjinjit. Selly merangkul Susi yang hanya setinggi bahunya dengan mudah. Mereka saling cubit manja berkat “pencapaian” Selly pagi itu.

“Entar jam istirahat Gilang mau ke sini tahu nggak,” ujar Selly dengan girangnya. Mereka sudah duduk di bangku masing-masing.

“Ya ampun, selamat, ya. Gue ikut senang,” sahut Susi.

“Gue emang gak secantik lo, tapi bener kata lo, kepintaran itu bisa menjadi daya tarik tersendiri.” Selly merasa bangga karena prestasi yang dia miliki bisa menarik perhatian Gilang.

“Ah, kata siapa lo nggak cantik? Kalau dipoles dikit, Lyodra Ginting juga kalah sama lo.”

“Masak, sih?” Selly memegangi kedua pipinya sambil tersipu.

Hati Selly tak tenang sejak jam pelajaran pertama hingga bel istirahat berbunyi, apalagi Susi terus-menerus menggodanya. Rasanya begitu tak sabar. Selly penasaran apakah Gilang benar-benar akan datang pada jam istirahat nanti.

**

Bel istirahat berbunyi. Selly cepat-cepat merapikan bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Dia lalu mengeluarkan sisir, kaca, bedak, dan pelembab bibir, lalu menatanya di meja. Cepat-cepat gadis itu memulas kembali riasannya yang sudah memudar. Terakhir, Selly menyemprotkan parfum beraroma lembut ke bawah ketiaknya.

Susi memantau di depan pintu. Ketika Gilang mendekat, Susi berlari cepat menghampiri Selly dan mengajaknya untuk menunggu di depan pintu. Selly begitu gugup. Susi memaksanya untuk terus melangkah maju hingga mata Selly bertatapan dengan lelaki 180 sentimeter di hadapannya.

“Hai, Selly. Kita ke kantin bareng, yuk,” ajak Gilang. Wajahnya serius, seolah kehabisan stok senyum.

“Oh, iya. Ayo,” sahut Selly malu-malu.

“Kamu mau ikut sekalian nggak?” tanya Gilang pada Susi yang berdiri di belakang Selly.

“Oh, enggak. Makasih, aku udah ada janji sama teman,” kilah Susi.

Selly berjalan dan menoleh ke belakang seakan mengucap terima kasih pada Susi, yang membalasnya dengan senyuman sambil mengangkat alis.

Gilang mengajak Selly ke kantin depan. Semua mata tertuju pada mereka dengan riuh rendah khas gadis-gadis remaja hingga mereka berdua duduk satu meja.

“Aku udah sering ngelihatin kalian berdua sejak awal-awal masuk kelas, cuma mau negur malu.” Gilang membuka obrolan setelah memesan dua porsi mie ayam. Kali itu senyum tampak membias di wajah tampannya.

“Oh, ya? Kenapa mesti malu? Padahal aku juga udah lama, lho, ngelihatin kamu.” Selly mulai percaya diri.

Baca Juga  Pasta Gigi di Pijakan Kaki

“Iyakah? Aku mau minta nomor WA kalian berdua, dong, kalau boleh.” Gilang mengeluarkan ponselnya.

Selly sedikit khawatir, sebab Gilang juga meminta nomor Susi, tetapi tak urung dia memberikannya juga. Gilang menyimpannya dan memulai chat pertamanya dengan huruf “P”.

Selly tersenyum dan membalas chat bilang dengan emoji senyum. Tak lama pesanan mereka tiba. Tak ada obrolan berarti setelah itu, sebab Gilang langsung mengajak Selly kembali ke kelas.

Entah kenapa terselip perasaan tak enak di hati Selly. Dia takut kalau-kalau Gilang juga mengirim chat ke nomor Susi. Selly ingin cepat-cepat tiba di kelas dan menanyakan Susi tentang hal itu.

“Kok, kamu diam aja, nggak kayak tadi pas mau jalan ke kantin?” tanya Gilang sementara mereka berjalan.

“Oh, enggak, kok. Nggak apa-apa. Efek kekenyangan kali,” seloroh Selly. Gilang terkekeh.

“Bye. Makasih, ya, buat waktunya,” pamit Gilang di muka pintu. Senyumnya mulai terlihat jelas.

“Iya, sama-sama,” balas Selly yang langsung mencari keberadaan Susi.

“Hei! Gimana kencan pertamanya?” Susi mengagetkan dari belakang.

“Sus, lo di-chat juga nggak, sama Gilang?” tanya Selly spontan.

“Loh, kok, gue? Nggak ada, tuh. Emang kenapa? Dia juga nyimpan nomor gue?” Susi heran.

“Iya, tadi dia minta nomor lo juga.”

“Oh, mungkin biar gampang ngelacak lo kalau ada apa-apa,” sahut Susi.

Selly mengangguk, mencoba menginsyafi bahwa dia hanya terlalu khawatir. Susi sudah milik Andi, hiburnya dalam hati.

[Akhirnya, kumenemukanmu.]

Selly membaca status WhatsApp Gilang menjelang jam pelajaran. Dia tampak heboh dan menyuruh Susi untuk menyimpan juga nomor Gilang, agar dia bisa membaca sendiri status-status lelaki itu.

Susi tampak ikut heboh melihat apa yang Selly tunjukkan. “Semoga cepat jadian, ya,” ujarnya penuh semangat.

“Aku mau balas statusnya, ah,” ujar Selly. Susi mengangguk senang.

[Ciee, menemukan siapa?]

Selly menunjukkan balasannya kepada Susi dan tak sabar menantikan balasan karena pesannya langsung dibaca oleh Gilang.

[He he he, menemukan nomor WA Susi. Udah lama aku suka sama dia. Makasih, ya. Kamu baik banget. Mulai sekarang kamu jadi sahabat aku. Bantu aku untuk ngedeketin Susi, ya. Please.]

Serasa tersambar petir, Selly terdiam tanpa mempedulikan rengekan Susi yang penasaran mengetahui apa balasan Gilang. Hatinya yang semula melangit seketika bagai dihempaskan ke jurang yang dalam.

“Sel, Selly! Selly, lo kenapa? Bangun, Selly!” teriak Susi ketika Selly ambruk di mejanya. []

SELESAI

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *