by

Gadis Berkebaya Putih Gading

Damar tersentak bangun. Tubuhnya bermandikan keringat. Gadis itu, gadis berkebaya putih gading, hadir lagi dalam mimpinya. Mimpi Damar tentang sosoknya selalu sama; seperti penggalan adegan film yang diputar berulang-ulang.

Gadis Berkebaya Putih gading berdiri di bawah pohon akasia. Rambutnya yang panjang, terjalin rapi menjadi dua kepangan yang tersampir di depan bahu. Cantik. Dalam mimpi pun Damar menginsyafi gadis itu sangat cantik. Dia menunggu sesuatu—atau seseorang. Akan tetapi, yang ditunggu tak kunjung datang. Gadis Berkebaya Putih gading mulai gelisah.

Tiba-tiba, tanah di sekeliling pohon akasia runtuh. Terbentuklah parit melingkarinya. Gadis Berkebaya Putih gading terpekik ngeri. Ular berbisa, tak terhitung banyaknya, bergelung-gelung di dasar parit: mendesis. Ada yang merayapi dinding parit, mencoba memagutnya.

Damar menjadi penonton. Ia tak kuasa berbuat sesuatu. Begitu pula ketika tanah yang gadis itu pijak perlahan melesak. Ular-ular serupa ombak menggulung tubuhnya hingga lenyap dari pandangan.

Tolooong!”

Jeritan gadis itu melengking bagai dering jam beker.

**

Ardi masuk ke dalam kamar kos Damar. Matanya memindai seisi ruangan: mulai dari tempat tidur sempit, lemari kayu usang, meja belajar penuh buku, kotak plastik di pojokan, lantai bertegel putih yang telah menguning, dinding kusam, hingga langit-langit yang posisinya sekitar satu setengah meter di atas kepala.

Damar mengekor Ardi sambil mengamati gerak-geriknya.

Selepas kuliah petang tadi, Ardi menghampiri Damar di kantin. Ia tiba-tiba menanyakan apa masalah yang tengah merundungnya. Sejak pindah ke tempat kos yang baru, Damar tampak berbeda. Ardi melihat kabus tipis mengikuti ke mana pun Damar pergi.

Ardi kerap mengatakan hal-hal yang sulit diterima oleh nalar. Damar tak pernah menganggapnya serius. Namun, ia mengatakan juga kalau belakangan ini ia dihantui oleh mimpi buruk. Ia menjadi kurang tidur sehingga fisik dan psikisnya sedikit terganggu.

”Ada yang ingin berkomunikasi denganmu,” ucap Ardi menyanggah logika Damar.

Ardi terkesiap. Ia teringat gadis berkebaya putih gading dalam mimpinya.

”Siapa dia? Apa yang dia inginkan?” tanya Damar menelisik. Ia mulai menaruh perhatian pada hal-hal di luar nalar yang Ardi katakan.

Baca Juga  Cerpen: KARENA MATEMATIKA

”Berani cari tahu?” Ardi balik bertanya.

”Bagaimana caranya?”

Maka, setelah obrolan panjang lebar di kantin, Damar mengajak Ardi ke kamar kosnya.

Ketika Damar masih tinggal di tempat kos yang lama, Ardi kerap mampir terutama saat jeda antar mata kuliah yang cukup panjang. Beberapa kali ia pernah menginap karena takut datang terlambat.

Sebetulnya Damar sudah kerasan tinggal di tempat kosnya yang lama. Bangunannya masih baru, kamarnya luas, dan suasananya teduh. Damar ingin berada di sana hingga semester akhir nanti. Namun sayang, harapannya kandas.

Perusahaan tempat Ayah bekerja mengalami kemunduran. Sebagai imbasnya, Ayah terkena ’pemutusan hubungan kerja’. Untung saja Ayah segera mendapatkan pekerjaan baru walaupun gajinya tidak sebesar dulu.

Ibu meminta Damar menyewa kamar kos yang lebih murah. Mereka harus berhemat. Harga barang-barang kebutuhan pokok terus merangkak naik. Adik-adik juga membutuhkan biaya sekolah yang tak tidak sedikit. Sementara itu, penghasilan Ayah sekarang jauh berkurang. Walaupun keadaan sedang sulit, Ibu berharap Damar tetap bersyukur dan fokus belajar.

Renungan Damar tersela. Ardi tampak mementangkan daun jendela. Terlihat bagian belakang kos-kosan yang disesaki rimbun tanaman. Hari sudah malam. Dalam gelap, rimbun tanaman serupa sosok-sosok hitam sedang mengintai.

”Tutup. Nyamuk pada masuk!” tukas Damar.

”Gerah,” Ardi mengeluh.

Damar menyalakan kipas angin kecil di sudut ruangan. Suara berisik kipas bertenaga listrik itu tak sebanding dengan angin yang dihasilkannya. Kipas berkeriyut saat menoleh pelan dari kiri ke kanan lalu kembali ke kiri. Damar membatin moga-moga kipas anginnya tidak rontok.

Ardi menarik kotak plastik ke tengah ruangan lalu duduk bersila di hadapannya.

”Terserah kamu mau percaya atau enggak,” kata Ardi membuka percakapan. ”Tapi mungkin ini bisa menghentikan mimpi burukmu.”

Ardi meminta Damar duduk di seberangnya. Mereka seperti hendak adu panco.

”Tutup matamu,” Ardi memberi perintah.

Damar memasang kuping karena sekarang ia tak bisa melihat apa-apa. Suara berkeriyut kipas angin semakin jelas terdengar. Ia semakin cemas kipas itu bakal rontok. Walaupun aliran udara yang dihasilkannya kecil, kipas angin berjasa mengurangi hawa panas dalam kamar kosnya.

Baca Juga  Nenek Bermulut Harimau

Damar tak sadar ia jatuh tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu gadis berkebaya putih gading.

Gadis Berkebaya Putih gading berdiri di bawah pohon akasia. Rambutnya yang panjang, terjalin rapi menjadi dua kepangan yang tersampir di depan bahu. Cantik. Dalam mimpi pun Damar menginsafi gadis itu sangat cantik. Dia menunggu sesuatu—atau seseorang. Akan tetapi, yang ditunggu tak kunjung datang. Gadis Berkebaya Putih gading mulai gelisah.

Tiba-tiba, tanah di sekeliling pohon akasia runtuh. Terbentuklah parit melingkarinya. Gadis Berkebaya Putih gading terpekik ngeri. Ular berbisa, tak terhitung banyaknya, bergelung-gelung di dasar parit: mendesis. Ada yang merayapi dinding parit, mencoba memagutnya.

Damar menjadi penonton. Ia tak kuasa berbuat sesuatu. Begitu pula ketika tanah yang gadis itu pijak perlahan melesak. Ular-ular serupa ombak menggulung tubuhnya hingga lenyap dari pandangan.

Tolooong!”

Jeritan gadis itu melengking bagai dering jam beker.

Damar membuka matanya seketika. Butiran keringat meleleh di wajah dan lehernya. Punggungnya pun sudah basah.

”Apa yang kamu lihat?” tanya Ardi seraya menatap lurus ke arah Damar.

Damar menyeka keringat dengan lengan bajunya kemudian menjawab, ”Sama seperti mimpiku yang lalu.”

”Peranku di sini seperti radio,” ucap Ardi

Damar bangkit mengambil air minum sembari menyimak celotehan Ardi.

Ardi memintanya memasang frekwensi yang tepat supaya siaran radio terdengar jelas. Untuk itu Damar harus santai. Ia harus menyingkirkan pikiran-pikiran yang mungkin mengganggu.

Entah mengapa Damar bersedia mengikuti omong kosong ini. Mungkin Ardi sedang mengerjainya, membuat ia melakukan hal-hal menggelikan untuk nanti disebarkan kepada teman-teman di kampus.

Meskipun menyadari kemungkinan itu, Damar tak menolak ketika Ardi menyuruhnya duduk bersila di seberangnya. Pun ketika telapak tangan Ardi terbuka dengan siku bertumpu pada kotak plastik seperti mengajaknya adu panco. Sesaat setelah matanya terpejam, Damar kembali bermimpi.

Gadis berkebaya putih gading berjalan menyusuri setapak. Ada narasi tak nyata dalam benak Damar yang menyebutkan bahwa gadis itu hendak bertemu kekasihnya. Ia berdiri di bawah pohon akasia dengan wajah berseri-seri. Matanya jauh menatap ke ujung jalan.

Baca Juga  Persahabatan Seorang Wizard

Pemandangan kemudian beralih pada satu truk militer yang berjalan bergoncang-goncang di atas jalan berbatu. Penumpangnya para serdadu berkulit kuning, bertubuh pendek, dan bermata sipit.

Truk berhenti tak jauh dari tempat gadis itu berdiri. Beberapa serdadu melompat turun lalu menyergapnya. Gadis itu meronta-ronta namun tak kuasa melawan saat tubuhnya dinaikkan ke atas truk.

Dari ujung jalan, muncul seorang pemuda. Ia menyesali diri, mengapa datang terlambat. Truk menjauh membawa kekasihnya pergi.

Pemandangan kembali berpindah. Kali ini menggambarkan satu kamar sempit di antara deretan kamar di kanan dan kirinya. Kamar-kamar itu serupa wc umum. Serdadu-serdadu berkulit kuning bermata sipit masuk-keluar bergantian.

Gadis berkebaya putih gading terisak-isak di dalam kamar. Kebaya putih gadingnya berubah kecokelatan. Wajahnya pucat. Matanya cekung. Rambutnya kusut masai. Ia menjerit kepada Damar,

”Jugun ianfu!”

Seperti orang ketindihan, Damar ingin bangun tapi tidur menyeretnya semakin dalam ke alam mimpi.

Tangan-tangan kekar mengempaskan tubuh gadis itu ke liang tanah. Ia sudah tak bernyawa. Disentri mengakhiri penderitaannya. Tak ada nisan ataupun penanda bahwa ada jasad terkubur di tempat itu.

Gelap pun datang.

Damar melihat dirinya sendri. Ia sedang membuka jendela kamar kosnya yang terletak di lantai dua. Seorang gadis berkebaya putih gading melambai dari bawah, di antara gerumbul pohon melati. Namun, Damar terlalu asyik memandang bulan di langit hingga tak menyadari kehadirannya.

Angin sepoi-sepoi mengelus pipi Damar. Ia kemudian menyadari angin itu berasal dari aliran udara kipas angin.

”Kabut itu sudah hilang,” ucap Ardi ketika kelopak mata Damar terbuka.

”Dia ingin tulang-belulangnya dipindahkan,” kata Damar seketika.

Ardi tersenyum lalu menepuk bahunya.

Rasanya, Damar dan Ardi bakal bolos kuliah besok. Ada banyak pekerjaan yang harus mereka lakukan; mulai dari izin kepada pemilik kos, menggali tanah hingga lapor RT dan RW.

Hari sudah larut. Kipas angin masih berkeriyut. **

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.