by

DUMP TRUCK FIKTIF

Dito, pemuda seperempat abad yang bekerja serabutan itu mempunyai gengsi di atas rata-rata. Hari-harinya penuh dengan telepon sana sini, membahas uang triliunan yang bertahun-tahun tak ada kelanjutan. Orang tuanya telah kehabisan akal untuk menyuruh Dito bekerja, sekadar untuk memenuhi kebutuhan rokok dan pulsa, tetapi pemuda hitam legam berambut keriting itu menolak dengan gaya bahasa sok elegan.

“Saya ndak cocok jadi orang miskin,” katanya.

Dito yang lulusan sarjana itu banyak berteman dengan mereka yang berkecimpung di dunia percaloan. Dengan iming-iming kekayaan instan tanpa modal yang dipamerkan oleh beberapa rekan, Dito mulai rajin mencari dan mempertemukan penjual dan pembeli.

Sayang, tak satupun proyek yang berhasil ia tangani, semuanya gagal di tengah jalan dengan alasan yang tak masuk akal. Investor kabur, surat bodong, info tidak valid, ditipu sesama mediator dan lain sebagainya.

Di sisi lain, Dito semakin pintar bicara dan meyakinkan orang bahwa ia adalah orang yang mumpuni dan punya banyak koneksi. Mobil ayahnya menjadi saksi pertemuan demi pertemuan dengan gaya pebisnis kelas tinggi. Ponselnya pun nyaris dua puluh empat jam berbunyi. Dito bak pengusaha banyak lini yang sibuk setengah mati.

Satu kali, Donny datang dan mengajak Dito pergi main golf. Donny adalah rekan seperjuangan Dito, yang sama-sama belum mendapatkan hasil yang berarti sebagai seorang mediator. Namun, di antara Dito dan Donny ada persaingan terselubung dan tak jarang saling tikung. Dito yang kantongnya sedang cekak menolak ajakan Donny dengan menciptakan sebuah kebohongan.

“Ndak bisa, Bro. Saya mau ada survei dump truck di Bulak Kapal besok. Ada yang minat sewa dua puluh unit untuk proyek jalan tol di Bekasi.”

“Oh ya? Wah, mantap. Berapa sewa per unit?”

“Ya besok baru deal setelah saya datangi tempatnya. Sudah dulu, ya. Mau ketemu orang bank, ini sudah ditunggu.”

“Wah, baik. Baik. Sukses selalu ya, Bro.”

Dito puas dengan karangan ceritanya yang berhasil membuat Donny tercengang sesaat. Setelah itu, ia baru akan memikirkan alasan kegagalan proyek. Begitulah kurang lebih Dito menghabiskan waktunya setiap saat. Kali itu dump truck atau truk jungkit yang menjadi pemeran utama.

Baca Juga  Curahan Hati Yuli

**

“To, saya dengar ada lima puluh unit dump truck yang mau disewakan. Posisi di Bulak Kapal. Kira-kira kamu bisa cari lawannya ndak?” tanya Prapto, teman nongkrong Dito di warung kopi, suatu hari.

“Info dari mana? Valid ndak?” balas Dito sambil menyeruput kopi susunya.

“Dari Mas Jody. Mas Jody dari Bu Melani. Bu Melani dari Pak Juned.”

“Wah, Pak Juned, ya. Boleh juga. Selama ini dia ndak pernah meleset. Maksudnya barangnya selalu ada.”

Dito pun segera menelepon Pak Juned dan menanyakan Mereka berjanji sebelumnya, untuk bertemu di sebuah kafe untuk membicarakan perihal berita tersebut. Sudah menjadi kebiasaan Dito untuk membahas masalah sepele melalui kopi darat, yang tentu saja menghabiskan uang paling tidak seratus ribu, juga mobil milik orang tuanya.

Tak lupa, Dito segera mencari “lawan” untuk proyek barunya. Maksudnya adalah orang atau perusahaan yang berminat menyewa. Seperti biasa, ia langsung menemukan titik terang. Orang itu bernama Mas Slamet, anak buah pejabat pemda.

Mas Slamet berkata bahwa ia bisa mempertemukan Dito dengan pimpinannya, dan bisa mengupayakan hingga tiga puluh unit asalkan barang benar-benar ada. Dito meminta waktu satu hari untuk men-survei lokasi. Ia lantas bergegas untuk menemui Pak Juned saat itu juga.

**

Kafe Ngopi Dulu jadi saksi pembicaraan kelas kakap, dengan bumbu-bumbu dahsyat memikat telinga siapapun yang mendengarnya. Sewa dump truck sepuluh roda dengan indeks atau daya tampung hingga 8 ton sebanyak tiga puluh unit, selama tiga bulan dan dibayar perhari adalah sebuah lubang besar untuk mencari keuntungan.

“Begini, Pak Juned. Saya sudah ada peminat, orang pemda. Kalau Bapak serius, kita bisa goyang angka sewa perharinya. Biasanya, kan, sejuta. Nah, kalau Bapak bisa nego sampai sembilan ratus, kita bisa ambil seratus per unit. Kalikan tiga puluh, sudah berapa itu, Pak?”

“Tiga juta.”

“Nah. Tiga juta itu sehari, lho, Pak. Coba kalikan saja minimal seratus hari. Dapat berapa, hayo?”

Baca Juga  Geng Bund'r

“Wah. Tiga ratus juta.”

“Lha iya. Kita bagi rata saja, Pak. Dalam hal ini, saya selaku pihak penyewa dan Bapak mewakili pihak pemilik. Lumayan, to. Duit segitu bisa untuk ngopi setahun, Pak.”

“Iya, iya, Mas Dito. Jadi bagaimana, kapan Kita bisa survei lokasi?”

“Besok pagi saja, Pak. Nanti pakai mobil saya saja.”

“Baik, Mas. Nanti saya minta orang saya untuk berbagi lokasi.”

**

Sedan merah berhenti di sebuah tanah lapang di tepi rel kereta api. Dua orang turun dari dalam dan tampak bingung melihat ke sekeliling. Satu sibuk menanyakan yang lain, dan yang lain itu sibuk menelepon seseorang yang tak kunjung memberi respons.

“Pak? Bagaimana ini? Menurut peta, ini memang titiknya, kan?” tanya Dito dengan wajah cemas.

“Iya, benar. Memang ini titiknya. Coba kita tanya penduduk sekitar. Ini orang saya juga belum angkat telepon dan belum baca chat saya,” jawab Pak Juned dengan raut muka panik.

Mereka bergegas menuju rumah penduduk sekitar dan menjumpai seorang bapak di rumah semi permanen di tepi rel. Dito bertanya apakah ada garasi dump truck di sekitar situ. Bapak-bapak itu tampak bingung, ia menggaruk kepalanya. Dito dan Pak Juned ikut menggaruk kepala.

“Puluhan tahun hidup di sini, belum pernah saya melihat ada garasi truk besar di sini, apalagi sampai lima puluh unit, Pak. Tanah lapang ini belum pernah digarap atau difungsikan. Ya, begini saja sejak dulu,” ujar si Bapak.

“Kalau bangunan di sebelah sana, apa itu?” tanya Dito, masih ingin mencari setitik harapan dalam kekecewaan yang mulai muncul dari dalam hati.

“Itu penjara, Pak.”

“Apa? Aduh. Kena tipu ini saya.”

“Kena tipu bagaimana, Pak?”

“Ndak, ndak apa-apa. Pak Juned, bagaimana ini? Kita temui orang Bapak saja dulu, lah.”

“Baik, Pak. Kita datangi saja langsung.”

Dito sudah tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Namun, hati kecil pemuda itu masih mengharapkan sebuah titik terang. Barangkali salah peta lokasi, pikirnya, sambil terus tancap gas menuju rumah orangnya Pak Juned.

Baca Juga  5 Peluang Kerja Jurusan Sastra Indonesia

“Pak. Ini orangnya balas chat saya. Ditunggu di pos dekat rumahnya, kebetulan dia sudah mau jalan,” ucap Pak Juned.

Dito mengangguk. Ia masih berharap akan menerima uang ratusan juta dari hasil sewa truk raksasa. Ia sudah mengkhayalkan segala keindahan termasuk melamar sang kekasih. Segala keresahan yang mulai menjalari hati sedapat mungkin ia tepis.

Pak Juned mengarahkan perjalanan menuju satu perumahan yang tak asing bagi Dito, dan gang demi gang yang juga biasa Dito singgahi. Ia berpikir akan memepet rekan Pak Juned juga untuk memotong jalan agar lebih cepat sampai kepada owner, ketimbang harus melewati calo demi calo yang sudah pasti akan minta jatah.

“Kita tunggu di pos sini saja, Pak Dito. Orangnya otewe ke sini,” pinta Pak Juned.

“Oh, boleh, boleh, Pak. Saya juga biasa nongkrong di sini. Ada rekan juga di daerah sini.”

“Oh, ya? Wah, luas juga Pak Dito punya jaringan.”

“Ya lumayan, lah, Pak.”

Beberapa detik kemudian muncullah rekan Pak Juned, yang membuat Dito terperanjat dan menelan ludah dengan perasaan campur aduk tak keruan.

“Lho, kok kamu?” Dito menunjuk rekan kerja Pak Juned.

“Kok kamu juga?” Rekan kerja Pak Juned menunjuk balik. Mereka saling tunjuk. Pak Juned bingung, tak mengira mereka saling kenal.

“Jadi kamu yang punya link dump truck yang lima puluh unit itu, Don?”

“Lho, aku cuma menginformasikan pada Pak Juned bahwasanya ada teman saya yang punya link dump truck di Bekasi, tepatnya di daerah Bulak Kapal. Itu pun sudah beberapa minggu yang lalu. Lantas, ada apa kamu ke sini?”

“Aduh!”

Dito menepuk jidat. Lama ia terdiam, membiarkan Donny dan Pak Juned bicara, menertawakan kekonyolan yang telah ia ciptakan dahulu, yang kini telah membesar bak bola salju. Ada kekecewaan dan perasaan konyol yang membuat Dito canggung hendak bersikap. Namun, yang terburuk dari semuanya adalah buyarnya impian menikahi pujaan hati.

Bekasi, 26 Juli 2022

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.