by

Dua Gadis yang Bertukar Tubuh

Aku terperanjat mendapati wajahku di depan cermin. Sebuah wajah berbentuk lonjong dengan bulu mata lentik terpantul di sana. Ajaibnya, aku bisa melihat dengan jelas tanpa kacamata. Eh, bukankah ini wajah milik gadis itu, gadis populer yang ramah dan punya banyak teman. Pristi. Aku menepuk-nepuk tubuhku. Tinggi kami memang sama dengan wajah serupa.

“Kamu mirip Pristi, Ndy,” kata sahabatku, Rani, saat aku melepaskan kacamataku dan mencuci muka di wastafel toilet kampus.

“Mirip apanya, kami udah kayak bumi sama langit,” elakku. Bagaimana bisa Rani mengatakan kami mirip. Pristi orang yang ekstrovert dan supel sementara aku introvert dan pendiam.

“Lihat, nih!” Rani memegang kedua pipiku dan mengarahkan wajahku ke depan.

Aku menatap cermin.

“Mata belo, hidung lancip, bibir tipis. Wajahmu tuh mirip sama Pristi, kecuali bentuk wajahnya. Kamu bulat, Pristi lonjong.”

“Tapi tetep aja sifat kami jauh beda.”

Dalam hati aku berharap bisa menjadi orang yang mudah bergaul dan ramah seperti Pristi. Tentu sangat menyenangkan punya banyak teman seperti Pristi. Gadis itu juga menjadi idaman para cowok di kampus. Namun, setiap kali berhadapan dengan orang baru, tubuhku akan menggigil dan kaku. Bibirku seolah beku. Jangankan mengobrol banyak hal, tersenyum dan menyapa hangat seperti Pristi saja aku tak mampu.

Dan kini tiba-tiba saja aku terjebak di dalam tubuh Pristi. Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Rupanya aku tengah berada di kampus. Apa ini mimpi? Aku mencubit lenganku. Auw, sakit. Tapi, bagaimana bisa?

“Hai, Pris,” sapa beberapa orang teman sekampus. Ada juga junior dan senior yang entah siapa namanya. Aku balas tersenyum kikuk.

“Pris, ntar malem jalan, yuk.” Empat orang teman satu geng Pristi spontan menghambur ke arahku. Dua dari mereka melingkarkan lengannya ke bahu.

Baca Juga  Rekomendasi 4 Aplikasi Baca Novel Gratis

“Eh, ke mana?” jawabku terbata.

“Nongkrong di tempat biasa gimana?”

“Ehm, gimana, ya ….” Aku menggaruk leherku yang tidak gatal.

“Udah, pokoknya kamu harus ikut! Ntar kalo kamu nggak ikut, anak-anak cowok juga absen. Lagian tumben banget, sih, nggak semangat diajak jalan.” Gadis berkaus merah menepuk pundakku.

“Iya, nih. Aura kamu juga kayaknya beda gitu, ya. Lagi sakit? Lesu gitu, Non,” ucap seorang gadis yang memakai tas bahu berwarna hitam.

“Aku nggak papa kok,” ujarku sembari menarik kedua ujung bibir.
Tepat setelah aku mengatakan kalimat barusan, kulihat diriku—maksudku, Pristi yang ada dalam tubuhku, lewat. Retina kami bersinggungan. Deg, apa Pristi sudah menyadari kondisinya sekarang? Bagaimana tanggapannya kalau dia tahu apa yang terjadi?

“Hai, Pris. Halo, semuanya….” Pristi menyunggingkan seulas senyum dan menyapa kami berlima. Senyum itu tampak memukau di bibirku. Ternyata kalau aku tersenyum ramah seperti itu manis juga.

“Tumben, ada angin apa Indy nyapa kita sambil senyum-senyum kepedeaan lagi?” Sahabat Pristi menyadari ada yang tak biasa dari “diriku.”

“Nah, biasanya kan nunduk kikuk gitu. Menghindari tatapan orang. Aneh!”

Ternyata meski tubuh kami bertukar tapi sifat asli kami masih melekat pada jiwa masing-masing. Aku pun meninggalkan teman-temanku dan bergegas mengejar Pristi yang sepertinya menuju ke arah perpustakaan. Aku harus bicara dengannya. Namun, setelah mengelilingi satu fakultas, sosoknya raib.

Dan sekarang aku bingung harus pulang ke mana. Aku tidak mungkin pulang ke rumah dengan wajah dan tubuh Pristi. Ibu pasti menganggap apa yang aku alami tidak masuk akal. Kalau aku pulang ke rumah Pristi, mungkin gadis itu juga ada di sana. Baiklah, kuputuskan untuk pulang ke rumah Pristi. Aku pernah ke rumahnya saat kawan-kawan satu jurusan menjenguk Pristi yang sedang sakit.

Baca Juga  Cerpen: Akhirnya Ke Turkey Juga

Saat aku tiba, kulihat wajah ibu Pristi memerah dengan bola mata yang seolah hendak mencuat keluar. Tangannya berkacak pinggang. Dia menjawab salamku dengan sebuah jeweran di telinga. Kurasakan telingaku mendadak perih.

Wanita itu mengomel dan memaki-maki Pristi. Mengatainya sebagai gadis bodoh dan bebal yang sering mengulang mata kuliah. Mengeluh karena uangnya habis untuk membiayai kuliah Pristi sementara suaminya abai dan tak terdengar rimbanya, kabur bersama pelakor.

Tangan ibu Pristi melayang di pahaku. Sebuah cubitan membuat kulit pahaku terkelupas dan mengeluarkan sedikit darah. Tak sampai di situ, ibu Pristi juga melayangkan pukulan ke tubuhku. Tubuhku gemetaran. Aku berlari menghindar.

**

Aku melemparkan tubuhku di atas single bed di sudut kanan kamar sederhana dengan dinding bercat moka. Ada sebuah meja belajar dan lemari pakaian mini dekat dinding. Aku mengembuskan napas lega karena sudah berada di kamar Indy. Setidaknya aku tidak harus merasakan tubuhku remuk karena kemarahan ibuku.

Ibu yang memeram dendam pada ayah selalu melampiaskan kekesalannya padaku. Katanya wajahku selalu mengingatkanku pada ayah. Ayah yang selingkuh dan kabur dengan wanita lain. Ayah yang tak bertanggung jawab dan membuat ibu harus banting tulang untuk membiayai kuliahku.

Sebenarnya aku sudah berusaha mencari pekerjaan paruh waktu, tapi aku kesulitan karena otakku pas-pasan. Saat bekerja, aku jadi punya lebih sedikit waktu untuk belajar. Kugunakan kepopuleranku untuk bergaul dengan anak dosen dan anak-anak tajir hanya agar aku bisa memanfaatkan mereka.

Aku bisa mendapatkan bocoran soal ujian atau menghemat uang jajan karena traktiran mereka. Aku tahu gengku itu juga hanya memanfaatkanku. Dengan statusku sebagai primadona kampus, mereka bisa mengajak para cowok populer untuk jalan bersama. Tak ada persahabatan yang tulus di antara kami.

Baca Juga  Tumbal

Itulah yang membuatku muak dengan hidupku. Aku hanya ingin disayangi dengan tulus, diterima apa adanya. Kurasa menjadi Indy menyenangkan. Dia bebas melakukan apa yang dia inginkan tanpa harus memakai topeng. Gadis itu punya sahabat yang benar-benar tulus berteman dengannya. IPK-nya selalu menjadi yang terbaik di jurusan. Dan keluarga Indy begitu hangat.

Saat suatu pagi kudapati diriku berada di tubuh Indy, aku melonjak kegirangan. Entah bagaimana bisa. Aku bangun dari tidur yang begitu lelap. Dan saat bangun, kudapati diriku berada di dalam tubuh Indy.

Ketika tadi aku bertemu dengan Indy, raut wajahnya tampak bingung bercampur cemas. Sepertinya dia sudah menyadari keganjilan yang terjadi di antara kami. Aku lekas menghilang darinya sebelum dia memintaku kembali bertukar tubuh. []

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.