by

DON’T WANNA CRY

“DON’T WANNA CRY”

OLEH :

AYU SALAMAH 

Viola adalah gadis periang dan ceria. Dia memiliki seorang sahabat, bernama Vera. Dari kecil, mereka selalu bersama dan selalu berada di satu sekolah yang sama. Sekarang, Viola baru duduk di bangku sembilan SMP. Kebetulan, hari ini adalah hari pengumuman kelulusan dan mereka berdua sedang menunggu hasilnya. Mereka berharap hasil ujian mereka bagus, dan mereka bisa diterima di SMA favorit nantinya.

“Ibu, Viola berangkat sekolah dulu ya.” Ucap Viola sambil menggendong tasnya.

“Lhoh, rotinya itu kamu habiskan dulu. Jangan terburu-buru, ini kan masih sangat pagi. Ayoh, pokoknya rotinya kamu habiskan dulu.” Ucap sang ibu.

“Iya, deh. Habisnya, Viola sudah ditunggu nih sama Vera. Kami berdua sudah tidak sabar, bu untuk mengetahui hasil pengumuman ujian kami.” Ucap Viola sambil menghabiskan rotinya.

“Iya, ibu tahu.” Ucap sang ibu.

“Nih, bu. Sudah selesai. Aku berangkat dulu, ya. Do’akan semoga hasil ujianku bagus dan bisa masuk SMA favorit, ya bu.” Pinta Viola.

“Iya, Aamiin. Ibu pasti akan selalu mendo’akan yang terbaik buat kamu. Nah, kamu sekarang hati-hati ya.” Jawab sang ibu.

“Baik bu, assalamu’alaikum.” Ucap Viola.

“Wa’alaikum salam”. Jawab sang ibu.

Viola pun pergi berangkat sekolah naik sepeda motor, dan tidak lupa untuk menghampiri Vera.

“Eh, Vera kamu sudah nungguin aku lama ya?” Tanya Viola.

“Enggak, ayok berangkat!” Jawab Vera.

“Ayok!” Ucap Viola.

Mereka berdua pun berangkat sekolah dengan sangat antusias.

Sesampainya di sekolah, mereka pun asyik bercakap-cakap dengan teman-teman perkara lanjut studi mereka.

Dua jam pun berlalu, sekarang sudah pukul sembilan pagi. Namun, hasil ujian mereka pun tak kunjung dibagikan. Mereka jadi penasaran dan makin deg-degan.

“Hih, Ya Allah. Kenapa lama banget sih?” Gumam Vera.

“Iya, hooh sabar. Hmmmm kenapa lama banget juga, ya?” Jawab Viola.

Waktu pun terus berjalan dan mereka pun terus menunggu. Akhirnya, pak guru pun datang dan membawakan kertas hasil ujian mereka. Mereka pun dipanggil satu-satu sesuai urutan absen.

Kini, tiba giliran Vera yang lalu dilanjutkan dengan Viola.

Setelah mereka berdua melihat hasilnya, mereka berdua langsung berpelukan karena mereka berdua lulus dengan nilai yang memuaskan. Viola mendapatkan nilai ujian nasional 37.45, sedangkan Vera mendapatkan nilai ujian nasional 36.90. Kini mereka bisa dipastikan bisa masuk ke SMA favorit.


Satu minggu kemudian, tepatnya adalah hari pelepasan dan wisuda kelas sembilan. Mereka berdua pun dandan menggunakan kebaya rapi, dan penuh semangat menjalani pelepasan itu.

Beberapa minggu kemudian, Viola dan Vera pun mulai mendaftar di SMA favorit. Pengumumannya adalah dua atau tiga minggu yang akan datang. Singkat cerita saja, mereka pun diterima di sekolah tersebut.

Bulan Agustus ini adalah tahun ajaran baru. Namun, sayangnya mereka berdua tidak lagi berada di dalam satu kelas. Viola kelas 10 Mipa 1 dan Vera kelas 10 Mipa 2. Meskipun begitu, mereka berdua masih berteman akrab.

Tiga bulan pertama, sepertinya semuanya baik-baik saja. Namun, semua keadaan berubah ketika di semester kedua. Viola dibully habis-habisan oleh Marchella, si anak pejabat yang tak lain juga teman satu kelasnya. Viola dibully dikarenakan dia tidak cantik dan dari keluarga yang tidak mampu.

Seringkali Viola melawan, namun segala macam tindakan kekerasan lah yang harus dia alami. Pernah juga, lembar tugas Viola ditumpahi air kopi oleh Marchella sehingga jawaban Viola menjadi hilang. Namun, dengan kepandaian Viola, Viola pun telah memfoto dan memfotokopikan jawabannya terlebih dahulu, sehingga nilainya aman. Viola juga sudah lelah menceritakan hal ini kepada Vera.

Viola adalah orang yang cuek dan lumayan kebal dengan bulian seperti itu. Dia sadar, bahwa sekolah di sekolah favorit itu saingannya sangatlah berat. Dia adalah peringkat pertama di kelasnya, dan dia juga sadar pasti banyak yang iri sehingga banyak yang ingin menjatuhkannya. Oleh karena itu, dia tidak boleh lengah sedikit dan terus menjaga diri dengan cerdik.

Namun, kejadian tersebut terus-menerus berulang sampai di bangku kelas sebelas. Mereka kebetulan bersama lagi di dalam satu kelas. Jadi, apa boleh buat? Ya ribut lagi.

Hingga suatu ketika, tepatnya di hari Kamis, Viola pun dikejutkan dengan tulisan dan fotonya yang tertempel di tembok kelas dan banyak sekali dan dicorat-coret. Di situ pula juga ada tulisan “WANITA SAMPAH”. Hal tersebut tidaklah lain adalah ulah Marchella. Karena kesal, Viola pun langsung mencabut dan membuang semua foto dan tulisan itu ke dalam tempat sampah.

Ditambah parahnya lagi, disaat pulang sekolah, Viola yang sedang giliran jatah membuang sampah di lantai satu, tiba-tiba ditumpahi sampah dari lantai tiga oleh Marchella. Seketika itu, Viola pun menangis dan langsung pulang dengan keadaan seluruh seragam dan badannya yang dipenuhi oleh kotoran dan sampah. Benar-benar sangatlah kejam, orang-orang seperti Marchella satu ini.

Baca Juga  Persahabatan Seorang Wizard

Viola pun mengegas sepeda motornya terlalu cepat, sehingga dia tidak sengaja menabrak seorang gadis kecil penjual gulali.

“Duarrrrr!!!!”

“Ya Allah, adek? Kamu enggak papa?” Tanya Viola panik.

“Ah, iya. Aku enggak papa kak. Untung saja kakak tadi tidak menabrakku terlalu keras.” Jawab gadis kecil itu.

“Tetapi, itu kaki kamu agak sedikit berdarah. Ya Allah, ayok kakak obatin dulu ya.” Ucap Viola sambil memegangi bahu ana kecil itu sembari duduk di pos kamling pinggir jalan.

Viola pun mengeluarkan kotak p3knya dan mengobati luka anak kecil itu sembari bertanya-tanya.

“Oh iya adik, kalau boleh tahu kenapa adik jualan gulali di sini? Lhah bukannya adik kan harus sekolah?” Tanya Viola.

“Aku sudah enggak sekolah lagi kakak, semenjak kedua orang tuaku meninggal dunia lima tahun yang lalu. Aku sekarang tinggal di panti asuhan di dekat sini sambil jualan gulali kakak. Lalu, kalau kakak sendiri bagaimana? Kenapa seragam kakak bisa sangat kotor dan penuh sampah seperti ini?” Tanya dan jawab gadis kecil itu balik.

“Ah, kakak tidak apa-apa. Bukan apa-apa sih, adik enggak perlu tahu.” Jawab Viola sambil menangis.

“Kakak jangan menangis, yuk cerita saja sama aku.” Ucap sang adik kecil itu sambil mengusap air mata Viola.

“Ehmmmm, sebelum kakak cerita btw kita daritadi belum kenalan lhoh. Kenalin, nama kakak Viola. Kalau kamu?” Ucap Viola sambil mengulirkan tangannya dan berjabat tangan dengan adik kecil itu.

“Wah, nama kakak bagus sekali. Namaku Mutiara, kakak.” Jawab sang gadis kecil itu.

“Wah, nama kamu bagus juga. Jadi begini, kakak tadi habis dibuly dan ditumpahi sampah oleh temen kakak, mangkanya baju seragam kakak jadi kotor dan penuh sampah kayak begini. Kakak dibuly dari semester dua kemarin sampai semester tiga ini dan setiap harinya kakak selalu saja dicarikan masalah dan dihajar. Mereka tidak suka kepada kakak karena kakak tidak cantik dan miskin, yah tidak punya pacar lagi. Kakak pengen banget punya pacar, tetapi tidak ada cowok yang mau sama kakak. Mungkin omongan mereka terkadang ada benarnya juga, mungkin kakak tidak cantik.” Ucap dan cerita Viola panjang lebar kepada Mutiara.

“Ssssstttt, kakak jangan bilang begitu. Kakak cantik, dan percaya deh kakak pasti sebentar lagi dapet cowok yang sangat tampan. Ih, aku bahkan sampai iri dengan kakak.” Ucap gadis itu yang sangat mengejutkan Viola.

“Hah? Darimana kamu tahu?” Tanya Viola.

“Aku terkadang bisa lihat sesuatu kakak, aku tahu kalau kakak ini periang dan ceria serta kakak ini adalah orang yang tulus. Percaya deh kakak, kalau pasti di semester ini dan kalau tidak ya di semester depan pasti kakak akan bertemu dengan orang itu, percaya deh.” Ucap Mutiara.

“Iya, hooh. Aamin.” Ucap Viola sambil menangis.

“Tetapi, kakak jangan menangis. Aku juga dapet penglihatan kalau nanti juga akan ada yang menghapus air mata kakak seperti ini. Orang itu yang akan menghapus air mata kakak.” Ucap gadis itu sambil menghapus air mata Viola.

“Eh, iya adik habis ini masih jualan lagi atau mau kakak anter ke panti asuhan?” Tanya Viola.

“Aku masih mau jualan lagi kakak, karena gulaliku masih banyak dan akhir-akhir ini daganganku semakin sepi.” Jawab Mutiara.

“Halah, gampang. Daganganmu aku beli semuanya dan kamu aku anter pulang. Pokoknya harus mau. Berapa semuanya?” Tanya Viola.

“Seratus ribu, kakak.” Jawab Mutiara.

“Nih, kakak beli semua daganganmu. Ayok, sekarang kakak antar pulang.” Ucap Viola.

Viola pun mengantarkan Mutiara pulang ke panti asuhan di dekat situ. Setelah sampai, Viola pun berpamitan pulang.

Keesokan harinya di Jum’at, Viola pun sudah dihadang oleh Marchella di kamar mandi. Kali ini, dia pun memberanikan diri untuk berkata dan membalas omongan Marchella.

“Hey lu! Gadis budak! Kamu kayaknya enggak ada kapoknya ya? Bagus banget juga mental kamu!” Ucap Marchella.

“Hey lu juga! Kamu apa enggak takut dosa sih, setiap hari cari gara-gara sama orang saja?” Jawab Viola.

“Hey, dasar wanita jelek. Kamu itu bukan siapa-siapa ya, disini. Kasihan, sudah wajahnya jelek, pantesan enggak punya pacar lagi.” Ejek Marchella.

“Hey, kamu itu yang jelek. Seharusnya kamu itu ngaca dong! Aku disini yang lebih cantik daripada kamu!” Balas Viola.

“Piuh, kayak begitu dibilang cantik. Oke deh, kalau kamu barusan sudah bilang kalau kamu itu cantik, sekarang aku kasih tantangan deh. Hmmmm, dua bulan lagi kan aku ulang tahun, nah aku undang kamu ya ke pesta ulang tahunku. Eits, tetapi kamu enggak boleh datang sendiri, harus ditemenin sama pacar kamu! Jadi, kalau kamu sekarang belum punya pacar, yah aku kasih waktu kamu dua bulan deh buat cari pacar. Bagaimana? Kamu setuju enggak? Atau, kamu pasti takut ya?” Tantang Marchella.

Baca Juga  Cerpen: Impian Senja

“Oke, siapa takut? Aku terima tantangan kamu!” Jawab Viola dengan suara yang keras dan lantang.

“Deal?” Tanya Marchella.

“Deal!” Jawab Viola.

Viola pun menerima tantangan itu. Namun, dia juga takut karena dia masih juga belum punya pacar. Dia pun menceritakan masalah ini kepada Vera.

“…Jadi, menurut kamu aku salah enggak ya Ver, menerima tantangan itu?” Tanya Viola.

“Hih, kamu enggak salah terima tantangan itu. Memang si Marchella itu harus diberi pelajaran.” Jawab Vera.

“Tetapi, sampai sekarang aku belum punya pacar. Bagaimana yah, supaya aku dapet pacar?” Tanya Viola.

“Halah, gampang. Kamu pakek saja pacarku Daniel, lagihan kan Marchella tidak tahu dan enggak kenal aku juga.” Jawab dan saran Vera.

“Hah, enggak ah. Curang kan itu namanya.” Tolak Viola.

“Enggak papa, dong.” Jawab Vera lagi.

“Hmmmm, makasih Ver buat tawarannya. Nanti dulu ya, aku pikir-pikir dulu.” Jawab Viola.

Viola pun pulang dan mengunci serta mengurung diri di kamar. Dia jujur, dia juga stress karena memikirkan tantangan itu.

Waktu demi waktu pun berlalu, hingga satu minggu menuju dateline tantangan itu dan Viola masih juga belum punya pacar. Viola pun jujur juga stress, jika dia kalah menghadapi tantangan itu. Ditambah lagi, hari itu dia dibully habis habisan dan rambutnya dijambak-jambak. Akhirnya, Viola pun putus asa dan pulang jalan kaki.

Di sepanjang jalan, Viola menangis dan putus asa. Dia pun menyadari bahwa dia memang terlahir sangat jelek dan tidak ada satu pun cowok di dunia ini yang menyukainya. Dikarenakan pikiran yang campur aduk dan hati yang sangat susah, dia pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara diam berdiri di tengah jalan agar tertabrak kendaraan yang lewat.

“Ayah, ibu maafkan aku.” Begitu ucap Viola sambil memejamkan matanya selagi menangis.

“Tinn tinn!!!!”

“Awas neng!!!!”

Lalu, “Brush”. Suara yang seharusnya adalah “Duar” tetapi berubah keadannya karena beruntungnya ada seorang pria yang berhasil menarik Viola ke pinggir jalan. Mereka berdua pun langsung jatuh bersama-sama.

“Astaga, kamu tidak apa-apa?” Tanya pria itu.

“Hah?” Toleh Viola yang sedang menoleh ke arah pria tersebut sambil terkejut karena pria yang menolongnya itu benar-benar tampan dan kelihatannya sangat baik hati.

“Kamu kenapa sih, mau coba bunuh diri ya tadi? Coba saja kalau aku tadi tidak lewat, haduh pokoknya kamu jangan ngulangin hal kayak begitu lagi deh.” Ucap pria itu.

“Iya, tetapi seharusnya kamu tadi tidak menolongku.” Ucap Viola sambil menangis.

“Hey, kenapa kamu menangis? Sudah kamu jangan menangis ya.” Begitu ucap pria tampan itu sambil menghapus air mata Viola.

“Sebelumnya, terimakasih ya kamu sudah mau menolongku.” Ucap Viola.

“Sama-sama. Oh iya, kenalin aku Verley.” Ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya.

“Kenalin juga, aku Viola.” Ucap Viola.

“Hmmmm, bagaimana kalau kita pergi ke cafe dan bercerita disana? Ayolah, kamu jangan bersedih lagi ya. Sini, aku hapus air matamu.” Ucap pria tampan itu.

Mereka berdua pun pergi menuju ke sebuah cafe terdekat dan membeli dua cup es americano. Viola pun bercerita banyak dengan Verley tentang kisah kehidupannya itu yang sampai membuatnya hampir saja bunuh diri. Ia juga menceritakan tantangannya dengan Marchella itu.

“…Jadi, untuk datang ke pesta itu aku harus punya pacar. Namun, sepertinya aku akan gagal. Bahkan, sampai saat ini aku masih juga belum punya pacar. Mungkin, karena aku tidak cantik.” Ucap Viola panjang lebar sambil menangis tersedu-sedu.

“Jangan menangis, ya Viola. Kamu itu cantik, hanya mereka saja yang iri kepadamu dan membulymu.” Ucap Verley sambil lagi-lagi mengusap air mata Viola.

“Lalu, aku harus apa?” Tambah Viola yang makin menangis tersedu-sedu.

“Kamu tenang ya, aku akan membantumu.” Ucap Verley yang sangat mengejutkan Viola. Apalagi, Verley sampai memeluk Viola dengan erat dan tulus. Sontak, jantung Viola pun berdebar kencang.

“Hah? Benarkah? Serius? Kamu mau membantuku? Beneran kamu cowok seganteng itu mau membantuku? Memangnya, kamu belum punya pacar? Nanti aku takut pacar kamu marah, lhoh.” Ucap Viola kikuk.

“Aku ikhlas membantu kamu, dan jujur aku selama hidupku juga belum pernah punya pacar. Sama seperti kamu.” Jawab Verley.

“Wah, terimakasih banyak ya. Aku harus banyak berhutang budi nih, sama kamu. Btw, kamu rumahnya dimana sih?” Tanya Viola.

“Aku tinggal di perumahan dekat sini. Aku baru pindah dari Amerika Serikat kesini sekitar dua bulanan lalu, jadinya aku termasuk orang baru disini dan belum punya teman. Ayah dan ibuku juga sudah mengusrus surat pindah sekolahku, palingan bentar lagi atau dua minggu lagi aku sudah bisa masuk sekolah lagi.” Jawab Verley.

Baca Juga  Kala Manis Tak Seindah Madu

“Oh, jadi begitu ya.” Ucap Viola yang hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya menutupi rasa hatinya yang berdebar-debar. Rupanya, Viola pun juga sudah mulai suka dengan Verley.

Mereka berdua pun saling bertukar nomor ponsel dan Verley pun mengantarkan Viola pulang menggunakan mobilnya. Malam harinya, Viola tidak bis atidur karena memikirkan Verley. Dia akhirnya bangga dan bisa punya pacar, walaupun hanya pacar palsu. Dia juga bangga karena akhirnya dia sebentar lagi bisa mengalahkan tantangan dari si Marchella.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Malam itu pestanya dimulai pukul tujuh malam dan Viola dan Verley pun datang pukul delapan malam.

Marchella dan teman-temannya tengah asyik membicarakan Viola. Mereka mengira pasti Viola tidak akan datang ke pesta ulang tahun Marchella karena dia malu untuk mengakui kekalahan dari tantangannya. Namun, beberapa menit kemudian, mereka terkejut oleh kedatangan Viola mengenakan gaun berwarna putih dan apalagi ditemani oleh cowok amerika yang mereka nilai diluar tingkat ketampanan yang mereka bayangkan. Mereka semuanya tunduk dan diam terpaku. Malam itu pun menjadi malam kemenangan Viola atas tantangannya kepada Marchella.

Viola pun lantas berterimakasih banyak kepada Verley. Keesokan harinya, tidak ada satu pun teman-teman di kelasnya yang berani membulinya. Marchella yang kesal, hanya diam dan melototi Viola tanpa berkata sepatah kata apapun.

Lebih mengejutkannya lagi, satu minggu kemudian ada siswa baru. Mereka semua menantikan siapa siswa baru itu. Para siswa pun kaget di saat pak guru memperbolehkan siswa itu masuk. Semuanya tanpa terkecuali Viola sangatlah kaget karena siswa baru itu tidaklah lain melainkan si Verley pacar palsunya itu.

“Okey, Verley sekarang kamu dipersilahkan duduk.” Ucap pak guru.

“Baik, pak.” Ucap Verley.

Verley pun langsung memilih duduk bersama Viola dan mengedipkan matanya. Hal itu membuat Verley terlihat lebih ganteng lagi. Hati Viola pun membeku saat itu.


Hari demi hari pun berlalu. Sekarang sudah tidak ada bulian lagi di kelas Viola. Semuanya juga sudah tahu, bahwa itu adalah pacarnya Viola. Namun, masih ada satu hal yang mengganjal di benak Viola, begitupun Verley. Rasanya, mereka sudah membohongi dan membodohi semua orang.

Hingga suatu ketika, Verley pun mengajak Viola ke cafe yang pertama kali mereka kunjungi. Viola pun sangat terkejut karena Verley bilang dia ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting dengan tiba-tiba. Setelah minum es americano lagi, dan setelah suasana hati menjadi semakin lebih tenang, Verley pun memberanikan diri untuk berbiaca terus terang kepada Viola.

“….Jadi, dari awal pertama kali kita bertemu dan juga disaat pertama kali kita berdua pergi ke cafe ini, jujur aku menyukaimu. Jadi, aku mengajakmu datang kesini untuk berbicara serius mengenai hubungan kita. Aku ingin kita mengakhiri hubungan kita yang palsu ini dengan yang asli. Dengan kata lain, aku ingin menembakmu dan aku ingin kita jadian. Jadi, Viola, maukah kamu menjadi pacarku asli?” Ucap Verley panjang lebar.

Viola pun terpaku sejenak dan tidak bisa berbicara apa-apa. Dia sangat senang dan terasa jantungnya mau meledak saking bahagianya. Dengan lama, Viola pun menjawab sambil menangis bahagia.

“Iya, Verley. Aku mau menjadi pacar aslimu. Aku bahkan juga mencintaimu disaat kita baru pertama kali bertemu dan juga di cafe ini.” Begitu ucapnya sambil menangis.

“Hey, jangan menangis sayang. Kamu ini, ah senang sedih menangis terus. Ayok, tersenyum dan tertawa dong. Nah, begitu, dong.” Ucap Verley.

Mereka berdua pun mulai berpacaran dengan serius, artinya hubungan mereka adalah asli bukanlah palsu. Kini, mereka berdua sangatlah bahagia. Verley pun mengantarkan Viola pulang. Tak hanya itu pula, Verley pun mengakhiri hari yang indah itu dengan mencium Viola. Yap, mereka berdua pun berciuman di dalam mobil, sebelum Viola keluar untuk pulang. Sungguh, Verley adalah kebahagiaan luar biasa dan satu-satunya yang dia miliki.

Sungguh, kisah ini penuh haru dan penuh perjuangan dan memiliki hikmah untuk kita semua bahwa jangan mudah untuk menangis dan pasrah serta berputus asa di dalam menjalani kehidupan kita. Selalu optimis dan jangan berprasangka buruk dengan Allah atas segala apa yang terjadi di dunia ini. Percayalah, semua pasti akan indah disaat waktunya yang sudah tepat.

 TAMAT

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment