by

Dongeng Petani Hutan

Dongeng Petani Hutan

Oleh:

Siti Nur Laela

“Petani Hutan yang telah punah,” Seruni tertegun sesaat. Halaman buku ensiklopedia di pangkuannya memperlihatkan gambar seekor burung enggang gading. Ia membaca pelan-pelan baris demi baris tulisan di bawah gambar.

“Enggang gading atau rangkong gading menjadapat julukan Petani Hutan karena kehebatannya menebar biji tanaman. Hewan bernama latin Rhinoplax vigil ini adalah burung pemakan buah selain juga menyantap beberapa jenis serangga seperti kumbang, jangkrik, dan rayap. Sistem pencernaan enggang gading tidak merusak biji. Dengan kemampuan terbang hingga seratus kilometer, Rhinoplax vigil menyebarkan biji tanaman ke seluruh penjuru hutan. Namun sayang, si Petani Hutan kini telah punah akibat perburuan liar…”

Seruni menatap gambar enggang gading. Ujung telunjuknya menyusuri paruh seolah-olah gambar itu nyata. Paruh enggang gading memiliki bentuk yang unik. Bagian pangkal menebal berbeda dari paruh burung pada umumnya.

“Runi, Ayah mau bicara…”

Seruni tersentak. Tanpa ia sadari, Ibu sudah berdiri di sebelahnya. Serta merta ia menutup buku lalu menerima ponsel yang disorongkan oleh Ibu.  “Ayah,” sapanya dengan nada riang.

Beberapa saat kemudian, percakapan usai. Seruni mendadak muram.

“Urusan Ayah belum selesai,” gumam Seruni.

Ibu tersenyum, mencoba mengusir risau di hati putrinya. “Ayah bilang tidak akan lama.”

Seruni mengentakkan kaki. “Ayah kerja, kerja, kerjaaa… terus.”

“Runi,” Ibu berkata dengan lembut, “Perkerjaan ini amat mendesak. Ayah terpaksa menunda janjinya dengan Runi. Tapi, kalau semua sudah beres, Ayah pasti segera pulang.”

Seruni merengut. “Tapi nanti jalan-jalannya cuma sebentar.”

Semalam Ayah berjanji, akhir pekan ini akan mengajak Seruni pergi ke kebun binatang. Akan tetapi, pagi-pagi sekali seorang rekan kerja Ayah menelepon. Ada pekerjaan penting yang harus segera Ayah selesaikan. Terpaksa Ayah berangkat ke kantor.

“Runi…” Ibu membelai kepala putrinya.

Seruni melengos. Ia melemparkan pandangan ke halaman. Dahan pohon jambu melambai diembus angin sepoi-sepoi.

Ibu menarik nafas panjang. Apabila sedang merajuk, Seruni lebih baik dibiarkan sendiri. Tak ada yang bisa Ibu lakukan untuk menghiburnya. Ibu memilih masuk ke dalam rumah, menanti  suasana hati Seruni baik kembali.

Walaupun usianya sudah empat belas tahun, tapi sikap manja Seruni kepada Ayah tak pernah berubah. Ia selalu merasa menjadi gadis cilik di hadapan ayahnya.

Sepeninggal Ibu, Seruni duduk membisu. Kicau kenari kemudian mengusiknya. Burung mungil berwarna kuning itu hadiah dari Ayah. Seruni memang menyukai burung. Ia sering pergi ke kebun binatang bersama Ayah dan Ibu untuk melihat berbagai jenis unggas. Kadangkala, saat Ayah sedang cuti dari pekerjaannya, mereka pergi berkemah ke daerah pegunungan. Burung-burung liar masih dapat dijumpai di sana. Karena kecintaannya pada burung, Seruni bercita-cita menjadi seorang ornitolog.

Ayah pernah bertanya, apa sebab Seruni menyukai burung. Seruni menjawab, karena burung bisa terbang. Ayah menyanggah bahwa tak semua burung bisa terbang, dan ada hewan bukan jenis burung  tetapi bisa terbang. Seruni menggaruk-garuk kepala kemudian memberi alasan berbeda sekenanya, karena lambang negara kita burung Garuda Pancasila. Ayah tertawa, dan Seruni senang melihat ayahnya tertawa.

Kenari berkicau ramai. Kicauan itu menjadi magnet, menarik Seruni menghampiri sangkar yang tergantung rendah di teras. “Kenari, aku lagi kesal. Ayah kerja terus.” Bibir Seruni mengerucut.

Mata Kenari mengerjap lalu burung mungil itu menelengkan kepala.

Brak!

Seruni seketika menoleh ke atas meja. Buku ensiklopedia menjeblak terbuka. Halaman buku bergerak cepat. Rrrttt… Kening Seruni mengernyit. Angin sepoi-sepoi tak mungkin bisa membalik lembaran buku. Bahkan, tiupan angin yang kuat sekali pun mustahil membuka halaman secepat itu.

Di dalam sangkar, Kenari tampak gelisah. Ia berlompatan kian kemari sambil mencericip dengan ribut. Seruni tak menghiraukan tingkah Kenari. Perhatiannya terpaku pada buku ensiklopedia. Buku itu berisi berbagai jenis fauna yang hidup di kepulauan Nusantara.

Rasa penasaran menyeret langkah Seruni semakin dekat ke tepi meja. Buku terbuka pada halaman bergambar peta persebaran burung di Indonesia. Tampak oleh Seruni lingkaran dengan permukaan meriak serupa ilusi optik. Gadis kecil itu memekik. Lingkaran meriak mengisap tubuhnya masuk ke dalam buku.

“Ibuuu…!”


Seruni terperenyak, debu-debu berlompatan ke udara. Ia meringis sebentar namun pemandangan  di depannya membuat Seruni melupakan rasa nyeri. Tunggul-tunggul pohon sebesar rumah bertebaran bagaikan barisan nisan di tanah pemakaman, nisan para gergasi karena ukurannya yang luar biasa besar.

“Di mana aku?” bisik Seruni. Ia memandang ke sekeliling seraya mengingat detik-detik sebelum terdampar di tempat tersebut. Buku yang dibuka oleh—entah siapa, lingkaran bergelombang pada halaman buku, lalu seseorang—atau sesuatu menarik dirinya masuk ke dalam lingkaran itu. Di sinilah ia berada kini.

Semak bergemerasak. Mata Seruni nyalang menatap dedaunan. Ia menyambar sepotong ranting kering lalu suasana kembali hening.

Suasana hening membuat Seruni semakin bersiaga. Nisan para gergasi membentang sepanjang mata memandang. Ia membayangkan tanah gersang itu dahulu tentulah rimba belantara. Pohon-pohon jangkung menjulang ke angkasa. Kanopinya yang hijau nan rindang menaungi kehidupan berbagai jenis hewan. Suara kicau, derik, kokok, desis, dengkung, geraman, bahkan lolongan perpadu menjadi satu harmoni yang indah. Kemudian, semua berubah!

Derap langkah manusia disusul derak kayu patah. Pohon-pohon bertumbangan. Hewan-hewan di lantai hutan berlarian. Induk-induk burung menangis karena telurnya remuk. Anak-anak kera menjerit-jerit terpisah dari induknya. Kucing-kucing besar bertaring panjang mengungsi ke perkampungan. Namun, perkampungan adalah tempat tinggal manusia, bukan hewan liar seperti mereka. Penduduk di sana menyambut mereka dengan busur dan panah.

Sebagian hewan menerobos pepohonan. Mereka masuk lebih dalam ke dalam hutan. Mereka tak lantas merasa tenang. Derap langkah manusia masih terdengar. Manusia-manusia itu  tidak membawa mesin bergigi tajam untuk merobohkan pepohonan, melainkan senjata yang bisa memuntahkan peluru. Hewan setangkas tupai pun sulit mengelak apabila moncong senjata telah menyalak.

Sesaat Seruni larut dalam pikirannya. Ia tersadar saat semak kembali bergemeresak.

Jantung Seruni seperti mau copot. Matanya yang bulat semakin membola. Burung  sebesar gerobak tiba-tiba muncul dari balik semak. Gadis kecil itu mundur sambil memegang ranting layaknya sebilah pedang. Namun malang, kakinya tersandung akar lapuk hingga ia jatuh terjengkang.

Baca Juga  Persahabatan Seorang Wizard

“Ja-jangan gangu aku!” Seruni menyeret tubuhnya menjauhi makhluk itu.

Terdengar kicauan nyaring. “Seruni, Seruni, Seruni… Jangan takut, Seruni.”

Seruni ternganga. “Kamu bisa bicara…”

Seruni mengamati makhluk di hadapannya. Makhluk menyerupai seekor burung itu berbulu dominan kuning. Kaki dan ujung-ujung bulu sayapnya berwarna putih. Makhluk itu seperti seorang nona manis dengan sepatu buts dan sarung tangan putih. Ia cantik seperti Kenari.

“Kenari?” Seruni terkejut sendiri. Tanpa sadar kata itu meluncur dari mulutnya.

Makhluk itu tak segera memberi reaksi. Pandangannya menerawang ke angkasa. Langit tampak biru dengan gerumbul awan menyerupai kawanan domba. “Buku itu bertuah. Ia memiliki lorong yang mengantarkan kita kemari, ke pulau berbentuk kepala beruang ini.”

“Kalimantan? Maksudmu kita ada di Pulau Kalimantan?”

Kenari menelengkan kepala. “Entah, tak tahu.” Celotehnya kemudian, “Tubuhmu menciut. Semua yang kamu lihat tampak jauh lebih besar. Satu lagi, aku tidak bisa berbicara bahasa manusia, tapi kamulah yang mengerti bahasaku.”

Seruni bertanya-tanya, apakah ini nyata? Kepalanya mendadak pening.


“Aku lapar,” Seruni meringis sembari mengusap-usap perutnya.

“Naiklah ke punggungku,” ucap Kenari dengan suara melengking. “Kita pergi mencari makanan.”

Semula Seruni merasa ragu.  Ia pernah naik kuda poni di sebuah tempat wisata tetapi belum pernah menunggang seekor burung. Bagaimana kalau nanti ia terjatuh? Namun, Seruni menepis pikiran itu jauh-jauh. Perutnya semakin gaduh. Ia memutuskan untuk mengikuti perintah Kenari.

Satu tolakan kuat melambungkan Kenari ke udara. Di atas punggungnya, Seruni terlonjak. Gadis kecil itu memekik karena kaget sekaligus senang.

Kenari mengepakkan sayap meniti angkasa. Rasanya, Seruni seperti sedang naik bianglala. Ia tertawa lepas seraya berseru, “Lebih tinggi, Kenari!”

Tidak pernah terbayangkan oleh Seruni sebelumnya. Ia duduk di atas punggung seekor burung, terbang melintas di atas Pulau Kalimantan. Jika ini sebuah mimpi, ia tak ingin segera terjaga. Ia ingin menikmati mimpi ini lebih lama.

Menurut Kenari, mereka berada sebelah timur pulau “Kepala Beruang”. Saat melihat sungai panjang berkelok-kelok, Seruni menebaknya sebagai Mahakam. Mahakam serupa ular panjang; membujur di antara rumah liliput, rerumputan, dan petak-petak berwarna cokelat kekuningan.

Jejeran rumah liliput adalah perkampungan, hamparan rerumputan adalah rimba raya, sedangkan petak-petak cokelat  kekuningan tentulah lahan bekas hutan. Gergasi berkanopi hijau habis dibabat oleh gergaji mesin milik para penebang liar. Tersisa taburan nisan berupa tunggul pepohon. Gergasi kalah oleh gergaji.

Dari guru di sekolah, Seruni belajar bahwa hutan merupakan paru-paru Bumi. Jika paru-parunya rusak, Bumi pelan-pelan akan mati. Padahal, Bumi merupakan rumah manusia. Seruni bergidik ngeri. Bagaimana kehidupan manusia nanti seandainya Bumi benar-benar mati?

Seruni memeluk leher Kenari lebih erat.

Kenari menukik tajam. Burung itu mulai menurunkan ketinggian terbang. Pucuk-pucuk dedaunan bermunculan. Ia bermanuver untuk menghindari cabang yang melintang di sana-sini kemudian hinggap pada sebatang ranting.

“Yuk, kita makan,” Kenari memberi aba-aba.

Seumur hidupnya Seruni belum pernah makan buah selezat itu. Namun, Kenari berkomentar bahwa buah itu terasa lezat karena Seruni sedang lapar.

Seruni ingin berkata sesuatu namun segera ia urungkan. Telinganya menangkap suara bluk-bluk-bluk mirip bunyi baling-baling helikopter. Tak berapa lama, sebuah bayangan besar melintas di atas mereka. “Awas, Kenari!” Seruni menelungkup ketakutan.

Suasana sunyi kembali. Sesekali terdengar serangga hutan bernyanyi. Seruni memberanikan diri mengangkat wajah. Kenari lenyap dari pandangan!

“Kenari… Kenari…” Seruni mencari-cari di antara rimbun daun ara.

Seruni mulai resah. Ke mana ia harus mencari Kenari di hutan seluas ini? Hampir saja ia menangis jika burung itu tak segera terlihat. Namun, Kenari tidak sendiri, burung lain ada bersamanya: seekor murai.

“Kenari!”

“Jangan ribut,” tukas Kenari. Dengan sayapnya, ia mengarahkan pandangan Seruni pada dahan pohon gondang.

Seekor burung besar bertengger di sana. Burung itu berbulu gelap dengan ekor putih menjuntai. Ia bersenandung,“Kuuuk-kuuuk-kuuuk.” Paruhnya yang besar, panjang, dan melengkung kemudian terbuka. Terdengarlah suara cekakak mirip orang tertawa terbahak-bahak, “Kwak-kwak-kwak-kwak-kwak…!”

Serangga hutan serentak terdiam.

Sesaat berikutnya, si Burung Besar berpindah ke pohon beringin.  Sayapnya mengepak dan ekornya membentang—menyerupai kipas putih dengan garis hitam dekat tepiannya. Seruni lalu menyadari, suara seperti putaran baling-baling helikopter yang ia dengar tadi berasal dari kepakan sayap si Burung Besar.

Si Burung Besar rupanya hendak makan. Sekali patuk, buah beringin dari tangkai berpindah ke ujung paruhnya. Dengan gerakan melempar, butir buah melambung rendah, masuk ke celah paruh, lalu menggelinding ke dalam kantung di lehernya.

Seruni berdecak kagum menyaksikan atraksi itu. Ia memperhatikan paruh si Burung Besar lebih cermat. Bagian ujung berwarna kuning cerah sementara pangkalnya merah hati. Bentuk menjendul di atas paruh mengingatkan Seruni pada helm yang ia kenakan saat bersepeda. Burung apakah itu? Seruni bertanya-tanya dalam hati.

“Enggang gading,” Murai bergumam, seakan-akan ia dapat membaca pikiran Seruni.

Seruni meringis, “Kamu pasti keliru.”

“Tidak, aku tak keliru,” Murai bersikukuh. Dadanya yang berbulu kuning tua sampai membusung.

“Tapi, burung itu sudah punah,” bantah Seruni tak mau kalah.

“Belum!”

“Sudah!”

“Belum!”

“Sudah!”

Kenari mengembuskan nafas dengan kuat. Ia segera menukas, “Kalau kalian berisik, Enggang Gading nanti kabur.”

Mata bulat Seruni terpicing. “Jadi, itu benar burung enggang gading?”

Kenari menganggukkan kepala.

Seruni lantas melirik Murai. Burung itu mengibas-ngibaskan ekornya yang panjang sambil menyeringai penuh kemenangan. “Kaaan… Apa kubilang.”


Bersama Kenari dan Murai, Seruni menguntit Enggang Gading hingga ke sebatang pohon kempas. Pohon itu menjulang tinggi. Usianya tentu mencapai puluhan tahun.  Lingkar batangnya saja sebesar pelukan tiga orang manusia dewasa—jika mereka dalam ukuran normal.

“Dia pulang ke sarang,” kicau Murai.

Seruni menelisik dahan kempas. Tak tampak anyaman ranting dan dedaunan kering tempat burung biasa bersarang.

“Aku tak melihat sarang itu,” Seruni mengeluh.

Murai berceloteh bahwa enggang gading bersarang di lubang alami pohon. Burung besar itu memilih pohon yang paling tua, paling tinggi, dan lingkaran batangnya besar. Tidak mudah menemukan sarang si Burung Besar karena pintu masuknya tertutup lumpur. Tersisa sedikit celah agar burung jantan bisa mengantarkan makanan bagi si Betina.  Di dalam sarang, enggang gading betina mengerami telur kemudian merawat anaknya. Apabila anak enggang sudah siap belajar terbang, barulah induknya membuka penutup sarang.

Baca Juga  Cerpen: Dilema Ustadzah Karima

Bibir seruni membentuk bulatan. “Ooo… begitu.”

Si Burung Besar rupanya seekor enggang gading jantan. Keluarga kecilnya kini menghuni lubang pohon kempas. Seruni sungguh lega, ternyata jenis burung itu masih tersisa di muka Bumi.

“Enggang gading tidak mudah berkembang biak. Biasanya, burung betina hanya bertelur sebutir dalam waktu setengah tahun,” Murai berceloteh lagi.

Kenari turut menambahkan, “Enggang gading cuma punya satu pasangan seumur hidupnya.  Apabila pasangannya mati, ia tak mencari mengganti.”

Sementara telinga menyimak celoteh Murai dan Kenari, mata Seruni tak lepas memandang pohon kempas.

Si Burung Besar berpijak pada sebongkah bonggol kayu. Lehernya yang gundul tampak menggembung berisi buah-buahan.  Ia mengentakkan kepala. Sebutir buah beringin bergerak naik dari kantung di leher ke ujung paruhnya. Buah itu masih utuh.

“Dia sedang menyuapi pasangannya,” kicau Murai saat si Burung Besar memasukkan paruh ke celah sempit di pintu sarang.

Selama menjaga anaknya, enggang gading betina tidak bisa ke mana-mana. Ia terkurung di dalam sarang. Keberlangsungan hidupnya sangat tergantung pada makanan yang diantarkan oleh enggang gading jantan. Mereka berbagi tugas. Begitu celoteh Murai.

Bayangan Ayah dan Ibu tiba-tiba muncul dalam benak Seruni.

Selama ini Ayah mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Terkadang Ayah terpaksa pulang hingga larut malam, bahkan bekerja di akhir pekan. Pengorbanan Ayah semata-mata untuk Seruni dan Ibu. Sementara itu, ketika Ayah bekerja, Ibu berada di rumah, menjaga dan merawat dirinya.

Penyesalan diam-diam menelusup di hati Seruni. Ia sering merajuk apabila keinginannya tidak segera dituruti. Seruni disergap rasa rindu pada Ayah dan Ibu. Ia ingin meminta maaf dan memperbaiki sikapnya. Ketika matanya mengerjap, butiran air bening berguguran ke pipinya.


Irisan semangka perak berpendar di langit. Cahayanya jatuh menerpa dedaunan. Seekor babi hutan mulai berkeliaran. Matanya menyorotkan nyala sepasang lampu di kegelapan. Saat babi hutan menerabas belukar, sorot mata serupa sepasang lampu itu seketika padam. Seruni menikmati pemandangan itu dari sebuah ceruk pohon.

Ceruk terbentuk dari bekas patahan dahan. Lekukannya dalam sehingga Seruni aman membaringkan badan di sana. Lagi pula, tubuhnya kini sebesar belalang. Pada ranting di atas ceruk, Kenari dan Murai bertengger berdampingan.

Serangga malam seakan menyanyikan lagu Nina Bobok. Akan tetapi, mata Seruni tak juga terpejam. Ia membolak-balikkan badan dengan gelisah. Ia teringat pada tempat tidurnya yang nyaman. Karena kesal tak kunjung terlelap, Seruni duduk memeluk lutut.

“Tidak bisa tidur, ya?” tegur Murai dari atas ranting.

“Belum mengantuk,” sahut Seruni.

Murai terbang mendekat. “Aku juga,” katanya sambil berusaha membeliakkan mata.

Di tajuk pohon yang lebih tinggi, Kenari diam tak bergerak. Matanya terkatup rapat dan dadanya kembang-kempis secara teratur. Ketika napasnya berembus, terdengar siulan lembut. Kenari sudah mendengkur.

Seruni membuka percakapan, “Aku suka membaca. Salah satunya buku tentang hewan. Dari buku itu, aku tahu enggang gading sudah punah. Makanya, aku membantah waktu kamu bilang si Burung Besar adalah enggang gading.”

Seruni menatap ke arah pohon kempas tempat enggang gading bersarang. “Kejam betul penduduk di sini,” ucapnya lirih

Murai menggeleng cepat tanda tidak setuju. “Bukan, bukan, bukan. Itu ulah para pemburu!”

Menurut Murai, penduduk di sekitar hutan memuliakan enggang gading. Mereka percaya bahwa leluhur mereka berasal dari langit kemudian turun ke bumi dengan bentuk menyerupai si Burung Besar. Bahkan, untuk menghormati para leluhur, mereka menciptakan tarian yang menceritakan keseharian enggang gading.

“Jadi, mereka tak mungkin menyakiti enggang gading, apalagi sampai membunuhnya,” Murai menegaskan.

Seruni tampak penasaran. “Apa sih yang diincar para pemburu?”

Murai meletakkan ujung sayap di atas paruh. “Balung enggang gading,” jawabnya singkat.

Seruni tercenung. Jadi, bentuk menyerupai helm di atas paruh si Burung Besar disebut balung. Demi balungnya, para pemburu liar tega membunuh enggang gading. Padahal, burung besar itu berjasa besar bagi kelestarian hutan. Mereka menyebarkan biji tanaman sehingga tumbuhlah pohon-pohon baru yang merimbunkan belantara Kalimantan. Tak heran jika enggang gading mendapat julukan “Petani Hutan”. Apabila pohon-pohon tumbuh semakin besar, tak hanya sang Petani Hutan, manusia pun turut menikmati hasilnya.

“Malah melamun.”

Seruni mendadak salah tingkah. Ia baru tersadar ternyata Murai memperhatikannya sejak tadi. “A-aku sedang berpikir. Balung itu untuk apa?” ucap Seruni menutupi rasa gugup.

Murai melompat lebih dekat ke hadapan Seruni. Ia menoleh sebentar ke luar ceruk seolah-olah takut ada yang menguping pembicaraan. Dengan suara pelan, ia berkata, “Balung enggang gading bernilai lebih tinggi dari gading gajah. Balung itu bisa dipahat menjadi ukiran yang sangat indah.  Harganya tentu mahal sekali.”

Wajah Murai berubah murung. Ia bercerita masa kecilnya ketika baru bisa terbang. “Aku mencoba menjelajah hutan sendirian. Kulihat sekawanan enggang gading hinggap di atas sebatang pohon besar. Mereka makan bersama sambil bercanda-canda. Tiba-tiba terdengar bunyi letusan.

Satu di antara mereka jatuh terkapar sementara lainnya terbang menyelamatkan diri. Tapi, cerita tak berakhir sampai di situ. Dari hari ke hari bunyi letusan semakin menjadi. Suatu ketika kusaksikan pemandangan yang membuatku bergidik ngeri. Kulihat tumpukan bangkai enggang gading di dekat sungai, semua tanpa kepala.”

“Aku pulang sambil ketakutan. Aku tak berani menceritakan apa yang kulihat pada indukku. Aku tak ingin membuatnya cemas. Tapi, ingatan itu terus menghantuiku sampai sekarang.” Suara Murai menjadi parau. Ia berusaha keras menjaga bendungan air matanya agar tidak jebol.

Seruni bergegas bangkit lalu mendekap Murai. Ia mengusap punggung burung  itu. “Jangan cemas, Murai. Aku akan melindung si Burung Besar. Para pemburu tidak akan bisa menyakitinya. Aku berjanji padamu.” Seruni sekarang mengerti mengapa ia berada di tempat ini.

Baca Juga  Tilikan Rindu

Malam merangkak menyongsong fajar. Rona merah perlahan merekah di timur cakrawala. Ayam hutan berkeruyuk nyaring hingga Seruni tersentak bangun. Ia merasakan sesuatu yang lembut di pipinya kemudian menyadari benda lembut itu adalah bulu Murai. Rupanya, Seruni tidur berdempetan di dasar ceruk bersama Murai.

Sebelum Seruni jatuh tertidur, Murai sedang bercerita tentang lembah yang dilintasi sungai. Lembah itu menjadi tempat kesukaan si Burung Besar karena banyak pohon ara tumbuh di sana. Ketika Murai menirukan gemericik air, suaranya pelan-pelan menjauh, lalu Seruni tak ingat apa-apa lagi. Ia terjaga oleh kokok ayam hutan.

Seruni tiba-tiba mendongak. Satu bayangan melintas di atas ceruk. Sesaat kemudian, Kenari muncul. Burung itu mencericip ramai, “Cepat, bangun! Enggang Gading terbang ke arah matahari terbit!”


Suara cekakak menggema di dasar Lembah. Seruni menengadah. Si Burung Besar bertengger pada dahan tanaman ara. Seperti ucapan Murai semalam, lembah ini menjadi tempat kesukaan enggang jantan itu.

Satu benda aneh mengalihkan pandangan Seruni. Benda itu menggelantung pada sebuah dahan. Bentuknya berupa lembaran tebal setengah lingkaran dengan warna hitam kecokelatan. Seluruh permukaannya tertutup titik-titik gelap yang tak berhenti bergerak.

“Itu sarang lebah madu hutan,” jawab Murai ketika Seruni menanyakannya. “Jangan pernah mengganggu, mereka galak.”

Dari antara pepohonan, Kenari muncul. Ia berseru-seru dengan panik, “Gawat, gawat! Ini sungguh gawat!”

“Ada apa, Kenari?” tanya Murai kebingungan. “Tenangkan dirimu dulu.”

Kenari mengatur nafas sejenak. Setelah lebih tenang, ia berkata, “Ada pemburu. Dia mengincar enggang gading.”

Baru saja Kenari mengatupkan paruh, terdengar suara “Krak!” ranting terinjak.

Seorang laki-laki berjalan mengendap-endap tak jauh dari pohon ara. Setelah menyelinap ke balik batu besar, ia mengarahkan moncong senapan ke salah satu dahan. Jarinya perlahan bergerak hendak menarik pelatuk. Si Burung Besar tidak menyadari dirinya dalam bahaya.

“Oh, tidak!” seru Seruni tertahan. Ia teringat pada induk enggang gading dan anaknya. Apabila si Burung Besar mati, keluarganya juga akan mati. Burung itu benar-benar akan punah dari muka Bumi. Taka ada lagi Petani Hutan yang menebarkan biji tanaman.

Si Pemburu tak jadi menembak. Sasarannya sekonyong-konyong pindah ke pohon ara yang berbuah lebih lebat. Ia mendengus kesal sembari berjingkat ke arah kayu yang bentuknya menyerupai punggung buaya.

“Dia kemari,” Kenari berkata dengan suara tercekat.

“Kalian cepat pergi dari sini,” perintah Seruni.

Murai dan Kenari berpandangan. “Tapi…”

Mata Seruni membola. “Cepat!”

Murai dan Kenari tak mengindahkan kata-kata Seruni. Keduanya sama-sama mengerti apa yang sebaiknya mereka lakukan. Si Burung Besar harus mereka peringatkan!

Rencana Murai dan Kenari tampaknya terbaca oleh si Pemburu. Ia bergerak lebih cepat. Dengan satu mata terpicing, moncong senjata ia arahkan tepat ke sasaran. Telunjuknya mulai bergerak.

Mendadak sontak si Pemburu mengaduh diikuti bunyi letusan senapan. Akan tetapi, tembakannya luput dari sasaran. Peluru malah merobek sarang lebah madu. Mata si Pemburu terbeliak ketakutan. Awan gelap dengan suara berdengung meluncur ke arahnya.

Seruni bersorak melihat si Pemburu lari tunggang langgang. Rasa sakit setelah terhempas ke dalam semak tak ia rasakan. Lebih-lebih ketika si Burung Besar membumbung ke angkasa. Seruni merasa sangat bahagia.

Sewaktu si Pemburu hendak menembak, Seruni lebih dulu mengigit kakinya. Laki-laki itu terperanjat sampai-sampai perhatiannya terpecah. Ia mengira ada semut lalu menyentakkan kaki kuat-kuat. Seruni terhempas ke dalam semak.

Kenari dan Murai hinggap di hadapan Seruni.

“Kamu baik-baik saja, Seruni?” tanya Kenari cemas.

“Apa kamu terluka?” Murai ikut bertanya.

Seruni tersenyum. Ia hendak berkata kalau dirinya baik-baik saja. Akan tetapi, sejuta kunang-kunang tiba-tiba muncul. Penglihatannya perlahan mengabur. Dunia di sekeliling Seruni kemudian gelap gulita.


“Runi, kenapa tidur di sini?”

Wajah Seruni berkedut. Ia mengenali suara Ayah. Ketika kelopak matanya terbuka, Seruni mendapati dirinya duduk di bangku teras sambil memeluk buku ensiklopedia.

“Ayah, kita harus melepaskan Kenari!” cetus Seruni tiba-tiba.

Ayah melongo. “Apa?”

Seruni bangkit berdiri lalu menurunkan sangkar burung. “Kita tidak boleh mengurung Kenari. Seekor burung semestinya hidup bebas di alam.”

“Tapi…”

Seruni membuka pintu sangkar. “Pergilah Kenari!”

Kenari melompat pendek-pendek sampai ke lantai teras. Saat angin berembus, sayapnya mengepak. Burung itu hinggap sebentar di dahan pohon jambu sebelum terbang dan menghilang di balik atap rumah tetangga.

Ayah memperhatikan dengan wajah bingung.

Ibu muncul dari dalam rumah sambil menating nampan. “Seruni, ibu buatkan cokelat hangat kesukaanmu.”

Ibu terkejut ternyata Ayah sudah pulang, dan lebih terkejut melihat sangkar yang kosong melompong. Ia menatap Ayah meminta penjelasan.

Ayah menyeringai seraya mengangkat bahu.

“Ayah, Ibu…,” Seruni berdiri menghadap kedua orangtuanya. Setelah satu tarikan nafas, ia bercerita tentang lorong di buku, hutan Kalimantan, buah ara, burung enggang gading, si Pemburu, sarang lebah madu, sungai, juga dua sahabatnya Kenari dan Murai.

“Mimpimu seru sekali, Runi,” komentar Ayah setelah Seruni menuntaskan cerita.

Seruni langsung cemberut. “Itu bukan mimpi, Ayah…”

Ayah mengusap-ngusap dagu. “Rasanya, Seruni punya bakat mengarang. Bagaimana kalau cerita itu Runi ketik lalu dikirimkan ke majalah atau koran? Siapa tahu nanti dimuat. Judulnya, Petualangan di Rimba Kalimantan.” Mata Ayah berbinar.

Seruni menggaruk-garuk kepala meskipun tidak gatal. Percuma, pikirnya. Ayah dan Ibu menyangka ia mengarang cerita. “Kita jadi pergi kan, Yah?” Seruni membelok topik pembicaraan.

“Jadi, dong. Ayah tukar pakaian sebentar.”

“Ibu juga mau menyiapkan bekal.”

Seruni kembali duduk sendirian di teras. Sesuatu melintas dalam benaknya. Ia meraih buku ensiklopedia dari atas meja. Setelah menemukan halaman yang dicari, ia membaca barisan huruf yang tercetak besar-besar, “Petani Hutan yang Tangguh”.

Di bawah tulisan itu, terpampang gambar sekawanan enggang gading sedang bertengger pada sebatang pohon besar.

Seruni tersenyum lega.


Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment