by

Cerpen: Dilema Ustadzah Karima

Dilema Ustadzah Karima

Oleh : Sulaikah Kurniawati

Tiit…tiiit…tiiit….

Alarm gawaiku berbunyi menunjukkan pukul 8 malam. Sebenarnya ini waktuku untuk belajar Bahasa Inggris via daring. Tapi entah mengapa, pekan ini badanku seperti tidak mau diajak kompromi. Selepas Isya, pasti demam, sakit pinggang, gigi ngilu, dan tentu saja pusing.

Penyakit kok datangnya kayak rombongan pengantin.

Dengan malas, aku ambil gawai dan kukirim pesan pada pengajar Bahasa Inggrisku.

[saya] Mr. Anton, I am sorry, I can’t join the class. I need take a rest

[Mr. Anton] Yes, Mam. Get well soon

Dua pekan, sejak mengikuti tugas belajar dari yayasan tempat aku mengajar berupa Diklat Calon Kepala Sekolah, aku jadi sering merasakan sakit. Pusing paling sering. Entahlah, ada perasaan yang tak nyaman ketika mengikuti diklat ini. Bukan karena pengajarnya yang galak, atau tugasnya yang banyak. Itu sudah amat biasa buat ku yang suka sekali belajar.

Pengajar diklat, Ibu Nur, orangnya ramah dan baik. Tugasnya juga masih dalam jangkauanku. Masih banyak tugas yang lebih berat daripada tugas diklat yang dilaksanakan secara daring ini.

Enam tahun lalu, aku mendapatkan tugas belajar yang mengharuskan aku pulang malam dengan tugas mengajar yang tetap selama 10 bulan. Namun aku baik-baik saja. Tetap bisa seimbang dengan kewajiban domestik.

Dua tahun lalu, aku mendapatkan lagi tugas belajar profesi keguruan yang jarak kampusnya 19 kilometer dari rumah, pulang pergi jadi 38 kilometer. Setiap hari Senin sampai Sabtu selama 4 bulan. Belum lagi tugas tambahan dari sekolah saat itu. Lagi-lagi aku baik-baik saja. Kuat sehat dan tidak mudah sakit.

Kemudian tahun ini, muncullah tugas diklat ini yang “hanya” berlangsung tiga bulan dan dilakukan secara daring. Seharusnya kan lebih mudah ya? Namun badanku menyiratkan sebaliknya.

Ada apa denganku?

Aku seperti kehilangan semangat belajar kali ini. Sangat aneh untuk seorang diriku yang rakus ilmu. Aku harus berulang kali menyemangati diri sendiri bahwa aku pasti bisa melewati tantangan ini. Sejenak akupun bangkit dan semangat belajar lagi. Namun lagi-lagi nyaliku menciut ketika membayangkan amanah setelah diklat ini berakhir, yaitu menjadi kepala sekolah.

Aku tidak mau amanah itu!


Bro, aku mau curhat,” kataku langsung to the point saat masuk ke ruang kerja  sahabatku, Abdul, saat jam istirahat makan siang.

Baca Juga  Cerpen: I'm Sorry

“Aku sambil makan ya,” sahutnya sambil membuka nasi bungkus di mejanya.

Aku mengangguk.

“Tahu nggak, aku sekarang mudah sakit dan lelah selama diklat. Kalau dibandingkan dengan diklat-diklat sebelumnya, ini tidak terlalu sulit sebenarnya. Tapi mengapa ya bisa se-capek ini?”

Abdul mendengarkanku sambil menyantap nasi krawu dan daging yang ada di depannya. Kemudian dia berhenti mengunyah dan berkata sesuatu.

“Ya karena dirimu gak karep. Dirimu gak ingin kan ikut diklat itu. Makanya jadi berat sekali. Kalau diklat sebelumnya, dirimu kan paham apa manfaat dan benefitnya. Minimal sertifikasi dapat tunjangan. Tapi aku paham, dirimu yang pembelajar tidak hanya mengejar tunjangan. Lha diklat ini berbeda. Nanti dirimu setidaknya berpeluang untuk jadi Kepala Sekolah. Itu yang membuatmu berat.”

Aku mengangguk membenarkan pendapatnya.

Ah bro, dirimu paling tahu tentang sahabatmu ini!

“Kalau aku boleh memilih, aku pasti mundur teratur. Tapi aku tidak dalam posisi boleh memilih karena ini sifatnya perintah dan penugasan. Amanah belajar dengan konsekuensi amanah yang lebih besar lagi setelahnya. Nah, after-nya itu yang membuat ku berpikir keras. Apa iya aku layak jadi kepala sekolah? Diriku yang seperti ini. Ah, pusing!”

Abdul tersenyum melihat wajahku yang cemberut.

“Ya gimana, namanya juga amanah. Siapapun juga tidak mau duduk di kursi panas ini. Aku pun juga seperti itu dulu. Setelah tahun ini berakhir, bisa jadi aku juga akan dipindah ke kursi panas lainnya yang mungkin lebih berat bagiku. Ya memang begitulah kita dibutuhkan sebagai seorang leader,” jelas Abdul panjang lebar.

Abdul adalah kepala sekolah di tempatku berada.

Aku menarik nafas panjang mendengarnya.

“Ayolah Karima, bukan lagi saatnya dirimu menjadi guru biasa. Sudah gak levelnya Ustadzah Karima yang pernah ber-amanah menjadi wakil kepala sekolah bidang kesiswaan terus sekarang jadi guru biasa. Potensimu itu harus diasah lagi untuk mengurus amanah yang lebih besar,” jelas Abdul sambil melanjutkan lagi makan siangnya.

“Aku gak mau kayak ente. Kerjaannya gak ada berhentinya dan rambut ente itu sampai habis,” kelakarku.

Baca Juga  Cerpen: Buaya Sungai Inhil

“Ya kan positifnya aku jadi mirip professor. Rambutnya hilang sebagian,” ujar Abdul.

Aku pun tertawa mendengar jokes-nya.

“Ya sudah aku bantu apa ini? Besok dirimu magang kan ke sekolah Pak Slamet? Belajar juga sama beliau bagaimana menjadi kepala sekolah yang sabar dan baik. Ben gak ngamukan lek dadi kepala sekolah suk mben (biar tidak suka marah ketika nanti jadi kepala sekolah-red),” ujar Abdul sekenanya.

Aku menyengir mendengarnya.

“Ya wes, doakan aku ya. Semoga aku ikhlas,” jawabku singkat sambil berlalu begitu saja dari ruangan kerja sahabatku itu.

Aku memang suka keluar masuk ruangan itu. Ruang kerja sahabatku.


Besoknya…

Aku menemui Pak Slamet, kepala sekolah tempat aku magang selama diklat. Senang bisa berkenalan dengan Pak Slamet. Kepala sekolah yang sabar dan ramah dengan usia sepuluh tahun lebih tua dariku. Kami berdiskusi banyak hal mulai dari pengelolaan sekolah sampai masalah keguruan.

“Jadi, Pak Slamet ini, kepala sekolah dari dua sekolah? KS dari SDN 01 dan PLT KS dari SDN 05?” tanyaku tak percaya saat beliau menyampaikan amanah yang diemban sekarang.

“Iya Bu.”

“Kok bisa Pak? Kepala sekolah dari satu sekolah saja sudah pusing. Lha ini dua sekolah.” aku masih saja bertanya karena memang aku penasaran. Aku aja pusing sebelum jadi kepala sekolah beneran, lha beliau kepala sekolah dari dua sekolah.

“Ya gimana lagi Bu. Wong sudah amanah yang diberikan pada saya. Ya saya harus terima walaupun berat.”

“Maaf Pak, jika saya lancang, apakah tidak ada orang lain lagi sampai harus menanggung beban dua sekolah?”

“Ya seperti yang disampaikan Bu Karima tadi. Tidak mau jadi KS karena melihat Ustadz Abdul yang pekerjaannya berat dan banyak. Begitu juga di sekolah negeri. Sedikit sekali guru yang bisa menjadi pengganti dari kepala sekolah yang sudah purna tugas.”

Glek! Aku menelan ludah. Tersindir!

“Namanya juga amanah. Harus dikerjakan semaksimal mungkin. Walaupun berat,” lanjut Pak Slamet.

“Gajinya dobel dong Pak?” sahutku berkelakar.

“Dobel atau tidak, gaji itu bukan yang nomor satu. Tapi kontribusi kita dalam dunia pendidikan-lah yang utama. Sejauh mana kita berkontribusi memimpin lembaga pendidikan sehingga berdampak pada ummat itu lah yang utama,” jelas Pak Slamet sambil menatapku tajam.

Baca Juga  Cerpen: Hilang, Namun Dia Ada!

Aku terdiam mendengarnya.

Kami pun melanjutkan diskusi dengan topik lainnya.

Percakapan dengan Pak Slamet dan sahabatku Abdul, sedikit membuka pikiranku tentang amanah. Kursi kepala sekolah, dan tentunya kursi jabatan lainnya, bukan untuk diperebutkan, tapi diberikan kepada orang yang layak secara kapasitas dan integritas.

Amanah memang tidak salah memilih tuannya. Aku pernah mendengar kalimat itu. Pak Slamet yang sabar memang tepat memimpin dua sekolah negeri. Abdul yang kuat dan tangguh memang tepat memimpin sekolah Islam di kawasan timur Surabaya. Kedua figur kepala sekolah yang kukenal itu memang layak menjadi leader di sekolah mereka.

Sedangkan aku? Apakah aku tepat untuk amanah itu? Aku yang masih begini-begini, masih kurang begitu-begitu. Terlalu banyak yang harus aku perbaiki. Aku sendiri meragukan itu.

Ah, aku jadi insecure lagi!

Duh! Mengapa aku begini? Aku dengan banyak hal baik di sekitarku, seharusnya membuatku lebih banyak bersyukur daripada insecure. Dengan diklat ini aku diberikan banyak ilmu yang amat berharga. Dengan diklat ini, aku diberi kesempatan untuk mempermudah jalan menuju surga.

Ah, mengapa aku sebodoh ini!

Kubuka lagi  Al Quran terjemahan-ku. Aku langsung menuju ke ayat favoritku. Surat At Taubah ayah 41 yang berbunyi: “Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Mungkin inilah saatnya aku melangkah walaupun didera rasa galau dan berat secara hati dan pikiran. Mungkin ini waktuku menyempurnakan tugas belajarku di diklat calon kepala sekolah ini. Selebihnya, Allah saja yang menyempurnakan dengan takdir terbaikNya.

Entah takdir Allah menjadikanku kepala sekolah atau tidak, semuanya aku kembalikan padaNya.

Aku sudah siap!

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Bersyukur not insecure

Comment

Artikel Terkait