by

Curahan Hati Yuli

Bu, maaf, saya datang terlambat.

Mas Teguh menyampaikan kabar Ibu sedang sakit keras. Lama saya berpikir dan menimbang-nimbang. Akhirnya, saya memutuskan untuk pulang. Bagi saya, ini bukanlah perkara mudah.

Sepuluh tahun lebih saya pergi dari rumah. Selama itu pula kita tak saling bicara. Mas Teguh dan Bapak rutin menanyakan kabar saya melalui sambungan telepon seluler. Mereka selalu merayu saya untuk pulang. Saya menjawab kalau saya belum bisa.

Saya masih mengingat hari itu. Hari di saat Ibu murka kepada saya. Kemarahan Ibu membuat saya takut untuk pulang. Saya anak durhaka, kan, Bu? Apabila sempat terucap dari mulut Ibu, barangkali detik itu juga saya telah terkutuk menjadi batu.

Bu, maafkan saya.

Saya tak pernah menduga Ibu semurka itu.

Diam-diam saya membeli beberapa helai kerudung. Saya melihat pantulan diri saya di cermin saat berkerudung. Itulah Yuli yang ada dalam angan-angan saya, Bu. Entah mengapa, hati saya merasa tenteram. Namun, saya tak berani terang-terangan.

Pernah suatu kali Ibu memergoki saya mencoba gincu milik Ibu. Ibu marah besar. Ibu menghapus goresan merah di bibir saya dengan kasar. Pipi saya coreng-moreng. “Jangan ulangi!” hardik Ibu, membuat air mata saya tumpah.

Jadi, maaf kalau saya terpaksa sembunyi-sembunyi.

Saya tak menyangka hari itu akan bertemu Ibu di pasar malam. Saya sedang menonton tong setan. Perhatian saya sepenuhnya tertuju kepada motor yang berputar-putar mendaki tong. Sungguh saya terkejut karena ternyata Ibu berdiri di seberang saya.

Tak biasanya Ibu menyukai hiburan di pasar malam. Mungkin naluri yang membimbing Ibu ke sana malam itu. Atau, seseorang melaporkan saya kepada Ibu. Entahlah. Saya melihat wajah Ibu yang merah terbakar amarah. Tentu karena Ibu melihat saya mengenakan kerudung.

Baca Juga  Tumbal

Sebelum pertunjukan usai, Ibu menghampiri saya. Ibu merenggut kain segiempat bermotif bunga-bunga dari kepala saya. Ibu menyeret saya pulang sambil mengomel sepanjang jalan.

Saya sungguh malu. Orang-orang memandang saya layaknya maling tertangkap basah. Namun, saya tak mencuri apapun. Saya memang tertangkap basah, oleh mata Ibu, saat sedang memakai kerudung. Tak guna pula menjelaskan hal itu kepada mereka.

Esoknya, saya memutuskan pergi dari rumah.

Ibu, maafkan saya.

Saya tidak pernah bisa membuat Ibu bangga.

Saya ingat saat kecil dulu. Ketika itu Mas Teguh pulang dengan pakaian sobek-sobek dan wajah lebam. Ibu mengorek keterangan dengan wajah galak. Ibu bertanya dengan siapa Mas Teguh berkelahi, apa sebabnya, di mana kejadiannya, apakah anak tersebut menangis ataukah tidak.

Malam itu Mas Teguh tak dapat jatah snack malam sebagai hukuman. Namun, Ibu menceritakan ulah Mas Teguh kepada Bapak dengan nada bangga. Sepertinya menang berkelahi adalah sebuah prestasi.

Saya pernah menang lomba menari di sekolah. Ibu menanggapinya dengan sikap dingin. Piala dari Bapak Kepala Sekolah seolah tak ada nilainya. Ibu melarang saya memajang piala itu di rumah, kemudian menyimpannya di dalam gudang yang gelap. Salahkah saya apabila pandai menari?

Yuli. Y-U-L-I

Saya senang dengan nama pemberian Ibu. Ibu pernah bercerita nama itu sesuai bulan kelahiran saya, Juli. Entah Ibu tahu atau tidak. Bapak pernah bercerita, Yuli adalah nama salah satu sahabat Ibu. Ia seorang penghafal kitab suci. Ibu berharap kelak saya pun demikian, setidaknya saya pandai membacanya. Barangkali Ibu membebankan harapan Ibu kepada saya.

Tiap Kamis sore Ibu bertandang ke mushola untuk belajar membaca kitab suci. Beberapa kali saya mengintip, Ibu masih di halaman yang sama. Saya dengar, dengan suara gemetar Ibu mengeja, “Alif fathah a, ba kasroh bi, ta dommah u; a-bi-tu.”

Baca Juga  Istana Kaisar

Bapak pernah bercerita, usia Ibu masih belia ketika menikah dengan Bapak. Saat bersekolah, Ibu dua kali tinggal kelas. Kakek dan Nenek beranggapan bahwa menikahkan Ibu secepatnya adalah pilihan terbaik untuk masa depan Ibu.

Ibu…

Setelah saya pergi dari rumah, saya menumpang di rumah seorang teman. Ia memiliki salon. Di sana mula-mula saya membantu membersihkan rumahnya. Ia lantas berbaik hati mengajarkan saya merias wajah dan memotong rambut. Teman saya bilang, saya berbakat. Pelanggan kami bertambah banyak sejak saya datang. Saya senang sekali, Bu.

Andai waktu itu kita sudah berbaikan, saya tentu akan menata rambut Ibu. Rambuh kelabu Ibu akan saya sepuh agar kembali hitam mengilat sepergi dulu. Saya juga akan memangkasnya sehingga Ibu tampak kembali muda. Sejatinya, Ibu memang belum terlampau tua. Mungkin saya menjadi penyebab kerut-merut lekas tampak di wajah Ibu. Maafkan saya, Bu.

Sebelum bekerja di salon, saya mengalami banyak kejadian lucu. Saya pernah mengamen dengan iringan kecrekan dari rangkaian tutup botol. Suatu ketika, saya mengamen di sebuah rumah besar.

Tiba-tiba seekor anjing menggongong dan berlari menyongsong saya. Saya sungguh kaget bercampur takut. Saya lari terbirit-birit menyelamatkan diri. Untung saja ada pohon sawo kecil. Saya panjat pohon itu dan bertengger lama di atasnya. Setelah sekian lama, anjing itu bosan menunggu lalu pergi meninggalkan saya.

Lain hari saya pernah mengamen di sebuah toko kecil. Pemiliknya seorang ‘nenek sihir’. Ia mengusir saya dengan ucapan pedas. Katanya, ia benci melihat dandanan saya yang menor dan pakaian saya yang minim. Bukannya pergi, saya sengaja terus bernyanyi, malah sembari menggoyangkan pinggul. Saya ingin menguji kesabarannya. Rupanya, kesabarannya hanya sampai level dua.

Baca Juga  Cerpen: Foto Usang

Dia menyiram saya dengan air bekas cucian beras. Saya bisa mengelak. Tapi sayang, hak sepatu saya yang tinggi membuat saya terpeleset lalu jatuh ke comberan. Nenek Sihir tertawa bahagia. Saya pun bahagia karena telah membuatnya bahagia.

Ibu…

Saya tak pernah membenci Ibu. Saya selalu menyayangi Ibu. Saya takut pulang karena teringat saat Ibu murka kepada  saya. Pada mata Ibu kala sedang murka, saya melihat api neraka berkobar-kobar. Saya sangat takut.

Saya tahu, jauh di lubuk hati Ibu, Ibu sangat menyayangi saya. Murka Ibu adalah sebentuk teguran agar saya tidak tersesat lebih jauh.

Kadangkala, saya merasa terjebak dalam raga yang salah. Akan tetapi, saya bukanlah kelomang yang bisa keluar dari cangkang, lama lalu menempati cangkang baru yang ditinggal pemiliknya. Namun, Ibu tak perlu khawatir lagi. Saya mulai menemukan siapa sejatinya diri ini.

Ibu, saya telah memberikan seluruh kerudung milik saya kepada putri Mas Teguh. Saya tahu, bukanlah kerudung yang tak Ibu sukai, melainkan melihat saya memakainya. Aurat saya antara pusar hingga lutut saja memang.

Ibu, maafkan saya karena terlambat datang. Saya terlampau lama menimbang-nimbang. Ketika tekad saya sudah bulat, Ibu telah berpulang.

Hari beranjak petang, Bu. Gerimis merinai. Namun, saya belum berniat beranjak dari sisi Ibu. Tanah makam Ibu masih basah. Bunga setaman bertaburan di atasnya. Segar dan harum. Gundukan tanah merah ini terasa dingin. Mari saya dekap supaya Ibu juga merasakan kehangatannya.

Pipi saya juga basah. Entah oleh air mata, atau titik hujan, atau larutan keduanya. Saya merindukan Ibu. Wajah Ibu pun muncul dalam benak saya. Ibu tersenyum lalu menyapa saya dengan lembut.

“Yul… Yulianto…” ***

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.