by

Cerpen: The Last Words

Kata-kata terakhir

Pagi ini, terlihat seorang Rean yang baru saja memasuki sekolah barunya. rean tidak pernah tertarik dengan sekolahnya, setiap ia datang ke sekolah barunya ia selalu berfikir “palingan tahun depan pindah lagi” rean pergi mencari kelasnya.

Ketika rean tiba di depan kelasnya, sudah terlihat seorang guru yang merupakan wali kelas rean. “kamu rean ya” ucap guru itu, “ya bu”. lalu guru itu membawa rean ke kelasnya. “semuanya, kita kedatangan murid baru hari ini, silahkan memperkenalkan diri” ucap bu guru.

“Hai, nama saya Reandi Bagaskara, pindahan dari Bandung” ucap Rean

“baiklah Rean silahkan duduk di belakang Radim” ucap bu lia.

Tiba di saatnya pulang, Rean di jemput oleh supir nya. setiba nya di rumah “gimana tadi?” ucap mia yang merupakan ibu Rean, “baik baik aja ma” ucap Rean, “nilai kamu tahun ini harus bisa kaya kak Maraka, kalo kamu ga dapat juga, mama biarin kamu hidup sendiri, anak mama semua nya harus pintar, ga ada yang ga pintar” ucap ibu “iya ma, aku usahain” ucap Rean.

Rean pergi ke kamar nya. Rean membutuhkan waktu untuk mengenal kota ini, ia pergi menggunakan motor ayah nya untuk berkeliling. di perjalanan ia menemukan pantai dan memutuskan untuk mampir sebentar.

Rean duduk di pinggir pantai, melamun sembari melihat ombak dan langit yang indah. Tak lama kemudian terlihat seorang menghampiri dirinya, sosok yang belum pernah ia temui, “hai, kamu lagi sedih ya?” ucap sosok itu. “hm? anda siapa?” ucap Rean, “aku lara, kebetulan tadi aku liat kamu kaya lagi sedih” ucap lara. “kok bisa tau saya lagi sedih?” ucap Rean, “keliatan dari raut wajah kamu”. setelah lara mengatakan itu suasana hening, tidak ada yang memulai pembicaraan.

Hari ini Rean akan pergi ke pemakaman neneknya. Setibanya ia di sana, “nek, tau ga? beberapa bulan lagi aku bakal nyusul nenek. aku kangen sama nenek, kalo aku di marahin mama atau papa, pasti nenek yang ngebela aku, nenek yang bakal nenangin aku. Rean pamit dulu ya nek” Rean pergi dari pemakaman itu, dan segera pulang ke rumahnya.

Baca Juga  Lebih Sehat Dengan Asam Jing Ikan Mujair

“Dari mana aja?” ucap mia, “dari pemakaman nenek ma” jawab Rean. “ngapain ke sana? mau di kuburin di dekat nenek juga?” balas mia. Rean hanya diam, tapi jauh di lubuk harinya ia sangat ingin menjawab “iya ma Rean mau banget” tapi itu hanya akan membawa amarah dari ibunya. Rean pergi ke kamarnya dan membersihkan diri.

6 bulan berlalu

“Rean, kamu jadi ikut olimpiade nya kan?” ucap Lara

“kayanya engga deh” balas Rean

“loh, kenapa?” ucap Lara

“aku lagi ga mau aja” balas Rean

lalu mereka pergi ke kelas untuk jam pelajaran berikutnya. Saat di rumah, Rean segera mengganti pakaian dan pergi ke rumah sakit. setiba nya ia di rumah sakit, ia segera pergi ke ruang check up. “saya kira kamu ga akan datang” ucap dokter Janu.

2 jam setelah check up Rean pergi dengan perasaan yang sedih dan merasa sangat bersalah pada Lara. Penyakit yang ia alami semakin parah, mungkin ia bisa menghitung hari sebelum ia pergi dari dunia ini. ketika ia di rumah terlihat seorang ibu yang menunggu nya. “dari mana aja?” ucap ibu. Rean diam, ia tidak tahu ingin menjawab apa, ibu nya membawanya ke dalam rumah dan memarahinya dan memberikan perkataan yang seharusnya tidak ia katakan kepada anaknya itu.

Sudah 2 Minggu Rean menjalani terapi, penyakit nya semakin lama semakin parah.

Kini Lara sudah mengetahui penyakit Rean. Lara selalu menyemangati Rean agar cepat sembuh.

Hari ini Rean akan menjalani terapi. Setelah terapi Rean terbaring lemas di atas kasur rumah sakit, di sana Lara membuka pembicaraan.

“semangat ya Rean, Lara yakin kamu pasti sembuh, kalo kamu udah sembuh nanti kita ke pantai lagi, sebentar lagi kita juga bakal kuliah loh” ucap Lara

Baca Juga  Resep Camilan Sehat Ala Dapur Bunda “PEDALOR” (PEyek DAun keLOR)

Tidak ada balasan dari Rean, di ruang itu terlihat banyak suster dan dokter yang membawa alat-alat untuk operasi. Lara menunggu di luar serta berdoa.

Terlihat dokter keluar dari ruangan itu. “maaf, pasien tidak bisa kami selamatkan”. mendengar itu seketika Lara tidak bisa menopang tubuhnya. Lara pergi untuk melihat Rean.

“Rean, udah tenang ya di sana? udah ga ngerasa sakit lagi pasti hehe. kamu pergi cepet banget, kita belum pergi ke pantai loh, kamu juga bilang kita bakal kuliah di Paris nantinya” Lara menangis sejadi-jadinya.

Pihak rumah sakit menghubungi keluarga Rean, dan keluarga Rean datang ke rumah sakit.

“Rean..Mama di sini nak, kamu mau mama pelukkan? ayo bangun dulu, kalo kamu bangun mama kasih kamu pelukan. Maafin mama ya nak, mama belum bisa jadi orang tua yang baik buat kamu, maaf mama ga menganggap kamu sebagai anak mama selama ini, maaf mama dulu tidak sayang sama kamu, maafin mama ya nak, maaf banget” ucap mia

“nak, papa di sini nih. kamu mau kan jalan-jalan sore sama papa? kalo mau ayo bangun, dari dulu kamu mau jalan jalan sama papa, maafin papa nak, maafkan papa yang ga becus jadi papa kamu” ucap seorang ayah yang menyesali perbuatannya selama ini.

Lara yang melihat itu tidak bisa menahan air matanya yang berkali kali ia hapus itu. beberapa saat kemudian Lara membisikkan di telinga Rean. “selamat tidur laki laki hebat”

Bertahun-tahun berlalu, kini Lara masih belum bisa menemukan sosok pengganti Rean yang menjadi bagian penting di dalam hidupnya.

Hari ini ia berniat untuk pergi ke pemakaman Rean. Setibanya di pemakaman ia hanya diam menatap batu nisan yang bertuliskan nama “Reandi Bagaskara”. Melihat itu air mata nya jatuh seketika, ia menangis sejadi-jadinya di sana. beberapa saat kemudian ia menghapus air mata nya dan mulai berbicara. “ga kerasa ya kamu udah pergi lama banget, maaf aku ga bisa nemuin pengganti kamu, aku selalu mencari kamu di diri orang lain, aku tau aku salah tapi aku masih belum bisa melupakan kamu.

Baca Juga  Cerpen: Akar Berpulas Tak Patah

Kenapa semesta mempertemukan kita kalo akhirnya kita bakal di pisahkan juga. aku izin pamit dulu, yang tenang ya di sana” ucap Lara dan pergi meninggalkan pemakaman itu.

Bagaimana dengan mia? ibu Rean telah pergi bersama Rean, ibu Rean berhalusinasi seolah-olah Rean masih ada di sisi nya.

Bagi Lara, kehilangan orang tua buruk dan Rean adalah kejadian paling buruk semasa hidup, Lara selalu berpikir, kapan Tuhan akan memberikan skenario bahagia di hidupnya? ia selalu merasakan kesengsaraan yang tidak seharusnya ia rasakan. Mulai sekarang ia mencoba untuk mengikhlaskan kepergian Reandi Bagaskara dan kedua orang tuanya.

Sekarang, Lara telah kuliah di paris seperti dia dan Rean impikan, impiannya terwujud, hanya saja tanpa Rean. Rean masih menjadi salah satu alasan mengapa ia bahagia, dan sekarang ia mencoba menemukan kebahagiaan lain selain Rean, sang kekasihnya itu.

Dan pada akhirnya kisah Alara Ardiana dan Reandi Bagaskara hanya sebuah buku yang tidak pernah ditentukan judulnya.

TAMAT

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Penulis : marhamaturrodiyah diyah

Gravatar Image
marhamaturrodiyah, sekolah di SMP IT Diniyyah Al-Azhar, hobi mendengarkan music dan membaca cerita

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

28 comments

Artikel Terkait