by

Cerpen: Terlepas Dari Bayangan

Matahari hampir tenggelam saat seorang pria berjalan menyusuri jembatan yang menghubungkan pusat kota dan kota tua tempatnya tinggal. Kakinya melangkah lebar namun santai, sesekali ia bersenandung menikmati udara dingin di sore hari.

Ia sampai di depan pintu rumahnya yang tidak lebih besar dari lapang volly di kampusnya. Pintu rumahnya dalam keadaan terbuka, tandanya ada seseorang didalam. Ia melangkahi kakinya menyusuri jejak yang ditinggalkan oleh seseorang di sepanjang petak rumahnya, kemudian berakhir di dapur.

Indra pendengarannya menangkap suara gemerincing yang dihasilkan dari gesekan sendok dan piring, dengan berani Ia menghampiri seseorang yang tengah duduk di kursi yang membelakangi pintu. “Siapa kamu? Kenapa ada disini?” Tanyanya berjalan kehadapan orang aneh yang masih abai terhadapnya.

Setelah berada di hadapan orang aneh itu, Ia sedikit terkejut melihat bahwa orang itu ternyata seorang perempuan namun rambutnya pendek hampir seperti pria.

“Apa kamu tersesat dan kelaparan?” Tanya nya lagi. Perempuan itu menatap ke arahnya dengan matanya yang berwarna coklat kemerahan. Sekilas terlihat seperti tanah basah di gunung sahara.

“Tidak, aku hanya ingin mencicipi makanan ini, sudah lama sejak aku berhenti bernafas, aku melupakan rasa makanan,” ujarnya terdengar ambigu di telinga si pria.

Pria dengan jaket kulit dan celana bahan hitam yang warnanya sudah belel, berniat merebahkan tubuhnya sepulang dari kampus. Namun niatnya justru pupus saat melihat hal aneh di rumahnya. Sebut saja namanya Ikbal.

“Baiklah,” ujar Ikbal, membiarkan hal aneh di hadapannya terjadi begitu saja. “Setelah ini kamu harus pergi dari rumah ini, aku tidak mau pak rt menggrebek rumahku gara gara menyembunyikan perempuan sepertimu.”

Setelah selesai menghabiskan sebakul nasi dan lauk pauknya, perempuan bermata coklat kemerahan itu hendak pergi, tanpa membereskan alat-alat yang ia pakai sebelumnya.

“Siapkan makanan yang lebih enak saat aku kesini lagi besok,” ujar perempuan itu lantas berlalu pergi keluar rumah.

Ikbal tidak berniat untuk melihat kepergian perempuan itu, dia malah membereskan kekacauan yang disebabkan orang aneh barusan. Makan malam yang ia siapkan tadi siang ludes tak bersisa.

Saat sedang mencuci piring, Ikbal tiba-tiba teringat ucapan perempuan itu sebelum ia pergi ‘siapkan makanan yang lebih enak besok’. Ucapannya membuat Ikbal penasaran dengan kedatangannya secara tidak masuk akal ke rumah ini.

Esok harinya, Ikbal bangun pagi pagi untuk melakukan rutinitasnya membersihkan rumah. Berhubung rumah ini adalah wasiat yang neneknya berikan untuknya agar lebih dekat dengan kampusnya saat ini. Ia merasa bertanggung jawab untuk itu.

Ikbal berjalan ke dapur, tujuannya untuk melihat persediaan makanan untuknya seminggu kedepan, ia ingat semalam makanan terakhir dihabiskana oleh orang aneh.

Ikbal meraih kenop lemari makanan, dan terkejut saat melihat isinya. Pasalnya makanan yang semalam habis tak bersisa masih ada, dan utuh di dalam lemari. Mulutnya sedikit memberikan reaksi keterkejutannya. Otaknya berusaha mencerna hal hal aneh.

“Berarti yang semalam itu mimpi, ya?” Gumamnya pada diri sendiri.

Ia kemudian membuang makanan itu karena sudah tidak layak konsumsi. Wangi bunga aneh menyentuh indra penciuman nya saat membuang makanan basi tadi. Tanpa pikir panjang ia mengira bahwa itu adalah parfum yang dipakai tetangganya dan kebetulan lewat.

Baca Juga  Cerpen: Tentang Kita yang Sepakat untuk Mengakhiri

Setelah ini Ikbal akan pergi ke kampusnya seperti hari hari sebelumnya. Dan pulang setiap sore seperti biasanya. Sebelum berangkat kuliah biasanya ia akan bekerja di warteg sebrang jalan untuk menambah uang jajannya.

Sore ini Ikbal pulang lebih awal dari biasanya, rupanya dosen mata kuliah terakhir sedang banyak urusan dan hanya mengajar sebentar.

Sebelum pulang ia mampir sebentar ke warung sayuran tempatnya biasa belanja persediaan.

Setelah menyelesaikan transaksi dan hendak meninggalkan warung, Ikbal melihat seseorang di dapur, penampilannya sama persis seperti semalam ia melihatnya di dapur rumahnya. Ikbal bertanya meski sebenarnya sungkan.

“Bu, yang di dapur itu anak Ibu?”

Si ibu warung terkejut saat Ikbal bertanya begitu, “saya juga gak tau, Dek, setiap jam segini dia suka tiba tiba ada di dapur,” jawab si Ibu sembari melayani pembeli.

“Oh gitu ya, Bu,” ujar Ikbal mengambang. “Makasih bu, minggu depan saya kesini lagi beli sayuran,” final Ikbal kemudian benar benar pulang ke rumahnya.

Saat itu masih sore hari, matahari juga masih betah mempermainkan senja. Kucuran hangat dari sinarnya memyinari jembatan tempat Ikbal biasa melewatinya.

Sesekali ia bersiul, menikmati sinar hangat dari sang surya. Langkahnya terhenti, melihat ke arah bawah jembatan, agak jauh dari pandangannya ia melihat satu gundukan tanah dengan batu pipih menancap di atasnya. Ikbal menyipitkan matanya, berusaha melihat lebih jelas gundukan tanah itu. Tapi kemudian ia bergumam, ternyata itu hanya gundukan pasir biasa.

Ikbal kembali melangkahkan kakinya kembali berjalan menuju persinggahannya. Kakinya sesekali menendang kerikil jalanan yang dilintasinya.

Sesampainya di rumah, ia kembali dikejutkan oleh keberadaan seseorang di dapur, dengan jejak yang sama persis seperti kemarin. Ikbal merasa de javu dengan hal itu.

“Permisi…Nona,” ujar Ikbal ragu harus memanggilnya apa.

“Kamu yang tadi di warung ‘itu’ kan?” Tanya Ikbal hati hati.

Si perempuan menoleh, tatapan matanya juga masih sama seperti kemarin malam. Ikbal terhenyak menyadari bahwa penampilan perempuan dihadapannya sama sekali tidak berubah, baju putih usang sepanjang lutut, dan rambut basah bau tanah.

“Makanan kemarin lebih enak dari makanan hari ini, orang seperti apa yang memakan goreng telur tanpa rasa seperti ini?” Ujar si perempuan yang sudah menghabiskan makanan Ikbal.

Tadi pagi Ikbal memasak telur dadar untuk sarapan dan untuk makan malamnya juga, maksudnya agar pulang ia hanya perlu memanaskannya.

“Tapi saya biasa makan telur kurang garam,” jawab Ikbal seadanya.

Si perempuan bangkit dari duduknya, tapi sebelum pergi Ikbal bersuara, “kemarin malam kamu kesini juga, kan?” Membuat perempuan itu tersenyum aneh dan pergi tanpa menjawab pertanyaan Ikbal.

Enam hari berturut-turut perempuan itu selalu mengganggu Ikbal, sampai ia sudah mulai terbiasa dengan keberadaannya. Ikbal tidak menunggunya sampai selesai makan dan membereskannya. Karena pada esok paginya semuanya akan kembali ke tempat semula seolah tidak terjadi apapun sebelumnya.

Baca Juga  Cerpen: Hanya Uang

Kadang Ikbal pikir semua hal itu hanya lah halusinasinya belaka, namun semakin hari ia merasa hal janggal sedang terjadi. Seperti saat si ibu warung bilang perempuan itu selalu tiba tiba datang tanpa tahu dari mana masuknya.

Hari ini adalah hari ketujuh Ikbal pulang dengan seorang perempuan yang sibuk di dapur, menghabiskan makanan dan pergi tanpa membereskan. Ikbal masuk ke kamarnya yang tidak terlalu luas. Mendudukan dirinya ujung ranjang dengan pikiran yang mengambang.

Dari tengah rumah terdengar suara tv yang menyala, dugaan Ikbal mengarah pada perempuan yang mungkin saja baru selesai makan dan mulai menjamah ruangan utama di rumahnya.

Ikbal keluar dari kamarnya, berjalan mendekati perempuan yang sedang duduk bak sinden di lantai.

“Tv nya bagus, tidak buruk seperti makanan mu,” ujar perempuan itu yang matanya menatap lurus ke depan, tanpa berkedip.

“Maaf,” Ikbal duduk agak jauh darinya. Lebih memilih duduk di lantai karena pikirnya tidak sopan jika duduk di kursi. “Sebenarnya tujuan kamu di rumah ini untuk apa? Tidak mungkin hanya untuk numpang makan, kan?” Tanya Ikbal membuat perempuan itu menoleh.

Tanpa menjawab, dia kembalu menatap layar yang menyala di depannya.

“Sekali lagi maaf, tapi tidak sopan mengabaikan tuan rumah yang sedang bertanya,” ujar Ikbal sangat aneh dengan sikap perempuan yang sudah tujuh hari ini masih memakai baju yang sama dengan rambutnya yang selalu basah dan bau tanah.

Tv yang tadinya menyala tiba tiba mati, Ikbal tidak mengetahui, apakah perempuan itu yang mematikannya atau tv nya konslet dan mati sendiri. Yang jelas itu terjadi tiba tiba sejurus dengan perempuan itu yang raut wajahnya berubah.

“Aku selalu mengikuti mu setiap kali pulang kampus, tapi baru belakangan ini aku berani masuk dan membuat kekacauan disini,” ujarnya menatap lantai dingin.

“Aku kelaparan, sudah bertahun tahun aku tidak menyentuh makanan seperti itu disana, aku juga kedinginan dan selalu basah kuyup, tempatku tidur selalu kebanjiran saat hujan tiba. Dan terakhir kali aku bernafas saat sebelum air mengisi penuh rongga paru paruku.” Ujarnya panjang.

Ikbal terkejut mendengar pernyataannya, ia sadar bahwa perempuan ini bukan bagian dari makhluk sepertinya. Perempuan yang sudah membuat rumahnya sedikit terisi selama satu minggu ini ternyata bukan manusia.

“Tapi kenapa harus datang kesini? Dan ibu warung juga?” Tanya Ikbal hati hati, takut makhluk aneh itu mengamuk dan membuat kekacauan.

“Karena kamu membawa barang ku,”

“Barang apa? Saya tidak pernah mengambil apapun dari tempat kamu,”

“Itu, medali perunggu yang kamu gantung di samping tv,” perempuan itu menunjuk objek yang sedang dibicarakannya.

“Oke, saya minta maaf, saya pikir akan mengembalikannya pada pemiliknya jika ada kesempatan, saya tidak tau ternyata itu milikmu,” ujar Ikbal. “Tapi kenapa itu tergeletak di jembatan?”

“Karena aku melemparnya sebelum melompat ke sungai di bawah jembatan, sebelum ibu itu sempat mencegahku untuk melompat,” ujarnya, menjawab dua pertanyaan yang ada di pikiran Ikbal sekaligus.

Baca Juga  Cobain Tahu Penyeimbang Yin Yang

“Jadi kamu bunuh diri, dan… Tewas?”

“Tidak, aku masih berkeliaran, kamu lihat sendiri, kan?”

“Tidak, kamu sudah tidak seharusnya berkeliaran seperti ini dan menggangu orang,”

“Tapi aku tidak bisa kembali ke alamku,”

“Apa yang membuatmu masih berkeliaran selama ini?”

“Aku ingin kata maaf dari mulut ayah ibuku,”…

Keesokan harinya, Ikbal terbangun dari tidunya, peluh membanjiri dahinya, nafasnya terengah engah. Ia mengingat apa yang ia alami semalam, semuanya terasa seperti mimpi.

“Bantu aku,”

Kalimat ambigu yang terus mengiang di otak Ikbal. Siang harinya Ikbal pergi ke warung, menemui si ibu yang seminggu yang lalu mengalami hal serupa.

“Sebenarnya waktu itu ibu mau nolongin dia, tapi dia keburu loncat,” ujar si ibu dengan tenang namun matanya menerawang jauh ke kejadian lampau.

“Ibu tau kenapa dia loncat?” Tanya Ikbak masih penasaran.

“Kalo ibu perhatiin, dia turun dari mobil sama pria tua, kayaknya itu ayahnya, mereka berantem dulu abis itu ayahnya pergi ninggalin dia,” si ibu mengambil nafas panjang sebelum kembali bicara. “Gadis itu pake baju olahraga atau apalah namanya, kayaknya abis ikutan lomba soalnya dia bawa kalung medali tapi di lempar gitu aja.”

“Terus dia loncat?”

“Iya, abis lempar medali langsung terjun, jadi ibu gak sempet nolongin.”

Akhirnya Ikbal sedikit tahu tentang kronologi perempuan aneh itu. Setelah malam itu, perempuan itu tidak lagi mendatangi Ikbal, begitupun dengan ibu warung.

Jadi saat Ikbal melihatnya di dapur waktu itu, si ibu sebenarnya sudah tahu tentang perempuan misterius itu.

Ikbal tidak tahu kemana perempuan itu pergi, apakah sudah kembali ke alamnya atau pergi ke tempat lain untuk makan seperti yang dilakukannya di rumah Ikbal?

Setelah pulang dari warung, Ikbal berdiam diri cukup lama di tepi jembatan tempatnya memandangi langit sore. Ia kembali menyipitkan matanya untuk melihat gundukan pasir yang waktu itu sempat mengalihkan atensinya.

Sekarang Ikbal mengerti kenapa perempuan itu tidak lagi mendatanginya, pasir itu sekarang sudah diperbaiki menjadi sebuah kuburan dengan keramik dan batu nisan di atasnya. Ia pikir itu adalah kuburan tempat perempuan itu di semayamkan.

Mungkin perempuan itu menemui orang tuanya dan memintanya untuk memperbaiki kuburannya, itulah sebabnya ia sudah tenang di alamnya.

Ikbal menarik nafas lega, akhirnya perempuan itu kini mendapatkan ketenangan dan keadilan dari orangtuanya.

Medali yang waktu itu di pungut nya ia berencana mengembalikannya, ke orangtuanya jika ada kesempatan.

Terlepas dari siapa perempuan itu, Ikbal tetap menghargai kisah hidupnya, dan kisah tragisnya selama mencari ketenangan. Ikbal kembali kerumahnya dengan perasaan lega namun hampa.

Keberadaan perempuan itu sedikit memberinya rasa nyaman, merasa memiliki teman walau hanya beberapa saat.

Perempuan itu, yang sampai saat terakhirnya belum Ikbal ketahui namanya.

-selesai-

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

1 comment

Artikel Terkait