by

Cerpen: Sudut Lingkaran

Soreang, Bandung, 9 Agustus 2018

Hai Na, terimakasih sudah berkenan menjadi rumah. aku tahu surat ini tidak akan pernah sampai ke tanganmu, karena kupastikan bahwa tujuh hari lagi aku akan pulang padamu. kau ingat saat kau menangis di taman waktu itu? saat kau  menantangku untuk mencari sudut pada bentuk lingkaran yang  jika berhasil kutemukan kau berjanji akan berkencan denganku?. kau mungkin lupa, aku menerima tantanganmu waktu itu. tentu aku tahu lingkaran sampai kapanpun tidak akan memiliki sudut. tapi kau menantang orang yang salah Na, aku menemukannya. kau tahu? seharusnya lingkaran mempunyai sudut, tapi aku yang telah mencurinya. bagaimana tidak? sudut itu terlalu sempurna untuk dimiliki oleh sebuah lingkaran kosong begitu. sudut itu hanya ada satu di alam semesta. sayang sekali jika aku tak mendapatkannya, kan? mencuri sudut itu dari lingkaran susah Na, tapi aku berhasil! aku mendapatkan sudut itu sepenuhnya. tujuh hari ini akan terasa seperti tujuh ribu tahun untuk melihat sudut itu lagi. aku merindukanmu, kuharap kau juga.”

~ yang akan mencintaimu selamanya,

AYAR BASUNDARA

Selembar kertas berhasil meremukkan sekujur tubuhku. Setelah dua hari mengurung diri di dalam kamar, aku mencoba menelan fakta yang sudah seharusnya kuterima. Hari ini aku memutuskan untuk membaca surat wasiat darinya. Aku tahu  dia juga tidak akan bahagia melihatku terpuruk seperti ini. Aku harus tetap hidup bahagia seperti yang pernah ia katakan. perihal  kemana lagi aku akan pulang, aku tak tahu. saat ini  aku hanya menyesal.

***

Lapangan Perkemahan Relawan Bencana, Bandung, 7 Agustus 2018

Itu merupakan helikopter relawan terakhir. satu per satu para relawan yang turun dari helikopter kuperhatikan. nihil dia tidak ada dalam rombongan. di tengah lapangan, seorang pria berbadan tegap mengumumkan dengan lancang di samping papan tulis yang sudah ditempelkan kertas dengan beberapa deret nama. pria itu sesekali mengusap air matanya.

” Saya mewakili para relawan bencana meminta maaf sebesar-besarnya pada seluruh keluarga, kekasih, maupun kerabat relawan semuanya…. dengan berat hati saya mengumumkan bahwa sejauh ini ada lima orang relawan yang ikut serta dalam  misi dinyatakan gugur. Dengan segala hormat kami memohon maaf karena tidak bisa membawa jenazah lima relawan tersebut kembali. Jenazah dimakamkan di Lombok bersama korban gempa di sana. Namun sesuai perjanjian kontrak, mereka semua dinyatakan sebagai pahlawan pelindung negara. dan untuk keluarga, kekasih, maupun kerabat pahlawan akan mendapat surat wasiat yang telah ditulis oleh pahlawan saat sebelum terjun ke medan. Sekali lagi saya mohon maaf, kami semua turut berduka cita.”

Sesaat setelah pengumuman, gerimis turut menyambut tangisan dan teriakan para keluarga yang ditinggal. Semua yang berada di depan papan pengumuman mengamuk histeris. Dengan getir, aku menegarkan perasaanku.

Untuk apa aku takut? Aku tahu Ayar akan kembali. Mataku liar  mencari sebait nama pada papan pengumuman yang terpajang tepat di depan tempatku berdiri. Seluruh doa kupanjatkan selagi aku membacanya.  aku tahu namanya tak akan tertulis di atas papan itu. Dia seorang pria yang selalu menepati janjinya. mustahil seorang sepertinya gugur dalam misi. dia pasti akan pulang, aku yakin hari ini dia akan pulang padaku.

” 4. AYAR  BASUNDARA “

Hujan turun semakin deras seolah memelukku. tidak mungkin, itu bukan namanya. Itu Ayar yang lain. Pasti itu salah tulis. Ayar sudah berjanji setelah tujuh hari dia akan kembali. Aku tahu dia tak pandai dalam mengingkari janji, aku tahu dia masih dalam perjalanan pulang.

Aku akan menunggunya di sini. Segeralah sampai kumohon! tidak mungkin aku percaya begitu saja pada selembar kertas konyol di hadapanku. Aku tahu kau sedang bersembunyi di suatu tempat. Tuhan kumohon, ini hanya sebuah mimpi buruk, bangunkan aku.

Aku mencoba tetap percaya bahwa Ayar sedang dalam perjalanan pulang. Mataku memberontak ingin menghujani pipi. Namun terus kuusap kasar. Toh, tak ada yang perlu kutangisi di sini. Ayar masih dalam perjalanan pulang, aku hanya harus bersabar. Batinku.  Namun, sekeras apapun aku memanipulasi diri, fakta terus menamparku dengan kabar buruk itu.

“Ina? apa benar ini kau?.” seorang pria menepuk pundakku, dengan spontan kupeluk erat berharap dia adalah tunanganku.

“Aku tahu kau akan pulang! aku tahu! aku percaya itu! aku sudah menduganya! itu bukan kau!.”

Pria itu melepas pelukanku, perlahan mata kami bertemu. Tapi mata itu bukan mata yang kurindukan. Pria ini bukan sosok yang berjanji akan pulang.

“Ayar titip ini untukmu, maaf Na aku tidak menepati janjiku hari itu, Ayar gugur dalam tugas.”

Pria yang kupeluk adalah Rian, sahabat Ayar. Dia pernah bercerita suatu hari tentang rekan kerjanya bernama Rian yang sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Aku yakin jika Rian di sini Ayar pasti tak jauh dari keberadaan Rian. Aku mencari di sekeliling Rian. mereka pasti datang bersama. Mereka selalu bersama.

“Rian? apa kau dan Ayar menaiki helikopter yang berbeda? apa dia akan mendarat dengan helikopter selanjutnya?.” Rian tidak menjawabku, pria itu menunduk menangis tanpa suara.

“Maafkan aku Ina, maaf…” Rian menyerahkan sebuah amplop di hadapanku. Amplop itu kuterima dengan perasaan kacau. Aku tahu ini risiko pekerjaannya. tapi kenapa harus dia? Kenapa bukan relawan lain?. dunia seolah berputar. Sekelilingku berubah kuning ; kemudian gelap ; semakin gelap ;  dan akhirnya padam. Rian menangkap tubuhku.

Soreang, Bandung, 3 Agustus 2018

Suaranya hilang digantikan suara gemuruh angin. Untuk pertama kalinya aku menghubungi pria ini duluan. dan untuk pertama kalinya aku menyatakan rindu padanya.

“Sedang apa sekarang? sudah minum vitamin yang kuberikan?” tawa pria itu jelas terdengar,

“Aku disuruh mengisi surat tidak penting, vitaminnya sudah kuminum, beres.” meski dia mendadak melamarku dua hari lalu tanpa cincin sekalipun, aku sadar aku tetap mencintainya.

“Apa kau tidak bisa membatalkan semuanya dan kembali ke Bandung Saja?.” dia kembali tertawa

“Rian akan memanggilku pecundang jika aku membatalkannya. Jika kau ingin waktu berjalan cepat, tidur saja tujuh hari.. nanti saat pulang aku bangunkan,” kami berdua tertawa dengan saran tidak masuk akalnya.

Hening, aku dan Ayar diam.

”Na, jika nanti aku tidak pulang, aku mau kau jangan memikirkanku terlalu lama. Aku tidak mau melihat kau menangis seperti dulu, tetaplah hidup bahagia untukku.” Aku membisu. Entah perasaan apa yang kurasakan sekarang. Rasanya seolah dia akan benar-benar pergi.

“Sudah ya, aku harus berkumpul. nanti jika sempat akan kuhubungi. Jangan lupa do’akan aku, selamat malam.” percakapan itu diputus olehnya, aku mencoba menepis pikiran negatif di kepalaku. Kini aku benar-benar ingin mempercepat waktu agar bisa segera menemuinya. Tunanganku.

Lapangan Perkemahan Relawan Bencana, Bandung, 1 Agustus 2018

“Ina? ada apa ke sini pagi-pagi? kau kenapa? ada masalah lagi-” Aku berjinjit mencium pipi kanan Ayar. Hari ini tepat hari ulang tahun ke dua puluh satunya. Kecupan tadi kuanggap sebagai hadiahku untuknya.

Semua relawan yang sedang menyantap sarapan di lapangan menyoraki kami. Ayar tersipu, pipinya merah padam.

“Aku datang ke sini membalas perasaanmu. Cepatlah pergi, tujuh hari lagi aku akan menunggumu di sini. Kau harus tetap hidup untukku. Selamat ulang tahun juga untukmu.” Ayar tersenyum, ia berlutut di hadapanku. Ini seperti adegan dalam film-film, ketika sang pangeran hendak melamar tuan putri. Persis seperti itu.

“Aku akan selalu hidup untukmu, izinkan aku pulang sebagai tunanganmu, bersediakah kau menjadi rumahku, Na?”

Aku mengangguk. Suara sorakan para relawan yang ada di lapangan membuatku tersipu. Seorang pria menyambar Ayar kemudian merangkulnya.

“Ayar selalu berdongeng untukku. Dongengnya selalu tentang Ina, gadis tetangga pujaannya.”

Ayar menyikut perut pria itu kasar.

“Dia Rian, yang pernah kuceritakan.” aku mengangguk tersenyum

“Tenang saja, aku akan membawa tunanganmu ini hidup-hidup. Jika perlu aku yang akan menikahkan kalian di sini besok.”

Semua orang di lapangan tertawa. 

Soreang, Bandung,  26 Juli 2018

Ini sudah bulan ketigaku menangisi Buana, Si brengsek yang pergi begitu saja di tengah hubungan kami yang sudah berjalan empat tahun lamanya. Dia lebih memilih bersama wanita baru yang tidak lain adalah sahabat karibku di kampus. Aku ingat sekali ketika dia berjanji akan memastikan untuk melamarku setahun sebelum wisuda. tapi ia berdusta. karenanya, pandanganku terhadap semua pria berubah. aku dibuat tak bisa percaya siapapun lagi olehnya. Kecuali pada Ayar, tetangga sekaligus teman kecilku.

“Mau sampai kapan kau akan menangisi Si brengsek itu , Na? ” aku selalu mendengus sebal ketika Ayar memanggil mantanku  dengan sebutan ‘Si brengsek’. Aku tahu dia memang brengsek, tapi ya, beginilah bodohnya aku masih saja membelanya.

” Tidak baik menangisi orang yang menyakitimu selama itu. Kenapa kau tidak mencoba membuka hati untuk pria yang lebih baik darinya?,” kepalaku kusandarkan pada pundak Ayar.

“Memangnya ada?”

” Ada, Ayar Basundara namanya.” spontan lengannya kutinju

“Hmmm tapi jika kau mau berkencan denganku, carikan aku sudut pada lingkaran dulu! hahaha.” Ayar berdiri  di hadapanku mengulurkan tangannya.

“Baik, kita sepakat, tantanganmu kuterima.” aku menyambar tangannya.

“Baiklah, aku setuju. cari saja sudut itu sampai dapat.” aku kembali tertawa

“Sesegera mungkin akan kutemukan. Sudah sore, ayo pulang, nanti Ayahmu pikir aku menculikmu.” Ayar berjalan di depanku, sesekali ia berbalik menuntunku melewati jalan berbatu di taman.

“Ayah bilang kau ikut komunitas relawan bencana?” Ayar mengangguk mengiyakan.

“Iya. Minggu depan aku akan bertugas ke Lombok selama tujuh hari. sedang ada gempa di sana, aku harus membantu relawan yang lain untuk mengevakuasi warga.” Ayar berhenti berjalan. pria itu berbalik menatapku.

“Na, soal tantangan itu dan perasaanku… aku serius. tapi tak apa jika kau malah sebaliknya. Aku tidak mau lagi lari seperti dulu saat ingin menyatakan ini. nanti, kapanpun kau membalas perasaanku beritahu aku.”

Aku tidak pernah melihat wajah Ayar seserius itu sebelumnya. Aku merasa seperti sesuatu meyakiniku bahwa Ayar memang orang yang tepat. Dialah orang yang selama ini mencintaiku. Dari sana aku menyadari, ternyata aku juga menaruh perasaan padanya.

Soreang, Bandung, 1 Agustus 2015

Malam ini untuk pertama kalinya Ayar mengajakku makan malam di sebuah kafe dekat rumah. Dia bilang karena hari ini ulang tahunnya dia yang akan membayar semua. 

Aku berlari ke dalam kafe mencari Ayar yang katanya sudah menungguku di dalam. Seorang pria melambai padaku. itu Ayar. tapi untuk apa dia menggunakan kemeja rapi seperti itu? Kemeja yang ia kenakan saat acara perpisahan di sekolah kemarin. 

“Ayar? rapi sekali, kau tidak akan pergi ke acara perpisahan di sekolah lagi kan?” Ayar tertawa pelan, tawanya pun ia buat-buat. Malam ini Ayar terlihat berbeda. mungkin hanya perasaanku saja, aku tak tahu.

“Aku ingin memberitahumu sesuatu.” kami mengucapkannya bersamaan. Ayar menggaruk tengkuknya mendengarku  mengatakan hal yang sama dengan yang ia katakan.

“Kau saja yang duluan,” Ayar mempersilakanku untuk berbicara duluan. lihat, tingkahnya aneh malam ini. tangannya ia sembunyikan ke belakang punggungnya sejak aku datang.

“Tadi sore setelah acara perpisahan, Buana datang ke rumahku. kau tahu? dia mengajakku berkencan! Aku mencarimu kemana-mana tadi sore! Aku ingin memberitahumu soal ini, tapi kau malah menghilang entah kemana.” raut wajah Ayar berubah. sebatang cokelat jatuh dari tangan yang ia sembunyikan di belakang punggungnya. kami sama-sama terkejut.

“Mm, maaf Na! aku harus pulang duluan, perutku tiba-tiba mulas.” Ayar berlari meninggalkanku sendiri di kafe.

Ada apa dengan Ayar malam ini? batinku.

Soreang, Bandung, 1 Agustus 2014

Ayar berdiri setelah aku menceritakan kejadian di sekolah tadi pagi, saat aku menyatakan perasaanku pada Buana teman sekelasku dan aku ditolak mentah olehnya.

“Kau menangis di hari ulang tahunku hanya karena masalah itu?! lebih baik tidak usah datang ke sini tadi! lagipula anak perempuan mana yang gila mengajak laki-laki berkencan duluan?” aku berdiri mendorong Ayar kasar. Aku tidak terima dengan kata-katanya.

“Jadi kau pikir aku anak perempuan gila?! lagipula siapa juga yang mau datang ke sini merayakan hari ulang tahun orang aneh sepertimu!” Ayar menunduk,

“Aku mengajakmu ke sini untuk berkencan denganku, aku tidak senang melihatmu mencoba dekat dengan Buana itu.”

Aku tidak mendengar jelas apa yang Ayar katakan. Anak itu bergumam. Sekali lagi dia menatapku yang juga sedang menatapnya. Lalu dia lari begitu saja meninggalkanku dan kue ulang tahunnya di taman.

anak aneh, batinku.

Soreang, Bandung, 9 Agustus 2018

Mengingat betapa tidak pekanya aku dulu membuatku ingin kembali saja ke masa lalu.

Saat ini aku hanya menyesal terlambat menyadari semuanya. Andai perasaan tulusnya kusadari lebih cepat, perasaan ini tidak akan menghantuiku. Aku terlaru sibuk mengosongi hati, sampai  tak sadar jika ada yang berhasil masuk mengisi.

Maafkan aku yang telat menyadari, maafkan aku yang tak punya hati. tenanglah di sana, lalu abadilah di sini.

yang akan merindukanmu selamanya

KARINA AYUDIA

Catatan kecil itu kuselipkan dalam amplop surat wasiatnya. Aku kembali menutupi diri dengan selimut.

Biarkan aku menangis hari ini saja, untuk terakhir kalinya, karenamu. 

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Baca Juga  Lemea, Makanan Fermentasi Khas Tanah Rejang

Penulis : Yofa Robihatul Fajriyah

Gravatar Image
Saya menantang diri saya untuk terus berkembang. Baik itu kompetisi dengan manusia maupun kompetisi dengan alam. Agar diri saya mengerti bahwa kadang kita perlu masa bodoh dengan kalah/menang. Toh, kalah bukan berarti kita pecundang kan?. Bagaimanapun hasilnya nanti, saya selalu yakin bahwa kadang tenggelam itu perlu, agar kita tahu seberapa pentingnya belajar berenang.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

4 comments

Artikel Terkait