by

Cerpen: September Rain

Setiap orang selalu memiliki cerita dan kenangan tersendiri di balik hujan, entah itu sebuah kesedihan ataupun kebahagiaan. Karena hujan memiliki kadar 1% air dan 99% kenangan, dari salah satu kutipan yang pernah kubaca.

Tapi tidak bisa dipungkiri, aku memiliki keduanya untuk dikenang saat hujan di bulan September.

Bukankah setiap sesuatu di Bumi ini tercipta dengan beberapa keseimbangan, ada pria dan wanita, ada siang dan malam, ada panas dan dingin, ada air dan api, begitu juga ada kesedihan dan kebahagiaan.

Bisa dibilang mungkin saja aku langsung bisa mendapatkan sebuah keseimbangan itu, pada satu momen yang sebelumnya tidak pernah aku duga.

Minggu, 11 September 2016

Jalanan yang sunyi ini membuat aku enggan untuk sekedar berjalan barang satu langkahpun. Jika bukan karena harus membeli kebutuhan tamu bulanan ini, mungkin saja aku tidak akan pernah mau berjalan menuju mini market pada jam jam istirahatku, walaupun hanya berjarak tiga meter saja dari tempat tinggalku.

“Ini saja kak? Ada tambahan lainnya kak? Mau diganti dengan produk yang lainnya yang sedang ada diskon kak?”

“Engga kak, udah yang itu aja.”

“Totalnya dua puluh ribu rupiah.”

“Makasih.”

“Terimakasih kak sudah berbelanja di toko kami, jangan lupa mampir lagi. Selamat malam.”

Tersirat sebuah pemikiran, apakah aku harus berbelanja di toko ini setiap malam agar ada seseorang yang mengucapkan selamat malam, sebelum aku melakukan perjalanan menuju pulau kapuk yang penuh dengan imajinasi bawah sadarku. Sungguh terdengar sangat konyol isi pemikiran seorang wanita, yang menyandang status single selama 22 tahun lamanya, alias seumur hidupnya.

Tepat saat aku keluar dari mini market hujan pun turun dengan deras tanpa ada aba aba suara petir dan kawan kawannya.

“Kenapa aku tidak membawa payung? karena tidak tahu akan turun hujan. Kenapa aku tidak tahu akan hujan? karena tidak tahu jika awan mendung. Kenapa aku tidak tahu jika awan mendung? karena hari sudah malam dan gelap jadi mana bisa aku melihatnya dengan jelas, jika awan itu mendung lalu akan turun hujan sehingga aku terjebak disini.” Memang sungguh kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan pada diri ini yang sangat hobi menggerutu sendiri.

“Kamu bisa memastikannya dengan melihat ke langit, jika tidak terlihat satupun bintang maka artinya awan mendung menutupi bintang bintang itu dan pertanda akan turun hujan. Bagaimana jawabanku, apa bisa diterima oleh pertanyaan yang kamu jawab sendiri sebelumnya?”

Tunggu, siapa orang ini dan apakah dia mengenaliku? Aku tidak kenal dengannya. Lalu kenapa dia tiba-tiba menghampiriku dan menjawab beberapa pertanyaan yang sebelumnya terlontar dari mulutku. Padahal aku tidak butuh jawabannya sama sekali karena memang berbicara sendiri adalah kebiasaanku, tapi bukan berarti aku tidak waras.

Baca Juga  Cerpen: Pandemi Merugikan Atau Menguntungkan?

“Kamu pakai payung ini! Tenang aja aku punya dua payung kok.”

Lelaki itu tersenyum, sungguh jika dibandingkan dengan gula tentu saja lebih manis gula.

“Gapapa aku pakai payungnya? Nanti ngembaliinnya gimana, kan aku gak kenal sama kamu?”

Lelaki itu lagi lagi tersenyum, oke untuk yang kedua kali nya masih bertahan pada kesimpulan pertama yaitu lebih manis gula.

“Yaudah kalo gitu kenalan dulu, panggil aja aku Nana. Minggu depan kita ketemu lagi disini kalo mau ngembaliin lagi payungnya. Aku pulang duluan ya, daahhh.”

Lelaki bernama Nana itu pergi, menurutku senyumannya yang ketiga kali ini mulai bisa mengalahkan manisnya gula.

“Tunggu, aku belum memperkenalkan namaku sama Nana. Ahh harusnya dari tadi, udah pergi baru sadar.”

Minggu, 18 September 2016

Jujur, saat ini aku benar-benar tidak mengerti maksud dan tujuan yang sebenarnya datang kembali ke tempat ini. Yup tentu saja mini market ini, tempat dimana aku pertama kalinya bertemu Pria bernama Nana yang memiliki senyuman lebih manis dari gula. Eh bukan, tunggu maksudnya pria yang menolongku meminjamkan payungnya.

“Sudah lama menungguku?”

Suara ini, aku bisa mengenalinya tanpa harus melihat sumbernya. Tapi kenapa tiba tiba aku tersenyum setelah mendengar suaranya.

“Tentu saja, lama banget padahal cuman mau ngembaliin payung.”

Harus jaga image ya walaupun terpesona dengan tampang pria di depanku ini.

“Nih payungnya, makasih ya.”

“Sepertinya kamu bakalan butuh lagi payungnya deh, lihat.” Tangannya menunjuk ke langit mencoba memperlihatkan jika hari sudah mulai mendung, pertanda hujan akan datang.

“Gapapa gausah, aku bisa pulang sekarang kok. Lagian rumah aku ga jauh dari sini, kamu bisa pakai payungnya jadi aku gausah repot-repot lagi ngebalikin payung kamu minggu depan dan nunggu lagi kamu dateng nyampe hujan terus minjem lagi payungnya. Bakalan jadi ribet tau gak.”

Lelaki itu tersenyum, senyum yang semakin terlihat manis hingga pandanganku tidak bisa sedetikpun berpaling.

“Ide yang bagus, kamu bisa pinjem lagi payung aku jadi minggu depan kita punya alesan lagi buat ketemu.”

“Hah, kita? Lo aja kali gue engga.” Ingat kan harus tetap jaga image walaupun hati bersorak-sorak.

“Yaudah iya aku yang pengen punya alesan buat ketemu lagi sama kamu. Gimana, kamu mau kan Rain?”

“Emm gimana yaa, eh tunggu kamu kok tau nama aku padahal belum dikasih tau.”

Aku tidak tahu Ibunya pas hamil ngidam apa, tapi kenapa senyumnya makin kesini makin nambah aja gitu kadar kemanisannya. Entahlah, mau ga terpikat tapi ini sangat memikat sekali.

“Aku ngarang, soalnya kalo ketemu kamu momennya itu pas lagi hujan aja gitu jadi aku manggil kamu Rain. Emang bener yaa nama kamu Rain?”

Baca Juga  Cerpen: Keadaan yang Berbalik

Entah mungkin aku yang kelewatan percaya diri, hingga tersirat sebuah pikiran jika lelaki ini diam diam ternyata sering memperhatikanku dan menyukaiku. Bukankah terdengar seperti sebuah scenario film-film, yang berawal dari seorang secret admirer dan berujung menjadi pasangan lalu berakhir dengan happy ending. Sungguh sebuah halu level akut memang pemikiranku ini.

“A kamu kurang huruf a di ujung nya.”

“Raina?”

“Iya, tapi kalo mau manggil Rain juga gapapa.”

“Kalo sayang?”

Tuhkan senyum lagi, udah tau punya senyum yang kadar manisnya nambah terus ehh malah disengajain. Mau bikin diabetes kali ya ini orang.

“Gabisa, baru kenalan udah manggil sayang dasar Nana nunu buaya musim hujan.”

Stay cool Raina, jangan goyah dengan senyuman dan rayuannya. Ingat, baru dua kali ketemu jadi harus tetap jaga image.

“Yaudah Rain, nih pake aja lagi payungnya supaya minggu depan kita bisa ketemu lagi.”

“Kenapa ga kamu kasih aja sih ini payungnya ke aku, biar ga harus bulak balik tiap Minggu ketemuan lagi buat ngembaliin payungnya.”

Padahal jauh di dalam hati senangnya ga ketulungan nih bisa ketemu lagi sama si Nana nunu yang punya senyuman manis.

“Kan emang itu alesannya, biar bisa ketemuan lagi. Kalo payungnya jadi dibalikin sekarang minggu depan berarti gabisa ketemu lagi sama kamu. Gimana kalo kamu kasih aku nomor wa deh biar bisa ngontek buat janji pas mau ketemuannya, jadi kamu gak akan nunggu lama.”

Nah ini dia momen yang ditungguin akhirnya, eits tapi jangan dulu ngasih inget jaga image.

“Yaudah mana Hp kamu sini biar aku tulis sendiri nomornya.”

Gagal jaim karena memang ini yang ditunggu dari tadi gak mungkin melepas suatu kesempatan kan, mumpung dia yang duluan minta.

“Makasih yaa, aku izin pergi duluan. Minggu depan kita ketemu lagi oke, Raina?”

Aku hanya bisa mengangguk.

Mataku tidak lepas dari pandangan punggungnya yang semakin menjauh.

Nana, siapa sebenarnya kamu ini? Kenapa bisa dengan lancang mengetuk sesuatu yang sangat sensitif di dalam hatiku ini hanya dengan alasan sebuah payung dan hujan.

Minggu, 25 September 2016

Saat ini aku merasa sedikit dikecawakan dengan ekspektasi yang kubangun sendiri. Sejak hari pertemuan kedua dengan lelaki yang bernama Nana, dia belum pernah sekalipun menghubungiku bahkan sampai hari ini. Hari ketiga seharusnya kami bertemu.

Tapi tetap saja, hati seorang gadis ini masih tetap ingin menemuinya walau tanpa kabar sekalipun. Aku hanya harus sedikit menunggunya saja, dia pasti akan datang untuk menemuiku dan mengambil payungnya atau mungkin meminjamkannya lagi padak, karena hari ini sudah cukup mendung.

Aku sudah siap dengan penampilan yang sememukau mungkin. Ternyata cuaca sangat tidak mendukung, tepat saat aku hendak pergi hujan mulai turun dengan derasnya.

Baca Juga  Asam Pedas Ikan Patin Khas Riau, Rasanya Menggelegar!

“ahh aku lupa, Nana aku pakai lagi yah payungnya. Tunggu aku di sana, aku pasti akan datang kamu juga harus datang ya!” memang kebiasaan berbicara sendiri ini sangat mendarah daging dan tidak bisa dihilangkan.

Apakah hari ini aku harus menelan kekecewaan, hampir tiga jam lebih aku menunggu disini tapi belum terlihat keberadaan Nana sama sekali. Hujan masih turun dengan deras hingga cuaca terasa sangat lebih dingin. Sebaiknya aku membeli beberapa minuman hangat di dalam mini market agar suhu tubuhku bisa desikit meningkat.

“Ada lagi tambahan kak?”

“Udah itu aja.”

“Saya lihat dari tadi kakak di luar sepertinya sedang menunggu seseorang.”

Bahkan kasir mini marketpun memperhatikanku yang sedang menunggu kedatangan Nana.

“Iya. Emm sebelumnya kakak lihat tidak seorang laki laki yang sedang menunggu di sekitar sini?”

“Laki laki yang mana yaa kak? mohon maaf soalnya banyak sekali laki laki yang datang kesini kak.”

“Kami pernah bertemu di sini Minggu kemarin dan Minggu sebelumnya, dia memiliki senyuman yang manis dan sering membawa payung hitam bahkan memberikan pinjam satu payungnya ini padaku.”

Aku menunjukkan padanya payung yang Nana pinjamkan padaku sebelumnya.

Tapi sayang bukan jawaban yang aku dapatkan dari kasir mini market itu, melainkan sebuah tatapan heran yang entah bisa diartikan apa.

“Maaf kak, sebelumnya memang minggu-minggu kemarin saya melihat kakak disini tapi tidak dengan siapapun termasuk orang yang kakak maksud tadi. Kakak hanya datang sendiri dan duduk di sana. Oh saya juga ingat saat malam hari kakak datang ke sini, kakak juga membawa payung itu. Sungguh pengamatan yang bagus karena ternyata malam itu benar-benar turun hujan. Mungkin saja aku terlalu sibuk karena saat itu sedang banyak pembeli jadi tidak begitu memperhatikan kak.”

Mendengar penjelasan dari pemuda itu membuat aku tersadar.

Dia hanya sosok yang menghuni fikiranku saja, dia hidup dalam fikiran dan khayalanku. Ternyata selama ini lelaki yang memiliki senyum manis bernama Nana itu hanya sebuah ilusi. Aku hanya menciptakan sesorang yang aku inginkan dan menjadikannya seolah nyata dihidupku. Aku yang telah menghidupkan khayalanku sendiri.

Nana, kamu akan selalu hidup dan datang bersama dengan rintikan hujan, menemaniku sampai akhirnya aku menemukan sesuatu yang menjadi sebuah penghias langit setelah datangnya hujan, pelangi yang sesungguhnya untuk mewarnai hari hari senduku.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait