by

Cerpen: Sebuah Rasa

Sebuah Rasa
Oleh Nurhidayati

Siang itu seperti biasanya jika masih ada masuk kuliah siang maka aku tidak pulang ke kos, aku dan dua sahabatku yang juga sekelas denganku memilih untuk pergi makan siang ke kantin yang tidak jauh dari gedung belajarku gedung FKIP, yaitu bersebelahan dengan fakultas Teknik Informatika.

Aku memesan menu makan siang favoritku yaitu nasi padang ayam rendang dan minumannya hanya air putih, karena menurutku air putih itu sehat dibandingkan minum air teh es atau minuman manis dan dingin lainnya.

Sambil makan siang aku dan teman-teman menikmati suasana kantin yang asri dan sejuk, karena banyak pepohonan rimbun dan bunga-bunga yang indah yang membuat kantin itu seperti taman saja, membuat hati siapa saja menjadi tenang dan adem ketika berada di kantin itu.

Oleh karena itulah kantin itu banyak diminati oleh para mahasiswa dan dosen-dosen juga. Apalagi bagi mahasiswa yang suka selfie pasti sangat tertarik untuk pergi ke kantin itu, walaupun hanya memesan makan ringan atau minuman saja. Tetapi selain itu makan di kantin ini sangat enak sekali, tidak kalah enaknya sama makanan yang ada di restoran-restoran terkenal.

Setelah selesai makan kami bertiga tidak segera beranjak dari meja tempat kami makan, kami mengisi waktu dengan bersantai menikmati pemandangan kantin yang indah, aku selalu mengabil kesempatan untuk membaca buku kuliah, sedangkan sahabatku Vivi sibuk membaca buku novel yang selalu dibelinya hampir setiap pekan, dan sahabatku yang satu lagi si Bella sibuk dengan Handphonenya, kerjanya membuka Instrgaram, Facebook dan media sosial lainnya untuk mengkepoi orang-orang yang terkenal di kampus seperti presma, wapresma, orang yang memiliki bakat dan prestasi sehingga terkenal di kampus dan yang lainnya.

Sebetulnya favorit kedua sahabatku ini tidaklah buruk, mereka dapat mengambil pelajaran dan pengalaman dari kebiasaan mereka itu, contohnya saja si Vivi yang suka membaca buku novel, dia sekarang sudah menjadi penulis nover yang terbaik di kampus walaupun dia masih harus banyak belajar untuk menjadi penulis novel yang bertarap Nasional ataupun Internasional.

Handphoneku di atas meja bergetar dan berdering dengan tingkat volume yang sangat tinggi, aku lupa untuk mengurangi tingkat volumenya. Dengan spontan orang-orang pada melirik ke arah kami bertiga, aku segera menggapai handphoneku yang ada di atas meja diantara tumpukan buku-buku kuliah dan segera mematikannya.

Deringan tersebut adalah alarm masuk kelas siang ini, aku sengaja menyetel alarm agar kami bertiga tidak kebablasan keenakan bersantai di kantin ini. Bergegas kami membereskan barang-barang kami yang berada di atas meja dan segera mungkin pergi ke kelas.

Sedangkan Vivi dan Bela hampir berlari kecil meninggalkan kantin itu hingga tidak menyadari aku tertinggal jauh dari mereka.

“kalian berdua begitu ya denganku, mentang-mentang aku kecil dan larinya tidak selaju kalian berdua malah ditinggalin” kata ku sambil berlari-lari terengap-engap menyusul mereka. “Iyaaaa sorry Mia, ayo cepetan larinyaa” hanya itulah kata yang selalu keluar dari kata Vivi si hantu Novel.

Melewati lorong-lorong kelas anak FKIP yang silih berganti dilewati oleh banyak mahasisa yang berada di lantai dasar, dan segera menaiki tangga menuju lantai 2 tempat kelas belajarku.

Butuh perjuangan dan tenaga yang ekstra untuk pergi ke kelas, karena ruangan belajar berada di lantai dua dan lokasi tempat parkir lumayan jauh. Sesampainya di kelas ternyata teman-teman yang lain hanya beberapa orang yang hadir, padahal tinggal 5 menit lagi dosen akan masuk ke kelas “inilah kebiasaan anak generasi bangsa sekarang yang suka menunda waktu alias ngaret” gumamku dalam hati.

Lima menit kemudian bapak dosen yang terkesan sedikit killer, tetapi disiplin yang bernama pak Ridho masuk ke kelasku mengajar mata kuliah wajib Metodologi Penelitian. Ketika beliau baru sampai di depan pintu kelas semua mahasiswa sibuk menyiapkan buku-buku yang diwajibkan dibawa, setiap masuk jam kuliah beliau, begitu juga denganku.

Kubuka tas ranselku dan mencari buku yang dimaksud. Mataku terbelalak seketika, karena kaget satu buku Metodologi Penelitianku tidak berada di dalam tasku. Aku sangat panik karena bisa-bisa aku dihukum untuk membuat essay jika buku Metodologi Penelitian tidak cukup tiga.

Baca Juga  Cerpen: Terlepas Dari Bayangan

Bella yang duduk di sampingku semenjak tadi memperhatikan gerak gerikku. “ kamu kenapa Mia?” Tanya Bella dengan raut wajah penasaran. “Buku Metodologi Penelitian ku ga ada satu, hilang ntah dimana” jawabku dengan nada bicara cemas. “ jangan-jangan ketinggalan di kantin lagi Mia, tadi kan kita buru-buru perginya” kata Vivi.

“ ya Allah, iya keknya buku Metodologi Penelitianku tertinggal di kantin Vi, gimana dong? Bapak udah di kelas” . tanyaku meminta solusi. “Ya udah kamu pergi aja permisi ke kantin untuk ngambil bukumu Mia” kata Bella memberi solusi.

Aku bergegas pergi kedepan meja bapak Ridho meminta izin untuk mengambil buku metopelku yang tertinggal di kantin. Alhamdulillah bapak Ridho baik mau memberikanku izin ke kantin, dan tidak memarahiku atas kecerobohan dan ketidakdisiplinanku.

Dengan sedikit berlari aku pergi menuju kantin yang lumayan agak jauh dari kelas belajarku. Di dalam hati aku bergumam “semoga buku Metodologi Penelitianku masih ada dan ga hilang, aamiin”. Kulajukan langkahku, tidak kupedulikan nafasku yang terengah-engah dari pada nanti aku ketinggalan belajar, takut juga dikomentar sama bapak Ridho lama-lama izin keluar kelas.

Sesampai di kantin aku segera menuju meja dimana aku dan teman-temanku tadi makan siang, dan ternyata bukunya sudah tidak ada lagi, mulai anggapan negatifku timbul, “jangan-jangan hilang” kataku dalam hati. Kemudian ibu kantin memanggil ku dan bertanya kepadaku “ kamu ada ketinggalan buku ya”, “iya bu buku Metodologi Penelitian” jawabku mengiyakan.

Kemudian ibu kantin memanggil sesorang untuk mengambil buku yang telah disimpan untuk diberikan kepadaku. Selang beberapa detik saja dia muncul di hadapanku dengan buku Metodologi Penelitian di tangannya. Tanpa berbicara sedikitpun dia langsung memberikan buku metopel itu kepadaku. Aku mengucapkan terimakasih kepada dia, tetapi dia hanya menganggukkan kepalanya saja “Cuek banget”kataku dalam hati.

Aku langsung pergi sambil berlari kecil meninggalkan kantin itu untuk bergegas pergi ke kelas. Satu masalah terselesaikan, hatiku lega sekali dan bisa belajar dikelas dengan aman dan damai.

Keesokan harinya, jam kuliahku dipercepat yang semula jam 08:00 menjadi pukul 07:00, dikarenakan dosen yang mengajar ada kegiatan. Masuk kuliah sepagi itu aku tidak sempat untuk sarapan di kost, jadi aku memilih untuk sarapan di kampus saja dan tidak lupa ku ajak kedua teman sekaligus sahabatku.

Kami bertiga memilih sarapan di kantin favorit kami, aku memanggil pelayan kantin itu untuk memesan menu sarapan yang kami inginkan. Pelayan kantin itu dengan cepat tiba di meja tempat kami akan sarapan, dan ternyata pelayan itu adalah seorang lelaki yang memberikan buku Metodologi Penelitianku yang tertinggal di kantin kemarin. Dia dengan sangat ramah melayani kami sebagai pelanggan kantin itu.

Aku merasa heran kenapa dia sangat ramah padahal kemaren dia sangat cuek kepadaku ketika memberikanku buku metopel kemaren. Aku menjadi bingung dengan karakter dia, dan menjadi penasaran tentang dia.

Beberapa waktu kemudian, kami bertiga mengetaui jika laki-laki pelayan di kantin tu merupakan keponakan dari ibu pemilik kantin tersebut namanya Ikbal. informasi yang kami dapatkan dari ibu kantin dia mahasiswa juga seperti kami di kampus ini, dan jurusan yang diambilnya adalah teknik kimia dan sedang menjalani semester 7, itu artinya dia angkatan di atasku.

Maklumlah kami dapat dengan mudah mendapatkan info tentang dia, karena ibu pemilik kantinnya ramah terhadap kami bertiga karena kami pelanggan setianya.

Semakin lama semakin banyak informasi yang didapatkan tentang Ikbal, dan yang paling menariknya tentang Ikbal adalah dia mahasiswa yang berprestasi di kampus, baik prestasi akademik maupun prestasi lainnya.

Dia memiliki kehebatan bermain catur, dan dia berhasil memenagkan lomba hingga tingkat Nasional. Apabila di kampus ada lomba catur selalu dia yang merebut juara pertamanya. Selain itu juga dia anak yang sholeh, ilmu agamanya sangat bagus, cuek dan tidak mudah akrab terhadap perempuan. Aku mendapatkan informasi ini dari teman di kelasku yang ternayata dia sepupunya Ikbal.

Baca Juga  Cerpen: Panji Si Tukang Bolos

Berbagai kelebihan yang dimiliki Ikbal membuatku salut dan kagum terhadapnya. Aku menjadikan dia sebagai seseorang yang dapat diteladani. Karena keseringan berjumpa dengan Ikbal di kantin kampus membuat hatiku sedikit berubah, maksdunya aku merasakan ada rasa lain dihatiku. Tanpa sebab lain karena kelebihan dan agama yang baik yang dimiliki Ikbal membuatku jatuh hati padanya. Tetapi aku tidak pernah memberitahu kepada siapapun termasuk kedua sahabatku, cukup Allah saja yang tahu tentang isi hatiku.

Karena sering bertemu Ikbal di kantin, aku dan dua sahabatku menjadi teman Ikbal, kami saling share info-info pengajian sekitaran kampus atau ada kegiatan bermanfaat lainnya yang harus diikuti mahasiswa.

Tetapi walaupun kami telah menjadi teman, aku tetap membatasi sikap dan perlakuan terhadap Ikbal karena tidak baik laki-laki dan perempuan terlalu akrab, begitu juga dengan dua sahabatku.

Akhir-akhir ini pertemananku dengan Ikbal membuat hatiku merasa agak sedikit lain dari biasanya. Apabila berjumpa dengan dia karena sebab apapun itu pasti aku merasa sedikit gugup dan canggung ketika berada di dekatnya. Akupun tidak paham mengapa itu bisa terjadi. Biasanya ketika aku bertemu atau berintekrasi tidak ada rasa apa-apa, sama seperti bertemu dan berintekrasi dengan laki-laki lainnya. Terkadang juga aku sering teringat dengan dia. Teringat tingkahnya yang ramah, sikapnya yang sopan terhadap wanita, dan dia terlihat berwibawa.

Sore itu di balkon lantai dua kamar kosku aku membuat tugas kuliah, sambil menyeruput kopi minuman kesukaanku dengan ditemani semiliran angin sejuk sore hari, yang membuat suasana semakin nyaman untukku sambil menyelesaikan tugas kuliah.

Ketika otakku berfikir keras untuk mengeluarkan ide untuk tugas yang kubuat, seketika saja aku teringat Ikbal sesosok laki-laki yang aku kagumi selama belakangan ini. Tiba-tiba datang si Bella dan Vivi menepuk pundakku dengan keras sehingga membuyarkan lamunanku. “Astagfirullah” ucapku karena kaget dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba.

“Ya Allah Mia, lho ngapain menatap kosong ke kos sebelah? Ada apaan Mia” Tanya Vivi penasaran. “ ga ada apa-apa kok, ini tugasnya susah banget, lagi mengeluarkan uneg-uneg di otak, biar cepat selesai tugas gue” jawabku dengan alasan yang menurutku cocok.

“Ah Mia kek kami ga kenal ama lho aja. Lagi mikiran apaan sih lo, ga mungkin mikiran tugas ngalamun ampe senyum-senyum sendri gitu” timpal Bela sampil senyum-senyum. “Iya ga ada apa-apa” jawabku dengan sedikit gugup. “Ga percaya kami” timpal Bella.

“Yaudahlah kalian nagapain sih gangguin aku, pergi sana mandi, nanti aku mandi setelah siap kerjain ini tugas, awas ya nanti kalo dah siap tugasku kalian belum mandi juga”. Jawabku mengalihkan pembiacaraan. Kemudian mereka berdua kembali masuk ke dalam kamar, sedangkan aku melajutkan membuat tugasku yang hamper selesai.

Lama-lama aku merasa semakin aneh dengan yang terjadi dan yang aku rasakan pada diriku. “Apakah aku sudah Fall in love with someone, Ikbal?” Tanyaku dalam hati. “Eh ga mungkin lah. Ga do, ini kagum biasa aj karena dia kan emang hebat segala hal” .

Jawabku bergumam di dalam hati. Aku semakin penasaran apa yang telah terjadi padaku. Aku mencoba searching di google apa ciri-ciri orang jatuh cinta. Maklum aku tidak pernah jatuh cinta kepada siapapun selama ini dikarenakan aku sibuk dengan dunia pendidikanku, namun untuk sekedar kagum pernah juga tetapi tidak sampai pada level saat ini yang aku rasakan.

Setelah kutelaah dan kupahami atikel yang kubaca aku menjadi gelisah. “Ya Allah sepertinya benar hambamu ini telah jatuh cinta” kataku dalam hati. Apakah si pemilik hati yang telah mencuri hatiku juga merasakn hal yang sama denganku ataukah sebaliknya? tanyaku dengan diri sendiri. Lalu aku berdoa semoga ini bukan cinta yang salah dan aku terhindar dari dosa zina.

Baca Juga  Cerpen: Hilang, Namun Dia Ada!

Aku ingin sekali mengungkapkan rasa hatiku yang terdalam ini kepada kedua sahabatku, tetapi aku malu untuk mengakuinya. Namun, aku sudah tidak tahan lagi memendam perasaan ini.

Akhirnya dengan memberanikah diri dan malu-malu, aku menceritakan hal yang sebenarnya terjadi padaku ke kedua sababatku. Merasa terkejut mendengar pernyataan pengakuan yang aku ucapkan. “Iya kan, sudah aku duga pasti Mia sedang jatuh cinta” kata Vivi dengan sedikit menggodaku. “aku sudah liat gerak-gerik dan tingkah laku lo itu suka pada Ikbal” timpal Bella sambil ketawa cengigisan. Wajahku memerah seperti sudah memakai blash on.

Hari-hari berlalu dan aku masih menyimpan rasa yang sama pada orang yang sama pula. Selama ini aku berusaha menyembunyikan perasaanku terhadap Ikbal. Pasti malu jadinya jika Ikbal mengetahuinya dari gerak-gerik dan tingkah lakuku. Aku sangat ahli untuk menyembunyikan perasan ini terhadap Ikbal.

Sehabis makan malam bersama dua sahabatku di kosku yang terbilang sederhana, sayup-sayup terdengan lantunan azan dari Masjid yang jaraknya agak lumayan jauh dari kosku. Aku beranjak dari meja makan dan masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, dan kemudian melaksankaan perintah wajib berupa shalat Isya’.

Sambil menengadahkan tanganku aku berdoa dengan khusuk apa-apa saja permintaan seorang hamba terhadap sang Ilahi. Salah satunya aku berdoa jika Ikbal baik untukku maka jodohkannlah dia untukku, jika dia bukan jodohku maka hilangkan rasa suka padanya.

Keesokan harinya di kampus, sambil menikmati jam istirahat yang cukup panjang bagiku, aku dan kedua sahabatku pergi ke kursi di taman depan kelas untuk membaca buku sambil bercerita. Cerita dimulai oleh Vivi. “ beb-beb kuh, gue rasa ya si Ikbal itu keknya suka deh dengan Mia, liat saja sikapnya jika ada Mia di depannya dan ketika tidak ada Mia di depannya, beda kali.”

Iya gue juga merasakan hal sama, dia agak terlihat gugup dan canggung ya ketika berada di dekat Mia” ucap Bella. “Hehe apa mungkin itu, ga lah keknya” kataku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal dengan rasa tidak percaya. “Kami yakin 100%” ucap Vivi lagi.” Iya betul Mia” tambah Bella untuk meyakinkanku.

Hari-hari kuliahku jalani dengan rasa senang dan syukur, dan akhirnya aku dapat menyelesaikan S1 ku dengan masa yang tepat 4 tahun kurang 2 bulan. Sekarang aku telah menyandang gelar sarjana dan Alhamdulillah sudah dapat bekerja di sebuah perusahaan mobil milik teman ayahku.

Kedua sahabatku juga telah selesai juga kuliahnya dan masing-masing sudah bekerja juga. Bella bekerja sebagai guru di sebuah sekolah Islam terpadu terkenal di bumi ancang kuning ini, sedangkan Vivi menggantikan ayahnya sebagai pemilik restoran ternama di kota ini.

Bagimanakah kabar si Ikbal? Si Ikbal semenjak lulus dari kampus dia mendapatkan pekerjaan yang sangat baik, dia diminta bekerja oleh perusahaan minyak tempat kedua orang tuanya bekerja di kota yang sama juga. Walaupun kami jarang bertemu tetapi masih ada sedikt komunikasi.

Pada suatu pagi, Ikbal adik perempuannya tiba-tiba menelponku dan mengatakan ingin datang ke rumahku. Aku merasa heran ada gerangan apa Ikbal mau berkunjung ke rumahku. Ternyata Ikbal ingin berkenalan dengan keluargaku dan berniat ingin melamarku segera.

Ikbal mengaku bahwa dia sudah lama menyukaiku, bermula ketika dia mulai bekerja membantu Tantenya di kantin kampus, dan dia juga sering mendengar cerita Mia dari Tantenya sehingga Ikbal tertarik dengan Mia.

Akhirnya aku dan keluargaku menerima lamaran Ikbal dan beberapa bulan kemudian kami segera melaksankan resepsi pernikahan. Inilah hari bahagia aku dan Ikbal, dan dimulailah kehidupan baruku. Semua sanak keluaraga dan sahabat-sahabatku merasa senang dengan kebahagiaanku. Aku bersyukur sekali karena telah berjodoh dengan laki-laki yang paham agama dan akhlak yang baik seperti Ikbal.

Pekanbaru, 11 Oktober 2021

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait