by

Cerpen: Sebab Kamu Hanya Mencintainya

Rata-rata, orang yang kamu suka tidak pernah kamu sadari sebelumnya. Dia masih terasa asing atau bahkan tidak pernah kamu sadari eksistensinya, karena kamu sibuk dengan sesuatu yang lain.
Cinta butuh waktu untuk membuat seseorang sadar. Sadar bahwa sesuatu membuat seseorang itu menyadari keberadaan orang yang dicintainya atau yang mencintainya.

Waktu terus berlalu. Sesuatu mendekatkan jarakmu dengan dia. Lantas hatimu akan terasa berdesir merinding macam ditiup setan. Tatapanmu padanya seiring waktu mulai berubah. Namun, ketika kamu melihatnya, kamu hanya akan melihat kekosongan.

Bukan karena kamu termakan pikiran jatuh cinta atau semacamnya. Tapi, kamu melihatnya tanpa tahu apapun tentangnya. Dan kamu merasa sedikit gila, bahwa menyukai seseorang hanya karena tahu namanya.

Ketika waktu dan tempat mendekatkanmu dengannya, kamu akan mulai melihat dirinya sebagai manusia. Tanpa kamu sadari, keadaan menyempitkan jarakmu dengannya dalam waktu yang singkat. Entah karena kamu berada dalam satu hobi dengannya, satu kelas dengannya atau dalam satu kampung.

Kala menyadari eksistensinya, kamu mulai memperhatikan kata-katanya yang pada mulanya hanya sangat biasa dan seperti angin lewat. Tidak berguna. Seiring waktu, obrolannya semakin terdengar jelas dan kadang dapat membekas di ingatanmu, sekalipun itu hanya kalimat biasa.

Wajah yang dulunya sulit kamu hafal, kini kamu mampu menjelaskan rinciannya. Mata yang sipit, hidung mancung, bahkan kamu mampu mengingat dimana jerawat suka nonkrong di wajah bagian yang mana. Kamu juga bisa menirukan suaranya yang biasa terdengar renyah ketika tertawa.

Dan lagi, kamu akan merasa nyaman ketika mengobrol dengannya. Kamu mulai tidak mempedulikan etika atau aturan dalam bersikap. Kamu hanya memerlukan topik agar obrolanmu semakin panjang. Kamu akan bersikap kepadanya seolah kamu meminta perhatiannya.
Usaha demi usaha tak terkira jumlahnya.

Baca Juga  Cerpen: Hilang, Namun Dia Ada!

Tak terhitung lagi berapa waktu yang kamu investasikan untuk bisa bersamanya, dan apa saja usaha yang kamu lakukan untuk bisa bersamanya. Meskipun dia hanya menganggapmu teman.

Pernah kamu mendapat situasi dimana harus melakukan sesuatu yang hanya dilakukan olehmu dan dia. Seperti melakukan sebuah tugas kelompok ketika yang lain hadir terlambat. Kamu memanfaatkan segala yang ada. Mengambil celah untuk mengikis jarak.

Kemudian kamu menjadi semakin serakah ingin memilikinya sepenuhnya. Semua situasi tersempit sekalipun kamu paksakan agar kamu bisa bersamanya.

Beruntung rumahmu searah dengan rumahnya atau bisa dikatakan berjarak lumayan dekat. Ketika pergi ke tujuan yang sama, kamu selalu menanyainya akan pergi dengan siapa. Lalu, dengan berbagai alasan, kamu akan membuatnya mau menjemputmu, lalu pergi bersama.

Yang terbaik adalah ketika naik motor di jok yang sama. Kamu akan merasa sangat dekat. Kamu bisa saja memeluknya saat itu juga. Tapi, tidak semudah itu wahai manusia! Sebesar apapun nyalimu, kalau dia belum menjadi milikmu, kamu tidak berhak melakukan apapun terhadapnya.

Tapi, ketika kamu melakukan perjalanan jauh dengannya ke suatu tempat naik motor, kamu sudah melangkah lebih maju. Dia selalu memakai jaket, sedangkan kamu tidak. Dan kamu akan dengan perlahan memasukkan tanganmu ke dalam sakunya, tapi tidak mencoba memeluk tubuhnya, meskipun kamu tahu itu hangat dan nyaman.

Dia melonjak kaget. “Eh, aku kira ulat.”

Kamu tertawa dan berkata terus terang. “Dingin. Tadi aku lupa tidak membawa jaket.” Memang kamu sengaja tidak membawanya untuk mengambil kesempatan ini.

Perjalanan jauh yang kalian tempuh tidak pernah sunyi. Satu sama lain mencari topik, mencari bahan tawa bahkan bahan gosip. Tawa yang terdengar renyah di antara kalian semakin menjadi, lalu melebur, menjadi pelangi teman matahari.

Baca Juga  Puisi Untuk Ibu: Saat Kapan Itu?

Situasi ini membuatmu merasa menang, lalu tersenyum lebar. Hingga kamu tak sadar bahwa dia yang sedang menyetir di depan, melingukmu lewat spion kiri yang sejak tadi memantulkan wajah ceriamu.

Sangat menyenangkan ketika menyukai seseorang untuk kali pertamanya. Hatimu seperti kue ulang tahun. Dipotong. Lalu diberikan kepada orang lain. Dan kamu tak akan pernah merasa sesal.

Hal itu tercermin dari bagaimana kamu bersikap pada orang yang kamu sukai. Banyak hal kamu lakukan untuknya, sedangkan yang ia lakukan hanyalah menerima dengan senang hati, padahal hatinya bukan untukmu, dan kelihatannya tidak akan pernah.

Tapi kamu tetap tidak mengapa-apakannya, seolah itu wajar bagi cinta sepihak. Dan meski sadar kamu bodoh, kamu tetap mempertahankannya, membuatnya mengalir dalam DNA-mu.

Kesengajaan ini terus berlanjut, hingga seseorang mendapatimu, menyuruhmu berhenti melakukan tindakan bodoh lainnya, menganggapmu lebih istimewa, memerlakukanmu lebih baik dan memberikan rasa yang lebih besar dari rasamu pada orang yang tidak mencintaimu.

Akhirnya, kamu sembuh dari cinta diam-diam yang bertepuk sebelah tangan, lalu menyirami benih cinta yang mulai tumbuh dengan orang yang menganggapmu ada.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait