by

Cerpen: Rumah Pohon Berbagai Cerita

RUMAH POHON BERBAGAI IDE

Karya: HIZRY ABDILA ASRA

‘‘Harapan -harapan besar menciptakan orang-orang besar’’

-ANONIM-

Di sebuah desa kecil di pinggiran kota Majalengka 15 tahun yang lalu terlahir anak laki-laki pintar dengan berjuta impian, dia terlahir dari keluarga yang sederhana, Ekal adalah nama panggilan sahabat-sahabat dan keluarganya, ya dia adalah Ekal Panji Negara.

Saat ini dia duduk di kelas 9 Smp, dengan ketekunanya dia mempunyai harapan untuk mewujudkan impianya yang besar, yaitu Ingin menjadi pengusaha sukses dan selalu menjadi yang terdepan.

Ekal tinggal di sebuah rumah sederhana, walaupun tempat tinggal Ekal sederhana namun nyaman, bersih dan rapih, tak jauh dari rumahnya dia memiliki rumah pohon yang dibuat kakeknya, dia sangat senang ketika saat itu sang kakek membuatkan rumah pohon, dengan sedikit nasihat dari kakeknya dia berjanji untuk selalu menjaga rumah pohon itu, dimana rumah pohon itu merupakan tempat yang paling meng-asyikan untuk Ekal ketika dia mencari ide-ide kreatifnya.

Setiap harinya setelah pulang sekolah Ekal selalu menyempatkan waktu untuk membantu orang tuanya berjualan didepan rumah.

Pada suatu ketika lewatlah sekumpulan anak-anak sebayanya di depan tempat Ekal berjualan. ‘’Wah wah ada si penjual gorengan nih, bajunya kumel lagi…hahahahah.’’ Kata – kata ejekan yang keluar dari bayu dan teman temannya.

Ekal pun langsung merasa malu dan terdiam, ia tidak berani membalasnya karena teman-teman Ekal tubuhnya sangat besar-besar dan kaya raya sedangkan ia hanya seperti sepotong ranting yang kering dan hidup dengan sederhana. ’’Ayo teman-teman kita pulang saja dari pada kita ngobrol sama anak gembel ini!!’’. Sahut bayu kepada teman-temannya. ‘’AYOO!!!’’ jawab dengan serentak.

Banyak sekali keluhan-keluhan yang sedang ia rasakan, ia sangat sedih dan malu dengan keadaan orang tuanya sekarang, karena selalu diejek oleh teman-temannya, namun dari setiap kekuranganya dia meneguhkan dirinya untuk bisa mewujudkan impianya di masa depannya nanti.

Angin sepoi-sepoi berhembus, daun-daun bergerak dihempasnya menggugurkan daun-daun kering menemani ia dalam lamunanya di tempat favoritnya rumah pohon karya sang kakek. Matanya menatap jauh penuh makna, “Bagaimana aku bisa menjadi seorang pengusaha sukses? Apakah aku bisa menjadi pengusaha sukses dengan segala kekuranganku” gumam dalam hatinya.

Detik demi detik, menit demi menit berlalu dalam renunganya, dengan setengah menyadarinya ia menemukan sebuah ide untuk membuat kerajinan robot dari kardus (robot sederhana). Dengan bergegas dan tidak mau berlama-lama ia pun langsung mengumpulkan bahan-bahan bekas dari belakang rumahnya, setelah itu ia mencoba membuat robot sederhana itu dengan kreatifitasnya dan berpikir keras, ia berhasil membuat robot sederhana walaupun hasilnya kurang maksimal tapi Ekal tetap optimis dan pantang menyerah.

Baca Juga  Cerpen: Tentang Kita yang Sepakat untuk Mengakhiri

Waktu begitu cepat berjalan, dalam keasikanya dia berkarya merangkaikan satu demi satu kerangka Robot kardus ciptaanya tak terasa matanya terasa berat dan tertidur. Hari menjelang pagi, dia sedikit terperanjat melihat jam sudah menunjukan pukul 05.30 WIB merasa dirinya terlambat.

“waduh sudah jam segini. Aku kesiangan ternyata, bagaimana ini sholat subuhku tertinggal” sedikit menggerutu dalam hatinya. Dengan bergegas dia melaksanakan sholat subuhnya walaupun terlambat, “walaupun terlambat yang penting aku harus melaksanakan kewajibanku” jawab dalam hatinya.

Setelah dia selesai melaksanakan sholat subuhnya, dengan secepat-cepatnya ia mempersiapkan segala perlengkapan sekolah. Setelah semuanya perlengkapan sekolahnya telah siap dia pun berpamitan kepada orang tuanya. Dikayuhnya sepeda jenis federal yang ia dapat dari hadiah sebuah kejuaraan.

Setiba di dalam kelas, Ekal mulai merasakan lagi ejekan dari teman temannya, ’’hey hey anak miskin ngapain kamu masuk sekolah, harusnya kamu ngemis sana di jalanan!!’’ kata Reza. ’’setuju tuh anak gembel ga boleh di dalam kelas inih!!’’ sahut samsul. Ekal pun semakin malu dan merasa jengkel dengan perkataan temannya tadi.

Riuh siswa siswi dalam kelas saat menjelang jam pelajaran pertama, suara ketuk pintu menandai datangnya salah satu guru dan sontak suara riuh berganti menjadi hening. Berdiri tegak seorang ibu guru dengan perangai yang penuh wibawa, ya dia adalah ibu Eli wakil Kepala sekolah, ‘’Assalammualaikum, Anak-anakku sekalian kami dari pihak sekolah akan memberitahukan kepada kalian semua, bahwa minggu depan akan diadakan lomba dari klas 7-9 membuat robot dari bahan bekas, perlombaan ini berhadiah uang tunai Rp 1 juta dan piagam penghargaan. Bahan bekas itu contohnya seperti botol, kardus dan lain-lain. Eits..tapi dari bahan bekas ini kalian harus membuat yang terbaik, kreatif dan bagus. Maka dari itu ibu harap kalian mempersiapkan dari sekarang yah?’’ ucap bu guru Eli. ‘’Siapp buuu!!’’ sahut murid kelas 9c.

Baca Juga  Cerpen: Don't Believe (Fake Friend)

‘’Akhirnya ada kesempatan lagi untuk menambah prestasiku, akan aku buktikan bahwa dengan segala kekuranganku aku harus bisa menjadi yang terdepan’’ sahut Ekal dalam hati. Sesampainya di rumah Ekal memberitahukan kepada orang tuanya bahwa ia ingin mengikuti lomba membuat robot dari bahan bekas.

“Bu minggu depan aku akan mengikuti perlombaan membuat robot dari bahan-bahan bekas yang akan diadakan oleh sekolah” Ekal Memberitahukan mengenai keikut sertaanya dalam lomba.

‘’Nak ibu doakan semoga kamu berhasil dan juara, jangan takut kalah karena proses tidak akan membohongi hasil, semakin kita tekun berusaha maka makin kita mendekati hasil yang lebih baik begitupun sebaliknya, semakin kita malas dalam berproses atau berusaha maka semakin kita akan tertinggal dari hasil yang terbaik, ibu hanya bisa mendukungmu dengan doa, ibu tidak bisa membelikan bahan atau peralatan baru untukmu nak’’. sahut ibu dengan sendu.

‘’Ibu tidak usah khawatir tentang bahan dan peralatan lombaku bu, yang penting ibu sudah memberikan dukungan pada Ekal untuk mengikuti lomba ini, terima kasih bu karena ibu, Ekal semangat belajar.’’ kata Ekal (dengan rasa bahagianya). ‘’sama-sama nak’’. Sahut ibu.

Hari demi hari dilalui dengan keseriusan ekal berproses dan berlatih terfokus pada satu tujuan saat ini. Waktu berlalu tidak terasa esok merupakan hari yang ditunggu-tunggu, tak sabar dia menunggu hari dimana saat hari itu dia ingin membuktikan kesungguhanya.

Pagi telah tiba seorang anak yang telah siap menunjukan keteguhan hatinya penuh dengan rasa optimis, “Perlombaan ini menantiku” sahutnya. dia pun berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk berangkat ke sekolah. “tetap semangat yah nak jangn merasa malu ataupun pesimis jika kalah, kamu sudah berusaha semaksimal mungkin, ibu yakin aka nada yang terbaik untukmu nak”. Kata ibunya. “siiiapp bu”sahut Ekal.

Acara perlombaan pun telah di mulai, dewan juri memanggil satu persatu peserta lomba, “peserta Pertama, Deni?”. Dewan juri mulai mengabsen peserta. “siap” jawab Deni sebagai Peserta Pertama. “peserta Kedua, Ekal?”. Juri Memanggil peserta kedua, “siap” sahut Ekal.

Satu persatu dewan juri mengabsen peserta lomba, yang masing-masing peserta lomba menyatakan siap. Setelah selesai mengabsen peserta, salah satu dewan juri memberikan aba-aba sebagai tanda perlombaan dimulai. “perlombaan pembuatan robot mulai’.

Baca Juga  Serabi Kelor, Jajanan Kenyang Anemia Hilang

Setiap peserta mulai bergegas menyusun dan merakit dengan bahan-bahan untuk membuat robot. Ekal pun tetap optimis dalam merakit robot sederhana tersebut. Tak ada kata-kata yang diucapkan oleh Ekal saat merakit robot tersebut ia mulai menyusun satu persatu kerangka robot dengan teliti.

“Waktu habis……!!”. kata juri lomba tersebut, seluruh peserta menyerahkan hasil karyanya masing – masing. Setelah seluruhnya menyerahkan hasil karyanya, dewan juri mulai menilai masing – masing karya dari setiap peserta. Selepas itu waktu yang di tunggu-tunggu oleh para peserta tiba yaitu pengumuman pemenang lomba.

“Nah..adek-adek kita akan mengumumkan juara perlombaan membuat robot dari bahan bekas, dari hasil penilaian dan hasil rembukan para juri bahwa juara pertama dimenangkan oleh peserta atas nama…Ekalll !!” Salah satu dewan juri mengumumkan pemenang “untuk pemenang juara pertama atas nama Ekal dipersilahkan untuk menerima hadiah yang akan diserahkan oleh Bapak Kepala Sekolah” lanjut sang juri.

Dengan rasa suka cita dan bangga Ekal pun tidak menyangka, bahwa dirinya akan juara di perlombaan tersebut dan Ekal mendapatkan HADIAH UANG TUNAI SEBESAR Rp. 1 jt beserta piagam penghargaan LOMBA MEMBUAT ROBOT DARI BAHAN BEKAS dari pihak sekolah, Ekal pun sangat bersyukur atas apa yang ia dapat pada hari itu.

Sudah tidak sabar Ekal bergegas mengayuh sepedanya untuk sampai di rumah dan memberitahukan kabar gembiranya kepada ibunya, “bu.bu…Ekal juara ….”(sambil lari ke arah ibuny dengan rasa yang sangat terharu). “Alhamdulillah nak, ibu ga sia-sia mendoakan kamu, selamat ya nak ibu bangga punya anak seperti kamu”sahut ibu (sambil meneteskan air mata).

Pada saat itu setelah apa yang menjadi tekadnya Ekal akhirnya teman-teman Ekal meminta maaf yang sebesar besarnya, karena sudah menghina Ekal, Ekal pun banyak di kagumi oleh guru-guru karena dia murid berbakat. Ekalpun sangat senang karena yang ia impikan langkah perlangkah, menjadi kenyataanWalaupun ia lahir dari keluarga yng sederhana tapi jiwa dan rasa percaya dirinya sangat kuat dan yakin.

Catatan sang ibu “proses tidak akan membohongi hasil”. (Tamat)

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Artikel Terkait