by

Cerpen: Rokok dan Pengorbanan

Judul : Rokok dan Pengorbanan

Oleh : Aji Soko Pangestu

Akmal adalah anak pertama dari 3 bersaudara, Akmal telah lulus dari sekolah menengah atas dan siap untuk melanjutkan kuliahnya. Jika saja ada biaya yang dimiliki. Dengan penghasilan toko yang pas-pasan tentunya Akmal menjadi orang penghasil uang di keluarga tersebut. Ia terpaksa membantu usaha toko buah di pasar yang saat ini diurus sendirian oleh ibunya.

Itulah hambatan utamanya. Ditambah lagi ayahnya yang tidak peduli terhadap nasib keluarganya sendiri dan lebih memilih menjadi pengangguran dengan hutang yang menggunung. Akmal membenci seorang pecandu rokok.

Menurutnya, “pecandu rokok adalah orang-orang bodoh yang hanya menelan habis uangnya hanya untuk membunuh dirinya sendiri”. Karena ayah Akmal adalah pecandu rokok, tentunya Akmal semakin membenci perilaku ayahnya, yang setiap hari mencemari udara rumah dengan asap rokok. Juga selalu menimbun hutang-piutang hanya demi rokok.

Bahkan sering kali ayahnya lebih memilih tidak makan selama seharian, daripada tidak merokok selama dua belas jam. Ditambah lagi dalam seminggu terakhir ini ayah Akmal lebih sering membeli rokok. Hal itu membuatnya semakin membenci ayahnya.

Ketika bulan menyinari gelapnya langit malam, dan bintang gemintang menghiasi pesona langit dengan cahaya kelap-kelipnya. Malam ini, sekitar pukul 20.00 Akmal pergi ke sebuah kafe bersama dengan teman sekolahnya dulu.

Sedikit curhat mencurhati dengan teman lama, ditambah dengan secangkir kopi panas di malam hari yang dingin, mungkin bisa sedikit demi sedikit meredakan rasa stresnya akibat permasalahan keluarga. Teman lamanya bernama Nanda.

Srupuuut….! Rasanya seperti kembali di masa-masa sekolah dulu ya? Setiap hari ngopi di tempat ini. Pada saat itu beban pikiran mungkin hanya sebatas tugas sekolah, ataupun pertengkaran-pertengkaran yang terjadi karena masalah sepele. Semua masalah yang menimpa pada saat itu hanya seperti ditindih kertas. Tidak berbobot. Mudah diselesaikan. Tidak terbayangkan aku akan memiliki masalah sebesar saat ini”. Akmal memulai percakapan setelah menyeruput kopinya yang mulai menghangat.

“Apa maksudmu? Memangnya kamu punya masalah apa?” Tanya Nanda.

Dengan raut muka sedikit memelas, juga dengan pandangan yang terus memandangi indahnya lalu lintas kota. “yahh..masalah-masalah keluarga pada umumnya, seperti krisis keuangan, banyaknya hutang keluarga. Belum lagi untuk memenuhi kebutuhan adik-adikku yang masih sekolah”.

“Seperti itulah hidup di dunia ini, kadang kita berada di atas kadang berada di bawah. Kita tidak bisa menentukan dimana kita berada”. Kata-kata Nanda sedikit memberi motivasi pada Akmal.

Baca Juga  Cerpen: Menunggu Pulang

Tidak terasa udara malam hari sudah mulai mendingin. Jam dinding kafe menunjukkan pukul 09.45 malam. Akmal berpamitan kepada Nanda, mengajaknya pulang bersama. Dia berkata akan menetap lebih lama lagi. Akmal mengiyakan kemauannya, dan beranjak meninggalkan kafe terlebih dahulu.

Sesampainya di rumah, Akmal membuka pintu rumah secara perlahan—takut mengganggu ketenangan rumah di malam hari ini. Ketika Akmal masuk kedalam rumah, ia sadar sepeda motor milik ayahnya tidak ada di tempatnya. Dia melihat ke rak sepatu dan sandal, sandal milik ayahnya juga tidak terdeteksi keberadaanya di sana.

Akmal tidak peduli dengan hal itu. Ia berpikir mungkin beberapa jam lagi ayahnya akan kembali ke rumah, seperti biasa pulang terlambat. Tanpa pikir panjang Akmal menuju kamar tidurnya, dan beranjak tidur.

Tidak terasa kenikmatan tidurnya telah diganggu oleh kelembutan cahaya pagi yang merambat masuk melalui ventilasi udara, menjilat kulit Akmal. Akmal pun bergegas bersiap-siap untuk kegiatan yang akan dilakukan sepanjang hari ini.

Ibu Akmal bersiap untuk pergi ke pasar, untuk membuka toko di pasar. Akmal bersiap untuk mengantar adik-adiknya pergi ke sekolah. Tetapi, Akmal menyadari ayahnya yang belum kembali semalaman.

Setelah mengantar adik-adiknya ke sekolah, Akmal berencana mencari keberadaan ayahnya yang entah pergi ke mana. Dengan sepeda motor miliknya, ia langsung mencari ke tempat dimana ayahnya sering pergi kesana.

Sebelumnya, Akmal menyuruh ibunya untuk membawa telepon, Akmal mengatakan “Kalau nanti di pasar ibu ketemu ayah, telepon  Akmal”. Tempat pertama yang dituju oleh Akmal adalah: Toko langganan rokok ayahnya. Sepeda motor Akmal melaju kencang melintasi jalanan pagi.

Toko langganan rokok ayah Akmal, berada di sebuah gang kotor. Akmal melewati gang tersebut dengan sedikit risih. Banyak perokok aktif yang “menjaga” gang tersebut, hal itu membuat Akmal muak. Setelah melewati banyak rintangan, Akmal akhirnya sampai di tempat tersebut. Tempat tersebut berukuran lumayan besar.

Akmal memasuki toko tersebut, mengelilingi bagian dalam, memeriksa halaman belakang. Tetapi, hasilnya nihil. Ayah Akmal tidak ada di dalam sana. Akmal sedikit emosi, karena tidak menemukan keberadaan ayahnya di toko tersebut. Akmal memikirkan kemungkinan tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh ayahnya.

Tempat pemancingan di pinggir sungai. Mengingat hal itu, Akmal langsung melaju kesana.

Sesampainya di sana, Akmal melirik kesana kemari. Melihat ke setiap tempat duduk para pemancing. Tempat ini biasanya menjadi tempat bercengkrama ayah dengan teman-teman lamanya. Karena itu Akmal terpikirkan untuk menuju ke tempat ini. 10 menit mencari akhirnya sama saja. Ayah Akmal tidak ada tanda-tanda keberadaan ayahnya.

Baca Juga  Masak Mudah, Sehat dan Murah, Apa itu? Sayur Temu Kunci Talas dan Daun Kelor

Akmal pun menyerah untuk mencari ayahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 09.40. Hampir 3 jam Akmal membuang waktu untuk mencari ayahnya. Karena sudah mulai lelah dan menyerah, Akmal memilih untuk pulang ke rumah. Menunggu sendiri kepulangan ayahnya.

Akmal sampai di rumah dengan perasaan yang hancur. Karena susahnya mencari keberadaan ayahnya. Akmal memasuki ruang tengah, menghidupkan televisi rumah, untuk menghilangkan sedikit rasa jenuh. Sekitar 20 menit kemudian, telepon rumah berbunyi.

Tulalit….tulalit….cklek..telepon diangkat. Akmal mengangkat telepon tersebut. Di dalam telepon keluar suara seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan. Orang itu adalah ibu Akmal.

“Assalamualaikum” suara ibu Akmal terdengar dari dalam telepon.

“Waalaikum salam, bu. Ada apa? Ayah sudah ketemu?”

“Kamu cepetan datang kesini, darurat.” Suara ibu Akmal terdengar panik.

“Memangnya kenapa?”

“Ayahmu sekarang ada disini, di rumah sakit di dekat pasar, sekarang ini ia dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ibu menemukannya sudah dikerumuni oleh warga tadi”.

“Baik bu, Akmal segera kesana.”

Dengan perasaan panik Akmal segera menuju ke rumah sakit yang jaraknya sekitar 4 kilometer. Tepat sekali, BBM sepeda motor Akmal hampir habis. Akmal bingung harus memilih ke pom bensin terlebih dahulu atau langsung ke rumah sakit. Dengan uang yang mungkin cukup untuk pergi ke pom bensin daripada ke rumah sakit. Akmal lebih memilih ke pom bensin terlebih dahulu untuk mengisi BBM.

Jarak antara rumah sakit dan pom bensin dengan pasar bertambah jauh. Sekarang menjadi 5 kilometer. Tetapi itu tidak masalah, Akmal langsung saja menuju ke pasar. Setelah dari pom bensin, Akmal langsung menuju ke rumah sakit.

Sesampainya ia di depan rumah sakit, ia melihat ibunya keluar dari dalam rumah sakit dengan menangis terisak-isak. Akmal langsung saja menanyakan kejadian yang terjadi sebelum ia tiba di rumah sakit.

Dengan sedikit gemetar Akmal bertanya pada ibunya “Ada apa, bu. Apa yang terjadi sama Ayah”.

Dengan ekspresi wajah sedih, juga dengan nada suara yang tertekan yang disertai tangisan ibu Akmal menjawab. “Ayah kamu…. Ayah kamu sudah pergi Akmal…”.

Akmal sangat terkejut. Dia tidak bisa mempercayai hal itu. Dia bahkan belum berbakti kepada ayahnya sendiri, tetapi ayahnya sudah pergi meninggalkannya. Dia yang selama ini membenci ayahnya, tidak punya kesempatan lagi untuk melihat keharmonisan sebuah rumah tangga.

Baca Juga  Cerpen: Sebab Kamu Hanya Mencintainya

Tidak lama kemudian, seorang petugas rumah sakit muncul dari balik tembok lorong rumah sakit denagn membawa jenazah yang ditutup kain putih. Dengan tidak sabar Akmal langsung berlari menuju sesuatu bertutupkan kain putih tersebut. Akmal membuka kain putih yang menutupi jenazah tersebut.

Betapa terkejutnya Akmal bahwa sesuatu tersebut adalah jasad ayahnya yang sudah tidak bernyawa. Putih pucat. Petugas rumah sakit tersebut langsung menegur Akmal atas perbuatannya. Dan memberitahu Akmal bahwa jenazah tersebut akan dibawa ke kamar mayat untuk di autopsi atau dicari tahu penyebab kematiannya.

Akmal pun termangu seperti orang yang kehilangan akal menatap kepergian ayahnya dibawa petugas rumah sakit. Dia sangat sedih. Sekitar 2 menit lebih melamun menatapi jasad ayahnya yang telah menjauh pergi, seseorang menepuk bahu Akmal. Orang tersebut adalah ibunya sendiri.

Ibu Akmal terlihat masih sangat sedih jika dilihat dari raut mukanya. Ibu Akmal memberitahukan pesan-pesan terakhir yang disampaikan oleh ayahnya sebelum ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya.s

“Sebenarnya ayahmu memberitahukan kebenaran dari kepergiannya selama 1 hari terakhir. Sebelum keluar dari rumah ia merasakan adanya rasa sakit pada organ dalamnya, ayahmu langsung tahu kalau itu adalah efek samping yang diakibatkan tidak mengonsumsi makanan selama seminggu, tetapi terus mengonsumsi rokok. Jika kamu teliti lagi, apakah kamu melihat ayahmu mengambil makan untuknya sendiri selam seminggu terakhir ini. Tidak pernah bukan? Itulah masalahnya, ia rela untuk tidak makan, dan memberikan jatah makanannya kepadamu dan adik-adikmu, dengan terus menahan rasa lapar dengan merokok, itulah sebabnya minggu-minggu ini ayahmu lebih sering membeli rokok.

Dan ketika rasa sakit yang dirasakannya mulai parah, ia memutuskan untuk keluar rumah dan memilih mati diluar rumah, agar kita semua tidak mengetahui kematiannya. Itulah yang diungkapkannya sebelum kematiannya tadi, dan itu juga menjadi alasan kepergiannya selama 1 hari terakhir.

Akmal terdiam, dan kemudian menangis sekencang-kencangnya. Ia amat sangat menyesal telah membenci ayahnya yang selama ini rela untuk tidak menyehatkan dirinya sendiri, demi anaknya. Ia tidak tahu kalau semuanya akan berakhir seperti ini.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait