by

Cerpen: Potret Sebuah Kebaikan

Sore itu, 1965. Gerimis membasahi jalan Baladewa, ditambah kabut tebal menyelimuti hampir seluruh bagian barat kota Bandung. Mobil-mobil mulai menyalakan wiper dan lampu depannya. Ramai klakson menenggelamkan suara lantang yang sedari pagi berteriak “koran, koran, koran.”

Sementara itu, di depan rumah berpagar biru, sebuah vespa berwarna silver keluaran tahun 1960, dengan dua karung di depannya baru saja tiba setelah menempuh perjalanan selama tujuh jam dari timur Pasundan.

Pria paruh baya berambut salju turun dari motornya, dan seorang pemuda yang sepertinya sudah saling mengenal menghampirinya. Perbincangan mereka sejenak tertunda, terganggu oleh bisingnya suara pesawat berbendera Belanda yang hendak mendarat di Bandara Husein Sastranegara.

“Korannya, gan.” Ucap pemuda itu kepada sang pemilik vespa silver. Dia memanggilnya dengan panggilan “gan”. Yang berarti juragan atau seorang bos. Pemilik vespa silver itu bernama Soekardi Poedji. Ia sedang tidak membutuhkan koran saat itu.

Setelah menempuh perjalanan selama tujuh jam, yang dibutuhkannya hanyalah istirahat, bukan membaca. Lantas, Pak Soekardi, atau akrab disapa juragan, pun menggelengkan kepalanya sambil berkata. “Besok saja ya.”

Penjual koran itu tampak murung, harapan terakhir untuk menjual korannya kepada juragan yang terkenal dermawan itu kandas. Ia melangkah lunglai menuju utara; arah rumahnya. Dengan membawa setumpuk koran, bukan uang.

Wajah bingung tampak jelas tergurat di kulit bekas aliran keringat. Alih-alih berbicara tentang si penjual koran, dia adalah pemuda 25 tahun bernama Kesang Suratmaja. Tinggal bersama ibunya di rumah berdinding anyaman bambu yang tak jauh dari kawasan bandara.


Gemuruh mesin pesawat berubah menjadi suara canda tawa, ketika seorang pria berdasi merah yang baru saja tiba dari Belanda bersalaman dengan seorang wanita muda berkulit putih dan bermata sipit, dia adalah rekan bisnis Mr. Willi. Lalu mereka pun pergi meninggalkan bandara, menggunakan taksi biru ke arah timur, menuju kawasan pusat kota.

Baca Juga  Cerpen: PAKAI HATI

Sang Juragan -Soekardi Poedji- baru selesai mandi tepat setelah adzan magrib. Selepas solat ia merebahkan dirinya ke kursi empuk. Beristirahat sambil menunggu waktu isya. Namun, sepertinya ada rutinitas penting yang belum ia kerjakan. Ya, dia belum ngopi dan nge-rokok.

Rasa kantuk dan lelahnya setelah perjalanan seperti hilang begitu saja, ia pun menyalakan korek dan membakar rokok-nya sambil menikmati secangkir kopi ditemani sisa-sisa rintik bekas gerimis sore hari.

Jarum jam menunjukkan pukui tujuh malam, suara adzan mulai riang terdengar. Kesang, si penjual koran itu ternyata belum pulang, dia terlihat berada di barisan belakang jemaah mesjid Nurul Iman. Yang letaknya tak jauh dari rumah juragan. Sepertinya, setelah solat magrib dia belum beranjak dari karpet hijau itu. Mulutnya terlihat tidak bergerak sama sekali, tapi hatinya sedang memanjatkan satu doa yang sudah diusahakan sesaat setelah matahari terbit.

“Ya Allah, Yang Maha Pemberi Rezeki, cukupilah rezeki kami (aku dan ibuku), hanya kepada Engkau tempat aku meminta. Dan hanya Engkau satu-satunya Dzat yang Maha Mencukupi.” Doa dari sang penjual koran.

Gerimis tampaknya sudah benar-benar hilang, tinggal tersisa basahnya saja yang masih membekas di jalan Baladewa, dan di pipi Kesang Suratmaja.

“Belum pulang, Sang?” Tanya Pak Soekardi yang juga ikut berjamaah solat isya di mesjid Nurul Iman itu.

“Belum, gan,” jawab Kesang sembari mengambil korannya yang ia simpan di balik pintu.

“Kau ikut aku ke rumah ya, ada perlu sebentar,” ajak sang juragan.

Kesang tidak menjawab dengan bibirnya, ia hanya menganggukkan kepalanya.


Gemerlap pusat kota, berbanding terbalik dengan nasib Kesang Suratmaja. Kerlap-kerlip cahaya pencakar langit menjadi simbol suasana di dalamnya. Mr. Willi, tengah membicarakan hal penting terkait ketersediaan bahan kertas untuk perusahaannya di sana, di kota Rotterdam.

Baca Juga  Cerpen: Don't Believe (Fake Friend)

Ia meminta kepada rekan-rekannya, untuk mencarikan bahan kertas dengan jumlah yang lebih banyak. Dua jam lebih berdiskusi, Mr. Willi dkk. akhirnya meninggalkan gedung mewah itu dan pergi menuju penginapan masing-masing.


“Sejak pagi Bandung mendung, Sang? Tanya juragan

“Mendung gan, sesekali gerimis. Cuman tadi sore ditambah kabut, jadi makin sepi orang berlalu-lalang,” jawab Kesang sambil menghentikan langkahnya yang sudah sampai di rumah berpagar biru milik seorang juragan, Soekardi Poedji.

Kesang duduk di teras, menunggu pak Soekardi yang masuk rumahnya lewat pintu samping. Tak lama, juragan berambut salju itu membukakan pintu depan rumahnya. Dengan peci yang sudah ditanggalkannya, ia keluar membawa karung putih berukuran sedang dan berisi padat.

“Sang, ini ada oleh-oleh buat sampeyan. Isinya beras. Kebetulan, kemarin di kampung abis panen.”

Kesang dengan mulut yang spontan mengucap “alhamdulillah” dan perasaan yang amat berterima kasih kepada juragan, langsung memanggul karung berisi beras itu dengan tenaganya yang masih tersisa. Langkah Kesang dengan beban berat di pundak justru membuatnya melangkah semakin cepat, dibanding ketika ia membawa tumpukan koran yang ringan.

Meskipun tak ada koran yang terjual hari itu, perut Kesang dan ibunya tetap terisi; kenyang. Malam semakin larut, gerimis kembali turun. Kesang dengan perut kenyang melangkah menuju ranjang. Sejenak sebelum terlelap ia ingat sesuatu yang tertinggal. Ya, korannya. Korannya yang masih utuh belum terjual sama sekali itu tertinggal di rumah juragan. “Koran itu buat juragan saja.” Kesang pun terlelap.

Juragan sedang membaca koran. Koran milik Kesang yang tertinggal. Koran itu akan dibeli sama juragan, uangnya diberikan esok hari saat bertemu kembali.

Esoknya, juragan bertemu Kesang. Kesang kembali membawa tumpukan koran yang baru. Saat juragan memberikan uang untuk koran yang tertinggal itu, Kesang menolaknya.

Baca Juga  Cerpen: Luka yang Sama

“Korannya buat agan saja. Sebagai tanda terima kasih saya kepada juragan.”

Juragan melanjutkan membaca koran. Ia tidak membeli koran baru. Koran pemberian Kesang masih banyak yang belum dibaca. Pada suatu halaman belakang koran, juragan menemukan berita terkait pengusaha Belanda yang sedang berkunjung ke Indonesia, tepatnya ke Kota Bandung. Dalam berita disebutkan bahwa, si pengusaha Belanda -Mr. Willi- akan bertemu dengan para pengusaha lokal. Pengusaha-pengusaha lokal itu merupakan rekan bisnis juragan.

Tak menunggu siang atau sarapan matang, Juragan langsung bergegas menuju tempat rekan bisnisnya, di pusat kota. Jalanan sedikit macet, tapi lihainya ia menunggangi kuda besi membuat waktu tempuh menjadi berkurang. Kurang dari satu jam ia sudah sampai di halaman kantor yang dituju. Tak lama, Juragan pun masuk dan bertemu rekannya, Kartasasmita.

Lama mereka berbincang-bincang hingga akhirnya sebuah senyum tergurat di bibir Juragan saat keluar dari ruangan Kartasasmita. Nampaknya juragan akan memenuhi kebutuhan bahan kertas yang diminta oleh Mr. Willi.

Koran bekas pemberian Kesang Suratmaja memberi sesuatu yang berharga bagi Juragan. Berawal dari sedekahnya sekarung beras, rezeki bertambah berlipat-lipat setelah berhasil menjalin kerjasama dengan pengusaha asal Belanda.

*Cerita ini sepenuhnya fiktif. Jika ada kesamaan nama, dan tempat, itu hanya untuk memberikan kesan nyata kepada pembaca.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Penulis : Iid Muhyidin

Gravatar Image
Iid Muhyidin. Lahir di Kuningan, 12 Januari 2000. Juga merupakan salah satu mahasiswa jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait