by

Cerpen: PERSAMI

Namaku Kimoci kinara putri gadis berusia 17 tahun berkulit sawo matang dan berpipi tembam manis seperti madu bukan gula. Panggil saja aku kimo atau kina, aku yang sering dibilang introvert oleh temanku karena terkenal sikap diamku.

Sebenarnya bukan diam hanya saja malas untuk berbicara, apalagi di depan orang yang baru kenal rasanya canggung dan sedikit susah untuk memulai pembicaraan. Sulit bagiku untuk mencari teman, sahabat ku saja bisa dihitung ada berapa. Tapi bagiku tak perlu banyak teman jika yang datang hanya orang yang butuh saja.

Aku anak SMA di jurusan IPS yang ‘katanya’ isinya anak nakal dan bandel semua. Tapi kami di sini membuktikan bahwa kami bukan orang seperti itu. Kami buktikan kami memiliki jiwa sosial yang tinggi dan kami buktikan prestasi dari non akademik kami, walaupun kami mengakui kalau akademik kami berbeda dengan anak kelas ipa.

Tapi sebenarnya itu semua sama saja, kita tidak tau bagaimana nasib seseorang berapa tahun ke depan. Itu tidak ditentukan dengan kelas ipa atau ips, tetapi itu ditentukan dengan bagaimana usaha kita untuk maju ke depan. Karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini selagi kita masih terus berusaha, apalagi untuk memperbaiki diri-sendiri.

Besok aku mulai memasuki sekolah setelah libur beberapa hari kemarin, dikabarkan minggu depan sekolahku akan mengadakan kegiatan yaitu persami. Ini sebenarnya acara anak pramuka tapi disekolah ku pramuka wajib mengikuti disetiap orangnya. Mungkin ada yang belum tau apa itu persami kan?

Persami adalah suatu kegiatan bermalam di sekolah. Persami sendiri kepanjangan dari perkemahan sabtu minggu. Kegiatan perencanaan dimulai dengan mengumpulkan uang, yang digunakan untuk kami makan nantinya lalu menyiapkan pakaian pramuka dan persiapan lainnya seperti kayu, bahan bakar, tenda dan lain sebagainya.

Baca Juga  Cerpen: Don't Believe (Fake Friend)

Saat hari H pun tiba, kami sejak subuh telah bersiap bahkan ada yang sudah bergegas menuju sekolah dengan semangat 45 yang kami miliki. Sejak hari pertama sudah memiliki banyak kegiatan seperti bermain tebak gaya, tebak lagu bahkan ada lomba tandu, pbb dll begitu letihnya kami dari pagi hingga petang.

Beruntungnya aku memiliki teman yang asik sehingga hari-hariku tidak terasa begitu berat, dan menjalani kegiatan dengan santai dan menyenangkan tanpa memiliki rasa beban. Kulupakan sejenak tugas dan masalahku, lalu menikmati indahnya masa-masa SMA yang kujalani saat ini.

Tak lupa sebelum memulai kegiatan kami menyanyikan yel-yel dengan semangat yang kami miliki. Di sini aku berperan sebagai ketua kesehatan di organisasi OSIS jadi aku sering bolak-balik ke UKS, untuk melihat dan memastikan apakah ada yang sakit atau tidak.

Siang hari itu ada adik kelasku yang merasa tidak enak badan, jadi aku bersama temanku panggil saja anggun membawa adik kelas ku itu ke uks. Melihat wajahnya yang pucat dan lemah kami membiarkan nya berbaring dan beristirahat.

Tak lama kemudian dia menangis keras,  aku yang lagi duduk terkejut bertatapan dengan anggun bertanya-tanya kenapa adik itu. Adik itu ditemani oleh satu temannya yang juga merasa kebingungan. Lalu karena menangis semakin keras, aku langsung memanggilkan guru piket yang menjaga uks.

Ibu itu bilang ada yang aneh dengan anak ini, ternyata setelah diusut ternyata punggungnya panas. Guruku berkata ada yang memasuki anak ini,  kami kaget apalagi aku yang baru pertama kalinya mendengar kasus seperti ini.

Kemudian setelah menangis dan berbicara yang tidak jelas, adik itu berbaring ditenangkan oleh guruku dan diberi air hingga ia akhirnya tertidur. Kami terdiam yang mengelus kening adik tersebut sambil membacakan doa.

Baca Juga  Cerpen: "Dunia Lena"

Setelah ia tersadar dan kembali memulih kami langsung menjalankan aktivitas kegiatan selanjutnya, agar kami tenang dan tidak memikirkan apa yang sudah terjadi. Adik itupun mulai membaik dan mulai mengikuti kegiatan selanjutnya.

Hingga malam yang ditunggu-tunggu pun tiba,  ini seperti malam keakraban kami 2 angkatan. Dimana senior dan junior bergabung menjadi satu, tidak ada yang namanya perselisihan. Malam bernyanyi ria dengan api unggun yang membara, dilengkapi dengan lilin-lilin berbentuk angsa atau bisa disebut tanda pramuka yang indah.

Malam ini yang akan kuingat selalu saat masa SMA,  bersyukur masih bisa diberi kenikmatan yang indah pada malam itu. Tak lama kemudian malam renungan tiba, segala kegiatan dihentikan. Renungan di pimpin oleh pak ustad bersama guru agama kami, di sinilah kami menangis bersama.

Mengingat bagaimana jika kami akan lulus nanti apakah bisa membanggakan orang tua atau tidak, di tengah tangisan ada suara yang menyeramkan yaitu suara perempuan menangis sambil tertawa, yang asalnya dari adik kelasku ternyata saat aku membalikkan badannya,  itu adalah adik kelas ku yang tadi siang.

Iya adik yang aku sama anggun hampiri tadi siang yang menangis sambil berbicara tidak jelas di uks. Ternyata dia kemasukkan lagi,  tetapi seramnya di sini ia tidak hanya sendirian. Tidak tau mengapa, menular ke teman-teman yang ada di sebelahnya.

Jadi malam itu ada sekitar 10 orang yang kesurupan. Dan beramai-ramai kami membacakan ayat suci al-quran yang dipimpin oleh pak ustad dan air semburan yang dibawakan oleh guruku. Percaya tidak percaya aku mengangkat mereka ke uks dan dibantu dengan beberapa teman ku.

Badan mereka yang berat lebih dari biasanya membuat kami 5 orang mengangkat 1 orang. Tidak tau kenapa mereka begitu berat, berbeda dari biasanya karena kami sering membawa orang sakit menggunakan tandu.

Baca Juga  Cerpen: Melan

Semakin kami banyak berdoa akhirnya semakin sedikit orang yang kesurupan ini menangis sambil tertawa. Kami bersama-sama kompak membacakan surah yasin dan ayat kursi, lalu tak lama kemudian satu persatu pun berhenti tertawa.

Kami mengelus dada dan lega melihat itu semua dan mereka kembali ke kelas masing-masing untuk beristirahat. Tidak ada yang boleh melanjutkan kegiatan apa-apa lagi pada malam itu. Kami anggota osis berjaga malam, tidak tidur demi kelancaran dan kenyamanan acara persami ini. Sembari yang lain tertidur pulas, kami anggota osis bernyanyi ria di lapangan sambil menikmati indahnya bintang dengan sepucuk kopi.

Keesokkan harinya upacara penutupan akhirnya tiba, mata kami yang osis sudah tidak kuat menahan betapa ngantuknya hari ini. Kata sambutan dipimpin oleh ketua osis dan kepala sekolah. Mereka berterima kasih atas lancarnya kegiatan hari ini.

Dan rencananya di bulan depan jika ada dana akan dilaksanakan yang Namanya Perjumsa yaitu perkemahan jumat-sabtu. Semua berteriak betapa senangnya kami mendengar kabar baik itu. Rasa yang tadinya mata mengantuk, sekarang menjadi terbuka lebar karena senangnya mendengar kabar itu.

Kegiatan persami ini diakhiri dengan yel-yel dan lagu kepulangan dari masing-masing kelompok. Akhirnya kami mengambil ransel gunung yang berat dan berjalan menuju gerbang.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait