by

Cerpen: Perjalanan Hidupku

“Perjalanan Hidupku”

Perkenalan namaku TUKIMAN, aku lahir di Banjar 4 maret 2000, saya anak ke 7 dari 8 bersaudara. Saya akan menceritakan pengalaman pribadi tentang perjalanan hidupku, yang harus bekerja banting tulang demi mencukupi kebutuhan ekonomi ditengah pandemi seperti sekarang ini. Di umurku yang baru menginjak 21 tahun ini, aku masih giat belajar mendalami ilmu dari sekolah yang saya cintai, SMK Banjar Mandiri.

Jadi dulu pertengahan tahun 2016 saya lulus sekolah menengah pertama(SMP), karena keadaan pada saat itu perekonomian kurang memadai untuk itu saya tidak melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi, yaitu SMK/SMA.

Selang beberapa tahun lamanya saya habiskan hidup untuk bekerja mencari nafkah menghidupi keluarga yang bisa dibilang apa adanya. Meski demikian saya tak kan pernah pantang menyerah dan tetap optimis, Suatu saat nanti pasti akan ada kesempatan ke 2 untuk saya bisa mengejar ketinggalan yang tertunda di dunia pendidikan.

Singkat cerita saya akhirnya menemukan orang-orang yang tepat untuk bisa merubah saya ke arah yang lebih baik lagi. Saya bertemu dengan Pak Bisri Mustopa S.Pd M.Pd, beliau adalah guru SD pelajaran Pendidikan Agama Islam yang sudah mendidik saya selama 6 tahun lebih.

Rasa rindu kangen pasti ada maklum selama saya keluar dari SMP, tak pernah lagi berkomunikasi, bercerita dan bertukar pikiran antar murid dan guru nya. Sering saya memanggil atau sekedar tutur sapa di jalan dengan sebutan abah.

Beliau datang dan menyapa saya “Assalamu’alaikum Man” Beliau memulai pembicaraan. “Waalaikumsalam bah” Jawabku. “Ada niatan untuk sekolah lagi ngga berhubungan masih ada sekolah yang mau menerima siswa atau yang sudah putus sekolah” Katanya.

“Dimana bah” Jawabku. “Di Sumanding Wetan Banjar, tepatnya di sekolah kesehatan SMK Banjar MANDIRI” pintanya. “mau pak tapi soal kendaraan gimana ya? Hmm” Jawabku sambil duduk termenung. “tenang untuk soal itu sudah abah antisipasi kan bagaimana, bagaimana kalo kamu tinggal saja di Banjar ngekost kan jadi lumayan dekat jarak antar kosan yang di Banjar ke sekolah.”

Setelah beberapa jam kemudian, datang bapak Rahardi S. Pd M. Pd selaku Kepala sekolah SMK Banjar Mandiri dan Ibu Intan Roniasih S. Pd guru Bahasa Indonesia. Mereka datang ke rumah pak Bisri mustopa untuk bersosialisasi tentang sekolah SMK Banjar Mandiri.

Lalu aku pamit pulang dan berfikir untuk berunding dengan ke 2 orang tuaku untuk mengizinkan saya sekolah lagi di Banjar.

Setelah disetujui keesokan harinya saya berpamitan dan meminta doa restu pada ke 2 orang tua saya “semoga berhasil dan membawa nama baik keluarga nantinya”. Aamiin

Di hari petama ke sekolah saya berangkat bareng sama Bu intan S. Pd yang memintaku untuk ketemuan di pasar langkaplancar. Lumayan lamanya saya menunggu akhirnya Bu intan datang juga menjemput saya lalu berangkat ke sekolah.

Setelah sampai tujuan, saya kaget bukan main berapa megahnya sekolah SMK Banjar Mandiri ini ternyata masih menyatu dengan STIKES, yang ingin meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi boleh masuk ke bangku perkuliahan.

Sekolah ini cukup memadai dengan fasilitas yang ada. Beberapa di antaranya Terdiri dari ruangan kelas, Aula sekolah, Lapangan sepak bola-fustal yang luas, ada laboratorium komputer, Laboratorium Praktek Asisten Keperawatan, dsb.

Awal masuk di sekolah Banjar Mandiri ini saya memperkenalkan diri dengan temen sekelas, bertukar no WA masuk ke grup sekolah. Jadi lebih gampang kalo ada tugas atau pengumuman penting tinggal di share atau chat saja.

Pandemi Covid-19 yang merebak di Indonesia sejak awal Maret lalu membuat dunia pendidikan terkena imbasnya. Kegiatan belajar mengajar yang sebelumnya dilakukan dengan tatap muka, terpaksa harus dilakukan secara daring atau online.

Hal ini ternyata menimbulkan berbagai reaksi, mulai dari siswa, orangtua, hingga para pengamat pendidikan bahkan politisi. Hal ini karena banyaknya kendala yang dihadapi selama praktik sekolah daring. Terutama kouta & jaringan yang terkadang susah untuk dijangkau oleh semua kalangan, baik itu siswa, guru, dosen mereka mengeluhkan akan belajar pendidikan yang dilakukan secara virtual ini.

Aku memang suka membantu kedua orangtuaku, namun aku juga tak lupa dengan tugas utamaku sebagai seorang pelajar untuk menuntut ilmu. Di waktu-waktu senggangku, aku habiskan untuk membuka buku dan mengulang kembali pelajaran yang baruku pelajari di sekolah. Maka tak heran jika aku selalu sibuk untuk menambah suatu pengalaman.

Aku anak yang introvert, jadi jarang ada orang atau temen deket yg mengajak main bersama. Tapi teman teman sekolahku banyak yang peduli dan membantu akan ke sesama.

Aku tidak mempermasalahkan semua ini. Aku tak mau memiliki banyak musuh. Hanya ada seorang siswa sama sepertiku. Dia anak yang lugu dan pendiam. Dia adalah Siti Nurmahdiyah, teman sekelasku. Siti teman yang baik, & sopan Tapi sayangnya dia memiliki sifat yang ceroboh.

Ada 1 siswa yg menurut ku paling pintar di kelas, yaitu Yuliani Tria Amalia. Orangnya baik, cerdas, rajin sering ikutan acara maupun lomba lomba yg diselenggarakan di sekolah. Maka tak heran jika ia selalu menjuarai setiap lomba yg diikutinya.

Setelah sekian lamanya saya belajar di sekolah Banjar Mandiri, saya menemukan guru yang tepat dengan fashion yang dimiliki oleh saya. Dia adalah bapak Ari Febriansyah S. Pd beliau mengajar pelajaran matematika, beliau juga punya bisnis dibidang kuliner, yaitu Sate Taichan Wongkitu yang berletak di Jln. Sudiro W no 125.

Dan itu membuat saya termotivasi untuk belajar lebih dalam dunia Kuliner. Kami menjalin hubungan bisnis kuliner dari sekitar bulan Februari – juni 2021 kemarin alhamdulillah.. berjalan sesuai apa yang diharapkan. meskipun begitu saya selalu menghormati dan mengerjakan tugas tugas sekolah yang diberikan beliau.

Saya belajar sambil bekerja sampingan mencari uang demi memenuhi kebutuhan ekonomi saya sendiri. Kalo ada rezeki lebih terkadang saya berikan ke orang tua. Meskipun tak seberapa tapi cukuplah untuk kebutuhan sehari hari.

Dari sini juga saya banyak belajar dari beliau untuk tetap semangat dan pantang menyerah meskipun dunia sedang tidak bersahabat. Kita harus berbagi ke sesama walaupun itu sedikit, saya diajarkan untuk selalu kuat menghadapi segala cobaan yang menimpa, baik itu metal,fisik maupun pikiran kita.

“Karena Allah tak akan memberikan Cobaan kepada hambanya melebihi batas kemampuannya”. Harus punya sifat rendah hati dan konsisten dalam mencapai sesuatu apa yg ingin kita harapan. Karena pepatah mengatakan “Kerja keras tak akan pernah menghianati hasilnya” Man jadda Wa Jadda yang artinya “barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil” Insha Allah

Inilah akhir cerita ku. Mungkin hanya ini cerpen yang bisa saya buat, atas dasar pengalaman pribadi dan ini berdasarkan kisah nyata. Semoga bisa memotivasi kalian semua yang sudah membacanya.

Sekian dan terima kasih.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Artikel Terkait