by

Cerpen: Pengelana

 

Pengelana

by : Titin A.P.R.

Di dalam hamparan hutan pinus yang diselimuti kabut tipis, kegelapan tak pernah sirna di sini. Hanya sinar rembulan yang kadang datang menghampiri dan kunang-kunang dengan kerlip kuningnya terbang mengitari.

Kuberitahu, itu bukanlah kunang-kunang. Melainkan, arwah yang terpecah karena kehilangan energi intinya. Para arwah yang tidak bisa menyeberang ke dunia kekal—dikarenakan suatu sebab—dan berada di sini terlalu lama atau menggunakan energi intinya terlalu banyak, akan terpecah menjadi kunang-kunang. Berkeliaran di tengah hutan ini yang entah di mana ujungnya.

Puluhan kunang-kunang mengitari tubuhku yang bersandar pada sebatang pohon pinus yang roboh, dikarenakan akar tak sanggup menopangnya lagi. Aku sudah cukup lama berada di sini.

Angin berembus menyibak gugusan awan yang menyelimuti langit, menampilkan purnama dengan parasnya yang bersinar terang. Dari arah yang sama, angin kembali bertiup melewati celah antar pohon, membuat dedaunan bergemerisik, menyusup di antara leherku dan membuat rambut ikalku yang sewarna salju melambai ditiupnya. Hari ini, dengan suara parau yang sama lagu itu akan dilantunkan, lagi.

In the land where the dead walked
The spirits lost in the dark
There’s nothing beautiful
When I came to your dream
And take you along

Seperti biasa, setelah lagu dilantunkan, angin berdesir tak tentu arah, udara menjadi lebih dingin, menjalar melalui permukaan kulitku lalu masuk melalui pori-pori dan membuat bulu kuduk meremang. Para arwah yang berada dalam hutan mencari tempat sembunyi, kunang-kunang beterbangan ke sana kemari, mereka gelisah. Dan kemudian, suasana kembali sunyi—suara-suara itu mati.

Suara berdebum di tanah mengejutkanku—ada yang jatuh. Aku tersentak, menoleh secepat kilat ke sumber suara. Mataku menyala waspada. Ada seseorang terjatuh di sana, sedang merintih, meringkuk di atas tanah dan berusaha bangun. Perlahan, aku mendekat sembari memperhatikan. Aku menarik napas, mataku membelalak seketika.

“Hei! Apa yang kau lakukan di sini?!”

Kau pun memperlihatkan raut wajah yang sama bingungnya denganku.

“Siapa kau? Kenapa bisa sampai ke sini?”

“Oh, apakah kau seorang Pengelana? Aku pernah bertemu dengannya sekali.”

“Iya, Pengelana. Kau tidak tahu apa itu pengelana?”

“Ternyata kau tidak tahu. Biar kujelaskan padamu. Mereka adalah manusia yang bisa memisahkan jiwanya dan pergi ke alam para arwah. Pengelana, itulah sebutannya di sini.”

“Apa? Kau ingin kembali? Kau tak akan pernah bisa kembali lagi ke duniamu! Selamanya, kau akan berada di sini.”

“Ahahaha, tak perlu panik seperti itu. Aku hanya bercanda. Tentu saja kau bisa kembali.”

“Iya, kali ini aku serius”

“Caranya? Dengan menggunakan portal antar dimensi tentu saja.”

“Seperti apa bentuk portal itu? Nanti kau juga akan tahu.”

Aku pernah membuat portal sebelumnya, diajari oleh seorang pengelana yang datang ke sini waktu itu. Pengelana itu tak pernah kembali lagi kesini. Dia berkata tempat ini terlalu berbahaya baginya.

Setelah itu, aku berulang kali membuat portal. Tapi diriku tak pernah bisa masuk. Portal itu langsung lenyap bersamaan dengan diriku yang melangkah ke dalamnya. Sia-sia, aku hanya semakin mengikis energi intiku saja untuk membuatnya.

“Kita memerlukan tempat lapang di mana tak ada pepohonan yang menghalangi sinar bulan. Aku tahu tempatnya, lumayan jauh dari sini. Akan kukatakan, kau beruntung bisa bertemu denganku. Kau mau ikut denganku, ‘kan?”

“Baguslah. Ayo!”

“Hmm? Namaku? Aku tidak ingat namaku dan hal lainnya. Yang kuingat hanya saat pertama aku membuka mata, aku sudah berada di sini. Jadi, panggil aku sesukamu saja.”

“Amara? Boleh saja.”

Kita berbincang sembari menapaki jalan berumput di hutan untuk memecah keheningan.

In the land where the dead walked…

Aku menghentikan langkah. Suara itu, liriknya, aku mengenalinya. Hanya sekali setiap bulan purnama dinyanyikan. Mengapa lagu itu sekarang terdengar lagi? Ini terasa ganjil sekali.

Di depan sana, di balik pepohonan yang ditumbuhi semak belukar, sesuatu yang tinggi bergerak. Melewati semak-semak, menimbulkan bunyi yang terdengar saat tubuh tinggi itu bergesekan dengan ranting dan dedaunan. Ia terus maju perlahan sembari melantunkan lagu itu. Suaranya parau, seperti saat lagu itu menggema ke penjuru hutan di setiap purnama. Lagu yang ia lantunkan terdengar magis di telingaku.

Sosok itu terus melangkah, sementara kita masih berdiri di tempat—memperhatikan. Ia mendekat, di tengah kegelapan sosoknya hanya bagaikan bayangan. Suara gemeletuk seperti tulang patah terdengar saat ia melangkah.

Kini jaraknya tak jauh dengan kita. Ia menundukkan kepala. Rambutnya yang panjang terjuntai ke bawah. Ia masih bernyanyi. Diakah yang selama ini melantunkan lagu itu?

Awan yang menghalangi sinar bulan berangsur pergi. Kini sosok itu diterpa terangnya cahaya bulan. Aku bisa melihatnya!

Astaga! Makhluk apa itu?! Dia memiliki empat tangan!

Hawa dingin ini seolah membekukan tubuhku sementara netraku masih memelototi makhluk itu. Rambut putihnya melambai ditiup angin. Ia mendongak, memperlihatkan wajahnya yang pucat dan kulit yang mengelupas di beberapa tempat. Matanya sudah tak berada di tempatnya lagi. Cairan hitam mengalir dari matanya yang berlubang.

Ia tersenyum. Bibirnya terus naik dan perlahan robek sampai akan menyentuh telinga. Ia melanjutkan nyanyiannya. Aku dan dirimu masih mematung, seolah nyanyiannya mematri kita di tempat—kita tak bisa bergerak.

And take you along…

Di ujung lagu, salah satu tangannya terangkat, bunyi tulang bergemeletuk. Ia mengacungkan jarinya yang kurus dan panjang kepada… dirimu!

Aku tersentak, bagai disengat listrik kusambar tanganmu secepat kilat.

LARI!!!

Jantungku berdegup kencang di tengah pelarian, sedangkan napasku memburu tak karuan. Ku genggam erat tanganmu yang sedari tadi berlari bersamaku. Ku rasakan keringat dingin membasahi tanganmu.
Aku memperlambat laju lariku. Memusatkan perhatian pada tumpukan batang pohon yang roboh. Tumbuhan rambat menutupi sekitarnya.

“Hei! Berhenti! Kita sembunyi di sini.”

Kita masuk melalui celah tumpukan pohon yang saling tumpang tindih. Di bawahnya ada ruang yang tidak terlalu sempit untuk bersembunyi. Aku jatuh terduduk dan mencoba mengatur napas. Kulihat dirimu yang duduk selonjor di sampingku sambil bersandar.

“Kau tak apa? Sudah merasa baikan?”

“Syukurlah, kalau begitu. Kita beristirahat sebentar disini. Aku lelah berlari terus, kau juga, kan?”

Suasana lengang sekejap. Bayangan sosok tadi tanpa permisi mengetuk ingatanku. Aku mendengus kesal, beralih menatap sekeliling untuk mengusir sosok menakutkan tadi dari kepalaku. Gelap dan sunyi, seperti biasanya.

“Di mana ragamu?”

Telinga kananku berdenging menangkap sebuah bisikan. Suara serak itu. Bahuku lemas seketika. Napasku sesak, keringat dingin menetes dari dahiku mengalir melalui pipi.

Aku melirik ke sebuah tangan yang terjulur, tangan panjang itu hendak mencengkeram lehermu! Mataku melebar menatap tangan itu menggerakkan jemarinya.

Dengan berat hati—secara perlahan namun pasti—aku memutar kepala mengikuti lengan panjang itu. Detak jantungku bertalu-talu. Napasku semakin berat. Ekor mataku menangkap suatu rupa.

Tubuhku terperanjat ke belakang menghantam batang pohon yang tumbang di belakangku. Tapi aku sadar, tak ada waktu untuk mengaduh.

Sosok tadi sekarang berada di hadapanku. Terdiam dengan posisi merangkak dengan kedua kaki dan ketiga tangannya sebagai tumpuan sementara tangan satunya hendak meraih lehermu. Dirimu yang disergap ketakutan membatu di seberangku.

Sekejap kemudian aku tersadar. Percuma saja bersembunyi, makhluk itu bisa merasakan aura keberadaan kita. Penyesalan muncul dalam diriku.

Makhluk dengan mulut sobek itu menggumamkan kata. Suaranya tidak terdengar jelas. Lalu dia menggumamkannya lagi. Kupertajam pendengaranku untuk mengartikan apa yang dia katakan.

“Berikan… berikan… padaku…”

“Kemarikan… ragamu!!!”

Kakiku refleks bangkit, tubuhku menerjang menghalangi tangan panjangnya. Nahas, kedua tangan panjangnya mencekik leherku. Kurasakan jemari kurusnya menekan leherku. Mencegat udara masuk ke tenggorokan. Dengan suara tercekat aku berseru padamu.

“Per…gi…lah. Selamat…kan…dirimu!”
Kusaksikan tubuhmu keluar melalui celah yang tadi kita lalui, berusaha menyelamatkan diri.

Kini tinggal aku yang tengah berhadapan dengan sosok mengerikan di depan wajahku. Ia mengeratkan cengkeramannya pada leherku. Menegakkan kepalanya yang semula dimiringkan. Bunyi seperti tulang patah ditangkap oleh telingaku. Aku menatap lubang di matanya yang gelap, seolah lubang itu hendak mengisapku ke dalamnya.

Dia menaikkan alisnya, cairan warna hitam dimatanya tampak mengalir tumpah. Disusul senyumnya yang merekah. Deretan gigi berwarna putih kekuningan yang menghitam berbaris di dalam mulutnya. Bau seperti daging busuk menguar. Aku yang tengah dicekik dan dilanda kepanikan berusaha menarik udara masuk.

Kepalanya dimajukan mendekati wajahku. Kelopak matanya menyipit dan mataku terpejam erat. Dia akan memakanku! Satu detik, dua detik, tiga detik kemudian—lengang. Tak ada yang terjadi. Jerat kedua tangannya mengendur, aku menarik napas ragu-ragu dan membuka mataku.

Suara terkekeh keluar dari mulutnya, senyumnya kembali merekah. Aku terkesiap. Salah satu tangannya terangkat, ia mengarahkan telunjuknya ke dahiku, menyentuh keningku. Dan… ZAP! Ingatanku bagai diseret ke suatu masa.

Kejadian itu berlangsung cepat. Aku terbangun di tengah tidurku karena disergap mimpi buruk dan mendapati sosok yang tengah duduk di atas lemari. Kakinya panjang menjuntai ke bawah. Rambut putih tergerai menutupi wajahnya. Keempat tangannya berpegangan pada sisi lemari. Ia yang kulihat dalam mimpi kini menembus dimensi.

Dan dalam se-per-sekian detik sosok itu menerjang ke arahku, rambutnya tersibak menampilkan rupa yang membuatku terperanjat. Lalu pandanganku gelap.

Aku dibuat tersentak. Tubuhku terjatuh. Kutarik napas dalam-dalam, jerat tangan itu telah lepas. Kupegang leherku yang terasa kebas. Aku sudah kembali ke masa kini.

Dan sekarang aku menyadarinya. Makhluk biadab itu membunuhku! Merebut paksa ragaku sebagai wadah jiwanya. Seolah semua itu belum cukup kejam, dia mengikat jiwaku di tempat ini dan menghapus ingatanku. Membuatku seperti orang linglung di tempat antah berantah. Kecamuk amarah terpercik di dalam diriku, menciptakan kobaran dendam yang enggan padam. Tidak sebelum aku melumat sosok buruk rupa itu!

Kepalaku mendongak ke depan, ketakutanku padanya berubah menjadi amarah. Aku hendak menerjang langsung padanya. Tapi dirinya mengeluarkan aura hitam yang menyesakkan. Menyergapku dengan ketakutan yang kemudian berubah menjadi bayang-bayang dan menahanku untuk tetap di tempat.

Dia mempermainkanku seperti saat dirinya mengembalikan ingatan tentang kematianku. Sosok itu tertawa nyaring, suaranya melengking membuat gendang telingaku berdenging. Keempat tangannya terangkat dibarengi dengan bunyi bergemeletuk. Ia bersiap membunuhku untuk yang kedua kalinya.

Tiba-tiba, batang pohon di atas sana runtuh. Aku yang mengetahuinya segera melesat ke belakang, kakiku kehilangan keseimbangan, tubuhku terjungkal. Batang pohon di depanku ambles menimbulkan suara berdebum keras. Belum selesai suara tadi, batang pohon di atasku berderit kemudian disusul dengan jatuhnya batang tersebut. Sontak aku pun terseok-seok mundur ke belakang. Batang itu berdebum menghantam tanah membuat debu beterbangan. Nyaris saja batang besar itu menimpaku.

Di atas tumpukan batang pohon yang roboh itu, terbaring tubuhmu di atasnya. Kau perlahan bangkit, terduduk dan mengaduh kesakitan. Dan aku pun sadar, semua ini adalah ulahmu.


Ada perasaan hangat yang mengaliri tubuhku kala aku melihat dirimu. Ku pikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi. Tapi perasaan itu hilang menguap—saat menyadari dirimu kembali dan berusaha menyelamatkanku. Kau ini membahayakan nyawamu sendiri!

“Dasar, bodoh! Kau ingin menguburku dengan meruntuhkan tempat ini?!”

Kau yang berada di atas tumpukan pohon melompat turun lalu berlari ke araku.

“Maaf kau bilang? Enak saja!”

“Apa? Menyelamatkanku? Kau hanya membahayakan dirimu sendiri! Kau bisa saja ikut tertindih bersama tumpukan batang pohon itu alih-alih terbaring di atasnya dan kemudian turun ke sini lalu berkata, ‘Amara, maafkan aku.’ dengan muka sok lugumu itu!” ucapku mencecarmu tanpa henti dalam satu tarikan napas.

“Ah, sudahlah! Lupakan saja!”

“Iya, aku maafkan. Berhentilah merengek seperti bocah!”

Percakapan ini membuatku lupa akan makhluk yang tadi mencekikku.

Khhhrraaaa!!! Aaarrrhh!!!

Makhluk itu menjerit, tubuhnya terimpit di bawah tumpukan batang pohon yang runtuh tadi. Tumpukan batang pohon itu berderit, dan ia mulai bangkit!

“Ayo! Kita pergi!”

Kita berlari menjauh meninggalkan reruntuhan tadi. Kembali pada tempat tujuan yang direncanakan di awal.

Aku akan mengantarmu pulang.

Langkah kaki kita berderap menginjak rumput liar, daun-daun kering yang berjatuhan juga ranting di atas tanah. Menyibak sekumpulan kunang-kunang dan membuatnya terbang tak tentu arah. Beberapa arwah mengintip dari balik pepohonan memperhatikan kita yang memecah keheningan.

Telingaku menangkap suara berderap dari arah belakang. Aku menengok dan kudapati makhluk itu mengejar. Dia merangkak menggunakan kaki dan keempat tangannya seperti seekor laba-laba. Berlari mengejar kita yang lolos dari genggamannya. Sepertinya runtuhan batang pohon yang menimpanya tak bisa menghentikan makhluk mengerikan ini.

“Terus lari! Jangan menengok ke belakang!” perintahku.

Arwah-arwah penghuni hutan tak ada yang membantu, jangankan membantu, mendekat saja mereka tak berani. Hukum rimba berlaku di sini. Siapa yang kuat dia yang berkuasa. Mereka tak mau mencari masalah dengan makhluk ini, jika tak ingin energi mereka direnggut olehnya. Lihatlah, kini mereka memilih lari—bersembunyi.

Sosok itu kini memanjat pohon, melompat dari dahan ke dahan. Lalu berhenti di salah satu pohon. Ia berteriak nyaring, suaranya merobek kesunyian malam.

Aku dan dirimu semakin menambah laju lari. Berharap dengan berlari bisa menjauhkan kita dari jangkauan makhluk bertangan empat itu. Lalu, aku mendongak ke belakang, menengok ke kanan dan kiri, mataku menyisir dahan-dahan di atas, di balik pohon ataupun semak-semak. Makhluk itu tidak ada. Kemana perginya?

Kepalaku terasa pusing dan kakiku mulai lelah berlari. Tapi aku menggelengkan kepala, mengusir rasa pusing yang hinggap di kepalaku. Aku harus tetap waspada.

Sebentar lagi… kita akan sampai di sana.

Mendadak angin berputar di sekeliling kita. Udara dingin merambat melalui kulit. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Di tengah kebingungan, kesiur angin dari depan datang menghempaskan kita ke belakang.

Aku meringis kesakitan saat sikuku menggerus tanah. Mengerang sambil menapakkan tanganku ke tanah dan berusaha bangkit.

Tatapanku beralih ke depan. Menyaksikan puluhan tangan hitam yang menyeruak dari dalam tanah. Ku hirup napas secara perlahan. Seluruh indraku seperti mati rasa. Tangan-tangan itu menggeliat, memanjang dan berusaha menerjang.

Aku langsung bangkit dan berlari. Tapi sialnya salah satu tangan menangkap kakiku, menyeretku ke belakang dengan paksa. Aku terjerembap, wajahku menghantam tanah. Aku mengerang, tapi tangan itu tetap menyeretku, disusul tangan lain memegang kakiku yang satunya. Tanganku menggapai-gapai, mencakar-cakar tanah, mencari sesuatu sebagai pegangan. Sial! Aku tak menemukan apa pun, hanya ada rumput kering dan ranting-ranting pohon.

Tangan-tangan itu terus menarikku ke belakang, menarik rambutku yang panjang, memegang tubuhku, mencengkeram kaki dan tanganku. Aku berseru panik. Salah satu tangan mencekik leherku, beberapa tangan mencakar kaki dan tanganku serta menutupi wajahku. Salah satu tangan merangsek masuk ke dalam mulutku, kurasakan jemarinya menggeliat menuju tenggorokanku.

Dari balik celah tangan yang menutupi mataku, di seberang sana kudapati dirimu yang kondisinya tak jauh lebih baik dariku.

Kepalaku terasa pening. Semua ini terjadi secara bersamaan. Rasa perih ditubuhku, napasku yang tercekat, jantungku yang menggebu, dan aku yang meronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan yang mengunciku di tanah. Kemudian kesadaranku melemah.

Di tengah rasa putus asa, saat itulah aku menangkap cahaya putih menguar dari dalam tubuhmu. Melesat keluar membentuk sesosok orang tua. Cahaya putih hangat memancar di sekeliling tubuhnya. Wajahnya yang keriput disertai janggut dan kumis putih berwarna serasi dengan baju yang ia kenakan. Tatapan matanya yang teduh menenangkan diriku yang sedari tadi meronta.

Itukah Sang Penjaga?

Pengelana yang kutemui dulu pernah mengatakan sesuatu tentangnya. Sang Penjaga melindungi para pengelana yang terpilih ketika mereka pergi ke dunia arwah. Sepertinya, Sang Penjaga muncul saat tuan mereka dalam bahaya. Bersiap mengorbankan diri demi pengelana yang mereka lindungi.

Ia mengangkat tangannya yang terjuntai sampai mata kaki, tangan itu terlihat seperti akar pohon. Sang Penjaga menggumamkan kata-kata yang terdengar magis, kemudian menghempaskan salah satu tangannya. Kesiur angin menerpa tangan-tangan hitam yang menjerat. Mengikis mereka menjadi abu, angin menghempaskannya dan tangan-tangan yang muncul dari dalam tanah itu kembali ke asalnya. Aku terbebas.

Selesai dengan tugasnya, Sang Penjaga kembali menguar menjadi cahaya putih hangat dan masuk ke dalam tubuhmu.
Aku langsung menghampirimu dan membantumu berdiri.

“Ayo, kita sebentar lagi sampai.”

Aku memapah dirimu dan kita kembali berjalan menuju tempat itu. Tubuhku terasa nyeri dan perih. Aku lelah. Tapi, mengingat sebentar lagi kita sampai membuatku menghiraukan itu semua.

Setelah berjalan agak lama, sampailah kita di tanah lapang. Tak ada pepohonan di sini, cahaya bulan bersinar tepat di atas sana. Menyirami tempat ini dengan cahaya. Kita berjalan menuju ke tengahnya.

Dan sekarang di tengah sini, aku berjongkok, menggigit jariku sampai berdarah dan mulai menggambar sebuah lingkaran dengan gambar mata di tengahnya. Lalu menggambar fase-fase bulan di sekeliling gambar mata. Dan beralih menuliskan huruf-huruf rumit di sekeliling gambar fase bulan.

Aku selesai membuat simbol. Sekarang aku berdiri di luar lingkaran. Setengah terduduk, aku menempelkan tiga jemariku di pelipis dan salah satu tanganku menyentuh simbol yang kugambar. Aku menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya secara perlahan. Aku kembali berkonsentrasi. Energi dari dalam diriku merambat melalui tanganku dan mengalir ke setiap garis pada simbol yang kugambar. Menciptakan cahaya lemah yang berpendar. Kemudian, simbol di tanah itu seolah menyedot cahaya bulan untuk masuk ke dalamnya, membuatnya semakin terang setiap detiknya. Lingkaran itu sudah terisi oleh cahaya berwarna biru terang. Portal yang kubuat telah selesai.

“Sekarang kau bisa kembali ke ragamu.”

“Tidak. Aku tidak bisa ikut, diriku terikat di sini.”

Groooaahh!!! Aaaaaakkkhh!!!

“Makhluk itu datang kembali. Tidak ada waktu lagi, ia akan segera kemari dan menemukanmu.”

Sementara dirimu gelagapan mendengar suara lengkingan tadi dan memaksaku untuk masuk ke dalam portal. Aku yang sudah tak sabar segera mengambil tindakan.

PLAK!!!

Tamparan di pipimu membuatmu sedikit lebih tenang. Aku menatapmu tajam.

“Dengarkan aku, bodoh! Aku sudah mati! Aku tak bisa ikut bersama dirimu. Ragaku sudah tak berbentuk. Dan jiwaku terikat dengan tempat ini. Sekeras apa pun aku berusaha, aku tak akan bisa pergi.”

“Ingat ini, kau adalah seorang pengelana yang terpilih. Kau mempunyai sosok penjaga yang melindungi dirimu. Tapi Sang Penjaga yang melindungimu bukan berarti tak terkalahkan.”

“Kau lihat, kan, sosok tadi? Dia menginginkan ragamu! Dia akan datang melalui mimpimu, menghantui di setiap tidurmu. Dan hingga saat yang tepat, dia akan keluar dari dalam mimpimu. Berada dalam satu ruangan denganmu! Entah itu duduk di atas lemarimu, bersembunyi di kolong tidurmu, atau berdiri di sudut ruanganmu. Yang pasti saat ia menemukan di mana ragamu berada, ia akan datang. Jangan biarkan Sang Perampas itu menemukanmu!”

“Kau harus semakin kuat, karena roh penjagamu bisa saja dikalahkan. Kau harus tetap waspada!”

“Maka sekarang pulanglah. Pulanglah ke tempat dirimu seharusnya berada. Pulang dan temuilah keluarga serta teman-teman yang menantimu di sana.”

“Jaga dirimu baik-baik. Aku pamit.”

Perlahan kudorong tubuhmu masuk ke dalam portal. Aku mengangkat tanganku hendak melambaikan tangan, tapi kuurungkan. Cahaya biru terang menyedot dirimu ke dalamnya. Kesiur angin lembut menerpa wajahku. Portal itu semakin mengecil dan beberapa detik telah menghilang di depanku.

Aku berpisah dengan teman yang baru saja kutemui.

Aaaarrrgghhhh!!!!

Makhluk itu semakin mendekat! Aku bisa mendengar derap langkahnya. Aku mengayunkan kaki segera pergi dari tempat lapang ini. Masuk ke dalam deretan pepohonan dan bersembunyi. Makhluk itu tak bisa merasakan auraku yang telah menipis.

Ia berteriak marah, mengetahui mangsanya hilang tanpa jejak. Suaranya menggema ke seluruh penjuru hutan. Beberapa detik kemudian, teriakannya telah menguar disapu oleh angin.

Aku bersandar pada sebuah batang pohon. Mengingat perpisahanku dengan dirimu yang belum lama terjadi. Aku ingin mengatakan ‘Sampai jumpa’ kepadamu. Tapi itu tak mustahil.

Tubuhku terkulai lemas, aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mataku berat sekali rasanya. Aku benar-benar lelah.
Amara…. Nama itu… aku menyukainya.

Dan di tengah hutan yang gelap dan selalu senyap, tubuhku pun perlahan lenyap.

~ Selesai ~

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Baca Juga  Cerpen: Mading Sejuta Cinta

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

4 comments

  1. Ini cerpen mantep bet sih, dari awal cerita udh keliatan menarik, aku sebagai pembaca aja langsung tertarik, pasti bakal ketagihan baca terus, keren dan menarikk banget sihh,,amazing!!

Artikel Terkait