by

Cerpen: Patah

PATAH

Waktu berjalan layaknya semestinya. Mentari sudah tergantikan rembulan. Jalanan setapak yang kulewati terasa sepi. Meskipun remang-remang, aku masih saja berjalan tanpa arah. Kulewati gang-gang kecil dengan langkah tertatih, napasku kian menipis. Sesak terasa menggerogoti relung hati. Pipiku bahas akan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir. Jika saja ada yang melihat, mereka akan mengira jika aku adalah orang yang tidak waras, lebih tepatnya gila.

Aku berhenti sesaat, mencoba mengatur ulang pernapasanku agar stabil. Kuhapus kasar air mata sialan ini. Merasa lebih baik, aku kembali melanjutkan berjalan. Perih terasa saat tak sengaja ranting kayu yang tergeletak di tanah kuinjak dengan kuat. Sedikit darah keluar dari mata kakiku. Wajar saja, aku tanpa alas kaki apapun dengan berani melangkahi jalanan setapak dengan batu-batu kecil yang berserakan, juga benda-benda sejenisnya.

Aku, gadis berusia delapan belas tahun yang harus menghadapi situasi rumit saat ini. Lara. Orang-orang memanggilku dengan nama Lara.

Kursi kayu menjadi tempat yang kutuju untuk mengistirahatkan tubuh. Setelah lelah berjalan selama berjam-jam, aku memilih duduk menyandar dengan kepala menengadah menatap langit hitam di atas sana. Keadaan seperti tengah menertawakan ketidakwarasanku, bintang-bintang bertabur dengan indahnya, mereka berkawan.

Tidak seperti diriku yang kini seorang diri tanpa teman. Kekehan terdengar dari bibirku, saat-saat seperti ini, aku merasa dunia seakan-akan hanya berpihak pada orang yang berkuasa. Bukan seperti diriku, yang tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak berguna.

Hembusan napasku keluarkan, terasa berat. Ingatan waktu lalu kembali terlintas. Cengkeramanku kian menguat hingga membuat ujung bajuku berkerut.

Ibu, sosok wanita yang paling ku sayangi kini telah pergi, meninggalkan bekas luka tak berujung dalam diriku. Aku tahu, siapa pun pasti akan kembali pada Tuhan. Tapi, kenapa harus secepat ini? dan kenapa harus dalam keadaan semenyakitkan ini?

Situasi seperti ini, sangat tidak bisa untuk aku yang masih remaja. Aku masih ingin tertawa lepas tanpa beban seperti remaja pada semestinya. Aku masih ingin belajar memaknai arti kehidupan dengan pelan, sebab, ibu pernah berkata, “Nak, jika sudah besar nanti, kamu harus mandiri, ya. Jangan bergantung pada orang lain, Percaya sama diri kamu, jangan percaya pada siapa pun, termasuk ibu.”

Aku masih sangat mengingatnya. Aku yang tidak mengerti hanya bisa berkata “iya” tanpa berpikir.

Tepatnya sore tadi ibu meninggalkan dunia, saat aku baru saja mendapatkan gaji pertamaku dalam bekerja part time. Rupanya, kebahagiaan yang aku dapat hanya datang sekejap, lalu hilang terkikis waktu.

Ibu, sosok yang tangguh. Sosok yang selalu ada saat aku lelah dalam menuntut ilmu, dia sempurna tanpa celah. Bahkan, sewaktu kelulusanku tahun lalu pun ibu rela datang hanya untuk melihatku wisuda, padahal aku tahu, saat itu ibu sedang berjuang melawan penyakitnya. Pengorbanan yang ibu berikan untukku, benar-benar membekas dalam ingatan.

Kepergiannya memang tak terduga, sama seperti apa yang terjadi, sama-sama tidak terduga. Percaya ataupun tidak, aku tidak bisa memungkiri, jika ayah, sosok laki-laki paruh baya yang menjadi cinta pertamaku, memberi luka tak kasat mata. Begitu dalam dan pedih. Banyak tetangga yang membicarakan jika sebelum ibu benar-benar dipanggil Tuhan, terjadi pertengkaran hebat antara ayah dan ibu.

Aku tidak ingin percaya. Ayah dan ibu bahkan tidak pernah bertengkar. Paling hanya pertengkaran kecil, itu pun ayah yang harus meminta maaf pada ibu. Aku, ayah, ibu, kami tertawa bahagia jika sudah membahas pertengkaran ayah dan ibu yang tidak tahu waktu dan tempat. Merasa lucu meskipun bukan sebuah lelucon.

Baca Juga  Tumpi-tumpi, Nugget Ikan Gurih Bikin Nagih

Tangisanku semakin kencang. Tak peduli jika ada yang terganggu, aku hanya butuh ketenangan. Namun, rupanya aku tidak perlu khawatir, karena disini begitu sunyi. Angin malam berhembus menusuk lenganku yang tak terlapisi kain.

Luka fisik memang bisa disembuhkan, tapi jika luka hati yang menganga, bagaimana cara menyembuhkannya? aku ingin tahu. Baru saja mengalami kehilangan, aku kembali dihadapkan akan situasi sulit yang memperumit hidup. Ibu berkata, “jangan percaya pada siapa pun.” Ternyata memang benar, seharusnya, aku tidak mempercayai siapa pun.

Seharusnya, aku tidak bergantung pada orang lain, keluarga sekali pun. Entah mengapa, aku hanya mengiyakan tanpa melakukan perkataan ibu.

Penyesalan datang di akhir. Aku tidak bisa melakukan apapun. Aku ingin marah, aku ingin menjadi pemberontak, aku tidak ingin menjadi lemah yang hanya bisa menangis dalam kesendirian. Percuma saja, karena semua hanya angan. Aku terlalu lemah untuk bisa menjadi pemberontak yang sesungguhnya. Kepercayaan harusnya dibalas dengan kejujuran. Begitu pula dengan kepercayaan yang aku berikan untuk ayah.

Ayah bisa menjadi panutanku, ayah bisa menjadi pelindung untuk anak perempuannya, ayah juga bisa menjadi sosok pria paling istimewa untuk anak perempuannya. Bukan menjadi penjahat paling sempurna di balik kebaikan yang dia berikan selama ini. Semua hampa, kosong. Ternyata, aku salah mengartikan kasih sayang ayah selama ini. Semua hanya tipu muslihat yang begitu apik ayah perankan untuk menjebakku dalam lingkaran kenyamanan palsu.

“Kamu putri kecil ayah paling cantik, selamanya.” Bohong. Kebohongannya sungguh menyesakkan.

“Lara, satu-satunya putri Ayah di dunia ini. Putri Ayah dan Ibu yang paling baik dan hebat.” Ayah lagi-lagi berbohong. Nyatanya, aku bukan satu-satunya putri ayah, aku bukan satu-satunya yang tercantik untuk ayah, aku juga bukan putri kecil ayah yang paling ayah sayangi, semua bohong. Dia menutupi semua kebohongannya lewat sikap hangatnya.

Aku dan ibu, selama ini telah hidup dalam lingkaran kebohongan yang ayah buat. Keluarga harmonis macam apa yang hidup dalam pengkhianatan. Tega sekali.

“Ayah bukan lagi pahlawan yang selama ini aku sukai, ayah … benar-benar sudah tak sama seperti ayah Lara,” ucapku dengan lirih. Aku benar-benar tak bisa mendeskripsikan rasa sakit ini sesakit apa.

Perselingkuhan.

Kata itu benar-benar kubenci.

Ayah pernah berkata, “Dalam sebuah hubungan, harus kita pupuk dengan kepercayaan satu sama lain. Jangan ada yang bermain api, karena sekali itu terjadi, maka hubungan itu akan hancur tak tersisa.”

Kepercayaan seperti apa yang ayah bicarakan?

‘Jangan bermain api’, tapi ayah sendiri yang memulai api itu muncul dan membesar.

Ibu menderita lemah jantung. Penyakitnya semakin parah ketika aku menduduki bangku kelas XII SMA, hingga kelulusanku tiba, keadaan ibu tidak kunjung membaik.

Aku tidak langsung bekerja, lewat setahun baru aku mendapatkan pekerjaan paruh waktu yang tidak seberapa besar gajinya, tapi tak apa. Aku selalu bekerja dengan giat, sesuai dengan perkataan ibu, “Meskipun bukan pekerjaan yang kamu inginkan, kamu harus tetap bekerja dengan hati yang tenang, jangan berpikir ini terlalu kecil, sukai apa yang kamu lakukan, nanti lama-lama kamu tidak akan merasa terbebani, Nak.” Aku menuruti apa yang ibu katakan dengan baik, pekerjaan yang selama ini aku lakoni berjalan mulus tanpa kendala.

Baca Juga  Cerpen: Hanya Uang

Selama ini, ayah dan ibu sangat berperan penting dalam kehidupan penuh fana ini. Banyak yang tidak menyukaiku, tapi aku tidak pernah memedulikannya. Mau sebaik apapun aku bertingkah, tetap akan terlihat buruk di mata seorang pembenci. Semua punya sisi kemunafikan yang tersembunyi, namun mengapa kemunafikan ayah sangat tidak bisa aku percayai?

“Ayah sama ibu kamu bertengkar dengan hebat, bahkan ayah kamu sampai teriak-teriak hingga kedengaran tetangga yang lain. Setelah itu, ayah kamu keluar dari rumah dengan buru-buru, dia juga kelihatan panik. Satu lagi, ayah kamu bawa perempuan yang saya gak tahu dia siapa.” Salah satu tetangga memberitahu letak pertengkaran ibu dan ayah terjadi. Siapa ‘perempuan’ yang ayah bawa hingga membuat mereka bertengkar?

“Dia selingkuhan ayah kamu, kayaknya mereka udah punya anak, deh. Seumuran kamu gitu.” Ketidakpercayaan aku terapkan dalam diri, tidak mungkin ayah berkhianat.

Tapi terlambat, saat baru saja pulang bekerja dengan tubuh lelah, namun semangat membara ketika mendapat gaji pertama, aku dihadapkan dengan keadaan rumah yang kacau. Barang-barang berserakan tak tentu arah. Pecahan-pecahan kaca juga nampak di lantai yang basah akan genangan air.

Keadaan ibu yang tergeletak di lantai basah membuatku shock, dengan darah yang mengalir dari hidung, itu semakin membuat kecemasanku meningkat. Aku ingin membawa ibu ke rumah sakit, namun percuma. Semua sudah terlambat. Ibu, wanita tangguh yang selama ini merawatku dengan penuh cinta, sudah menemui Tuhan tanpa pamit dengan anak kesayangannya ini.

Hari itu juga, aku mengadakan pemakaman untuk ibu, dibantu oleh tetangga-tetangga yang masih tidak menyangka ibu akan pergi secepat ini. Aku tidak punya keluarga lain, selain ayah yang menghilang bak ditelan bumi. Hingga malam hampir larut, ayah datang dengan mobil mewahnya yang baru kulihat, dia nampak gagah tanpa kesedihan dari raut wajahnya.

Aku yang masih berpikir positif berlari dengan tergesa dari dalam kamar menuju halaman rumah. Kesedihan akan kehilangan ibu sedikit berkurang tatkala kulihat ayah datang menghampiri.

Aku berdiri dengan tangan gemetar hebat, ini seperti mimpi. Kuraih tangan kanan ayah, hendak menyalami seperti biasanya, namun belum sempat tanganku menyentuhnya, ayah sudah lebih dulu meninggalkanku di keheningan malam.

Dia masuk ke dalam rumah, duduk dengan tenang di sofa yang sudah memudar warnanya. Jas hitam yang melekat di tubuhnya ayah sampirkan di bahu sofa. Aku ikut duduk dengan debaran jantung yang kian menggila.

Keheningan menyelimuti, sebelum ayah memulai berkata, “Ayah ingin memberimu ini.” Ayah menyerahkan sebuah amplop cokelat, kubuka amplop itu. Aku sedikit tidak mengerti, ayah memberiku sejumlah uang yang tidak sedikit. “Apa ini ayah?” tanyaku pelan.

“Uang untuk penunjang hidupmu. Ayah sudah angkat tangan. Ayah tidak mau peduli denganmu lagi, kamu pasti sudah mendengar para tetangga berbicara tentang ayah, bukan? itu memang benar. Ayah juga tidak bisa menyangkal lagi, ayah minta maaf, Lara.” Semudah itu?

“Selamat tinggal, Lara.” Aku masih ingat betul ayah pergi begitu saja setelah memberikanku uang yang tidak ada artinya bagiku. Aku hanya butuh ayah, bukan uang. Aku hanya butuh pelindung, aku hanya butuh seseorang untuk memberikan sedikit saja cahaya untuk aku hidup dengan semestinya.

Bukan uang. Ayah, seseorang yang selama ini kuberikan kepercayaan penuh, ternyata menjadi luka paling mendalam yang aku alami. Ternyata aku salah, seharusnya aku tidak memercayai siapa pun, termasuk diriku sendiri. Seharusnya, aku hanya boleh percaya pada Tuhan. Bukan manusia yang bisa kapan saja menjadi musuh paling kejam, yang menyakiti tanpa harus dengan fisik, melainkan hati.

Baca Juga  Cerpen: KAMARKU TEMPAT KENYAMANANKU

Ayah tidak hanya menjadi pria bajingan yang berselingkuh di saat masih memiliki istri, dia juga menjadi penyebab kematian ibu. Kejam sekali. Aku ingin berteriak dengan kencang, mengatakan kepada semua orang untuk menangkap ayah, bawa ayah sejauh-jauhnya dari kehidupanku. Tapi, semua hanya mampu kupendam. Sudah kubilang bukan, jika aku adalah manusia tidak berguna. Kurasa aku tidak pantas untuk hidup di dunia ini lagi. Apa gunanya?

Menghela napas sejenak, aku mulai beranjak menyusuri jalanan lengang tanpa seorangpun. Perih masih menjalari area kakiku, seakan tak peduli aku tetap melangkah.

Malam semakin larut, jika diperkirakan, mungkin saat ini sudah pukul 03.00 pagi. Laju jalanku semakin lambat. Tenagaku mulai berkurang, perut pun terus berbunyi, seakan meminta untuk diisi. Sedari pemakaman ibu memang aku belum memakan makanan apapun. Terpikir untuk minum air putih saja tidak, apalagi untuk makan. Rupanya perutku tidak bisa untuk berkompromi.

Sejauh mata menelisik, kutemukan sebuah jembatan dengan sungai di bawahnya. Aku mempercepat laju jalan meskipun sakit kian menghunjam. Pikiranku seakan sudah tidak waras, dari pada hidup tak berguna, aku memilih jalan pintas. Lagi pula, tidak akan ada yang merasa kehilangan jika aku meninggalkan dunia ini, bukan?

Ayah pasti sudah bahagia bersama keluarga barunya. Ayah pasti sudah tidak membutuhkan aku lagi, putri kecilnya yang sudah tidak dianggap.

Sedikit lagi aku sampai. Dua menit terlewati, akhirnya aku sudah berdiri dengan napas tersengal di pinggir jembatan. Kulihat ke bawah, aliran air sungai sangat deras, terlihat begitu dalam. Sedikit takut untuk terjun, tapi jika tidak dilakukan, maka hidupku akan terus berlanjut.

Hidup tidak berguna ini, harus segera aku hentikan. Tuhan pasti marah, namun kewarasanku sudah diambang batas, aku tidak bisa berpikir logis lagi. Satu kaki kuangkat ke atas, degupan jantungku kian memompa cepat.

Kuayunkan kaki sebelah kiri, hingga kini, aku sudah berdiri di tepian pembatas. Mataku terpejam sempurna, rasa takut kian datang. Ini sungguh gila.

“Ibu, maafkan Lara. Janji untuk hidup mandiri tidak bisa Lara tepati, izinkan Lara, bu. Lara ingin bersama ibu, untuk selamanya.” Aku berkata dalam hati, menghembuskan napas sejenak. Aku mengintip di balik mata sipitku. Astaga, air sungai di bawah sana sungguh deras. Mungkin jika aku melompat, akan ada berita kematian di tempat lain, orang yang menemukanku pasti tidak akan mengenali siapa aku.

Dalam hitungan detik, secepat kilat, aku merasa sangat ringan. Terbangku bukan ke atas, melainkan turun ke bawah. Menuju sungai, hingga tubuhku seakan remuk, tanpa bisa merasakan apapun lagi, mataku kian terpejam seiring dengan tubuhku yang terbawa aliran air sungai yang akan membawaku entah kemana.

Seperti ini lah hidup. Jika tidak sanggup menghadapi masalah yang kian menerjang, seseorang yang lemah pasti memilih mengakhiri hidupnya. Seperti Aku, Kelara Maheswari, remaja yang memilih mengakhiri kehidupan dengan cara yang salah.

Kamu jangan menirunya, karena kamu tangguh.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait