by

Cerpen: Panji Si Tukang Bolos

Panji Si Tukang Bolos

Cerpen karya Alan Maulana

Panji mendengar suara gemercik air. Ia tersadar dan menemukan dirinya sedang tersungkur di bawah derasnya hujan. Diamatinya setiap bagian dari dirinya itu, ia merasa ada yang hilang sebagian dari raganya.

Panji mengamati setiap komponen yang ada dalam dirinya. Ia terbelalak saat menemukan tangan kirinya telah terpotong. Ia bangun terperanjat, menemukan dirinya masih di dalam kamar. Syukurlah, ternyata cuma mimpi, ujarnya.

Malam telah berganti pagi. Panji malas bangun. Ia hanya diam di tempat tidur, melamun memikirkan apa arti dari mimpi buruknya itu. Rasa malas mulai menggodanya. Ia malas untuk mandi, malas untuk pergi ke sekolah, semuanya bercampur menjadi satu di dalam pikirannya. Karena merasa kalut, ia pun memutuskan untuk tidur kembali. Akan tetapi saat matanya mau terlelap, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamarnya.

“Masuk aja, gak dikunci” kata Panji, sesaat setelah ketukan pintu tiga kali berbunyi.

“Astaga, Panjiii! Jam berapa ini? Kamu gak berangkat ke sekolah?” tanya seorang wanita yang tidak lain adalah ibunya.

“Males, Mah. Mamah gak sayang apa sama Panji? Panji juga butuh istirahat, Mah!” jawab Panji, seraya membalut seluruh tubuhnya dengan selimut hijau untuk kembali tidur.

“Maksud kamu, gimana, Panji?”

Panji beranjak dari tempat tidur menghiraukan pertanyaan dari ibunya. Ia langsung bergegas pergi ke kamar mandi untuk cuci muka, kemudian kembali lagi ke kamar tidur untuk memakai seragam sekolah. Semua perlengkapan sekolah pun tak lupa ia bawa. Setelah semua selesai ia langsung pergi ke sekolah tanpa sarapan.

Sebenarnya, Panji bukan tipe pria yang pemalas. Dia hanya bosan dengan peraturan kurikulum sekolah yang mengharuskannya masuk pukul 07.30 kemudian pulang pukul 04.00. Ia merasa jam pelajaran di sekolahnya itu terlalu lama, sampai-sampai ia tak punya waktu untuk belajar sendiri di rumah.

Baca Juga  Cerpen: Menunggu Malaikat Maut

Panji berpikir karena sejatinya, untuk memahami suatu ilmu itu harus ada minat dan kemauan dari diri sendiri tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Itu sebabnya ia cenderung tidak serius dalam mematuhi kurikulum yang ada di sekolah dan lebih senang membuat kurikulum sendiri. Hal itu yang kemudian membuat Panji jadi sering bolos sekolah.

Tidak seperti kebanyakan siswa yang sering bolos untuk sekadar hura-hura, pergi ke tempat rental play station, Panji berbeda dengan mereka semua. Alasannya sering bolos adalah untuk mencari ilmu baru di luar sekolah.

Ia pernah tidak masuk selama satu Minggu karena terlalu senang menyibukkan dirinya di perpustakaan umum. Bolos sekolah adalah perbuatan tercela memang, akan tetapi itu boleh saja kalau tujuannya baik.

Karena perbuatannya yang sering bolos tak heran jika banyak guru-guru, para tetangga, bahkan kerabat yang menyebut dirinya nakal. Mereka semua punya stigma negatif terhadap Panji. Mereka tidak pernah tahu siapa Panji sebenarnya.
Panji sebenarnya adalah siswa berprestasi yang selalu mengikuti perlombaan-perlombaan secara diam-diam.

Pagi itu, dengan rasa malas dan sedikit lapar karena belum sarapan, Panji terus melangkah untuk pergi ke sekolah. Di jalan, kepalanya terus menengok kanan dan kiri untuk mencari kendaraan yang nantinya akan ia tumpangi. Akan tetapi usahanya itu sia-sia karena ia berangkat terlalu pagi. Panji lupa menengok jam pada saat mau pergi ke sekolah.

Sial!

Di antara keremangan lampu jalan ia terus melangkah. Dilihatnya jam tangannya yang masih menunjukan pukul 05.30. Panji menghela nafas. Di tengah perjalanan ia menemukan sebuah poster yang tertempel di tiang listrik.

Panji kemudian membaca poster itu dan ternyata poster tersebut, berisi info lomba cerita pendek yang akan diselenggarakan oleh PERPUSNAS. Panji teriak girang saat selesai membaca poster tersebut.

Baca Juga  Cerpen: Sebuah Rasa

“Ini saatnya aku bertempur kembali!” katanya, semangat.

Melihat info itu Panji bergegas pergi kembali ke rumahnya untuk mempersiapkan semuanya. Baik itu persyaratan lomba dan ongkos untuk ia pergi ke PERPUSNAS yang tempatnya terletak di Kota Jakarta.

Panji pergi ke sana dengan bantuan kereta kelas ekonomi. Ia pergi sendirian. Meskipun saat itu di Jakarta sedang marak-maraknya berita tentang tawuran pelajar, Panji tetap memberanikan diri untuk pergi sendirian. Musibah tak terduga pun datang menimpanya. Sekelompok pelajar yang sedang berkumpul di stasiun memalaknya dengan cara paksa.

“Ada duit gak?” tanya mereka kepada Panji.

“Cuma cukup ongkos, Bang. Gak ada lagi” jawab Panji, tenang.

“Mau cara baik-baik apa cara paksa?” tanya salah seorang dari mereka yang berbadan tegap.

“Begini juga cara paksa disebutnya, Bang” jawab Panji. Membuat pria itu kesal dan menyerangnya dengan senjata tajam.

Panji menangkis senjata tajam itu dengan tangannya, melakukan perlawanan. Hal itu membuat tangannya jadi terluka. Beruntungnya ia bisa selamat saat semua siswa itu mengejarnya. Panji bersembunyi di balik badan sopir angkot yang langsung mengantarkannya pergi ke PERPUSNAS.

Sesampainya di PERPUSNAS Panji langsung bergegas untuk menemui panitia lomba. Setelah itu Panji mulai mengisi formulir pendaftaran lomba serta melengkapi persyaratannya. Setelah semuanya selesai, Panji masuk ke ruang khusus untuk perlombaan.

Di dalam ruangan itu sudah banyak peserta yang masuk, alat untuk mengetik, dan masing-masing peserta diberi kursi duduk untuk membuat karya. Masing-masing peserta hanya diberi waktu satu jam untuk membuat cerita pendek. Pertandingan ini sangat sulit karena harus bisa mengendalikan imajinasi yang kuat.

Panji mulai membuat karya sembari menahan luka perih di tangannya. Satu jam berlalu begitu cepat. Sesi pengumpulan karya pun tiba sudah. Dengan ragu Panji menyetorkan hasil karyanya kepada dewan juri.

Baca Juga  Membuat Mie Setan ala Gacoan Sendiri di Rumah? Siapa Takut! Berikut Resep Mie Gacoan Anti Gagal

Setelah itu dewan juri menyuruh Panji dan peserta menunggu selama 4 jam untuk nanti bisa menyaksikan pengumuman pemenang. Setelah semuanya menunggu, Panji terkejut karena namanya yang pertama kali disebut oleh dewan juri. Panji menjadi juara pertama kala itu. Ia terbelalak karena merasa tidak menyangka. Saat namanya dipanggil, Panji langsung pergi menemui dewan juri untuk diwawancarai.
“Ananda Panji, mana guru pendampingmu?” tanya dewan juri.

“Tidak ada Pak” jawab Panji.

“Ya sudah, kalau begitu mana nomor telepon sekolahmu? Nanti biar saya hubungi biar nanti bisa jemput kamu. Saya khawatir kamu kenapa-kenapa lagi.”

Panji memang sudah cerita kepada dewan juri tentang luka di tangannya itu. Karena merasa cemas, dewan juri langsung menghubungi pihak sekolah Panji untuk bisa menjemput. Saat itu yang mengangkat teleponnya adalah Pak Kamto, yang tidak lain adalah Kepala Sekolah Panji. Betapa terkejutnya dia mendengar Panji jadi juara tingkat nasional. Alhasil mereka jadi tahu siapa Panji sebenarnya, mereka jadi tahu kenapa Panji sering bolos.

Mereka semua juga jadi tahu bahwa setiap manusia itu punya keahliannya masing-masing. Ahli fisika, belum tentu dia tahu ilmu agama, ahli matematika, belum tentu dia tahu ilmu memasak. Dengan demikian, para guru di sekolah Panji jadi lebih berhati-hati untuk meremehkan murid-muridnya.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

17 comments

  1. Baguss bgt.
    Jadi pengen nulis selesai baca karya kak alan masa lalu saya yang sangat terjal mungkin waktu masih duduk dibangku madrasah hanya saja dipandang sebelah mata sama bp/ibu guru. Tak lain aq terus membuktikan bahwa aq bisa dan aq masih mampu.

Artikel Terkait