by

Cerpen: Pandemi Merugikan Atau Menguntungkan?

Pandemi Merugikan Atau Menguntungkan?

Oleh : Evi Maria Marsaulina

Ini adalah kisah seorang anak yang terlahir di keluarga kurang mampu bernama Zennita, yang harus kehilangan kasih sayang dari sosok Ayahnya, dan hanya ditemani oleh Ibunya yang bekerja mencari barang bekas dan menjadi asisten rumah tangga,  dengan kedua adiknya bernama Sari dan Toni.

Jika kalian mengira Zennita adalah anak yang pintar kalian salah, Zennita merupakan salah satu murid di kelas VII B SMP Pelita Harapan yang malas saat belajar, bahkan dia selalu tertidur saat pelajaran berlangsung, itulah yang membuat dia selalu berada diperingkat terbawah dikelasnya.

Sifatnya ini sangat berbeda dengan kedua adiknya yang masih duduk di bangku SD, Sari selalu menjadi juara umum di sekolahnya begitu juga dengan Toni yang selalu berada di peringkat 1 di kelasnya.

Pada awal munculnya Covid-19, sekolah meliburkan siswa dan siswi-nya selama dua minggu, hal ini tentu membuat Zennita dan kedua adiknya bahagia karena mereka dapat membantu ibunya bekerja. Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, semakin maraknya kasus Covid-19 sampai memakan banyak korban, sehingga membuat Pemerintah mengambil kebijakan untuk melakukan proses belajar mengajar melalui daring (online).

Hal ini tentu membuat kedua adiknya kesulitan saat belajar, dikarenakan mereka hanya memiliki satu buah Handphone, yang tentunya tidak dapat digunakan saat belajar menggunakan aplikasi Zoom secara bersamaan, berbeda halnya dengan Zennita yang malas dia sangat bahagia dikarenakan tidak perlu lagi belajar ataupun pergi ke sekolah.

“Ibu, hari ini Sari ada pelajaran Bahasa Indonesia menggunakan aplikasi Zoom bu, jadi Sari harus menggunakan Handphone itu” Ujar Sari sambil memanggil ibunya yang berada di dapur.

“Tidak bisa Kak Sari, Toni juga ada belajar Matematika sekarang, pelajaran itu sangat sulit, dan menggunakan aplikasi Google Meet kak, Bu” Kata Toni sambil mengkerutkan keningnya.

Baca Juga  Asam Pedas Ikan Patin Khas Riau, Rasanya Menggelegar!

Mendengar perdebatan itu, membuat Ibu mereka meneteskan air mata, ia merasa menjadi sosok Ibu yang tidak berguna, tidak bisa membuat anaknya bahagia, bahkan pakaian sekolah yang anaknya gunakan merupakan pakaian bekas dari majikan tempat Ia bekerja.

“Sari, Toni kalian belajar dengan membaca buku saja ya nak, untuk sekarang biar kakak kalian yang menggunakan Handphone ini, Ibu janji akan membelikan kalian handphone jika Ibu sudah ada uang” Ujar Ibu sambil mengelap pelan air matanya.

Zennita yang mendengar itu hanya tersenyum, ia kemudian membawa handphone tersebut ke kamar. Bukannya belajar ia malah bermain game, karena memang saat itu Zennita tidak ada Zoom. Ia sama sekali tidak kasihan melihat kedua adiknya.

“Oh adik-adikku yang malang, ternyata ibu lebih sayang padaku dari pada mereka, ha..ha..ha, lebih baik sekarang aku bermain game saja, tugas juga untuk apa dikerjakan sekarang, kan ada Google tinggal kopi paste saja” ujar Zennita sambil tertawa terbahak-bahak.

Kejadian ini terus terjadi sampai Ujian kenaikan kelas, yang membuat wali kelas mereka datang menemui Ibu tiga anak itu.

“Maaf bu, kedatangan kami kesini dikarenakan ketiga anak Ibu tidak pernah masuk saat Zoom berlangsung, walaupun mereka mengerjakan tugasnya tapi kebijakan dari sekolah jika tidak masuk saat Zoom dianggap tidak hadir” Kata Para Guru tersebut.

Mendengar perkataan itu, membuat Ibu semakin bersedih ditambah lagi mendengar kelakuan Zennita yang malah tidak pernah masuk saat Zoom padahal Ibu selalu mengisi paket internet, Ia merasa salah telah mengambil keputusan dengan memberikan Handphone tersebut kepada Zennita.

Ibu segera menjelaskan keadaan mereka kepada para guru, yang membuat para guru merasa kasihan dan memberikan sedikit bantuan untuk Ibu tiga anak itu.

Baca Juga  Cerpen: Don't Believe (Fake Friend)

Ibu terus mencari bantuan dengan meminjam uang kesana kemari, setelah mendapat bantuan Ibu langsung membeli dua buah Handphone untuk Sari dan Toni, dan tidak lupa Ibu juga memarahi dan menceramahi kelakuan Zennita.

“Zennita dasar anak yang nakal, PEMALAS kamu tidak kasihan melihat kedua adikmu, lihat mereka ketinggalan pelajaran karena kelakuanmu, kita sudah susah jangan kamu susahkan lagi” Ujar Ibu dengan nada tinggi.

Kejadian itu tidak membuat Zennita berubah, Pada saat Ujian Kenaikan Kelas dia mengisi jawaban tersebut hanya dengan mengkopi dari Google tanpa membacanya kembali, hal itu tentu membuat dia mendapatkan nilai yang tinggi bahkan dia bisa mendapatkan peringkat ke-2 di kelasnya.

Berbeda dengan Sari dan Toni yang menjawab soal dengan jujur, dikarenakan mereka ketinggalan materi karena tidak ikut Zoom, membuat mereka kesulitan untuk menjawab soal, dan membuat mereka mendapatkan nilai yang jelek.

Setelah Ujian selesai ketiga anak tersebut pun diliburkan sampai pembukaan ajaran baru, nilai merekapun berubah drastis, dari nilai Zennita yang selalu jelek malah berubah menjadi bagus dikarenakan bantuan Google, sedangkan Sari dan Toni yang awalnya rajin dan pintar malah mendapatkan nilai yang jelek karena ketinggalan Materi. Untuk menghibur kedua anaknya Ibu membuatkan sebuah Kue dari sisa uang yang dipinjamnya.

“Kue ini sangat enak bu, bagaimana jika kita menjualnya” Kata Sari sambil memakan Kue.

“Iya bu, apa lagi sekarang kita sudah ada Handphone, tinggal membuat akun Instagram dan Facebook, lalu kita foto kuenya” Ujar Toni meyakinkan Ibu.

Keesokan harinya Ibu membuat kue yang sangat menggoda dari sisi tampilan dan bahkan memiliki citra rasa yang enak, kemudian Sari dan Toni mempromosikannya. Tidak lupa ibu juga tetap bekerja mencari barang bekas dan membersihkan rumah majikannya dengan dibantu kedua anaknya.

Baca Juga  Cara Membuat Bika Ambon Khas Medan, dijamin Lembut dan Bersarang!

Zennita yang melihat kesungguhan Ibu dan adik-adiknya merasa malu, apa lagi dia sudah tau Ibunya bersusah payah mencari pinjaman uang kesana kemari agar anaknya bisa bersekolah, Ia pun diam-diam membantu Ibunya mempromosikan kue itu, dan mulai rajin belajar dikarenakan dia tau nilai yang dia dapat saat Ujian kemarin bukanlah hasil pemikirannya sendiri, dia juga merasa egois karena telah membuat kedua adiknya yang rajin belajar dan pintar malah mendapatkan nilai yang jelek. Ia kemudian meminta maaf kepada adiknya dan ibunya.

“Maafkan Zennita ya Bu, maafkan kakak ya Sari, Toni, karena kakak kalian jadi ketinggalan materi dan mendapatkan nilai yang jelek, karena kakak juga Ibu harus berutang kesana sini.”Ujar Zennita sambil menangis.

“Tidak apa – apa sayang, maafkan Ibu juga ya tidak bisa memberikan kehidupan yang baik buat kalian, Maafkan Ibu tidak bisa membuat kalian bahagia, maafkan Ibu” Kata Ibu sambil meneteskan air mata.

Hari itupun ditutup dengan penuh kebahagiaan, bisnis kue yang mereka jalankan juga meningkat, Ibu juga bisa membayar hutang-hutangnya. Buat kalian janganlah malas belajar, karena masih banyak orang lain diluar sana yang bersusah payah untuk belajar, belum lagi masalah Kuota, jaringan, bahkan masalah karena Handphone mereka yang sudah ketinggalan zaman, tetaplah rajin belajar baik itu secara online, dan jangan hanya mengandalkan Google saja, tapi andalkanlah pemikiran mu sendiri. Terimakasih.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Penulis : evihtbrt

Gravatar Image
Saya seorang perempuan, merupakan anak tunggal dalam keluarga. Saya kuliah di Universitas Negeri Medan, semester 3. Saya sangat menyukai Menulis maupun Mengarang, dan melalui Lintas Haba, saya berharap saya bisa melatih dan menyalurkan karangan saya. Terimakasih

Comment

Artikel Terkait