by

Cerpen: NAVAGIO 10 TAHUN SILAM

Hidup adalah sebuah perjalanan. Begitulah Azka mengartikannya padaku. Sebuah pengertian yang telah membuatku setuju betapa benarnya hal itu.

Perkenalkan, namaku Aena, nama yang juga kerap dipanggil dengan Ana. Usiaku kini genap dua puluh tujuh tahun dan jika mengikuti rentang usia pernikahan, tentu aku adalah gadis yang telah matang sempurna untuk menikah. Akan tetapi, aku masih belum siap untuk hal demikian. Tentu bukan karena aku tidak menarik bagi kaum Adam, akan tetapi karena aku tahu bahwa pernikahan adalah sesuatu hal yang sangat serius, sedang aku, aku masih saja mengharapkan satu orang yang sama terus menerus.

Ya, pria yang kutemui sepuluh tahun yang lalu. Azka. Hanya dialah satu-satunya pria yang ingin kujadikan teman pendamping hidup. Mungkin terlihat sangat ambisius, akan tetapi aku sungguh sangat serius. Bagiku hanya Azkalah pria yang mampu memahami apa hal yang sebenarnya aku ingini. Termasuk akan segala hal yang kucoba untuk kumanipulasi.

Aku mengalihkan perhatian, tepat pada jarum jam yang berputar melingkar mengelilingi keduabelas angka yang mengangkuhkan dan kini jarum jam tersebut tertambat persis diangka dua belas, memberitahu dengan pasti bahwa saat ini matahari tengah berada di atas bumi. Aku diam sejenak.

Turut membisu seperti apa yang baru saja udara lakukan kepadaku. Hingga gambaran foto Pantai Navagio yang terbingkai  rapi di atas meja perlahan menyita semua rasa yang kendati kujaga sejak lama. Kisah yang tidak mungkin bisa kulalukan dengan begitu saja. Antara aku, Navagio, dan juga Azka.

Kisah lama yang tentunya akan hidup sepanjang masa. Ya, kisah sepuluh tahun silam saat aku pergi berlibur ke Yunani. Negara yang memiliki peradaban tertua di kawasan Benua Eropa yang teramat kucintai. Baiklah, aku akan menceritakannya padamu.

Kisah di bulan Oktober, tepatnya sepuluh tahun yang lalu. Hari dimana aku mendapat tiket gratis untuk pergi berlibur ke Yunani. Tanah abadi yang masih terkenang hingga kini. Benar sekali, saat itu musim panas berkuasa hebat menggerogoti Yunani, akan tetapi waktu itulah waktu yang tepat bagi wisatawan untuk bersantai memanjakan diri.

Salah satunya adalah Navagio, sebuah pantai yang terletak di pulau Zakynthos, Kepulauan Ionia. Mungkin Pantai ini tak asing lagi bagi kamu yang pecinta sejarah. Sama halnya seperti Azka, yang teramat cinta pada dunia dan sejarah.

Tiga belas Oktober. Aku ingat sekali akan tanggal penting itu. Tanggal dimana aku menghabiskan waktu bersama-sama dengan Azka di sebuah Pantai yang ada di Yunani. Navagio. Pantai yang tiap tahunnya akan dikunjungi oleh ratusan ribu wisawatan setiap tahunnya. Pantai yang tak dapat kulukiskan tentang betapa indah dan menakjubkan alamnya. Akan tetapi, aku dapat meyakinkan bahwa Pantai itu akan sama indahnya seperti sepuluh tahun yang lalu, saat pertama kali aku kesana saat dulu.

Baiklah, kala itu matahari bersinar sangat terik, membuat kulitku terasa lengket dan menjadi lembab oleh kucuran keringat yang menggerahkan. Sedang di depan sana, perahu Excursion yang akan membawa para wisatawan menuju Pantai Navagio telah siap sedia menghantarkan penumpang pada surga dunia itu.

Meski demikian, jenis transportasi ini tidak menjamin keamanan absolut bagi penumpang dan tidak disarankan untuk dinaiki oleh wanita seorang diri. Karena itulah aku mengunci niat dengan memilih menaiki kapal bersama rombongan pengunjung lainnya. Tentu saja akan lebih mahal, akan tetapi aku tidak ingin tawar menawar untuk soal keselamatan.

Hari itu tiket kapal diberlakukan dengan ganda, hal inipun dilakukan untuk menghindari kenaikan penumpang asing saat hendak kembali ke pelabuhan. Akan tetapi untuk harga pertiket tetap diberlakukan normal seadanya, yakni dua tiket untuk satu pembelian. Aku sempat ragu untuk membeli tiket tersebut, akan tetapi aku telah meyakinkan diri bahwa keindahan Pantai Naviago akan membebaskanku dari keraguan itu.

Sirene kapal yang kuat dan memekakan telinga terdengar menyambar di udara, membuat langkah kakiku semakin cepat agar sampai tanpa terlambat. Dan ketika aku hendak menyerahkan tiket tersebut kepada petugas, seorang anak kecil yang berlari terburu-buru tidak sengaja menabrakku hingga membuat tiket itu jatuh dan terbang melayang mendapati perairan.

“Excuse me, are you going to get on the ship?” Petugas itu mempertanyakan.

“Sorry, I just lost one of my tickets. Can you help me Sir?” Tanyaku kembali menggunakan bahasa Inggris seadanya.

“Sorry, I can’t help with that.” Petugas tersebut terlihat mengasihaniku.

“The ship has to leave now and you can still get on the ship with a new tickets in the next day.”

Hal yang baru saja petugas itu katakan adalah hal yang benar, hanya saja aku tidak yakin bahwa tiket itu masih bisa kubeli dengan sisa uang yang kumiliki. Baru saja aku menyerah dan hendak meninggalkan kapal, seorang pria tinggi berambut hitam kecoklatan berjalan mendekat dan menghampiri petugas, dengan memberikan sebuah tiket sambil berbisik pelan ditelinganya.

Aku tidak tahu apa yang pria itu katakan, akan tetapi melihat dia yang memberikan tiket kepada petugas membuatku mengerti apa yang ia bisikkan. Setelah selesai berbisik, pria itu kembali pergi, hingga kemudian petugas itu mempersilahkanku untuk segera menaiki kapal.

Keadaan itu sungguh membuatku canggung, akan tetapi aku tidak punya pilihan. Karena itulah aku memberanikan diri mencoba mendekati pria tadi. Seketika degup jantungku terpompa sangat kuat saat berdiri tepat disebelah pria tersebut, membuat nafasku sesak dan menjadi tidak beraturan. Spontan aku menarik nafas panjang lantaran berpegang pada penyangga kapal dengan kedua tangan.

Para wisatawan yang ada di dalam kapal menatap heran padaku, termasuk dia yang ingin kuajak bicara saat itu. Aku mengabaikan semuanya, namun tatapan mereka semakin membuatku terasa sesak. Belum lagi kapal yang kami pakai mulai bergeser dan melaju dengan cepat.

“Are you okay?”

Kedua bola mata pria itu kini melihat padaku, sedang kedua tangannya berusaha menegakkan badanku yang membungkuk ketakutan. Suara miliknya yang terdengar berat sungguh sangat mendamaikan, akan tetapi aku tidak ingin terjebak di dalamnya. Dengan cepat aku menjauhkan tangan pria itu dan berdiri menegakkan badan.

“Thanks for the ticket.” Ucapku tanpa melihat pada pria tersebut.

“Aku mendengarmu berkomentar saat membeli tiket.” Pria itu bersilang tangan dan menyandarkannya pada balkon kapal. “Mahal sekali. Kau berkata demikian bukan?”

“Kau baru saja memakai bahasa Indonesia, apa kau juga datang dari Indonesia?”

“Tidak. Aku hanya mempelajarinya.”

“Maaf, tapi aku ingin berterimakasih lagi untuk tiketnya.” Aku berucap jujur. “Awalnya aku begitu takut mengatakannya, namun setelah mengatakannya aku begitu merasa lega dan terlepaskan.” Jawabku seraya menikmati angin yang berhembus.

“Aku bisa melihatnya.”

“Benarkah?”

Aku menertawakan diri saat itu juga dan mulai menutup mata untuk menenggelamkan diri pada ketenangan yang mendamaikan. Sesekali pula terpaan ombak yang kuat menghantam badan kapal hingga membuatku harus kembali membuka mata. Dua puluh lima menit perjalan akan berakhir dalam tiga menit kedepan. Tepian yang kami harapkan pun mulai terlihat didepan tatapan. Secara perlahan kapal yang kami naiki mulai berhenti. Petugas yang ada di dalam kapal telah mempersilahkan penumpang yang ada didalam untuk menentukan pilihan dalam rentang waktu yang telah ditentukan. Ya, sekitar empat puluh lima menit penungguan untuk turun dari kapal atau tetap di dalam kapal.

“Berdiam di sini hanya akan membuatmu kehilangan kesempatan. Turunlah, akan kutunjukkan tempat yang bagus untukmu.” Pria itu melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.

Aku tidak memberi jawaban, namun aku setuju dan mengikutkan. Dengan berhati-hati aku menurunkan kaki mendapati air di pantai Navagio. Terasa dingin namun menyegarkan. Kakiku yang sedikit sulit dipindahkan kini bergerak lambat mengikuti pijakan yang pria itu sisakan. Semakin jauh dan mulai terpisahkan dari keramaian. Tebing batu karang yang tinggi di sekitaran pantai telah memberi keuntungan yang berlipat bagi wisatawan, yakni menghalangi sinar matahari yang jelas sangat panas serta menambah daya tarik mata untuk tetap bermanja. Pria itu menghentikan langkahnya dan duduk bersandar pada dinding karang. Begitu pula denganku yang sedikit lelah setelah berjalan.

“Aena.” Aku mengulurkan tangan pada pria itu, membuat ia sedikit bingung akan hal yang baru saja aku lakukan secara tiba-tiba. “Kita belum berkenalan sebelumnya.”

“Azka” Jawabnya sembari membalas uluran tanganku.

Tepat pada siang hari itu, di bawah lekukan tebing karang, di hantaran sinar siang yang menyilaukan, di kawanan perairan biru yang mengagungkan, aku telah mendapati satu nama. Nama yang telah kujanjikan pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah melupakannya, nama yang terdengar dekat dan sangat melekat, nama yang kuyakinkan untuk tiada henti akan ku harapkan. Ya, Azka. Akhirnya aku tahu bahwa aku menyukai orang yang memiliki nama itu.

“Pantai Navagio adalah pantai yang memiliki sejarah dengan beberapa lusin kejahatan internasional.” Seketika Azka membuka suara seraya melepas tatapannya pada air biru yang mendamaikan. “Kejahatan penyelundupan yang melibatkan polisi pesisir dari otoritas Yunani untuk penangkapan. Dan secara ajaib, polisi berhasil mencapai jejak kapal dan mulai melakukan penembakan. Akibatnya kru meninggalkan kapal dan melarikan diri di atas kapal. Namun pada akhirnya kapal penyelundup itu tenggelam dan terlemparkan ke pantai Navagio oleh badai.

Sekarang pantai ini masih disebut “Shore Shipwreck” oleh krena fakta bahwa pantai ini adalah kapal panayotis yang dulu digunakan oleh penyelundup.” Azka menghentikan ceritanya dan menyipitkan mata menghindari cahaya yang menyilaukan.

“Kau mempelajari sejarah dengan sangat baik.”

“Aku tidak mempelajarinya. Aku menyukainya.”

“Ya?”

“Sejarah bagiku adalah hidup yang utuh. Dan jika sejarah tidak ada tentu hidup pun terasa tidak nyata. Karena itu pula aku mengartikan bahwa hidup sebagai sebuah perjalanan atas sebuah sejarah ” Azka melirik arloji ditangannya untuk kedua kalinya. “Sudah waktunya untuk kembali. Berdirilah!” Azka mengulurkan tangannya untukku.

Tanpa berlama-lama aku meraih uluran tangan Azka dan berjalan bersama meninggalkan dudukan secara berdampingan. Sirene kapal terdengar kuat untuk memanggil, dan saat itu pula Azka membantuku naik ke atas kapal sebelum ia naik menyusulku. Angin kencang yang bertiup penuh nafsu membuat baju terusan yang kukenakan terkibas beberapa kali.

Azka juga demikian. Rambut hitamnya yang sedikit kecoklatan terlihat acak berantakan, membuatku tertawa penuh kelucuan. Saat itulah Azka menarik tubuhku dengan pelan dan memelukku dalam dekapannya yang hangat. Jantungku kembali berdebar, dan kali ini jauh lebih kuat dari sebelumnya.

“Aku akan tinggal disini, kuharap kau kembali dengan aman tanpa kehilangan tiket lagi.”

Azka melepas pelukannya dan melompat meninggalkan kapal. Dalam hitungan beberapa waktu pintu kapalpun mulai menutup. Para penumpang mulai memasuki ruang dudukan, sedangkan aku masih berdiri dibalkon kapal sembari mencari dimana Azka. Cukup lama dan akhirnya aku melihatnya. Mungkin kau tidak akan percaya, akan tetapi saat itu adalah saat dimana aku membuat keputusan yang tepat. Keputusan yang akan kusesali jika aku tidak melakukannya. Ya, Aku berlari menuju tempat yang sepi, bagian samping kapal yang terhalang oleh beberapa penyangga di bagian tepi.

Dari sanalah aku melompat turun kebawah, dan sesuai dengan lompatan yang kuperhitungkan akhirnya aku berhasil jatuh keair dan berada jauh dari badan kapal. Keberanian yang kuputuskan saat itu membuat aku lupa bahwa aku tidak bisa berenang, hingga secara perlahan aku merasa bahwa tubuh dan jiwaku mulai saling menjauh dan terpisahkan. Kelopak mataku turut melemah dan tak lagi mampu tuk membuka, hingga pada akhirnya aku sadar bahwa itu adalah waktunya.

Badanku yang saat itu terasa kaku dan membeku kini kurasa sedikit ringan dan mudah digerakkan. Telinga yang tadinya juga telah redup untuk mendengar kini terasa bising oleh sebuah nama yang terdengar berulang-ulang. Meski berat, aku masih berusaha untuk tetap membuka mata. Alhasil mata itu akhirnya berhasil terbuka. Seorang pria yang terlihat penuh kekhawatiran menangis menatapiku dari atas. Seluruh tubuhnya basah dan terlihat tak berdaya.

“Azka..” Ucapku mengenali pria yang menangis di hadapanku.

Azka memelukku. Ia menangis dan tak mau melepaskanku. Aku tidak tahu mengapa ia melakukan hal itu, aku hanya tahu akan hal mengapa aku memilih untuk melakukannya. Tak lain karena aku menyukai pria itu. Azka. Namun saat ia mendekap tubuhku dengan kedua tangannya, aku mulai menyadari akan hal lainnya, yaitu bahwa pelukan Azka jauh lebih damai dari Pantai Navagio, jauh lebih hangat dari sinar mentari yang ada di Yunani, jauh lebih menenangkan dari lekukan tebing yang menyejukkan. Sungguh, aku tidak mau lepas dari pelukan itu, akan tetapi aku harus meyakinkan Azka bahwa aku baik-baik saja. Dekapan Azka kujauhkan dengan lembut daripadaku, dan kini kedua bola mataku terarah lurus pada Azka. Aku menarik bibirku dan tersenyum kepadanya. Ia tertawa sementara sebelum ia kembali meneteskan air mata.

“Kau membiarkanku naik ke kapal karena tiket milikmu telah tergantikan untukku bukan?” Tanyaku penuh keyakinan.

Azka menganggukkan kepala lantaran semakin kuat menangis. Azka saat itu adalah Azka yang tidak pernah aku bayangkan. Dan setiap aku ingat tentang bagaimana Azka menangis ketika itu air matakupun akan turut jatuh dan melapuh. Aku ingat sekali saat itu, saat dimana Azka membutuhkan waktu yang sangat lama sebelum ia berhasil menyudahi air matanya.

“Seharusnya aku tidak menangis di hadapan seorang wanita.” Azka menyudahi tangisannya dan menegarkan pundak bahunya. “Apa kau sungguh baik-baik saja?” Tanyanya dengan kantung mata yang telah membengkak.

Aku hanya bisa mengangguk waktu itu, akan tetapi aku yakin Azka tentu mempercayaiku. Pantai Navagio hari itu telah sepi. Kapal telah kembali ke pelabuhan, wisatawan telah kembali ke penginapan, dan kami tertinggal dengan keheningan. Berdua bersama di gua tebing yang penuh dengan kegelapan. Untung saja sinar rembulan dengan bintang yang meramaikan memberi penyinaran yang telah menyingkirkan sebagian kegelapan.

Malam itu, di sudut karang tebing yang meninggi, aku melihat azka menulis sesuatu di atas kertas. Sesudahnya ia melipat kebali kertas tersebut dan menyimpannya disaku depan bajunya. Ia menoleh padaku dan datang mendekatiku. Aku tidak dapat menceritakan bagaimana kisah selanjutnya, akan tetapi hari itu adalah hari yang tidak akan pernah kulupakan.

“Mama..”

Suara yang mengayun manja itu menghentikan ingatanku dalam seketika. Kedua bola mata milikku yang hitam dan juga jernih mulai menoleh pada arah suara, tepat pada Yua yang berdiri lemas sambil menggosok kedua matanya. Aku tersenyum seraya melebarkan kedua tangan menunggu anak sembilan tahun itu datang dan mendekat.

“Kau bangun?” Tanyaku sambil mengecup bibirnya yang kecil.

“Aku bermimpi.” Yua mengusap kedua matanya. “Aku bermimpi tentang papah. Dia memegang tanganku dan membawaku pergi ketempat yang jauh. Ketempat yang penuh dengan air biru.”

Yua berhenti bercerita. Dalam sekejap itulah air mata hangat jatuh bergulir dari pelupuk mataku. Jari jemari yang awalnya kaku mengingat akan hal yang telah lama berlalu itu kini telah bergetar tanpa sadar. Aku menarik Yua lebih dekat dan mulai mendekap badannya yang mungil dengan teramat kuat.

“Mama, apa Papah sungguh tidak akan kembali?”

Yua kembali menanyakan hal yang telah sering ia pertanyakan, menghantarkan aku kembali pada kejadian yang terjadi pada pagi harinya kala itu. Tepatnya di Pantai Navagio. Ketika angin dingin begitu tajam menusuk tulang, ketika matahari masih saja terlihat usang, aku terbangun menyadari ada hal yang terhilang. Tubuh Azka tak lagi hangat seperti pertama kali kami bertemu, ia kini kaku dengan wajahnya pucat membiru. Kertas yang malam itu disimpan oleh Azka pada saku bajunya kuambil dan kubaca. Bola mata milikku kini bergerak cepat mengikuti jalan kalimat yang ia catat.

Pantai Navagio. Aku memilih tempat indah ini sebagai tempat berarti sebelum semuanya akan berhenti. Aena. Aku tidak pernah memilihnya sebagai teman berbagi kedamaian, namun ia datang begitu saja, seperti telah ditakdirkan. Sungguh, begitu semua telah ditakdirkan, siapakah yang dapat menjauhkan?  Demikianlah Aena dan juga kematian.

Pagi itu Pantai Navagio penuh dengan tangisan, bahkan sampai siang dan hingga kapal wisatawan mulai berdatangan. Mereka yang mendengar suara tangisan yang kusuarakan telah membuat mereka sibuk mencari, hingga mendapatkan.

Seluruh wisatawan yang melihat menjerit penuh dengan ketakutan, sedang pihak keamanan mulai datang dan membawaku dalam penangkapan untuk diinterogasi mendapatkan keterangan, Sedang Azka, ia diautopsi hari itu juga.

Untung saja dokter A.JJ yang hendak melakukan autopsi tersebut mengenali Azka. Iapun memberi pernyataan bahwa Azka sebelumnya telah didiagnosa akan meninggal pada hari dan waktu yang sesuai dengan pengakuan yang kuutarakan. Hal itu juga masih sempat diragukan oleh pihak keamanan, akan tetapi surat yang dituliskan oleh Azka telah membulatkan hasil penilaian. Alhasil aku dibebaskan dari tuduhan pembunuhan dan Azka berhasil disemayamkan tanpa pengautopsian.

Aku mengikhlaskan Azka hari itu akan tetapi aku tidak bisa melupakannya sejak hari itu. Pengakuan dokter A.JJ. akhirnya membuatku mengerti tentang alasan dibalik Azka yang sangat suka melirik arlojinya, alasan mengapa Azka begitu mudah memberikan tiketnya hingga alasan mengapa Azka menangis tanpa henti pada waktu itu juga. Sungguh, hal yang sangat menyakitkan bagiku.

“Mama, apa Mama menangis?”

Yua melepas dirinya dari pelukanku dengan tatapan polos yang ia tampilkan didepanku. Tangannya yang kecil bergerak lembut mengusap air mata yang membasahi kedua pipiku. Detik itu pula aku semakin yakin, bahwa mengenal Azka bukanlah sebuah penyesalan dan bukanlah sebuah kesalahan. Melainkan keberuntungan yang teramat aku sayangkan. Dan Yua, dia adalah bukti dari cinta yang tak akan pernah aku sesali.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk

Baca Juga  Serebuk Daun Bebele: Makanan Sehat di Kala Penat

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait