by

Cerpen: Menunggu Pulang

Siang beranjak sore, langit tampak berlapis awan hitam tebal, hanya tinggal menunggu waktu air hujan jatuh ke bumi, sesekali terdengar gemuruh dari langit, membuat bulu kuduk berdiri dan ingin berlari mencari perlindungan di bawah atap rumah.

Biasanya sore begini, masih ramai anak-anak bermain di tepian pantai. Tapi tidak kali ini, mungkin mereka sedang di rumah masing-masing, menikmati semangkuk makanan hangat buatan ibu mereka, atau sekedar mendekam di rumah karena larangan keluar dari orang tua mereka.

Hanya ada seorang anak tampak dari kejauhan, duduk di batu karang menatap tajam ke arah lautan, entah apa yang ada di pikirannya.

Beberapa saat langit semakin gelap, rintik itu mulai turun tanpa ragu semakin memburu.

“Radit, pulang nak”, Teriakku pada anak berusia 4 tahun itu. Ya, dia anakku, setiap sore dia selalu duduk di pantai itu, menatap jauh penuh harap, mungkin selalu melekat di pikirannya ketika dia bertanya “Apakah itu batas lautan?” Sambil menunjuk sejauh mata memandang, tidak kataku, jauh di sana ada sisi dunia yang lain, tidak terjangkau lagi oleh mata, dia terdiam dan kembali bermain dengan pikirannya.

“Ayok bu”, Aku terkejut ketika tangan kecil itu telah meraih dan menarik tanganku, kami berlari kecil menuju rumah yang tak jauh dari pantai. Tak sampai satu menit aku dan radit sudah berada dalam rumah. Ini rumah sederhana kami, ruang tamu 3 x 4, satu kamar tidur, dapur sederhana dan kamar mandi kecil di paling belakang. Cukup luas kurasa untuk aku tinggali berdua dengan Radit.

“Lapar bu” kata Radit, membuat pikiranku berputar mencari apa bahan makanan yang bisa dimasak di dapur. Oh, aku ingat, ubi yang kemarin kubeli di pasar masih tersisa di dapur, dengan sigap aku menuju dapur lalu merebusnya. Radit yang dari tadi di ruang tamu datang menghampiriku di dapur, menemaniku sambil menunggu ubi rebus matang.

Baca Juga  Cerpen: Cahaya di Tengah Corona

“Bu, ayah kapan pulang?”, aku terhenyak ketika Radit kembali bertanya tentang ayahnya.

“Suatu hari” jawabanku masih saja sama, meski jauh di lubuk hatiku aku yakin suamiku itu tidak akan kembali lagi. Ya, sudah hampir sebulan yang lalu dia menghilang bersama perahu kecil di hamparan luas lautan.

Ah! Andai saja hari itu aku lebih keras lagi melarangnya untuk pergi, tapi janjinya membelikan mainan baru untuk Radit membuat dia begitu keras kepala saat itu.

“Tenang saja, aku hanya sebentar” katanya meyakinkanku. Laki-laki baik itu selalu berhasil menjadi suami dan ayah yang istimewa.


Siang ini sangat berbeda dengan kemarin, hujan telah berganti dengan langit yang sangat cerah, dari kejauhan Radit berlari tergopoh-gopoh ke arahku. Aku masih berdiri di depan pintu menatap ke arahnya.

“Mak Ayah pulang” katanya membuat aku terkesiap.

“Apa yang kamu bilang nak?” pikiranku buyar, aku hanya mengelus kepalanya, dengan harapan dia bisa lebih tenang dan menerima keadaan.

“Perahu Samsul ditemukan Nur” kata mak Minah tetanggaku yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.

“Kan mak, apa aku bilang, mungkin ayah juga ada” perkataan Radit kembai membuat hatiku terguncang, bagaimana kujelaskan padanya, aku benar-benar tak sanggup mematahkan harapannya. Setiap sore dia selalu menunggu di pinggir laut, dimana biasanya perahu ayahnya muncul.

“Ayah belum pulang katanya nak” suaraku serak menahan tangis, mak minah hanya menghela napas panjang.

Laki-laki kecilku bersedih hatinya, dia kembali berjalan menuju arah pantai yang tidak jauh dari rumah, jarak pandang hanya terhalang beberapa pohon kelapa saja, dari halaman rumah dapat kupastikan, Radit telah kembali duduk di tepian pantai, dengan lara dan harapan yang sepertinya masih sama besarnya dari hari pertama ayahnya tak pulang.

Baca Juga  Cerpen: Perjalanan Hidupku

Sore kembali datang, siapa sangka cerahnya siang bisa berubah lagi menjadi awan hitam pekat mengerikan, sepertinya akan ada badai sebentar lagi.

Aku menuju pinggir pantai dan mendatangi tempat Radit biasa duduk, dan dia tetap di sana, awan gelap tak menyurutkan niat awalnya. Menemukan kenyataan bahwa Radit tak beranjak dari sana dalam waktu singkat meluruhkan segala tegarku, hatiku hancur menjadi kepingan yang sangat kecil.

“Ayo pulang nak” kataku lalu memegang kedua tangan putraku itu,

“Tunggu Ayah dulu” katanya, membuat aku sedikit kesal, padahal hujan sudah mulai turun dan semakin deras saja.

Kutarik tangannya, agar dia segera bangkit dari duduknya.

“Ayah tak pulang kan Mak” katanya dengan suara serak, tangisnya telah di ujung, mata yang awalnya tegas dan penuh harap itu, kini sayu menatap ke arahku, nampaknya dia telah lelah menunggu setelah mengetahui, hanya perahu ayahnya yang pulang.

Aku menatap matanya tajam, lalu kugelengkan kepalaku, pertanda bahwa tak ada lagi yang perlu ditunggunya, tak ada yang akan pulang.

Kini kupeluk dia erat, air mataku dan matanya luruh berbaur dengan air hujan. Kami tenggelam dalam kesedihan dan harapan yang kami kubur dalam.

Penulis : Ye Je

Gravatar Image
Menulis untuk belajar, penyuka hujan dan pantai

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait