by

Cerpen: Menjadi Apapun

 

Hujan tak kunjung berhenti hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengetik ini. Sambil mengingat kembali tahun-tahun menyenangkan dengan keempat anakku. Kini, aku sedang menikmati Tahun-tahun menyenangkan bersama cucu-cucuku.

Andai Anna masih disini, menemani bujang lapuk yang sudah bau tanah ini. Aku kesepian, Anna. Sejak kau melahirkan Michelle, kau tidak pernah bangun lagi. Kau meninggalkan aku dengan keempat buah hati kita. Aku sangat merindukanmu.

Bukan masalah besar bagiku untuk membesarkan 1 Anak laki-laki dan 3 Anak perempuan sendirian. Toh, aku seorang kontraktor lulusan S3 Sipil dengan gaji yang lumayan. Membesarkan mereka, bukanlah masalah besar! Sungguh, aku hanya sering kesepian ketika mengingat mendiang istriku.

Menikah lagi bukanlah pilihan yang kutempuh, karena pikiranku yang selalu tertuju pada Anna. Bagaimana bisa aku menikah lagi sedangkan Anna sendirian di alam sana? Tidak, aku ingin menemaninya kelak.

Anak-anakku adalah anak yang hebat. Mereka akan menjadi generasi penerusku. Romeo dengan gelar Sipilnya, ia pasti akan menjadi kontraktor yang hebat! Sedangkan Manna, Poppy dan Michelle kelak akan menjadi Dokter idaman seluruh pria di dunia ini.

Romeo, adalah anak sulungku. Ia tampan sepertiku, badannya tinggi dan tegap sekali. Romeo sangat menyukai olahraga, jadi jangan heran kalau badannya sangat sixpack. Wanita mana yang tidak luluh padanya? Ia juga sangat penurut, apapun yang aku katakan selalu ia dengar. Romeo adalah cermin seorang kakak yang baik dan patut diacungi jempol.

Kau tau? Romeo meninggal dunia ketika aku sedang mengadakan meeting dengan kantorku. Saat itu, Romeo masih semester 5 di kampusnya. Ia mengalami kecelakaan tunggal. Jangan tanya bagaimana perasaanku, tentu saja sangat hancur. Sejak itu, aku menjadi satu-satunya lelaki yang tersisa di keluarga kecil kami.

3 Tahun berlalu sejak kepergian Romeo. Saat itu musim hujan ketika kami sedang berbincang sambil menikmati makan malam.

“Papi, kalau Michelle ikutan les Piano boleh gak sih?” Ucap putri bungsuku sambil mengunyah telur dadarnya.

“Boleh dong, masa papi ngelarang hobi anak kesayangan papi? Jadi mau dimana daftarnya? Besok daftar bareng Sus Anne ya!” Jawabku sambil mengunyah telur dadar juga. Sus Anne adalah panggilan untuk pengasuh anak-anakku. Michelle pada saat itu masih kelas 3 SMA, yang di tahun berikutnya akan memasuki jenjang kuliah.

“Manna, Poppy, gimana kuliah kalian? Lancar, kan? Manna tinggal bikin skripsi aja ya?” Tanyaku sambil membuka obrolan kembali

“Lancar kok paps, doain aja supaya skripsinya gak mandet” Jawab Manna dengan sedikit tersenyum. Saat itu, Manna Semester Akhir dan Poppy masih semester 4.

“Kalau poppy sih, lancar-lancar juga paps. Doain aja” Jawab Poppy

“Nah, Michelle. Kamu ikutin jejak kakak-kakakmu ya! Tahun depan, kamu yang bakal jadi calon dokter. Kayak Kak Manna dan Poppy!” Ucapku sambil menyemangati Michelle. Michelle hanya mengangguk sambil tersenyum. Mulutnya sangat penuh dengan makanan.

Tepat sebulan kemudian, Michelle kembali merayu papi-nya ini. Kali ini, ia minta untuk dibelikan Gitar terbaru.

“Papi, Michelle mau punya gitar. Enak, kalau lagi hujan main gitar! Vibesnya dapet banget!”

“Boleh, tapi belajar tetep nomor satu ya!”

“Siap papi!”

Hari itu juga, Aku menemaninya membeli gitar di salah satu Mall terdekat dari rumah.

Kau tau? dua minggu setelah gitar, Michelle ingin diikuti les Musik. Aku tau, ia sangat terobsesi dengan musik. Tapi, bagaimana ia mengatur jam belajarnya dengan jam lesnya yang bertubi-tubi ini?

“Papii, aku kan suka banget musik! Aku janji, Nilai pelajaran aku gak akan ngurang kok! Malahan, aku bakal semakin semangat kalau hobi aku didukung sama papi! Papi, aku cuma punya papi lho di dunia ini.. Papi terganteng sejagaatt rayaa!” Ucap Michelle dengan wajah memelasnya. Ia selalu berhasil membujukku. Berbeda dengan Manna dan Poppy, Michelle memang sangat manja sekali. Mungkin karena ia anak bungsu?

Tebakanmu benar jika kau menebak bahwa Michelle akan meminta sesuatu lagi. Dua bulan dari les Musik, iya ingin dibelikan seperangkat alat musik! Flute, biola, dan masih banyak lagi. Sebenarnya aku bukan tidak mampu, hanya saja aku mengkhawatirkan pelajarannya. Jika ia terlalu banyak bermain, ia tidak akan fokus dengan masa depannya nanti. Apalagi, Michelle akan lulus dalam 6 bulan ke depan.

Baca Juga  Membuat Mie Setan ala Gacoan Sendiri di Rumah? Siapa Takut! Berikut Resep Mie Gacoan Anti Gagal

“Maaf, Michelle. Kali ini enggak dulu ya.” Kataku pada akhirnya

“Lho, Papi, aku kan cuma punya papi..-“

“Papi bilang enggak, ya enggak, Michelle. Kamu harus fokus untuk masa depan kamu. 6 Bulan lagi, Kamu lulus sekolah. Mau jadi apa kamu nanti kalau gak dipersiapkan dari sekarang? Papi terlalu manjain kamu.”

“Papi, Michelle kan udah janji bakal pertahanin nilai Michelle.”

“Kalau cuma janji, semua orang bisa, Nak.”

“Papi enggak percaya lagi sama Michelle?”

“Gimana kalau begini aja. Kamu buktiin dulu sama papi, dengan nilai kelulusan kamu. Kalau nilai kamu bagus, Papi bakal beliin semua yang kamu mau. Flute, Biola, Piano, Sampai gendang juga papi beliin!”

Michelle hanya pergi dengan muka sedikit memelasnya. Sebenarnya aku tidak suka melihatnya sedih, tetapi akan kulakukan demi masa depan anakku.

Aneh tapi nyata, Anakku memang yang terhebat. Ia membuktikan bahwa ia mampu mempertahankan nilai sekolahnya. Ia bahkan menjadi siswa dengan nilai terbaik di sekolahnya. Michelle Audreyna Sato. Anak bungsuku, ia memang hebat!

Sesuai dengan janjiku, tepat setelah kelulusan aku membawanya ke Toko Alat musik terdekat dan membelikannya semua yang ia inginkan. Bahkan ketika ia meminta dibuatkan ruangan khusus alat musiknya, aku langsung buatkan. Demi putri kecilku yang hebat. Berharap setelah ini, Michelle semakin semangat belajar untuk menggapai impian! Apalagi kurang dari dua bulan ia harus mengikuti tes masuk Universitas.

Dua bulan berlalu, Tes masuk Universitas sudah Michelle ikuti. Saat itu Tinggal menunggu hasilnya saja, sampai suatu ketika Manna dan Poppy datang menghampiriku dengan wajah ketusnya.

“Ini tidak adil, Paps” kata Poppy membuka pembicaraan.

“Ada apa?” kataku dengan bingung.

“Kenapa Michelle papi izinin masuk Fakultas seni? Bukannya sedari dulu papi selalu minta kita semua jadi dokter? Apa karna Michelle anak bungsu, jadi selalu diemaskan?” Poppy menggerutu tanpa memberiku celah untuk memotong pembicarannya. Manna hanya diam sambil menenangkan adiknya yang sedang marah-marah tersebut.

“Siapa yang bilang Michelle daftar Fakultas seni?”

“Michelle sendiri yang bilang!”

“Poppy, pelan-pelan ngomongnya.” Manna terus menenangkan Poppy agar tidak terbawa emosi.

Sebelum memutuskan untuk meneriaki Michelle, kudengar langkah kakinya sudah menuruni tangga. Michelle bergabung ke dalam obrolan sengit yang sedang kami hadapi.

“Michelle, Kamu daftar Kuliah fakultas kedokteran kan, Nak?” Tanyaku dengan sangat hati-hati. Aku belum percaya dengan apa yang dikatakan Poppy, sebelum mendengar langsung dari putri kecilku.

Michelle hanya diam. Tidak memberikan respon untuk beberapa saat, sampai akhirnya ia membuka percakapannya.

“Iya, paps” katanya

“MICHELLE!” Untuk pertama kali dalam hidupku, aku meneriaki anakku dengan wajah yang saat itu aku tidak bisa bayangkan. Hatiku sangat-sangat hancur.

“Kenapa, paps?” Jawab Michelle dengan santainya.

“Kenapa? apa maksud kamu nanya kenapa? Papi yang harusnya tanya, kenapa kamu gak diskusi dulu sama papi?”

“for what? hasilnya akan sama kayak kak Manna dan kak Poppy, Papi akan memaksa aku untuk jadi Dokter.”

“Apa salahnya jadi dokter?”

“Gak salah apa-apa. Jadi dokter keren sih, tapi aku mau jadi Musisi aja. Lebih cool”

“Michelle! Kamu bukan anak kecil lagi! Ini bukan perkara main-main”

“Justru karena aku bukan anak kecil lagi, aku gak mau terus-terusan disetir sama Papi. Michelle punya pilihan hidup sendiri, Paps.”

“Orang tua cuma mau yang terbaik untuk anaknya! Kamu gak akan ngerti karena kamu belum jadi orang tua!”

“Kalau aku jadi orang tua, aku gak akan mau jadi orang tua kayak papi!”

“Pokoknya kamu ambil jurusan Kedokteran, Michelle!”

“Papi,Please. Ini hidup aku. Izinin aku nikmatin hidup aku sendiri.”

“Apa yang bisa kamu bikin kamu bahagia? Emang gaji musisi berapa sih kakau dibandingi Dokter?”

“PAPI! Musisi mungkin gajinya kecil, Tapi aku akan bahagia, paps! Papi mau aku bahagia kan? Dari kecil, aku udah nurutin apa kata Papi! Tolong kali ini aja, Papi yang nurutin apa maunya ak—“

Baca Juga  Cerpen: PAKAI HATI

“Michelle CUKUP! Papi akan tarik semua berkas kamu, papi daftarin kamu ke Fakultas Kedokteran!”

“Papi yang cukup! Cukup untuk papi mengatur masa depan anak-anak papi! Udah cukup kak Romeo yang jadi korban! jangan ada lagi!!!” Tangis dan Teriakan Michelle akhirnya pecah di sana.

PLAKK. Suara tamparan kencang terdengar. Manna yang sedari tadi memperhatikan, tiba-tiba menampar Michelle dengan cukup keras.

“Kenapa, kak? Kenapa kak Manna nampar aku? Kak Manna iri sama aku karena gak punya keberanian untuk melawan papi?” Ucap Michelle sambil memegang pipinya yang merah.

“Kamu gak sepatutnya ngomong begitu di hadapan papi kamu sendiri, Michelle!”

“Kenapa gak boleh? Emang kenyataannya begitu kan kak? Iya kan kak poppy? Bertahun-tahun Kakak sembunyiin semuanya dari Papi. Tapi papi perlu tau! Papi perlu tau supaya papi gak selalu menganggap anak-anaknya ini Robot!”

“Michelle lebih baik kamu jangan terusin omongan kamu!” Manna semakin emosi, tetapi aku tahan emosinya agar Michelle melanjutkan omongannya. Kata-kata berikutnya membuat aku hampir terkena stroke dibuatnya.

“Kak Romeo bunuh diri! Kak Romeo Meninggal bukan murni kecelakaan. Dia jatuhin diri ke Jurang! Papi tau kenapa? Karena papi selalu minta Kak Romeo untuk jadi Kontraktor! Andai sekali aja papi tanya apa maunya kak Romeo, dia mungkin masih ada sampai hari ini. Papi tau dimana ironisnya? Ironisnya, kasus kak Romeo dianggep Kecelakaan. Padahal aslinya, Kak Romeo dibunuh! Dibunuh oleh ekspektasi papi!” Sambil berderai air mata, Michelle menjelaskan.

PLAKK. Tamparan kedua meluncur di pipi anak bungsuku. Kali ini, tanganku sendiri yang bergerak. Rasanya refleks tanpa aku rencanakan.

“Jangan pernah bilang anak papi ada yang bunuh diri. Papi gak pernah punya anak yang bermental bunuh diri!”

“Papi kejam! Padahal papi tau Kak Romeo suka sastra, tapi Papi gak pernah izinin kak Romeo untuk jadi penyair. Semua yang ada di otak papi cuma apa yang papi inginkan!”

“Apa bukti kalau anak papi bunuh diri? Jangan seenaknya kamu kalau bicara, Michelle!”

“Apa papi pernah tau kalau kak Romeo punya website pribadi? Apa papi pernah buka laptop kak Romeo dan liat isi notes nya? Apa papi pernah sekali aja penasaran dengan buku catatan kak Romeo? Enggak sama sekali, papi. Papi cuma mikirin gimana perkembangan anak papi menjadi Kontraktor. ITU AJA.” Michelle mengakhiri percakapannya kemudian pergi meninggalkan rumah. Aku tidak tau dia kemana, seingatku, dia tidak membawa apapun.

Aku masih berdiam di tempat. Manna terus menangis di lututku sambil memohon maaf. Maaf karena tidak bisa membimbing Michelle menjadi anak yang sopan, katanya. Maaf untuk segala perkataan Michelle, Pokoknya semua yang Michelle lakukan, Manna yang mewakili untuk meminta maaf. Sedangkan Poppy, ia memilih berdiam di kamar sambil mengunci pintu. Mungkin ia pun perlu waktu.

“Manna, apa isi buku harian terakhir Romeo?” kataku sambil membangunkan Manna yang terus berlutut di kaki ku.

“i think you no need to know, paps.”

“i need that. so, tell me even it’s hurt.”

Manna berdiri dengan terpaksa. Wajahnya sangat sedih, dan matanya bengkak karena menangis tanpa henti. Ia berjalan terhuyung-huyung menuju kamar dan kembali membawa buku harian Romeo.

Aku membuka 3 halaman terakhir.

Jakarta, 3 Mei 2017

Manusia diciptakan oleh Tuhan.

diatur oleh ketentuan Tuhan.

Tapi, tahukah kau wahai buku, ada

Manusia yang harus diatur oleh keadaan.

Bukan keterbatasan Ekonomi, justru karena kelebihan ekonomi.

Perekonomian membutakan segala hal

Manusia itu ingin menjadi yang lain, tapi harus menjadi yang ini.

Manusia itu adalah Aku.

Setiap saat, Setiap kesempatan, Papi selalu bilang aku ini hebat.

Aku adalah kontraktor Hebat. Aku mampu merubah dunia. Aku akan menjadi manusia dengan gaji 4 digit.

“Romeo Akagi Irdi. Kelak dewasa, kamu pasti akan jadi Kontraktor hebat!” Katanya ketika aku baru saja dilahirkan.

“Romeo, Ikut les matematika ya. Calon Kontraktor harus pandai berhitung!” Katanya lagi ketika aku SMA.

“Jangan buku Antologi, Romeo.” Katanya ketika aku membaca kumpulan Puisi di Toko Buku.

“Para Client, Kenalin. Ini Anak saya. Calon Kontraktor pengganti saya. Yah, Pastinya dia akan jauh lebih hebat dari saya!”

Selalu saja. Aku ini Romeo, bukan Kontraktor. Sarjana saja belum.

Tapi Tidak apa-apa. Aku ini Romeo

Romeo bersifat Bijak dan penyayang.

Seperti Romeo yang menyayangi Julietnya.

Julietku adalah Manna, Poppy, dan si Kecil Michelle.

Jakarta 20 Mei 2017

Menyayangi seseorang butuh pengorbanan, ya.

Bagaimana kalau kau menyayangi dua hal yang bertentangan

satu sama lain? Seperti kau menyayangi Surga,

tapi kau juga menyayangi sang Neraka yang jahat. Mana

yang kau pilih?

 

Baca Juga  Resep Masakan Balado Pentol Pedas

Hei Juliet, taukah engkau? Dalam cinta, apapun dapat dilakukan.

Aku mencintamu, maka aku akan melakukan apapun untukmu.

Juliet, aku bingung. Kalau bukan aku yang berkorban, lalu siapa?

Kalau bukan sekarang, lalu kapan? Aku harap kau mengerti.

 

Ini akan sangat sakit. Bahkan untuk Julietku.

Tapi percayalah Juliet, aku melakukan ini semata-mata karena aku menyayangi-Mu. Kalau aku tidak ada, tolong jaga dirimu baik-baik.

Aku selalu mencintaimu dari manapun.

 

Jakarta, 1 Juni 2017

Hari ini tiba. Aku akan dieksekusi.

Tuhan, tolong lindungi para Julietku.

Permudah urusan dan keinginannya.

Jangan jadi seperti Romeo.

 

Romeo lemah yang memilih jalan pintas.

Jalan pintas yang tidak menyelesaikan masalah.

Bukan salah papi, ini adalah keputusan Romeo.

Cukup Romeo. Jangan Juliet juga.

Aku harap papi mengerti.

Papi, aku mencintaimu.

Maaf tidak bisa meneruskan jejakmu.

Papi, aku ingin dikenal sebagai Romeo.

Aku Romeo, bukan Kontraktor.

Air mataku mengalir dengan tidak terkendali. Bagaimana bisa aku tidak pernah tau bahwa Anakku, Romeo, menyimpan begitu banyak beban dalam hidupnya. Padahal, Romeo pasti menginginkan aku untuk membacanya. Agar aku, si manusia egois ini, dapat mengikuti apa yang anakku inginkan. Agar cukup Romeo saja yang terbebani, Jangan anak-anakku yang lain.

Kupeluk anakku, Manna, sambil memohon maaf kepadanya. Memohon atas segala dosaku yang terus menuntutnya menjadi Dokter. Kuakui aku egois, tetapi percayalah bahwa ini semua semata-mata karena aku ingin anakku menjadi anak yang sukses.

“Kalau Poppy dan Michelle Protes, biarlah aku yang menjadi satu-satunya yang masih menuruti apa mau papi. Aku tidak pernah kecewa menjadi Dokter, karena yang kuinginkan, adalah bisa menjaga papi di hari tua nanti. Aku cuma punya papi, Papi yang sekaligus jadi Mami buat aku. Papi, Maaf karena merahasiakan Catatan Harian kak Romeo. Aku hanya tidak ingin melukai perasaan papi” Kata Manna sambil membalas pelukanku dengan erat.

Setelah hari itu, Semuanya berubah. Poppy berhenti dari kuliahnya dan mengambil jurusan Fashion. Dia memang harus memulai dari awal, Tetapi tidak masalah baginya karena itu kebahagiaannya. Sedangkan Michelle, dia tetap dengan ambisinya menjadi Musisi.

Keberanian Michelle membuka segala hal. Membuka mata dan pikiranku bahwa Kebahagiaan orang bukan dari standarisasi orang lain. Walaupun dia bungsuku, tetapi dia berjiwa besar. dan Pemberani.

Anna, Maaf karena sempat mengecewakan anak kita. Titip maafku ke Romeo, ya. Mungkin hanya itu yang bisa kusampaikan ke mendiang istriku. Dia pasti tersenyum dari kejauhan. Romeo, papi berharap kamu bahagia di sana. Tolong ampuni papi.

“Kakek, Temenin Yoshua main bola, Yuk!” Ucap Bocah berusia 5 tahun menyadarkan lamunanku.

Oh, ya, Yoshua adalah Cucu pertamaku dari Manna.

“Yuk!” Kataku tanpa basa-basi.

Akhirnya permainan pun dimulai. Meski hanya berdua, Rasanya sangat senang bermain dengan cucu kandungku.

“Yoshua!” Kataku di tengah permainan.

“Iya,kek?”

“Kalau kamu suka main bola, kelak dewasa nanti, Jadilah pemain Bola yang profesional! Atau, jadilah apapun yang Yoshua inginkan!”

Yoshua mengangguk sambil tersenyum.

Tamat.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

131 comments

  1. Isi cerita nya bagus, terdapat nilai moralnya yaitu kebahagiaan seseorang tdk bisa diliat dari standarisasi sudut pandang org lain.

  2. Sebuah cerpen yang sangat menyentuh hati dengan kisah yang mampu menyuarakan isi hati semua anak di muka bumi ini dan membuka mata semua orang tua untuk melihat lagi ke dalam diri anaknya. Apa kelebihan mereka yang bisa dikembangkan. Semoga para pembaca terinspirasi dan mendapat ilmu baru dalam menjadi orang tua yang baik.

Artikel Terkait