by

Cerpen: Melan

Bagi seorang musisi jalanan sepertiku, mendapatkan antusias dari orang-orang bukanlah hal yg mudah. sempat rame dimana-mana, namun sekarang udah mulai sepi. sampai teman karib ku bilang:

‘dah lah mat mending lu nyari kerjaan yg jelas aja’.

‘eh kerja bukan tentang jelas gajelas tapi tentang berusaha sesuai apa yg kita minati’ ujarku, berani. dia mengangguk tertegun.

Namun ada satu alasan lagi mengapa aku tetap meneruskan karierku sebagai musisi jalanan, itu karena Melan. Iya melan, wanita yang setiap hari menemani dan mendengarkan lagu ku meski orang-orang bilang ‘suara lu bikin ngantuk’.

Melan penuh teka-teki, aku ingat hari itu. dia membawakan dua gelas es taro yg bahkan tak banyak orang yg tau bahwa itu adalah minuman kesukaanku, entah lah mungkin itu hanya kebetulan.

‘nih minum!’ ujar melan sambil memberiku minuman tadi.

‘kok bisa tau’ ujarku.

‘tau apaan’ tanya melan heran.

‘ngga’ ujarku mengelak.

‘eh coklat atau taro enakan mana ya’ tanya melan.

‘rasa strawberry’ jawabku bercanda.

‘gaada dipertanyaan rahmat’ ujar melan.

‘lagi pun udah jelas ya, enakan coklat’.

Aku menatap es taro dan menjawab ‘iya kalo taro nya udah gaada di bumi lagi’

‘jadi menurut kamu enakan taro’ tanya melan penasaran

‘strawberry’ jawabku tertawa sambil menatap wajahnya, ia pun ikut tertawa dan kami pun melanjutkan debat aneh yg membuatku tak berhenti tersenyum saat aku memikirkannya.

Hari pun berlanjut, hari ini terlalu sibuk untuk hari rabu. ditempatku biasa mangkal aku menunggu kedatangan Melan dan ingin memberikan ia sebuah hadiah kecil yg aku beli sebelum aku sampai di sini, namun ada yang aneh, melan tak kunjung datang, aku sudah menunggu sampai jam 10 malam hari ini. Aku pun pulang dengan penuh harapan agar melan menghampiriku esok hari.

Esoknya aku masih membawa hadiah yang kemarin, berharap melan menghampiriku hari ini, namun melan juga tidak datang, aku tidak mempunyai kontaknya karna smartphone ku rusak dan aku tidak mempunyai cukup uang untuk memperbaikinya. Aku rindu, rindu akan kehadirannya yg selalu membuatku bahagia hanya dengan melihat wajahnya. Sudah 8 hari sejak melan tidak datang ke tempat ku mangkal dan aku masih menunggu kedatangannya, sembari membawa hadiah yg telah kusiapkan sebelum nya, sampai dimana aku lagi duduk termenung dan teman dari melan lewat

Baca Juga  Resep Lobster Air Tawar Pedas Manis

‘Nay, nayyy’ panggil ku teriak,

Namanya Nayra orang yg bersama melan saat aku pertama kali bertemu dengan melan.

‘Apaa, mat’ tanya nayra lemas

‘melan mana ya, kok ga nampak-nampak’ tanyaku

‘dia lagi ada masalah, waktu itu temen nya bimo ngadu ke bimo, dia ngeliat melan lagi duduk berduaan ama lo ‘ jawab nayra

aku kebingungan dan bertanya ‘bimo siapa?’

‘pacarnya, elah jadi lu ga tau’ jawab nayra, dari sini aku baru tahu bahwa selama ini melan memiliki seorang pacar.

‘o…tapi kan gua ama melan ga ngapa-ngapain’ ujarku

‘bimo emang gitu kekanak-kanakan, padahal melan udah ngejelasin padanya berkali-kali bahwa dia dan lo itu ga ngapa-ngapain, tapi dia menolak mentah-mentah pembelaan melan seakan ia tak percaya semua yang melan lakukan’ jawab nayra kesal

‘btw, rumah melan dimana nay?’ tanyaku

‘lu ga usah nambah masalah lagi mat’ ujar nayra

‘ada yang harus gua lakuin untuk terakhir kalinya ke dia’ ujarku serius

‘yaudah kalo lu maksa’ jawab nayra sambil mengambil sebuah kertas di dalam tasnya, lalu dia menuliskan alamat melan dan memberikannya padaku.

‘yaudah mat gua duluan ya’ ujar nayra sambil melambaikan tangannya

‘oke makasih ya nay’ ujarku

‘iya sama-sama’ jawabnya

Esok nya aku bangun tidur, hari sudah jam 8 pagi dan aku bersiap-siap menemui melan, ada beberapa hal yang mengganggu pikiran ku dari kemarin, cari melan! Aku sudah muak berharap, menanti kerinduan yang tidak jelas kapan datang nya, aku mengalir begitu deras seperti air sungai di hari kamis, tebak apa yang aku lakukan setelah bertemu melan, iyaa sama seperti yg kalian pikirkan, aku sangat ingin mengucapkan rasa terimakasih dan memberikan hadiah yang kemarin belum sempat kuberikan padanya, aku mulai bergegas pergi ke rumah melan. Ke alamat yg diberikan nayra kemaren.

Baca Juga  Pèdè: Kuliner Penduduk di Pinggiran Sungai Musi

Aku tiba dirumah melan, dan aku mulai mengetuk pintu.

‘tok tok tok’ suara pintu di gedor

‘assalamualaikum, melan’

‘iya bentar’ kata suara yg belum pernah kudengar sebelumnya

‘………’ suara pintu terbuka

‘temannya melan ya’ ujar nya, ternyata ia adalah ibunya melan

‘iya…..melannya ada nte’ ujar ku

‘melannya barusan keluar, gatau juga kemana’ ujar ibu melan

‘makasih ya nte’ ujar ku

Dan aku pun pergi mencari melan keliling kota, berharap aku menemukan keajaiban bisa bertemu dengannya. Hari sudah jam 3 sore dan aku pun belum berhasil menemukan nya. Aku balik ke rumah melan, ibunya bilang dia belum pulang dan handphone melan seperti nya mati karna sudah beberapa kali ibunya menelponnya namun tidak ada jawaban sedikit pun.

Aku mulai putus asa, berpikir aku dan melan mungkin tidak ditakdirkan untuk bertemu, aku pun pergi k ewarung untuk membeli rokok sembari menenangkan pikiranku yg mulai kehilangan arah, sedang asik mengisap rokok, mataku terbuka melihat cafe di seberang jalan, ternyata ada melan yg sedang duduk berdua dengan seorang lelaki.

Namun ada yang salah, mereka sedang bertengkar itu sangat terlihat jelas, lelaki itu mulai berdiri, dia memarahi melan, dan benar melan terlihat menangis, aku berlari mengejar mereka, entah apa yg mereka bicarakan sebelumnya lelaki itu terlihat sangat kesal, dia sudah kelewatan, dia berniat menampar melan, untung saja aku sudah datang dan menghentikan tangannya, yang mungkin jika aku terlambat beberapa detik saja tangan itu sudah menampar melan.

‘lu ga keren bro’ ujarku

‘orang luar gausah ikut campur’ ujar lelaki tersebut

‘rahmat’ ujar melan sambil menangis

‘ohh jadi ini si rahmat, jadi dia yang merusak hubungan kita sampai kamu bersikap seperti ini’ kata lelaki tersebut, dan aku langsung tau lelaki tersebut adalah pacarnya melan, bimo.

‘jangan sampai matahari terbenam karna amarah lu. Mau siapapun, mau siapapun lu, lu ga berhak mengangkat tangan lu dan membuat seorang cewe menangis, lu sampah men’ ujarku kesal.

Bimo menatap wajahku dengan kesal dan berkata ‘gausah sok puitis lu, brengsek lu ya’

Baca Juga  Cerpen: Kamu Bukan Jodohku

Lalu dia meninju mata kiriku dan kami pun berkelahi di sana, aku kurang pandai berkelahi, tubuhku lemah, namun aku tidak akan segan-segan pada seseorang yang mengangkat tangannya pada seorang wanita. Perkelahian kami berlangsung sebentar, karna hal yang tidak terduga terjadi, melan melerai kami lalu dia menampar bimo

‘cukup bim, lu udah kelewatan. kita putus. ujar melan marah. Dan bimo pun tidak bisa berkata apa-apa di hadapan melan, lalu bimo menatap ku dan berkata ‘puas lu, awas lu ya.’

‘bacod lu’ ujarku dan bimopun pergi.

Lalu melan pun merangkul ku duduk dan pergi mengambil p3k, lalu dia pun mengobati wajah ku yg lebam akibat perkelahian tadi.

‘sory yaa’ ujar melan.

‘iya gapapa’ ujar ku.

‘sakit ga’ tanya melan yang sedang mengobati lukaku

‘pejuang ga bisa merasakan sakit’ ujarku

lalu melan mengobati di bagian yg sedikit parah

‘duh duduh jangan kencang-kencang’ ujarku kesakitan

‘heee, pejuang karbitan’ ujarnya sambil tertawa, dan aku pun tersenyum melihatnya.

‘oiya ada yang mau aku kasih’ ujarku, lalu aku pergi mengambil hadiah yg telah kupersiapkan di jok motorku.

‘nih’ ujarku sambil memberikan hadiah tersebut.

‘buat apa’ tanya melan

‘ini rasa terimakasih ku untuk kamu, karna kamu selama ini selalu baik ke aku. suka ga’ tanya ku.

‘suka banget’ ujar melan

‘sebenarnya itu mau aku kasih kekamu seminggu yang lalu, tapi kamu ga datang-datang. makanya tadi aku cariin kamu ke rumah’ ujarku.

’emang iya, tau dari mana rumah aku?’ tanya melan

‘ituu, tau dari si nayra’ ujar ku

Melan menatap wajahku, dia terlihat kebingungan dan berkata

‘Kamu kelihatan selalu tenang dan peduli pada semua orang. Tapi terkadang kamu terlihat kelelahan dan khawatir karena berpikir terlalu keras. Berhenti mengabaikanku dan mulailah bicara’

‘semua orang selalu memiliki sesuatu yang spesial’

‘terus’

‘segala sesuatu tentangmu spesial buatku’

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Artikel Terkait