by

Cerpen: Mading Sejuta Cinta

Mading bagiku bukan hanya sekedar majalah dinding yang di dalamnya terdapat banyak tulisan seperti cerpen, puisi, pantun, dan berita. Bagiku mading adalah sebuah penghubung yang mempertemukan aku dengan cinta pertamaku, begitu banyak kenangan aku bersamanya di sana, semua berawal dari sebuah mading.

Namaku Juli salah satu siswi SMA di bandung, hobbyku menulis seperti menulis curhatan di diary, mengarang puisi, pantun dan cerpen, aku juga suka sekali mendengarkan lagu, lagu yang aku sukai adalah lagu-lagu nike ardilla, aku juga senang sekali mendengarkan radio, bahkan aku sering sekali request lagu di radio, tentunya lagu yang aku request adalah lagu-lagu nike ardilla, aku juga suka mendengarkan radio yang bertemakan tentang puisi, dan akupun sering mengirim puisi-puisiku itu ke radio tersebut dan penyiarnya pun yang membacakan puisiku itu.

Semenjak aku selalu mendengarkan radio, aku juga bercita-cita ingin menjadi penyiar radio, dan aku juga ingin menjadi seorang penulis.

Semua berawal dari sini ………..

Awalnya aku hanya iseng menulis puisi dan menempelkannya di mading sekolah, kebetulan aku ini adalah seksi mading di sekolah, tujuanku hanya ingin orang-orang membaca karyaku, aku sama sekali tak menduga hobbyku ini bisa mempertemukan aku dengan cinta peratamaku.

Suatu hari ada seorang siswa laki-laki yang membaca puisi-puisiku di mading sekolah, hingga suatu hari aku mendapatkan sepucuk surat yang di simpan di mejaku, dan dia mengatakan bahwa dia mengagumi puisi-puisiku yang di tempel di mading, dia bilang puisiku bagus dan dia mengajakku untuk bertemu dengannya di mading sekolah di waktu istirahat untuk membahas puisiku, selain surat itu, dia juga menyimpan bunga dan cokelat di mejaku, akupun tersenyum-senyum membaca isi surat itu sambil memegang bunga dan cokelat yang dia berikan.

Waktu istirahatpun tiba, bel istirahat berbunyi. Segera aku bergegas keluar kelas menuju mading sekolah dengan berlari kecil sambil membawa surat, bunga dan cokelat di tanganku pemberian darinya.

Ketika aku sampai di mading, mataku melihat sekeliling mencari laki-laki itu, jujur saja aku tidak mengenal laki-laki itu, jadi sedikit sulit bagiku menemukannya. Sudah 10 menit berlalu aku berdiri di mading sambil melihat puisiku yang masih tertempel di mading tapi dia tak kunjung datang juga, akhirnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan mading dan kembali ke kelas.

Baca Juga  Cerpen: Luka yang Sama

Namun baru saja aku membalikan badanku dan melangkah satu langkah, tiba-tiba seorang laki-laki memanggil namaku, sontak aku langsung menoleh ke arahnya, dan bertanya-tanya di dalam hati “siapa dia? apa dia orangnya ?” dia berlari menuju ke arahku dengan wajah tersenyum, sedangkan aku masih bingung. Ketika dia sudah berada tepat di depanku, dia mengulurkan tangan nya dan memperkenalkan diri.

“hai, aku Raga pengagum puisimu”

Dan akupun menjawab “aku juli”

“aku sudah tahu”

“bagimana kamu tahu namaku? sedangkan kita belum pernah saling kenal ataupun bertemu”

Dia malah tertawa kecil dan berkata “namamu tertulis di puisimu yang kamu tempel sendiri di mading”

Akupun tertawa malu, betapa bodohnya aku. Baru saja bertemu sudah menujukan kebodohanku sendiri. Kitapun melanjutkan obrolan kita sambil berjalan kaki menuju taman, sesampainya disana, raga membacakan sebuah puisi untuku, dan rupanya puisi yang ia baca adalah puisiku, dia membawakan puisi itu tanpa teks, astaga aku tak menyangka dia bisa hafal puisiku, bahkan dia mengaku rela menghafalkan puisi itu berhari-hari sebelum akhirnya mengajaku untuk bertemu.

Dan yang membuatku kaget, sebenarnya dia sudah memperhatikan aku selama ini tapi aku tidak menyadarinya. Tiba-tiba dia mengambil cokelat di tanganku dan membukanya dan dia sodorkan cokelat itu ke mulutku dan berkata “aku udah cape-cape beliin kamu cokelat ini, masa ga di makan?” akupun membuka mulutku dan dia menyuapiku cokelat itu.

Senang sekali rasanya aku hari itu, bahkan aku tak mau hari itu cepat berlalu, aku ingin terus bersamanya. Sepertinya aku jatuh cinta padanya. Bel masukpun berbunyi, kita berduapun bergegas meninggalkan taman dan berjalan menuju kelas, rupanya kelas dia bersebelahan dengan kelasku, kitapun berjalan berdua sampai akhirnya kita berpisah masuk ke kelas masing-masing.

Baca Juga  Resep Mie Gomak Goreng, Santapan Sehat yang Kental Akan Bumbu Khas Batak

Setelah pertemuan itu kita jadi sering bertemu, istirahat bareng, makan bareng di kantin, ngobrol berdua di taman, mengunjungi mading bahkan pulang bareng. Semakin hari kita berdua semakin dekat, dan pada akhirnya dia menyatakan cintanya padaku, wah aku bahagia sekali rupanya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan dan kitapun jadian.

Hari demi hari kita lewati bersama, semakin hari diapun semakin perhatian padaku, kita berdua saling menyayangi, bahkan dia sering membantuku menempelkan puisi-puisi di mading.
Tanpa terasa sudah satu tahun sudah hubungan kita berjalan, sekarang kita duduk di kelas 3 dan sebentar lagi ujian, kita sering belajar bareng dan memutuskan untuk fokus belajar. Hingga saatnya waktu ujianpun tiba dan kita semua melaksanakan ujian tersebut.

Tiba di hari pengumuman kelulusan, aku dan raga pergi sekolah bareng. Di sana kita menemui teman-teman kita dan melihat hasil kelulusan, dan alhamdulilah nya kita semua termasuk aku dan raga lulus.

Aku dan ragapun berpelukan bahagia, aku, raga dan teman-teman saling meminta tanda tangan di seragam sekolah kita, kita semua pesta corat-coret. Seragam kita penuh dengan coretan, tulisan dan tanda tangan.

Raga memegang tanganku dan menuntunku berjalan menjauhi teman-teman yang lain, dia mengajakku ke taman yang berada sedikit jauh dari sekolahku, di taman itu hanya ada kita berdua, karena yang lainnya masih berada di dekat sekolah.

Aku lihat wajah raga saat itu seketika berubah menjadi sedih, raga tak mengeluarkan sepatah katapun, dia hanya diam dan menatap mataku dalam-dalam seperti ada kesedihan yang dia sembunyikan, akupun bertanya padanya.

Juli : a, kamu kenapa ? kok mukanya sedih (aku memanggilnya aa, walaupun sebenarnya kita seangkatan, tapi usia dia setahun lebih tua dariku, panggilan itu sebagai penghormatan dan panggilan sayang aku buat dia).

Raga : sayang, kamu janji ya akan baik-baik aja walaupun tanpa aku di sampingmu lagi.

Sontak aku kaget, apa maksudnya raga ini, apa dia ingin putus denganku ? salah apa aku kepadanya hingga dia ingin mengakhiri hubungan kita yang sudah kita jalani satu tahun ini, apa artinya hubungan kita selama ini jika akhirnya dia meninggalkanku.

Baca Juga  Cerpen: Insecure Menjadi Bersyukur

Juli : maksudnya ? (aku bertanya dengan suara kecil dan berusaha menahan tangisku

Raga : juli, aku sangat sayang sama kamu. Tapi maaf, aku harus pergi karena aku harus melanjutkan sekolah ke luar negri, aku tidak bisa mendampingimu lagi, berjanjilah padaku, kamu juga akan melanjutkan sekolah disini, aku yakin kalau kita berjodoh, Tuhan akan mempertemukan kita kembali.

Seketika, air mataku jatuh di pipiku sudah tidak bisa di tahan lagi, aku tidak bisa berkata-kata lagi, yang bisa aku lakukan hanyalah menangis. Ragapun menyusut air mataku dengan kedua tangannya dan mengatakan “i love you, sorry” dengan wajah sendunya.

Kemudian dia mencium bibirku dengan lembut sebagai tanda perpisahan. Kitapun pulang, raga tetap bertanggung jawab dengan mengantarkanku pulang ke rumah, dia ingin memastikan aku sampai ke rumah dengan selamat dan dengan keadaan yang bai-baik saja.

Sesampainya di depan rumah, aku turun dari motor dan Aku tetap menghormati dia dengan mencium tangannya dan diapun mengecup keningku dan aku menutup mataku, aku merasakan dia menangis. Setelah itu aku pamit untuk masuk ke rumah dan dia mengangguk dan akupun berjalan menuju rumah, dia masih di sana melihatku dari kejauhan.

Sesampainya di kamar, aku melihat ke jendela rupanya dia sudah pergi, akupun menjatuhkan tubuhku ke kasur dan aku menangis tersedu-sedu di kamarku, tapi aku harus terima keputusan raga, jika memang ini adalah yang terbaik untuk kita berdua.

THE END

Tentang penulis :

Jili oktoberti, lahir di garut 11 oktober 1994. Lulusan D3 Keuangan & Perbankan dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, memiliki hobby bermain sepeda dan menulis, memiliki cita cita menjadi penyiar radio dan seorang penyair.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait