by

Cerpen: Keadaan yang Berbalik

Oleh Suci Ar.

Aku kembali menenggelamkan kepalaku ke dalam air di bathub tempatku berendam sekarang. Hal itu ku lakukan karena pikiranku kembali pada peristiwa yang terjadi padaku hari ini di Kampus. Hari ini, aku di kejutkan tiga kali dengan takdirku. Dua di antaranya buruk-menurutku

Pertama, aku diputuskan oleh pacarku yang juga merupakan kakak tingkatku di Kampus. Aku jujur saja sedih. Tapi mungkin dia memang sudah bosan denganku yang lempeng begini saja. Yang kedua, ini satu-satunya berita baik menurutku.

Kelompok kami mendapatkan nilai terbaik dalam persentasi minggu kemarin. Dosen kami bilang, tema yang kami angkat itu sederhana tapi isinya luar biasa jelas dan mudah dipahami. Cara San-ketua kami-mempersentasikan juga keren. Dan yang ketiga, yang paling tidak bisa ku percaya sampai sekarang adalah perkataan San saat sebelum pulang kuliah.

“Saya suka sama kamu. Boleh saya menggantikan posisi kak Saka suatu saat nanti?”

Aku kali ini menyipratkan air dalam bathub ke wajahku saat mengingat kata-kata cringe itu. Badanku rasanya butuh lebih banyak air dingin karena terlalu panas sekarang. Ini benar-benar menganggu. Aku hanya berharap besok San menyesal telah berkata seperti itu dan mengaku kalau dia hanya uforia, karena mendapat nilai sempurna sehingga melantur saat berbicara.
Semoga saja.
***
“Nar, Nara!” Aku menghentikan langkahku kala mendengar panggilan dari orang yang sangat ku hafal suaranya di belakangku.

“Berita lo putus masuk Twitter Kampus. Seterkenal itu ya kak Saka. Tapi keselnya mereka malah pada reply yang enggak-enggak tentang lo. Btw, lo gak nangis semaleman kan? Chat gue gak dibales padahal udah spam gitu. Telpon gue juga.” Nazla merenggut kecewa.

Aku tau dia khawatir tapi tidak ingin menunjukkannya berlebihan karena dia tau aku benci diberi perhatian yang mirip mengasihani. Nasibku baik-baik saja tanpa perlu dikasihani. Begitu pikirku.
“Buat apa gue nangisin kak Saka yang udah gak sayang sama gue lagi? Kan lo sendiri yang bilang tetap jangan terlalu bucin walaupun lo sayang, orang itu biar gak para sakit hatinya kalau putus. Yaudah, gue sekarang berusaha jadi yang lo bilang La…” Aku mencoba memberinya pernyataan yang bisa membuatnya tenang dan percaya.

Walaupun aku sebenarnya jadi sedih lagi mendengar nama kak Saka. Semalam juga aku memang tidak mau membuka akun media sosialku yang manapun.

“Tapi ini aneh banget. Kak Saka mutusin lo tiba-tiba kayak gini Nar. Padahal gue tau dibanding lo, dia yang bucinnya keliatan banget. Tukang bikin iri sih kalian.”

Aku membiarkan Nazla asik dengan spekulasinya sampai aku Berada di depan kelas.

“Udah ya. Gue masuk kelas dulu, mau belajar biar pinter terus dapet cowok pinter juga. Lo jangan lupa sarapan sebelum ke perpus. Gue tau lo masuk siang tapi datang pagi buat belajar ke perpus. Dah, hati-hati!”

Tanpa menunggu balasan Nazla, aku lekas membalik badan menuju ke kursi yang masih kosong dan strategis di kelas.
Aku menyandarkan punggung kesandaran kursi sambil meregangkan badan. Rasanya belum mulai menimba ilmu saja, badan dan pikiranku sudah lelah. Dasar, umur muda badan tua. Semoga dengan meregangkan badan aku bisa sedikit merefresh pikiranku.

Kursiku hampir jatuh kebelakang saat mataku mendapati siapa yang menarik kursi di sampingku. Untung orang itu menahannya agar tidak benar-benar jatuh.

“Hati-hati.” Ucapnya lembut dan terkesan khawatir.

“Tengs San.” Ucapku sambil tersenyum bodoh.

Iya, orang yang menarik kursi di sampingku dan menahan kursiku adalah San. Orang yang seharusnya lebih aku hindari ketimbang Kak Saka. Aku tidak tau kalau kami sekelas lagi hari ini.

“Nara,” panggil San setelah beberapa saat atsmosfer yang membuatku gelisah menyelimuti kami.

Aku tidak menjawab panggilannya tapi langasung menoleh menatapnya yang masih setia menatap kedepan. Padahal mata kuliah pertama belum datang dosennya. Alias dia tidak memperhatikan apa-apa di depan sana.

“Mengenai perkataan saya kemarin-”
Iya bagus, sepertinya San akan menarik dan menyesali ucapannya.

“-tolong beri saya kesempatan ya?”
Nazla, tolong selamatkan temanmu ini.
***

Genap enam bulan San terus mencari perhatianku dan tentu saja mengikutiku saat di kampus. Jujur, itu menganggu sekali. Aku salah satu orang yang benci di ganggu ketenangannya. Apalagi yang mengganggu adalah oknum yang tidak diharapkan hadir dalam hidupku.

Kalau dibilang selama enam bulan ini aku tidak terbawa perasaan oleh sikapnya yang seperti-Dua-puluh-empat-jam-sedia-untuk ada di sampingku-itu adalah kebohongan. Aku bisa merasakan ketulusannya dan itu menyentuh hatiku sedikit demi sedikit. Tapi tentu saja aku sudah diingatkan untuk awas dalam menghadapi hal yang tidak atau belum pasti kan? Jadi aku selalu bersikap menahan diri.

San itu baik. Dia terlalu baik untuk diriku yang lempeng begini. Dia terlalu romantis untuk diriku yang tidak bisa membalas sikapnya itu. Dan dia…terlalu mudah membuat orang nyaman disekitarnya sedangkan aku tidak sama sekali. Teman seumuranku tergolong sedikit, karena di umur segini aku sudah sibuk dengan dunia perusahaan milik ayahku yang akhirnya akan kupegang kendalinya setelah lulus kuliah.

Sudah menjadi takdirku untuk hidup dia ntara kolega-kolega perusahaan. Dan aku menyukai itu daripada menghabiskan waktu untuk bersenang-senang gaya anak muda jaman sekarang. Setiap orang punya cara bersenang-senang yang berbeda.

“Nar, itu si San masih ngejar-ngejar lo sampai sekarang?” Nazla melontarkan pertanyaan di tengah kegiatannya menghabiskan nasi goreng di kantin fakultas.

Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Aku tidak menjawab karena juga sedang sibuk dengan mie ayamku. Sepertinya habis menandaskan nasi goreng itu, akan ada ceramah panjang dari Nazla.

“Nar…”
Nah kan benar.

“Kalau gue hitung, dari laporan lo pertama kali, ini udah enam bulan. Dan lo masih gak ngerespon San kayak gini? Maksud gue, kalau lo udah coba buka hati dan memang lo ngerasa kalau San bukan orang yang cocok buat lo, ya gue pasti bakal nyaranin biar lo tegasin ke dia kalau kalian ini memang gak bisa deket lebih dari teman. Tapi gue tau, lo lagi bersikap menahan diri kan? Gak bisa gitu lo buka hati lo lagi buat sekarang?”

Aku menghela nafas sambil memijit pelipisku. Nazla saja sadar kalau aku bersikap menahan diri.

“Nanti kalau gue buka hati nih, terus pacaran, terus putus lagi gimana? Lo tau gue gak suka ngelakuin sesuatu yang endingnya sia-sia. Udah cukup sekali sama Kak Saka.”

“Apa sih salahnya buka hati Nar? Lagian ini emang udah waktunya lo cari gandengan buat kelulusan sama nikah. Yang masalah kak Saka udah lupain aja anggap gak ada. Dan San, dari sekian banyak cewek yang baris buat jadi pendamping dia, jadi pacarnya, dia milih lo buat ada di posisi itu. Kurang serius apalagi coba si San? Gue liat kok San itu baik. Kalau bisa gue di posisi lo, mending gue aja sih.”

Aku tertawa mendengar penuturannya. Tak ayal dalam hatiku menolak perkataan terakhir Nazla yang memang hanya bercandaan. Seakan hatiku tidak rela posisinya di hati San diganti orang lain.

“Inget kak Haris Naz..” ucapku sambil menaik-turunkan satu alis. Nazla balas tertawa.

Ponselku bergetar menampilkan sebuah pop-up notifikasi chat dari San.

San
|Maaf saya ada rapat mendadak siang ini.
|Tapi karena saya sudah janji menjemput kamu, tolong tunggu saya di perpustakaan kampus.
|ini ada rekomendasi buku perpus yang sepertinya akan kamu suka.
|foto

Senyumku tidak bisa tertahan melihat isi chat dari San. Untung saja Nazla juga sedang sibuk dengan ponselnya, jadi dia tidak menyadari kehadiran senyumku ini. Aku kembali meletakkan ponsel diatas meja dan tidak membalas pesannya. Karena kalau aku balas, pasti San akan membalas juga dengan stiker atau kata apapun agar pesan dari ku-yang sebenarnya tidak harus dibalas-terbalas.

Perlakuan kecilnya itu saja bisa membuat hati ku menghangat. Dan jujur saja aku merasa semakin bersalah.
***

“San?”
Panggilku pada San yang asik menyetir di sampingku tanpa membuka percakapan. Maksudku, ini aneh. San biasanya jika hanya berdua denganku suka mencari topik pembicaraan agar perjalanan kami tidak terasa membosankan. Tapi hari ini dia diam dan auranya terlihat tidak baik seperti biasanya.

“Iya?”
Oh astaga, dengan aura seperti itu dia masih bisa menjawab panggilanku dengan lembut begini? Tolong jantungku mendadak berdetak lebih cepat dari seharusnya. Aku tersentuh, sial.
Mungkin ini bukan waktu yang tepat. Tapi aku harus segera mendapatkan kejelasan. Pikiranku saat di perpus tadi bukan ke buku yang kubaca, tapi terus melayang ke San.

“Maaf kalau ini bukan waktu yang tepat. Tapi gue harus mastiin semua perlakuan lo selama enam bulan ini itu-”

“Sebentar.”

San memotong perkataanku lalu menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Aku kurang paham kenapa harus berhenti seperti ini. Mungkin San tidak mau lepas kendali karena tau ini pembahasan sensitif.

“Sebelum kamu melanjutkan, saya mau bilang kalau tolong jangan ragukan afeksi saya terhadap kamu. Saya serius. Dan saya mau kamu juga sudah menganggap perasaan saya serius. Tapi sepertinya saya salah ya? Kamu masih menutup diri dan meragukan perasaan saya.” Dia berbicara sambil menatapku serius.

San tetap berkata dengan nada lembutnya kepadaku. Tapi terdengar jelas kegetiran, kekhawatira, dan kekecewaan di setiap perkataannya. Jelas ini membebaniku. Aku tidak mau membuka hati karena merasa bersalah. Seharusnya aku lebih cepat untuk peka akan keadaan.

“Maaf.” Cuma itu yang kuucapkan dari sekian banyak kata yang sudah kususun untuk membuatnya tidak terlalu kecewa seperti ini.

San menghela nafas dan kembali menjalankan mobilnya ke jalanan. San sibuk melihat jalanan, aku sibuk menutup mataku sambil memikirkan sesuatu. Ayolah, otak encer ini kenapa mendadak buntu dalam perihal seperti ini. Aku tertekan.

“Nara? Kamu ketiduran? Ini sudah sampai.”

Aku mengucek mataku lalu melihat ke jendela mobil. Benar ini rumahku. Aku melirik jam tangan. Jam tujuh malam.

“Macet ya tadi?” Tanyaku yang masih mengumpulkan nyawa.

“Iya, sedikit. Maaf kamu jadi telat sampai rumah.”

Aku mengangguk lalu bersiap membuka pintu. Oh iya, tadi karena aku ketiduran saat berpikir keras, mimpiku memberi sebuah ide.

“San, gimana kalau kita pacaran aja? Kalau cocok nikah.”

Ucapku santai. Berkebalikan dengan San yang melongo. Astaga lucu sekali ekspresinya. Kenapa San tidak pernah menunjukkan hal-hal seperti ini padaku? Oh iya, aku yang tidak memperhatikannya.

“Nar, kalau kamu memang lagi melantur karena ngantuk, tolong jangan berbicara hal sensitif se-”

“Gue serius. Yaudah kalau gak mau.” Aku ancang-ancang bangkit. Tentu saja San langsung menahanku.

“Ya-ya kalau begitu besok saya jemput buat berangkat ke kampus. Kalau kamu menyesal berkata seperti ini, kamu bisa pergi duluan tanpa menunggu saya menjemput. Tapi kalau kamu serius…tolong tunggu saya.”

Aku mengangguk setuju lalu berjalan cepat keluar mobilnya tanpa mengucapkan terimakasih. Aku benar-benar tidak bisa menahan senyumanku lagi. Dan tidak mau kalau sampai San melihatnya. Aku malu.

“Bi…Nara pulang!” Seruku dengan senyum yang belum bisa luntur dari pipi berlesung milikku.

“Anak mama kok yang disapa bibik nya doang. Mama papa enggak.”

Pandanganku jatuh pada dua sosok paling berharga di hidupku yang sedang nontin tv berdua. Aku menghampiri mereka dan meraih tangannya untuk ku cium.

“Nara kangen…lama banget pulangnya.” Sebenarnya mau dengan ekspresi merenggut, tapi senyum ini rasanya tidak mau luntur.

“Maaf sayang, mama papa sibuk dan ninggalin kamu lama.” Papa mencium keningku gan memeluk diriku erat. Aku bahagia walaupun orang tuaku sibuk, mereka tidak pernah membuatku berasa seperti anak broken home. Aku benar-benar harus bersyukur.

“Kamu seneng bener keliatannya? Pulang bareng siapa tadi? Bukannya udah putus sama yang lama ya? Kemarin sampai viral di kampus kamu.”

Aku merengut, nada mama benar-benar seperti meledek. Tapi kembali bersemu setelah mengingat mama bertanya tentang siapa. Gawat, baru sebentar aku membuka hati untuk San, badanku sudah merespon berlebihan.

“Anak mama cantik. Jadi udah dapat pacar baru. Nara naik dulu ya…capek mau istirahat.” Aku memutuskan untuk pergi kekamar Karena tidak mau di tanya-tanya lebih lanjut.


Pagi.” Sapaku saat memasuki mobil rush putih yang sudah sangat kukenali selama beberapa kali mengantarku.

“Nara, kamu serius ternyata.” San tidak bisa menyembunyikan nada terkejutnya serta senyum malu-malu yang membuatku ingin tertawa melihatnya. Tapi aku harus pura-pura tidak lihat. Kasian, telinganya sudah memerah.

Sampai di Kampus aku keluar dari mobil terlebih dahulu sambil menunggu San yang memarkirkan mobilnya. Melihatnya melangkah ke arahku, aku segera melanjutkan langkah membiarkannya di belakangku. Tapi tiba-tiba sebuah tangan hangat menggenggam jari-jari tanganku dengan miliknya.

“Tolong jangan menolak.” Mohonnya dengan ekspresi yang sama sekali tidak bisa kutolak. Siapapun tidak akan bisa menolaknya kalau memakai ekspresi seperti itu. Sepertinya harus ku peringatkan agar dia tidak menggunakannya untuk perempuan lain-maksudku orang lain.

“Jangan ngeluarin ekspresi kayak tadi. Lo tuh harus lakik gitu.” Ucapku memperingati.

“Kamu tau? Sembilan puluh persen laki laki yang Saya kenal, adalah sosok yang berbeda saat bersama pasangannya dan saat bersama orang lain.”

Bukannya mengiyakan perkataanku, manusia bucin satu ini malah memberikan pernyataan yang harus ku olah dengan otakku. Ya terus kalau berbeda seperti itu apa hubungannya dengan-
Oh, aku mengerti. Jadi maksudnya sikapnya yang tadi itu hanya di tujukan untukku? Yang sekarang menjabat sebagai kekasihnya? Nara, kamu benar-benar lemot dalam urusan ini karena dulu kak Saka yang selalu mengerti dirimu, Tanpa kamu harus benar-benar mengerti dirinya. Hah, pantas saja aku ditinggalkan.

“Nara!” Nazla memunculkan kepalanya ke dalam kelasku yang sudah sepi. Hampir semua sudah pulang termasuk San sepertinya. Akupun juga sedang bersiap untuk pulang. Aku lelah sekali hari ini.

“Kenapa? Baik-baik lo datengnya. Jangan kayak mau ngelabrak gue gitu.”

Nazla tidak mengacuhkan teguranku. Dia malah menarik tanganku dan mengambil alih totebag milikku untuk di bawanya.

“Lo harus liat ini. Karena gue tau cuma lo yang bisa hentiin mereka.”

Pikiranku mulai kemana-mana. Pikiran buruknya, San berantem sama orang. Yang paling buruknya, lawan dia Kak Saka. Aku bukan kepedean diperebutkan mereka, tapi memang hanya itu yang lewat di kepalaku.

Saat aku sampai lapangan depan fakultas seni, orang sudah pada mulai bubar. Mungkin ada yang duluan memisahkan. Dan benar saja, aku melihat kak Haris sedang mengawasi San dan Kak Saka yang saling mengobati luka masing-masing.

Aku menahan tarikan dari Nazla. Bukan, bukan situasi seperti ini yang kubayangkan. Aku tidak mau berada di antara mantan dan pacarku sekarang. Aku terlalu pengecut untuk menghadapi mereka berdua yang tentu saja bertengkar karena diriku.

“Mau kemana Nar?” Nazla menahan gerakanku yang ingin kabur segera dari kampus ini.

Aku belum siap bertemu kak Saka lagi. Aku belum siap disuruh memilih di antara mereka di depan mereka langsung seperti ini. Lihatlah, pikiranku sudah kemana-mana.

“Nara!”
Tamatlah riwayatku kalau sudah dipanggil kak Haris, ketua BEM itu.

Nazla kembali menyeretku ke lingkaran terlarang bagiku itu. Dia tersenyum miring seakan menunggu drama yang akan terjadi kala kami sampai di dekat mereka.

“Nah ini Nara nya. Sekarang berantem lagi coba? Di depan Nara sekalian. Jangan sok-sok an berantem di belakang Nara kayak adegan di buku novel yang sering Nazla baca.”

Nazla memukul lengan kak Haris kencang. Biasanya dia akan pura-pura meringis dan minta dielus, tapi sepertinya kali ini kak Haris benar-benar serius dengan kalimat ngaconya tadi.

“Nar, nih dua manusia, Saka sama Arsan gue jual ke lo. Pilih aja yang mana yang lo mau. Yang lo tolak bakal mundur.”
Kakiku melemas seketika. Harusnya ini bukan pilihan yang sulit kan? Tapi kenapa terasa sulit sekali. Aku sampai ingin menangis saja sekarang. Aku merasakan atensi Kak Saka dan San tertuju padaku. Dan itu membuat hatiku semakin tidak berdaya.

“Maaf kak. Gue gak enak badan, makin pusing kalau di kasih pertanyaan kayak gini. Gue pamit.”

Aku membalik badanku dan langsung berlari menjauh dengan air mata yamg terus mengalir deras di pipiku. Maaf San, aku sepertinya masih memiliki perasaan lama terhadap Kak Saka. Aku akan segera meminta maaf kepada San secara langsung nanti.


3 tahun kemudian…

Sesuatu yang suka kulihat saat pagi adalah sinar matahari. Walaupun aku hanya bisa menatapnya sepersekian detik, hal itu membuat semangat untuk dapat memberikan tenagaku pada perusahaan meningkat. Katakanlah aku terlambat menyadari. Aku terlambat menyadari kalau perasaan yang lebih besar dan berarti, telah hadir saat San menyatakan perasaannya dan memberiku perhatian lebih.

Tiga tahun lalu, aku memutuskan untuk tidak memilih siapapun untuk berada di sampingku. Di saat itu juga semua terbongkar oleh mulut Kak Saka yang selama ini terkunci. Dia merelakanku untuk San miliki karena menyadari kalau San lebih dulu menyukaiku.

San yang suka Bercerita pada Saka tentangku dan apapun hal yang membuat hatinya semakin jatuh hati padaku.
Dari cerita kak Saka dapat ku simpulkan San benar-benar memendamnya sangat lama, dan menjadi terasa menyakitkan saat aku menerima kak Saka yang secara tidak langsung juga menjadi kagum padaku karena cerita-cerita San.

Aku memutuskan untuk melepas San karena merasa sangat tidak pantas bagi laki-laki tulus itu. Dan sekarang waktu membalik keadaan dan membuatku tidak bisa lepas memikirkannya. Walaupun aku tau kalau beberapa minggu lagi San akan menikah dengan perempuan pilihannya.

Berita itu sudah tersebar di antara para petinggi berbagai perusahaan dan menjadi topik hangat yang membuat hatiku mendung.

“Sayang, nanti malam ada perjamuan makan malam di hotel planet holiday. Kamu nemanin mama ya buat datang. Semua pengen tau kayak mana wajah Direktur perusahaan papa sekarang.” Bujuk mama sambil memegang tanganku saat sarapan tadi.

Aku mengiyakan saja. Karena aku sepenuhnya kerja dari rumah setiap hari Sabtu.

Malamnya aku menggunakan dress maroon selutut dengan bagian pinggang sampai kebawah sedikit mengembang. Dan sepatu heels berwarna senada.

Sesampainya dis ana aku langsung diarahkan ke pintu dimana mama berada. Iya,kami datang secara terpisah karena mama bilang ada yang harus di urus disinin sebelum acara.

Aku duduk disalah satu meja bundar yang disiapkan untuk keluargaku katanya. Lama menunggu mama sampai aku bosan dan rasanya ingin pulang rebahan di kasur. Sampai mataku yang tadinya tinggal lima watt mendadak seribu watt melihat siapanyang sedamg ada dalam pandanganku.

Itu San. San yang perubahannya selalu kuhapal karena diam-diam ku ikuti perkembangannya. Orang yang selalu menganggu pikiranku tapi aku menyukainya. Yang pernah selalu ada untukku selama enam bulan dengan segala afeksinya. Dan gawat, dia menuju ke arahku sekarang.

Kaki ini rasanya lemas untuk sekedar berdiri menghilang dari pandangannya. Tapi terlambat. Dia sudah di depanku sekarang. Dengan senyumnya yang terlihat sangat bahagia-tentu saja dia akan menikah pasti bahagia-yang membuatku iri.

“Mama sudah bilang?”

Hei, dia bicara pada siapa? Padaku?  Ah iya, hanya aku yang berada di sudut ini sendirian.

“Mama siapa?”
Dia terkekeh pelan, membuat jantungku semakin dangdutan.

“Mama kamu Nara bukan mamaku.”

Oh, sekarang sudah pandai pakai aku kamu ternyata.

“Kayaknya belum ya? Aku akan menikah beberapa minggu lagi.” Ucapnya dengan bangga.

“Kalau perihal itu aku udah tau. Selamat ya.atas berita pernikahanmu San.”

Astaga, aku tidak tau akan semenyesakkan ini padahal melihat calonnya saja belum. Aku takut aku pingsan nanti kalau datang ke pernikahan mereka.

“Iya terimakasih. Tapi-”

San menggenggam tanganku lalu menariknya lembut hingga aku berdiri.

“Pernikahanku gak akan terlaksana kalau pengantin perempuannya saja belum tau, Nara.” Ucapnya sambil menatap mataku. Aku hanya mampu terdiam mencerna semua perkataan San.

” kamu Nara. Kamu yang akan aku nikahi beberapa minggu lagi. Anggap saja ini hukuman karena membiarkanku lepas dari kamu dan galau setiap hari selama tiga tahun.”

Aku yang mulai paham cuma bisa tersenyum bodoh. Astaga, ternyata aku tidak sendirian menggalau selama tiga tahun.
END

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Artikel Terkait