by

Cerpen: Kamu Bukan Jodohku

-Cerpen, Sastra-40 views

“Num, kenapa bengong?”

Aku terkejut dengan Ruri yang tiba-tiba sudah di sampingku, padahal dia tadi pergi keluar untuk mengangkat telpon bang Rahmat, calon suaminya. Seperti kata Ruri mereka akan menikah kurang lebih dua bulan lagi, tepat setelah bang Rahmad menyelesaikan kuliah S2 nya.

Aku menatap Ruri dengan wajah sendu, lalu pandanganku beralih pada gaun putih cantik yang tergantung tepat di hadapanku. mulutku masih saja terkatup, terasa berat untuk menceritakan hal ini kepada Ruri, karena tak ada gunanya bukan?!

“Kenapa sih Num?” kali ini Ruri berdiri tepat di hadapan, matanya mencoba menerka-nerka apa yang aku pikirkan.

“Tidak ada apa-apa Ruri, cuma banyak pikiran saja” kataku kemudian dan mengembangkan senyum lebar untuk Ruri.
“Serius?” Ruri tampak belum yakin dengan jawabanku.

“Iya, coba saja nanti kamu rasakan, bagaimana hati dan pikiran kamu tepat di malam ijab qabul,” kataku meyakinkan Ruri, dia tidak boleh terbebani denganku, kasian dia jauh-jauh ke kampung untuk menghadiri pernikahanku.

Padahal jarak tempuh kampungku dengan kota kami bekerja memakan waktu lebih kurang sehari semalam, dan itu cuma bisa dilalui dengan jalur darat, belum ada akses pesawat, karena jatah bandara masih ditanami padi, mungkin!

“Baguslah, ayo tidur, biar besok kamu fresh” , kata Ruri. Lalu membaringkan tubuhnya tepat di sampingku, akupun ikut merebahkan tubuhku, meskipun kenyataannya mataku masih menolak dipejamkan.

“Num!” Ruri kembali memanggil namaku, membuat posisi tidur kami otomatis saling berhadapan.

“Bang Rahmad tadi cerita, katanya ada sahabat satu kamarnya bercerita, dia akan akan ditinggal nikah, padahal dia sedang mengumpulakan mahar untuk gadis itu” lanjut Ruri

“Terus?” aku mulai antusias mendengar cerita Ruri.

Baca Juga  Puisi Untuk Ibu: Saat Kapan Itu?

“Padahal dia sudah bilang ke si gadis untuk menunggu dan teman bang Rahmad itu benar-benar terlihat kacau dari kemarin, sejak mendengar si gadis akan menikah.”

Aku masih saja diam, menjadi pendengar budiman lebih menyenangkan di saat seperti ini.

“Kata bang Rahmad besok si gadis akan menikah, dan laki-laki itu terus mencoba menghubungi si gadis. Dia orang kampungmu Num, namanya Fadhil, gadis yang dimaksud bukan kamu kan Hanum?”

Darahku berdesir, jantungku berdegub kencang, kali ini air mataku benar-benar tak terbandung, kutarik selimut menutupi tubuh sampai ke wajahku, tangan Ruri terasa menepuk-nepuk bahuku layaknya anak kecil yang rewel saat tidur, aku berusaha untuk tenang di balik selimut, tapi tangisku malah makin menjadi-jadi, tubuhku terguncang setiap aku mencoba meredam isakan.

“Jangan goyah ya Num, ini cobaan” bisik Ruri disela tangisku.

“Aku hanya menerka bahwa itu kamu, aku kawatir, jika itu kamu, bisa jadi pesannya yang membuat suasana hatimu berubah, demi Tuhan Num, dia hanya menjadi godaan dalam niat baikmu dan calon suamimu, karena jika dia benar mencintaimu, seharusnya dia telah lebih dulu melamarmu.”

Perkataan Ruri menjadi cambuk untukku, ada rasa bersalah dalam sudut hatiku, saat aku menyadari ada keinginan untukku berlari kepada Fadhil sejenak terlintas di pikiranku.

Ya, aku tak boleh goyah, laki-laki yang padanya telah kutaruh harapan selama beberapa tahun terakhir, laki-laki yang telah kucintai dalam diam, laki-laki yang namanya selalu kulangitkan dalam doa. Kali ini harus kuikhlaskan dia, tak ada yang salah, ini hanya tentang jodoh.

Selama ini aku sudah cukup manjadi sahabat yang menghianati persahatan kami. Ya, aku mencintainya, aku berharap lebih padanya, tapi, persahabatan kembali menjadi alasan aku sangat takut kalau-kalau fadhil tau tentang perasaanku malah merusak persahabatan dan dia menjauhiku, konyol memang.

Baca Juga  Cerbung: Nur Jannah (Part 2)

Aku sangat ingat dua tahun lalu, saat dia akan pergi untuk melanjutkan kuliahnya, ‘sampai jumpa dua tahun lagi’ katanya padaku, sebelum pergi ke pulau jawa. cukup gila kalau dia menafsirkan itu sebagai permintaan untuk menunggu.

Karena selama ini yang aku yakini, dia tidak tau, atau mungkin pura-pura tidak tau atau bahkan tidak mau tau tentang perasaanku, sekeras apapun aku berusaha memberikan tanda-tanda padanya, bahwa ada rasa lain dalam hatiku melebihi persahabatan kami.

Dan setelah kepergiannya, aku memilih untuk menyembuhkan hati, karena mencintai sendiri itu cukup menyakitkan untuk dirasakan berlarut-larut, aku memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi, hanya sesekali kami bertukar kabar, tapi sangat jarang, entah karena dia sibuk atau mungkin jarak membuat kami terasa bagai orang asing.

Dari balik selimut, aku meraih handphone, tiga pesan dari nama yang sama belum satupun kubalas.

-Hanum, apa benar kamu akan menikah?

-Hanum, kenapa tidak mengabari aku, bukankah aku sahabatmu?

-Hanum, tidak adakah kesempatan untuk aku, entah kenapa hatiku terasa hancur? Terlalu terlambatkah aku menyadari perasaan ini?”

Aku menghela napas panjang, dengan Bismillah aku menggerakkan jari jemari mengetik pesan.

-Iya Fadhil, alhamdulillah aku akan menikah, doakan aku sahabatmu bahagia.

Kupejamkan mata di bawah selimut, tangan Ruri terasa lembut menepuk bahuku, hingga aku terlelap, tertidur dalam perasaan yang tak bisa kugambarkan.


TAMAT

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait