by

Cerpen: Janturan Kehidupan Manusia

Janturan Kehidupan Manusia

Oleh :Rico Fernando

Manusia penuh dengan kejutan dan kisah tidak terelakkan setiap saat. Selalu direkam oleh semesta, selalu meninggalkan jejak ke tanah. Tidak ada yang bisa melupa, sungguh sebuah keunikan.

“Mas Jeri, kamu udah mau pergi? Bentar lagi ya, aku siapin makanan dulu,” ungkap istriku. “Ga usah, aku udah ada makanan kok nanti di kantor, ga usah repot. Kamu kan baru lahiran nanti sakit gimana? Sana, istirahat aja ya, Sayang,” ungkapku sambil mengecup pipi istriku yang masih semulus kulit bayi walaupun usia sudah menjejaki akhir kepala tiga.

Dia hanya mengangguk lalu aku juga tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke kantor. Aku duduk di kantor aku sambil membaca beberapa laporan keuangan kemarin. Aku menggapai satu buah kertas dan di sana tertulis, “Hanya untukmu, Sayang. Aku udah buatin kopi tuh, sesuai dengan rasa yang kamu suka.”

Aku tidak tahu siapa yang membuat kerjaan ini dan aku langsung menuangkan kopi itu. Ke mana? Ke wastafel lah pastinya, tidak mungkin ke perutku. Aku pernah bersumpah, aku hanya akan meminum kopi buatan istriku dan aku tidak akan pernah meminum kopi dari wanita lain. Aku mengangkat sumpah itu ketika aku melamar istriku 12 tahun yang lalu.

Aku lalu membuka kotak makanan yang juga terpampang di atas meja, lalu aku tidak menemukan apa pun di dalamnya selain nasi ayam yang dikasih telur. Aku memakan semuanya lalu ada yang mengetuk pintu.

“Masuk,” ungkapku. “Pak Heri, ini adalah laporan proposal yang dibuat oleh tim HRD sebagai wujud implementasi dalam penerapan peraturan dan program terbaru perusahaan dalan merekrut karyawan dan staf,” ucap Karen yang merupakan salah satu ajudan kepercayaan aku.

Dia terus tersenyum ketika melihat aku dan aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku menatapnya lalu dia mengunci bibirnya dengan erat. “Kamu sudah boleh keluar, tidak ada lagi urusan kamu di sini,” kata aku yang membuat Karen langsung mengangkat kaki lalu balik kanan dan keluar dari ruangan aku.

Aku mengambil cermin lalu memutarnya dalam berbagai metode tetapi tidak ada yang aku temukan lucu di wajahku. Aku membalik semua jenis kertas di hadapan aku, berharap menemukan sebuah hal yang menggelikan hati. Namun, ekspetasi hanya sebuah fiksi untuk menjadi asli. Aku tidak menemukan apapun dan menganggap bahwa yang dilakukan oleh Karen adalah sebuah hal yang konyol.

Setiap hari, perusahaan aku semakin bertambah projeknya dan ini adalah sebuah kesempatan emas bagi aku, supaya bisa mendapatkan penghidupan yang layak bagi istri dan anak aku. Aku selalu berdoa semoga apa yang bisa aku lakukan menjadi berkah bagi keluarga aku, terutama istri yang sudah setia menemani aku dari nol.

Baca Juga  Cerpen: Misteri Hutan Terlarang

Aku sering pulang lama ke rumah dan istri aku mengerti tentang hal itu. Dia sangat baik, pengertian dan juga sangat percaya pada aku. Oleh sebab itu, aku juga harus meyakinkan segalanya tentang dia.

Hari ini merupakan kesempatan bagi aku untuk menghabiskan waktu bersama istriku, karena satu projek baru saja terealisasikan dan menjadi keuntungan besar bagi aku. Tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi, aku tidak tahu ada apa dan siapa yang datang. Istriku membuka pintu lalu dia berteriak dari bawah, “Sayang, ini ada Karen. Katanya, ada hal yang mau dibahas.”

Aku tidak tahu kenapa Karen ada di sini, padahal semuanya sudah jelas kemarin aku kasih tahu. Aku turun lalu mengambil posisi di samping istriku, “Ada apa?” tanya aku tanpa basa basi. “Gini, Pak. Tadi itu saya mau jalani sesuai dengan arahan tetapi pada saat pertengahan, terjadi blokade data sehingga saya tidak bisa melanjutkan,” kata Karen. “Terus?” tanya aku datar. “Nah, saya telepon ahli komputer, Pak. Katanya, terblokir karena sistemnya rusak jadi harus buat ulang lagi. Untungnya, belum banyak yang input ke sistem baru. Jika tidak, maka akan kerepotan, Pak,” ucap Karen yang membuat aku menggaruk kepala.

Aku lalu minta izin sama istri aku supaya ke kantor. Sesampai di kantor, aku memeriksa semua sistem dan memang sistemnya sedang rusak. Aku memperbaiki sendiri tetapi sayang hingga siang pun belum bisa digunakan. Karen membelikan aku makanan dan minum, dengan sangat mudah, aku menerima tawarannya.

Sesaat setelah aku makan, aku merasa sangat lelah dan mataku terasa sangat berat. Aku tidak tahu, kepala aku sangat sakit, aku memegang kepala aku lalu aku memilih tidur di ruang istirahat saja karena sudah terlanjur ngantuk.

Tidak terasa ketika aku bangun dan waktu menunjukkan pukul 5, tetapi itu tidak membuatku kaget sama sekali. Yang membuatku kaget adalah kehadiran Karen dengan telanjang bulat. “Kamu ngapain?” tanya aku yang bingung. “Pak, ternyata walaupun Bapak sudah beristri, tetapi Bapak menggoda juga ya,” ungkap Karen yang langsung membuat mataku bengkak.

“Maksud kamu apa?” tanya aku yang memang kurang mengerti apa yang dibicarakan. “Bapak lihat aja sendiri, kalau perlu cium aja sekalian,” kata Karen sambil mengusap dada aku lalu menunjuk segumpal cairan yang tumpah. Aku memegang dan itu terasa sangat lengket, lalu aku melihat ke bawah.

Baca Juga  Cerpen: Mading Sejuta Cinta

Aku terkejut karena aku tidak memakai celana, aku langsung mempersiapkan diriku supaya segera pulang. “Keterlaluan kamu ya, Karen, tunggu saja kamu!” kata aku sambil memakai celana dan ketika aku membuka pintu, istriku sudah berdiri di sana.

“Apa yang mau kamu jelaskan? Aku sudah melihat adegan itu dan aku juga sudah berhenti percaya sama kamu. Dasar pria mata keranjang! Mulai detik ini, kita pisah!” ucap istriku sambil berpaling ke arah lain.

“Ngga, ngga gitu. Aku ga pernah selingkuhin kamu, Sayang,” ucapku sambil menarik tangan istriku. “Ga pernah? Aku lihat sendiri loh pakai mata aku kalau kamu ngelakuin hal yang senonoh sama wanita itu! Gimana aku mau percaya sama kamu?!” teriak istriku sambil berjalan pergi ke daerah lain.

Aku sangat sedih, hatiku retak dan hancur. Karen memeluk aku dari belakang dan aku langsung mendorongnya kencang, “Kamu yang buat ini kan?” tanya aku dengan emosi tinggi. “Iya, Pak. Aku tahu, semuanya bakal seperti ini makanya aku sengaja ga pura-pura polos.

Aku ga mau kayak istri Bapak yang pura-pura lugu padahal di belakang nyimpan macem-macem,” ungkap Karen yang semakin membakar emosiku. “Cukup ya Karen, kamu jangan kira karena kamu adalah ajudan kepercayaan saya, saya tidak akan marah sama kamu! Kamu sudah keterlaluan batas, kamu memang biadab! Mulai detik ini, kamu keluar dari perusahaan saya! Saya tidak mau tahu!” hajar aku yang langsung membuat Karen keluar dan beranjak menjinjing tasnya.

Dia mengambil tas di samping meja lalu dengan lembut berkata, “Maaf Mas, memang aku yang menyebabkan kalian hancur, tetapi Mas harus ingat kalau aku ini ngomong apa adanya. Mas, istri Mas itu selingkuh…”

“Cukup Karen, jangan berlebihan kalau ngomong! Sekarang kamu keluar! Keluar!” teriak aku. “Mas, Mas, percaya sama aku, Mas” ujar Karen sambil aku tarik keluar pintu. Saat ini, aku tidak mau mendengar apa pun dari wanita itu. Dia sudah keterlaluan dengan menghina istriku apalagi membuat kami cerai.

Aku langsung menyalakan mesin mobil dan membelah jalanan. Sesampai di rumah, aku melihat istriku berselingkuh dengan pria lain. Aku tidak tahan, aku langsung mendobrak pintu lalu betapa terkejutnya aku ketika yang berselingkuh dengan istriku adalah Bimo, teman SMP aku. “Bimo, apa yang kamu lakukan?” tanya aku mencoba menahan emosi. “Mas, kamu ingat ya! Ini rumahku! Aku yang berhak mengatur, terus apa hak kamu untuk bertanya? Ha?” ungkap istriku.

Baca Juga  Cerpen: Hadiah untuk Ayah

Hatiku membara, pipiku memerah, tanganku mengepal, nafasku menderu. Aku tidak sanggup menahan rasa emosi ini, apalagi memandangi mereka sambil tidak menganggap aku sebagai tuan rumah dan bermain seolah aku tidak ada. Bimo mulai memainkan perannya lalu aku menarik dan memukulnya dengan keras.

“Apaan sih kamu? Sok iya banget! Dia suamiku sekarang!” teriak istriku. “Sayang…” Istriku merusak percakapan aku sebelum aku bicara. “Aku ga mau tahu, aku bakal tuntut kamu di pengadilan, kamu sudah memukul orang!” ucap istriku sambil menggotong badan Bimo.

Bimo tersenyum sambil mencuri kesempatan yang ada terhadap istriku. “Makanya dapat istri cantik malah ditinggal,” ungkap Bimo dan dia mendorong istriku yang sekarang menikmati keadaan. Aku tidak tahu harus seperti apa dan parahnya adalah istri yang sudah tidak mirip istri ini tidak melakukan hal perlawanan .

Aku menjalani hari-hari aku dengan apa adanya, saat ini aku menginap di kontrakan dan menjual nasi bungkus untuk hidup. Perusahaan aku dikuasai Bimo, aku rela. Aku tahu, semenjak aku menikah dengan istri yang sekarang jadi mantan istri, Bimo sudah mencari kesempatan mendekati mantan aku.

Dari awal, aku sudah menaruh curiga bahwa mereka mempunyai hubungan spesial karena si mantan tidak pernah menolak kalau makan berdua ketika aku keluar kota sama Karen. Aku sekarang percaya bahwa apa yang dikatakan Karen benar kalau si mantan selingkuh. Hidupku terlalu payah! Hanya seorang istri saja tidak bisa dijaga, aku merasa sangat kurang.

Belum ditambah anak yang juga direbut oleh teman sendiri, aku sangat menyesal membiarkan istriku berkenalan dengan Bimo. Tetapi, aku tahu untuk saat ini apapun juga yang aku lakukan adalah kesalahan. Seharusnya, aku mempercayai Karen, tetapi karena emosi sudah berlanjut akhirnya aku tidak bisa berbuat apa.

Aku sangat merindukan bagaimana kehidupan aku dahulu. Mobil mewah, rumah bertingkat, jas yahg mahal, sekarang hanyalah memakai kaos oblong dengan celana pendek.

Namun, aku bersyukur karena Tuhan masih memberiku hidup yang layak dan aku memetik pelajaran. Jangan mudah untuk percaya dan curiga kepada orang lain, karena yang baik akan terlihat buruk dan buruk akan terlihat baik.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Penulis : Rico Fernando

Gravatar Image
Menulis adalah pentas ketika daging dan kulit terperas yang terlepas dalam wujud kata di atas kertas.

Comment

Artikel Terkait