by

Cerpen: INDIGO

Salsa adalah gadis indigo. Dia sebenarnya adalah gadis yang cukup pandai di sekolahnya. Namun, dia tidak punya teman karena teman-temannya iri sekali dengannya. Dia tidak pernah memperdulikan hal itu, dan tetap fokus mencapai cita-citanya dan tujuan hidupnya.

Sejak kecil Salsa sering menangis. Kemudian orang tuanya bertanya kenapa. Salsa pun langsung menunjukkan jari telunjuknya ke atas dan menangis lebih keras lagi. Kedua orang tuanya pun tanggap, kalau anak bayi atau anak yang masih kecil pasti masih bisa melihat hantu.

Tidak jarang sekali juga di saat Salsa menangis, sang ayah pun menggendongnya dan pergi keluar rumah untuk jalan-jalan agar Salsa tidak ketakutan lagi.

Salsa adalah gadis indigo. Dia sebenarnya adalah gadis yang cukup pandai di sekolahnya. Namun, dia tidak punya teman karena teman-temannya iri sekali dengannya. Dia tidak pernah memperdulikan hal itu, dan tetap fokus mencapai cita-citanya dan tujuan hidupnya.

Salsa pun berhenti menangis untuk sejenak dan kemudian menangis lagi. Dia pun menatap ke atas dan menutup kedua matanya. Dia pun semakin menangis histeris. Sang ayah pun bingung dan tetap mencoba menenangkan putrinya itu. Salsa yang merasa kasihan dengan ayahnya lalu kemudian langsung terdiam. Dia menahan ketakutannya, namun dia tetap menatap tajam ke arah makhluk tak kasat mata itu.

Dirangkulnya dengan erat pundak ayahnya itu serta menangis. Setelah hal itu, ayahnya merasa susah lagi. Karena, setiap setelah putrinya melihat hantu atau makhluk gaib, pasti putrinya itu akan sakit panas dan muntah-muntah. Hal itu benar-benar terjadi, keesokan harinya Salsa pun jatuh sakit.

Sakitnya untungnya tidak terlalu lama. Salsa pun cepat kembali sembuh. Namun, Salsa akan cepat sakit lagi juga. Sang ibu pun berharap anaknya itu bisa kembali normal atau tidak ada kejadian-kejadian aneh-aneh lagi.

Saat Salsa sudah agak besar, dia suka berbicara sendiri. Padahal, tidak ada teman atau ayah maupun ibu yang menemaninya. Dia bermain tanah dan bermain masak-masakan, sekaligus bercengkerama dengan sesorang yang tidak kelihatan oleh manusia normal, dan tentunya hanyalah Salsa yang dapat melihat sosok itu. Ibunya hanya bisa mendo’akan putrinya agar cepat besar dan akhirnya tidak bisa melihat hantu lagi.

Perlahan-lahan, anaknya itu tumbuh dewasa dan pelan-pelan keinginan ibunya mulai terwujud. Kemampuan Salsa dalam melihat hantu semakin berkurang. Kini, Salsa sudah jarang melihat hantu dan masih bisa merasakan keadaan sosok makhluk tidak kasat mata. Walaupun belum hilang total, namun sang ibu merasa sedikit lega. Setidaknya, anaknya itu sudah jarang melihat hantu dan diganggu hantu lagi.

Sebenarnya, Salsa terkadang tidak memperdulikan keberadaan hantu-hantu itu. Satu hal yang menjadi kelebihannya adalah dia bisa mengingat segalanya secara detail dan lengkap. Semua peristiwa dari masih kecil atau baru lahir maupun balita, dia mengingat semuanya dengan baik. Semua gurunya di sekolah memuji dirinya karena dia mampu menghafal banyak hal atau sesuatu yang panjang dengan secepat kilat.

Salsa juga menceritakan peristiwa mengapa dia menangis di waktu kecil dulu kepada kedua orang tuanya. Dia ingin sekali dulu memberitahu kedua orang tuanya, namun dia belum bisa bicara dan apa boleh buat dia dulu juga sudah berpikir untuk menceritakan semua hal itu setelah dia dewasa kelak nanti.

Sebenarnya dulu ada kuntilanak di atas ternit dan Salsa sebenarnya ingin tidur pindah, dan bukannya tepat tidur dibawahnya. Dia juga berbicara bahwa jika dia sedang melihat hantu, dia tidak sadar kalau itu adalah hantu. Setelah sadar, dia pun langsung ketakutan tidak karuhan.

Jika seseorang berpikir bahwa Salsa adalah seseorang yang pemberani, dan terkadang juga penakut, maka keduanya itu adalah benar. Di saat Salsa melihat hantu, yang dia butuhkan hanyalah rasa kesadaran. Jika ia tidak sadar, maka dia tidak akan takut. Namun, dia bisa saja terjerumus dan dirinya dikuasai roh jahat. Jika dia sadar, maka dia akan ketakutan dan berpikir yang berlebihan setelah itu sehingga dia tidak bisa tidur di malam harinya. Disaat itulah juga, roh jahat bisa masuk ke dalam tubuhnya dan mengusai jiwa dan pikirannya.

Oleh karena itu, dia berusaha mungkin untuk tidak melihat hantu. Namun, Salsa di dalam kesadarannya juga sering bertingkah aneh dan menantang dirinya untuk melihat hantu atau mencari asal-usul, maupun hanya sekedar mencari sesuatu informasi dari tempat-tempat atau sesuatu yang dia curigai dan merasa tidak enak.

Ada rumah kosong, dia pun berusaha masuk ke dalamnya. Alhasil, dia pun berhasil lari terbirit-birit karena melihat bayangan hitam yang berlari atau lewat di depannya langsung. Dia terkadang juga sering mersakan hal aneh seperti ada yang mengendalikan dirinya. Jadi, dia seringkali merasakan bahwa dirinya itu bukanlah dirinya.

Dia terkadang tidak mau untuk tidur atau tidak rela untuk tidur, karena pada malam harinya raganya sendiri itu bukan dijalankan ataupun digunakan oleh dirinya sendiri. Seringkali dia terbangun dan melakukan sesuatu.

Kedua orang tuanya pun terbangun dan menanyakan keadaan dirinya di esok hari apakah dia mengingatnya. Namun, Salsa menjawab tidak. Nah, di saat itu pula Salsa merasa bahwa dia dikurung di suatu tempat dan jiwanya kemana-mana. Dalam artian ini, maksudnya dia hanya tertidur, bukan meninggal.

Baca Juga  Cerpen: I'm Sorry

Salsa pun dilema dan bimbang, sebenarnya hantu siapakah yang mengambil raganya di malam hari itu. Masalahnya, hantunya ini bukan cuman satu, tetapi ada banyak.


Kisah hidupnya bersama para hantu pun semakin random dan semakin merasuk saja ke dalam jiwanya.

Di saat Salsa pulang dari ekstrakurikuler pbb di SMP nya, dia pulang maghrib dan busnya melaju terlalu cepat. Ada empat jalan untuknya turun dan pulang ke rumahnya. Namun, di saat Salsa sudah bilang kepada supir kalau dia sudah menyuruhnya untuk berhenti, sayangnya supir itu tidak mendengar suaranya. Lantas, kemudian para penumpang lainnya membantu Salsa untuk meneriaki pak supir.

“Pak! Kiri pak!” Teriak Salsa.

“Pak! Kiri pak!” Teriak para penumpang lainnya.

Pak supir pun lantas mengerem busnya dengan mendadak atau tiba-tiba.

“Waduh, maaf ya neng, bapak kebablasan.” Ucap pak sopir itu.

“Iya, tidak apa-apa pak. Ini, uangnya.” Ucap Salsa yang langsung turun dari bus.

Dia pun berlari dan bingung. Di hatinya, dia sudah merasakan perasaan yang tidak enak jika dia lewat jalan yang di depannya itu. Namun, dia harus cepat sampai rumah agar ibunya tidak merasa khawatir. Jalan yang aman menurut firasatnya adalah lewat jalan yang sebelumnya. Namun,  jalannya sangatlah jauh karena pak supir tadi kelewatan jauh.

Salsa pun memilih untuk melewati jalan di depannya itu. Walaupun badan dan kaki terasa berat untuk berjalan dan melangkah, namun dia pun memantapkan hatinya untuk cepat sampai ke rumah. Jalannya sangat licin dan curam. Salsa pun merasa dirinya sedang dibuntuti. Firasatnya pun benar terjadi. Dia pun ditakut-takuti oleh hantu dan ada suara seram di pohon bambu yang lebat.

Tanpa berpikir panjang, Salsa langsung menuruni jalan yang curam dan licin itu. Becek, bersemak-semak, dan banyak bebatuan menjadi penghalangnya saat berlari. Namun, Salsa tetap berlari sekuat tenaga agar cepat sampai di jalan yang diaspal. Jalan itu adalah jalan yang agak panjang dan hanya terbuat dari tanah. Berkali-kali Salsa hampir terjatuh, namun tidak jadi. Terdengarnya juga ada suara telapak kaki yang sama dengannya dan mengikutinya di belakang. Jika Salsa berjalan, maka suara kaki misterius itu juga akan berjalan. Jika Salsa berlari, maka suara kaki misterius itu akan berlari secepat kemampuan Salsa berlari.

Sesampainya di rumah, Salsa langsung menceritakan kejadian itu kepada ibnya. Ibunya pun langsung memarahinya karena kemarin ibu sudah memperingati Salsa untuk tidak pulang lewat jalan itu lagi.

“Maaf bu, habisnya kalau Salsa pulang telat, ibu nanti pasti khawatir. Kan Salsa enggak mau lihat ibu khawatir.” Ucap Salsa.

“Ya sudah kalau begitu, nak. Lain kali kamu jangan lewat jalan itu lagi ya, soalnya angker.” Ucap sang ibu.

Salsa pun beranjak SMA. Di SMA ini, Salsa juga banyak menemui hal-hal ganjil. Suatu ketika, Salsa ingin sekali buang air kecil di kamar mandi. Waktu itu pukul dua siang. Salsa pun meminta ijin kepada ibu guru. Salsa kesal, kenapa d isaat temannya ada yang ke kamar mandi kenapa dia tidak merasa ingin buang air kecil. Namun, disaat keadaan sepi dan tidak ada seseorang pun yang menemani dia justru merasa ingin ke kamar mandi.

Kamar mandinya ada di lantai tiga, tidak jauh dari kelasnya karena kelasnya juga berada di lantai tiga. Ada empat toilet, dan Salsa memilih yang paling pojok timur. Setelah selesai, Salsa pun keluar dari kamar mandi. Disaat akan keluar, tiba-tiba pintu keluar pun perlahan tertutup padahal tidak ada angin. Salsa pun berlari karena dia tahu ada roh gaib yang mencoba mengurungnya di kamar mandi. Buruknya, disaat dia sampai di depan pintu kamar mandi ada kuntilanak disampingnya. Salsa pun berlari kencang dan untungnya pintu keluarnya belum tertutup semua.

Salsa pun mengetuk pintu dan langsung duduk di bangkunya. Keringat dingin, leher tegang, dan kedua kakinya bergetar. Sahabatnya yang duduk di belakangnya pun bertanya.

“Salsa? Are you okay?” Tanya Ratna.

“Enggak papa, aku baik-baik saja.” Jawab Salsa.

Suatu ketika lagi, waktu itu adalah hari Senin. Salsa ada ekstrakurikuler dance dan dia pulang sore. Setelah ganti baju dari ruang kelasnya, dia pun langsung menuju ke pendopo sekolah. Disaat dia melewati kamar mandi, pintu kamar mandinya terbuka. Salsa pun spontan menoleh ke arah kamar mandi dan kearah wastafel. Dia spontan syok dan kaget karena ada gadis yang rambutnya berantakan, dan mengenakan baju pramuka panjang padahal hari itu kan hari Senin dan seharusnya memakai baju OSIS dan bukannya baju pramuka.

Salsa mengamatinya beberapa detik. Terlihat gadis itu sedang mencuci mukanya di wastafel. Hanya ada Salsa dan gadis itu saja karena para siswa sudah banyak yang pulang sekolah. Karena merasa ada yang mengamatinya, sang gadis itu pun menoleh. Salsa pun perlahan mulai merinding dan kaget, apalagi disaat sang gadis itu menolehkan wajahnya tepat mengarah kepadanya. Ternyata dugaan Salsa benar, gadis itu bukan seorang siswi ataupun manusia. Mana mungkin ada siswa yang di hari Senin memakai baju pramuka kecuali kalau memang ada atau untuk lomba mungkin bisa dimaklumi. Yap, benar sekali. Gadis itu adalah hantu yang sedang mencuci mukanya, wajahnya hancur dan terbakar, rambutnya kusut, dan tidak karuhan. Salsa pun langsung berlari sekuat tenaga. Hari itu adalah mimpi buruk dan Salsa tidak akan melupakan hal itu dari dalam hidupnya untuk selama-lamanya.

Baca Juga  Lemea, Makanan Fermentasi Khas Tanah Rejang

Banyak sekali cerita lainnya, suatu saat ketika Salsa ingin pulang sekolah lagi, Salsa berjanji tidak akan keluar kelas sebelum dia menelepon ayahnya untuk menjemputnya. Semua teman di kelasnya sudah pada pulang sekolah dan hanya dia sendiri yang tertinggal di kelas. Biasanya, Salsa menelepon ayahnya di luar sekolah dan terkadang juga dia menelepon ayahnya di dalam kelasnya. Namun, waktu itu ada hal yang berbeda. Salsa seperti ada yang menyuruhnya melakukan hal itu. Setelah menelepon selesai, tiba-tiba dari belakang kelas lemari buku pun terbuka dan ada sosok entahlah pria atau wanita yang jelas sosok itu berambut panjang dan tidak memakai busana.

Sosok itu pun keluar dari lemari buku dan menggeser kursi di depannya. Salsa bangkunya di depan sendiri di depan meja guru, untung saja dia tidak duduk di paling belakang. Salsa pun berlari keluar, namun sepatunya seperti susah untuk digerakkan dan anehnya Salsa berlari sekuat tenaga tetapi dia seperti hanya berjalan di tempat. Entahlah, kenapa lantainya jadi begitu licin sehingga memperlambat larinya menuju keluar pintu yang berada di sebelah barat.

“Astaga, untung saja aku bisa keluar.” Ucap Salsa saat sudah sampai di luar kelas.

Dia pun segera bergegas untuk turun dan pulang. Keesokan harinya dia menceritakan kejadian itu kepada salah satu teman akrabnya. Bukan salah satu sih, ya cuman satu-satunya itu. Dia bernama Vania. Vania adalah satu-satunya teman yang percaya dengan semua kata-kata Salsa dan percaya bahwa dia itu indigo.

“Astaga, aku jadi takut untuk duduk di paling belakang. Eh, btw kalau tempatku itu aman enggak Sa? Kalau menurutmu?” Tanya Vania.

“Aman, sih. Ya cuman itu, saranku kamu jangan duduk atau mencari buku, atau pokoknya jangan berada di dekat rak buku itu sendirian deh. Minimal kamu dua orang atau punya temen, deh.” Jawab Salsa.

“Oke deh Sa, makasih ya atas saranmu.” Ucap Vania.

Sesampainya di rumah, dia teringat masa kecilnya dulu. Dia teringat waktu ayah dan ibunya mencari barang yang hilang diluar rumah dan ada kuntilanak di depan atau di teras rumahnya sebelah barat. Salsa juga ikut mencari barang itu diluar rumah bersama ayah dan ibunya. Namun, saat itu hati Salsa sedang iseng untuk membujuk Salsa menoleh ke belakang. Saat ditoleh, terlihat sang kuntilanak sedang menatap tajam kearah kedua mata Salsa. Namun, Salsa tidak percaya kalau dia barusan melihat kuntilanak. Dia lantas tidak melihat atau melihat ke sisi lain terlebih dahulu, lalu kembali dia melihat ke arah kuntilanak itu. Alhasil, kuntilanak itu masih ada. Dia lakukan itu berulang kali, dan kuntilanaknya masih ada saja dan tidak beranjak dari tempatnya.

Kuntilanak itu berbaju putih, berambut panjang dan gembel. Kedua bola matanya menyeramkan sekaligus berdarah. Matanya berdarah, pipinya berdarah, giginya berdarah, dan mulutnya terbuka seraya tertawa tetapi tidak bersuara seraya menakut-nakuti Salsa. Salsa tidak tahu kenapa ada makhluk itu di rumahnya.

Setelah mencari dan tidak ketemu, mereka pun masuk dan tidak mencari lagi. Salsa pun berdo’a agar dia tidak ke kamar mandi malam itu karena kamar mandinya berada di luar dan sangat seram sekali untuk keluar rumah setelah melihat hantu kuntilanak itu. Salsa pun juga teringat lagi disaat dia ditinggal ayah dan ibunya pergi dan dia hanya di rumah sendirian, seringkali dia melihat dan diganggu oleh bayangan hitam yang lewat di dekatnya. Sungguh, kehidupan yang penuh dengan hantu baginya.

Sekarang, Salsa sudah kelas dua belas SMA. Dia sekarang menjadi wakil ketua kelas dan seringkali dia lah yang bertugas untuk mengumpulkan tugas di kelas. Di saat semua teman-temannya sudah berada di lapangan basket guna untuk berolahraga, Salsa pun terlebih dahulu menghitung jumlah buku teman-temannya dan mengumpulkan tugas bahasa jawa ke ruang guru. Namun, ada yang aneh dan ada hal ganjil lagi. Kali ini dia sendiri lah yang ditakut-takuti. Biasanya, teman satu kelas selalu diganggu dengan adanya suara meja dan kursi digeser-geser, padahal tidak ada orangnya.

Nah, kali ini Salsa sewaktu akan keluar dari ruang kelas, dia ditakut takuti dengan suara meja dan kursi yang digeser-geser dari ruang kelasnya sendiri dan padahal meja dan kursi itu tidak ada yang bergerak, masih pada diam dan rapi. Hanya suaranya saja seperti ada yang menggerakkan mereka. Salsa pun lantas berteriak guna memarahi mereka dan jangan mengganggu teman-teman yang lain.

“Hey! Kalian jangan menakut-nakutiku ya! Aku tidak takut dengan kalian! Aku juga memperingatkan kalian agar kalian tidak mengganggu teman-teman yang lain! Kami disini mau belajar dan mau bersekolah! Jadi, jangan ganggu kami!” Teriak Salsa.

Baca Juga  Cerpen: Hikayat Duha

Salsa pun langsung lari dan keluar serta menutup pintu kelas dengan pelan. Semenjak itulah suara gaduh kursi dan meja yang digeser-geser tidak ada lagi.


Yah, waktu pun berjalan dengan sangat cepat. Salsa sekarang sudah menginjak semester dua di perkuliahannya. Di semester pertama, dia hanya tidur sendirian di kamar kos karena kos-kosan yang Salsa tinggali itu sangatlah sepi dan sempit.

Kemudian, pada awal semester dua ini Salsa memutuskan untuk pindah ke tempat kos-kosan yang baru yang tentunya lebih ramai penghuninya. Namun, tempat ini justru ramai dibicarakan angker oleh para penghuni kos lainnya. Salah satu kamar yang paling angker adalah kamar 14. Sedangkan Salsa menempati kamar 15. Ya, agak merinding sih kalau mendengar cerita-cerita seram dibalik kamar 14 itu.

Dua bulan pertama sih, Salsa belum mendapat masalah seputar hantu lagi. Namun, hal aneh kemudian terjadi pada bulan kelima. Disaat itu, salah seorang sahabat karib Salsa di perkuliahan yang bernama Aliyya juga pindah dari kos-kosannya yang lama dan menempati kamar 14 tepat di sebelah kamar milik Salsa dan Wandya. Sebelumnya, Salsa sudah berunding dengan Wandya untuk berbagi kamar dan mengijinkan Aliyya untuk tinggal bertiga di dalam satu kamar demi keselamatan Aliyya. Namun, Aliyya justru menolaknya dan memilih untuk tinggal sendirian di kamar 14 meskipun dia tahu bahwa kamar yang ditinggalinya itu sangatlah angker.

Seringkali Aliyya di tengah malam berteriak-teriak tidak jelas sehingga membangunkan seluruh penghuni kos. Namun, tidak ada satu pun yang berani mengunjungi kamar Aliyya. Hanya Salsa saja yang berani mengunjunginya dan terkadang juga menemani Aliyya tidur di kamar 14 itu.

Salsa dan Wandya seringkali menanyakan keadaan Aliyya apakah dia baik-baik saja. Namun, seringkali tidak ada jawaban. Salsa pun menjadi penasaran dan meminta ijin kepada Wandya untuk tidur di kamar Aliyya selama tiga hari guna membuktikan dan menceritahu apa yang terjadi.

Hari pertama dan kedua, terasa aman-aman saja dan sepertinya tidak ada terjadi sesuatu yang aneh maupun sesuatu yang ganjil. Namun, di hari ketiga ketika Aliyya sudah tertidur lelap, Salsa mendengar sesuatu yang aneh dari dalam kamar mandi. Salsa yang indigo itu pun mencoba memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar mandi itu. Setelah ditemui dan ditunggu selam lima m baru muncullah tetesan darah dari atas kamar mandi dan tepat menetes di kening Salsa. Salsa spontan langsung mencuci mukanya di wastafel, namun, alhasil, dia malah menemukan rambut gimbal yang tiba-tiba saja muncul dan berserakan di wastafel.

Di saat Salsa akan mengecek bak mandi dan tiba-tiba lampu mati, Salsa pun terkejut setelah lampu dalam hitungan satu menit kembali menyala dan ditemuinya bak mandi yang semulanya airnya kosong kini berubah menjadi air yang keruh dan memerah. Salsa tentu saja sudah paham bahwa ini adalah kejadian ganjil dan disengaja oleh hantu tersebut. Rupanya hantu itu ingin mengirimkan dan mengisyaratkan sebuah pesan kepadanya.

Perlahan Salsa menyelupkan tangannya ke dalam bak air itu untuk membuang isi air, dan ada tangan yang menyeretnya dan kemudian melepaskan tangannya Salsa. Setelah air itu surut, ditemui ada sebuah tali yang sangat misterius. Diambilnya tali itu dan kemudian diamati. Alhasil, Salsa pun mendapatkan bayangan akan ada sebuah kejadian pembunuhan ataupun bunuh diri namun tidak tahu itu siapa. Salsa pun kemudian membuang tali itu di lantai kamar mandi lantas beranjak untuk tidur kembali.

Dua hari kemudian, Salsa pun menceritakan kejadian itu kepada Aliyya dan Wandya. Namun, Aliyya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja dan masih memilih untuk tingal di kamar 14 itu. Salsa dan Wandya pun sudah memperingatkan Aliyya untuk segera pindah dari kamar itu, setidaknya sementara saja untuk mengungsi ke kamar 15 milik Salsa dan Wandya.

Satu minggu kemudian, Salsa dan Wandya merasakan hal-hal yang aneh pada diri Aliyya.  Aliyya pun mengajak hal-hal aneh kepada mereka berdua. Salsa pun tersadar dan curiga bahwa itu bukanlah Aliyya yang asli dan spontan langsung menyeret tangan Wandya ke kamar 14 milik Aliyya itu dan mencari tahu dimana keberadaan Aliyya yang sesungguhnya.

Namun, di saat mereka berdua membuka pintu kamar mandi, terkejutlah mereka berdua ketika menemui temannya Aliyya yang tergantung di kamar mandi dengan menggunakan sebuah tali yang ditemui Salsa pada minggu-minggu yang lalu. Setelah kejadian tersebut, Salsa menjadi trauma dan sekaligus mengetahui pesan yang tersirat dari hantu di kamar 14 tersebut. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Salsa. Dia pun harus melanjutkan kehidupannya yang penuh dengan hantu itu sekaligus menyesal tidak bisa menyelamatkan sahabatnya. Entah apa yang akan terjadi di kehidupan Salsa selanjutnya kita semua tidaklah tahu dan masih menjadi misteri.

TAMAT

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Artikel Terkait