by

Cerpen: Impian Senja

Judul Cerpen: Impian Senja
Karya: Jili Oktoberti, A.Md

Hai, perkenalkan Namaku Senja. Di beri nama senja oleh kedua orang tuaku karena aku memang terlahir di senja hari, dimana saat itu langit sangat indah dengan warna jingganya, sehingga akhirnya nama Senja disematkan padaku dengan harapan aku akan menjadi seorang anak yang cantik, dan dapat memberikan keindahan di dalam kehidupan kedua orang tuaku layaknya langit yang indah di senja hari.

Aku mempunyai cita-cita menjadi photographer dan juga menjadi seorang pelukis. Tiap harinya aku menghabiskan waktuku dengan hunting foto dan juga melukis. Kedua orang tuaku bangga mempunyai anak sepertiku, bahkan mereka sangat mendukungku untuk meraih impianku menjadi seorang photographer dan pelukis.

Terbukti dengan mereka membelikan alat alat penunjang untuk memenuhi hobby dan cita-citaku, seperti camera dan alat alat untuk melukis untuk menunjang kegiatanku dalam hunting foto dan melukis. Semakin hari aku semakin bersemangat menekuni hobbyku yang tak lain adalah cita citaku.

Aku sangat suka mengambil foto dan juga melukis pemandangan-pemandangan yang indah seperti pantai, gunung, danau, hutan, air terjun dan juga pemandangan alam lainnya. Bahkan aku juga suka melukis langit di sore hari yg tak lain adalah namaku sendiri yaitu senja.

Hobbyku itu membuatku menjadi sering melakukan kegiatan traveling seperti naik gunung, berkemah di hutan, liburan ke pantai, pikinik danau ataupun mengunjungi air terjun, karena selain jalan-jalan aku juga bisa sambil menyalurkan hobbyku juga.

Namun sayangnya sebuah peristiwa buruk terjadi padaku yang menghancurkan semua harapanku dan cita citaku.

Suatu hari aku ada kegiatan berkemah dari sekolahku, lokasinya di pegunungan dimana disana terdapat hutan-hutan pinus yang indah, tentu saja itu merupakan kabar yang sangat baik untukku, karena kegiatan ini sangat aku nanti-nantikan, dan tentunya aku bisa menyalurkan hobbyku memotret dan melukis. Ya kegiatan ini sangat mendukung pashionku.

Akupun lekas menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa nanti untuk berkemah termasuk camera dan juga alat-alat melukisku, ibukupun dengan suka hati membantuku menyiapkan semua keperluanku selama camping di sana seperti pakaian, makanan dan minuman.

Hari itupun tiba, aku berangkat ke sekolah. Semua siswa dan siswi berkumpul di sekolah. Kita semua menaiki bis menuju ke sana, perjalanan ini sangat mengasyikan, akupun tak sabar ingin segera sampai di tempat tujuan, aku sudah membayangkan pemandangan yang indah di sana, aku tak sabar ingin mengaambil foto dan melukis disana.

Tepat pukul 08.00 kita semua telah sampai di tempat tujuan. Kita semua mulai mendaki gunung, menyusuri hutan dan aku lihat di sana ada sebuah air terjun dan sebuah danau yang letaknya tak jauh dari air terjun.

Baca Juga  Serebuk Daun Bebele: Makanan Sehat di Kala Penat

Aku dan teman-temanpun sejenak bermain di air terjun itu hanya untuk melepas penat dan untuk menyegarkan diri, karena tubuh ini sudah sangat lelah untuk menempuh perjalanan jauh ke sini. Akupun tak lupa memotret teman-temanku yang sedang asyik bermain air di air terjun itu, aku juga memotret air terjun itu ketika teman-temanku meninggalkan air terjun itu untuk menambah koleksi fotoku.

Aku juga tak lupa berfoto di air terjun itu hanya sekedar untuk kenang-kenangan dan untuk diperlihatkan kepada keluargaku di rumah nanti. Lalu, kita semua beristirahat di tepi danau sambil makan-makan, karena perut ini sudah sangat lapar dan tubuh ini sudah sangat lelah. Aku dan teman-temanpun tak lupa untuk berfoto di tepi danau, dan tentunya aku juga tak lupa mengambil gambar danau tersebut.

Tak terasa hari sudah malam, kita semuapun membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh kita, di hadapan api unggun kita semua bernyanyi-nyanyi di iringi dengan lantunan sebuah gitar yang di mainkan oleh salah satu teman kita dan aku abadikan momen tersebut.

Ketika malam semakin larut dan kita semua mengantuk, kita semua bergegas ke tenda untuk tidur. Sungguh hari yang sangat melelahkan namun sangat menyenangkan.

Pagi hari aku terbangun, aku keluar tenda. Di luar sana sudah banyak orang yang sibuk melakukan kegiatan nya seperti memasak dan juga mengambil air. Aku sendiri memilih untuk berjalan ke hutan, disana aku duduk sendiri sambil menyiapkan alat-alat melukisku.

Di sana aku mulai melukis, aku melukis teman-temanku yang sedang melakukan kegiatan seperti memasak dari kejauhan. Aku juga melukis semua pemandang-pemandangan yang indah yang terekam di otakku, ku goreskan kuasku ke kanvas dan kumulai melukis seperti hutan, danau dan air terjun.

Setelah puas melukis akupun kembali ke tempat dimana teman-temanku semua berkumpul. Akupun membantu mereka memasak
Setelah selesai, aku dan teman-temanku berkumpul sambil memakan mie instan yang sudah kita masak tadi. Dan akupun memperlihatkan hasil foto-fotoku kepada mereka dan merekapun tertawa melihat wajah-wajah mereka sendiri yang tersimpan di cameraku.

Keesokan harinya, kita semua bersiap-siap untuk pulang. Kita semua berkumpul dan berdoa dulu sebelum berangkat. Kitapun naik bis dan supirpun mulai melajukan bisnya. Seperti biasa, selama di perjalanan supaya kita tidak jenuh kita semua menghibur diri dengan karokean, mulai dari lagu pop, dangdut hingga lagu-lagu jadul semua kita nyanyikan bersama.

Baca Juga  Cerpen: KAMARKU TEMPAT KENYAMANANKU

Namun tiba-tiba satu peristiwa terjadi membuat semua penumpang bis panik, dari arah berlawanan ada motor yang berusaha menyalip kendaraan di depannya sehingga membuat supir bus kaget dan mencoba menghindari tabrakan, namun apa yang terjadi, rem bus yang kita tumpangi ternyata blong, supirpun tidak bisa mengendalikan bus nya, kita semua yang ada di dalam bus berteriak histeris ketakutan, namun guru-guru kami mencoba menenangkan kami dan menyuruh kami untuk berdoa agar selamat dari kecalakaan tersebut. Tapi apa daya bus kami akhirnya terjatuh ke dalam jurang.

Sore itu aku terbangun dari tidurku yang lelap, aku mendapati diriku tengah berbaring di atas tempat tidur namun anehnya aku tidak bisa melihat sekitar, kucoba menutup mataku dan membuka mataku kembali, tetap saja yang ada hanya gelap.

Kucoba bangun dari tempat tidur dan aku mencoba meraba-raba semua yang ada di sekitarku, astaga apa yang terjadi padaku sehingga aku menjadi buta seperti ini. Suara hentakan sepatu menggoyahkan lamunanku, ternyata yang datang itu adalah ibu bapaku, mereka segera menghampiriku dan memapahku berjalan, mereka berdua sangat khawatir padaku dan akupun bertanya “apa yang sebenarnya terjadi padakuku pa, bu ?” Namun pertanyaanku dijawab dengan isakan tangis mereka, pelan-pelan mereka menceritakan semua yang terjadi, hingga akhirnya aku bisa mengingat bahwa aku baru saja mengalami kecelakaan ketika pulang berkemah, akupun menangis.

Aku sedih dengan keadaan seperti ini mana mungkin aku bisa mencapai cita-citaku, aku harus melupakan dan mengubur dalam-dalam keinginanku menjadi seorang photographer dan pelukis, karena bagaimana mungkin aku bisa memotret dan melukis sedangkan aku tak bisa melihat. Aku sudah tidak bisa mengejar impianku lagi, pupus sudah harapanku selama ini.

Beberapa hari kemudian, orang tuaku memutuskan untuk membawaku pulang ke rumah, karena mereka sudah tidak mempunyai uang lagi untuk melanjutkan perawatanku di rumah sakit karena biaya nya yang mahal, apa lagi operasi mata biayanya sangat mahal sekali, merekapun minta maaf padaku karena tidak bisa mengusahakan untuk kesembuhanku, mendengar ucapan mereka, hatiku semakin hancur.

Gara-gara aku semua harta yang mereka punya habis tak tersisa, ini sangat membuatku sedih, mereka harus menderita karena anak sepertiku.

Ketika sudah sampai rumah, aku mendengarkan berita yang memberitakan kecelakaan yang dialami aku dan teman-teman sekolahku, aku kaget ketika mendengar kabar bahwa ada siswa/i yang meninggal karena kecelakaan tersebut, dan aku kaget ketika mamaku menerima telfon dan ternyata di telfon itu mengabarkan bahwa sahabatku meninggal karena kecelakaan itu.

Baca Juga  Cerpen: Sebab Kamu Hanya Mencintainya

Suatu hari aku mendapati ternyata ibuku diam-diam mengirim karya-karyaku ke galeri milik temannya, dan tak ku sangka karya-karyaku ada yang membeli dengan harga yang tinggi. Semua karya-karyaku diborong oleh seorang kolektor lukisin dan foto.

Aku sangat terharu sekali dengan perjuangan kedua orang tuaku untuk kesembuhanku. Merekapun akhirnya, membawa kembali aku ke rumah sakit untuk melanjutkan pengobatan. Di sana ibu bapaku berkata padaku dan meminta maaf padaku, karena mereka tidak bisa bantu secara materi, mereka hanya bisa bantu doa dan mereka bilang uang yang di pakai untuk berobat adalah uang ku sendiri, merekapun berkata” ini semua berkatmu sendiri, dengan karyamu kamu bisa mendapatkan uang yang banyak sehingga bisa melanjutkan pengobatan, ayah dan ibumu tak mampu mengusahakan kesembuhan untukmu” akupun seketika itu menangis mendengar kata kata mereka yang terucap dari bibir mereka, dan aku menjawab “ini semua berkat bapa ibu yang berusaha dan mendoakan aku” merekapun memeluk erat tubuh seakan-akan tak mau kehilangan anaknya. Setidaknya mereka bersyukur anaknya selamat dari kecelakaan maut itu.

Setelah selesai pengobatan, akhirnya aku bisa melihat lagi, senang sekali rasanya. Aku bisa melanjutkan mengejar mimpi-mimpi aku yang sempat tertunda. Tak lupa akupun berziarah ke makam sahabat-sahabatku.

Aku sering mengunjungi pameran-pameran lukisan dan pameran foto, dan memamerkan hasil karya-karyaku di sana, dan kedua orang tuaku selalu mendampingiku. Dan alhamdulilah karya-karyaku selalu habis laku terjual, itu semua berkat doa dari kedua orang tuaku, dan kejadian yang menimpaku memberikan hikmah untuk keluargaku.

Aku bersyukur sekali diberi nama senja, ternayata nama SENJA yang di berikan orang tuaku kepadaku benar-benar memberikan keindahan dan kebahagiaan untuk keluargaku.

Akhirnya impian senja selama ini menjadi seorang photographer dan menjadi seorang pelukis terwujud, itu semua berkat usaha senja yang gigih mengejar impian nya dan juga berkat doa dari kedua orang tua senja. Senja bisa mencapai titik kesuksesan ini, perjuangan nya sangat tidak mudah, dia harus melewati berbagai ujian yang dia hadapi termasuk harus kehilangan sahabatnya sendiri.

Karya-karya senja dipersembahkan untuk sahabat-sahabatnya yang meninggalkannya terlebih dahulu, senja menceritakan semua pengalaman nya didalam sebuah buku yang berjudul

“Impian Senja”

Garut, 25 September 2021

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait