by

Cerpen: I’m Sorry

“DASAR LO NGGAK TAU MALU!”

“PENCURI NGGAK COCOK ADA DI KELAS INI!”

“LO NGGAK DIKASIH UANG SAMA ORTU LU SAMPAI NYURI?!”

Berbagai macam cacian dan hinaan ditujukan semua siswa pada seorang gadis yang kini meringkuk di pojokan kelas. Bahunya bergetar bertanda bahwa gadis itu sedang menangis. Tapi, hal itu tidak membuat anak-anak berhenti merundungnya. Mereka bahkan kini melempari gadis itu dengan kertas yang digulung.

Aku hanya berdiri diam di depan kelas sembari menyaksikan mereka semua dan … gadis yang tidak berdaya itu. Tatapan belas kasihan kulayangkan kepada gadis itu, seolah-olah merasa sedih dengan apa yang menimpanya. Tapi, tanpa mereka semua sadari justru aku-lah orang yang berperan besar dalam kasus ini.

Tidak, aku sama sekali tidak jahat seperti yang kalian pikirkan. Aku hanya sedikit bermain dengan gadis malang itu. Mungkin lebih tepatnya aku ingin mengambil kembali apa yang telah dia rebut dariku.

Namaku Sasha. Sasha Aurelia. Aku berasal dari keluarga yang kaya dan bergelimang harta. Sejak kecil aku terbiasa hidup dengan kesempurnaan. Paras yang cantik serta otak yang cerdas semua ada pada diriku. Di sekolah ini, aku disebut ‘Queen’ karena kesempurnaan yang aku miliki itu.

Hingga akhirnya, gadis sialan itu datang ke sekolah ini dan menggantikan posisiku. Gadis bernama Luna itu mengambil semua perhatian teman-teman bahkan guruku dan berlagak ingin lebih sempurna dariku. Tentu saja aku tidak terima. Apalagi dia ditempatkan duduk tepat di sebelahku, yang membuat anak-anak semakin gencar membandingkan diriku dengan Luna.

Saat ini, guru-guru sedang rapat mengenai kasus yang menimpa Luna yang akhirnya membuat teman sekelasku bebas untuk merundungnya. Tidak banyak yang kulakukan hingga membuat Luna mengalami hal ini. Hanya ‘sekedar’ menaruh uang bu Saras pada tas Luna saat semua orang tidak ada di kelas dan kemudian menuduhnya mencuri.

Tentu saja dengan bantuan kedua sahabatku–Nina dan Lala. Tidak jahat bukan? Untungnya, Dewi keberuntungan berpihak kepadaku saat itu. CCTV yang ada di kelas ini rusak yang sangat memudahkanku untuk aksi tersebut.

“Nggak usah lempar kek gitu. Langsung sama tempat sampahnya aja sekalian!” Seorang gadis dengan rambut pirang masuk ke dalam kelas dengan tangan menenteng tempat sampah. Tepat di hadapan Luna, gadis itu menumpahkan isi dari tempat sampah tersebut yang membuat rambut dan seragamnya kotor.

Aku tersenyum tipis melihatnya. Senang rasanya jika banyak yang ikut andil dalam permainan yang kubuat.

“Gimana? Lo puas?” tanya Nina setengah berbisik kepadaku yang hanya kubalas dengan senyuman manis.

“Selamat bersenang-senang … Luna.”

*****

Jam menunjukkan pukul 00.00 tepat setelah aku menyelesaikan film hororku. Ya, aku memang sangat menyukai film Dengan genre horor atau thriller karena bagiku cukup menantang. Aku segera menutup laptopku dan bersiap untuk tidur.

Kurebahkan tubuhku di atas kasurku yang sangat empuk. Entah mengapa, pikiranku tiba-tiba berputar mengingat kejadian di sekolah tadi, saat Luna dibully oleh teman sekelasku. Mengingat wajahnya yang selalu menunduk ketakutan, bahunya yang bergetar karena menangis membuatku sedikit tak tega. Apa yang kulakukan sudah keterlaluan?

Ah, sudahlah. Lagi pula Luna sudah berani-beraninya mau merebut posisiku di sekolah. Sebaiknya aku tidur saja, untuk menjernihkan pikiranku.

Tok … Tok … Tok …!

Baru saja aku memejamkan mataku, tiba-tiba suara ketukan dari pintu membuatku kembali terbangun. Siapa sih yang datang ke kamarku di tengah malam seperti ini?

Dengan malas, aku melangkahkan kakiku menuju pintu.

“Iya sebentar!”

Ceklek …!

Aku menolehkan kepalaku ke segala arah. Tapi … tidak ada orang. Lalu, siapa tadi yang mengetuk pintu. Jangan bilang kalau Anto–adik lelakiku yang berniat menggangguku. Ah, tapi tidak mungkin, di jam segini Anto pasti sudah tidur. Atau mungkin saja aku yang salah dengar?

Dengan segera pintu kembali kututup. Mungkin saja aku tadi hanya berhalusinasi karena terlalu memikirkan Luna.

Tok … Tok … Tok …!

Suara ketukan itu kembali muncul. Sama seperti sebelumnya, saat aku membuka pintu tetap tidak ada orang sama sekali. Karena sudah kesal, aku membanting pintu dengan keras.

Tunggu, aku baru sadar sesuatu. Sepertinya ketukan itu bukan berasal dari pintu. Tapi dari kaca. Apa kaca jendela? Aku kembali berjalan menuju jendela kamarku, menyingkap tirai pada jendela itu dan ya … tetap sama. Tidak ada apa pun.

Tok … Tok …!

Suara ketukan itu kembali terdengar. Entah perasaanku saja atau bagaimana, yang jelas sekarang atmosfer dalam kamarku terasa lebih dingin serta suasananya yang semakin meremang dan mencekam. Kurasakan angin seakan berembus melewati ceruk leherku yang membuat bulu kudukku berdiri. Aku mengelus lenganku sembari bergidik ngeri.

Aku berusaha menepis pikiran-pikiran negatif dengan melafalkan berbagai kalimat penenang dalam hati dan berniat untuk kembali ke tempat tidur. Saat membalikkan tubuhku, entah mengapa tiba-tiba pandanganku tertuju pada cermin besar yang ada di sudut kamarku. Aku merasa seolah-olah dari tadi ada yang memperhatikanku lewat cermin itu.

Dengan langkah pelan, aku mendekati cermin tersebut. Awalnya, tidak ada sesuatu yang aneh. Pantulan yang dikeluarkan oleh cermin itu masih sama seperti yang kulakukan saat ini. Namun, semua berubah saat tiba-tiba kabut hitam yang entah asalnya dari mana memenuhi sisi cermin tersebut.

Aku menutupi wajahku saat kabut itu perlahan mengganggu pandanganku. Saat aku membuka mata, aku berjengit kaget. Penampakan di depanku hampir membuat jantungku meloncat dari tempatnya. Lututku terasa lemas yang membuatku tidak bisa berpindah tempat, aku ingin berteriak tapi lidahku terasa kelu yang membuatku hanya bisa terdiam kaku–mencerna apa yang terjadi.

Seorang gadis dengan rambut panjang dan tinggi yang sama sepertiku ada di dalam cermin. Tubuhnya terbalut dengan kain putih panjang. Wajah gadis itu hancur dan dipenuhi dengan darah yang sudah menghitam. Perlahan, mata putihnya mulai mengeluarkan ulat-ulat kecil atau mungkin … belatung. Dan apa ini? Bau bangkai mulai memenuhi indra penciumanku.

“Si–Siapa kamu?” Aku mencoba bertanya dengan sisa keberanian yang kumiliki.

Gadis di dalam cermin itu hanya tersenyum lebar yang membuat mulutnya yang sobek dan mengeluarkan darah yang hitam pekat. Pemandangan itu membuatku terasa mual dan ingin pingsan saja. Aku memang menyukai film horor, tapi tidak dengan yang satu ini.

“Aku adalah dirimu yang sebenarnya.” Suara gadis itu menggelegar di dalam kamarku.

Alisku mengerut. Apa maksudnya?

“Dirimu yang sebenarnya, yang busuk dan menjijikkan!” lanjut gadis menyeramkan itu.

“Apa maksudmu?” Degupan jantungku semakin cepat.

“Tidak ada satu orang pun yang mengetahui bahwa kamu adalah orang jahat yang memfitnah temanmu dan membuat dirinya tersiksa. Orang-orang mengetahui bahwa kamu orang yang baik, sempurna, cantik. Tapi, sayangnya salah. Kamu busuk, bermuka dua, dan menjijikkan sama seperti yang kamu lihat dalam cermin ini!” Gadis itu menjelaskan dengan lebar yang membuat mataku tiba-tiba melotot terkejut.

Kenapa dia bisa mengetahui hal tersebut?

“Dan sebagai balasan yang harus kamu terima adalah, aku akan membuatmu mempunyai wajah sepertiku. Hancur dan menjijikkan, agar semua orang tahu bahwa itulah dirimu yang sebenarnya.” Gadis di dalam cermin itu tertawa dengan keras dan sangat menyeramkan. Aku menggelengkan kepalaku. Tidak, aku tidak ingin memiliki wajah sepertinya.

Tangan gadis yang penuh darah itu perlahan keluar dari cermin, bersamaan dengan darah yang juga mengucur dari cermin. Hanya tersisa lima centimeter dan  jari-jari yang panjang nan tajam itu akan menyentuh wajahku. Saat ini aku hanya bisa pasrah sembari memejamkan mataku–menunggu kuku tajamnya menerkamku.

“AKHHHH!?” Aku berteriak dengan keras.

“Sasha!? Sasha bangun! Hei!?”

Nafasku memburu dan dadaku terasa sesak. Aku mengedarkan pandanganku–menelusuri kamarku dan juga cermin besar yang ada di sudut kamar. Tidak ada apa pun di sana, tidak ada darah dan gadis menyeramkan itu. Dan di luar sinar matahari mulai masuk menembus jendela kamarku.

Lalu apa itu tadi? Hanya mimpi? Tapi kenapa terasa begitu nyata?

Aku menyentuh wajahku yang sudah basah karena keringat dingin. Di hadapanku ada Mama yang menatap dengan kebingungan.

“Kamu kenapa? Kok teriak-teriak? Pasti tadi malam habis nonton film horor ‘kan, makanya mimpi buruk,” ujar Mama sembari menggelengkan kepalanya.

Aku hanya diam, perasaanku masih belum membaik. Aku takut jika gadis menyeramkan itu kembali lagi dan benar-benar menghancurkan wajahku.

“Ya sudah, sekarang kamu mandi. Siap-siap ke sekolah.”

Pikiranku melayang memikirkan perkataan gadis menyeramkan itu. Apa aku memang gadis yang menjijikkan? Aku sudah memfitnah Luna dan membuatnya dirundung oleh semua siswa di sekolah dan itu adalah hal yang sangat keterlaluan. Apa mimpi semalam adalah teguran untukku?

*****

“Luna!” panggilku begitu melihat Luna berjalan di koridor sekolah.

Gadis itu menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya ke arahku. Aku meremas jemariku dengan gugup. Aku sudah memutuskan untuk meminta maaf kepada Luna dan akan mempertanggung jawabkan perbuatanku. Ini cukup sulit karena aku belum pernah meminta maaf kepada orang lain sebelumnya.

“A–Aku … mau bicara sama kamu.”

“Mau bicara apa Sha?” tanya Luna kebingungan. Mata yang sembab, lingkaran hitam di bawah mata dan suaranya yang serak menjadi pertanda bahwa gadis itu baru saja selesai menangis.

“A–Aku mau minta maaf,” ujarku dengan pelan.

“Aku minta maaf, karena yang ngebuat kamu dibully sama semua orang itu … Aku.”

Dapat kulihat wajah terkejut Luna dan matanya yang menatapku dengan tidak percaya.

“Maksud kamu apa Sha?”

“Yang masukin uang Bu Saras di tas kamu itu sebenarnya … Nina dan Lala. Dan aku yang nyuruh mereka lakuin itu. Maaf.” Aku menundukkan kepalaku dengan wajah yang terasa panas.

“Kenapa Sha? Kenapa kamu ngelakuin itu? Aku ada salah sama kamu?” Mata Luna berkaca-kaca.

Aku menggelengkan kepala, menepis perkataan Luna. “Nggak Lun, kamu nggak punya salah sama aku. Aku cuman takut, karena kedatangan kamu sebagai murid baru di sini bisa ngebuat posisi aku tergeser sebagai orang yang selalu dipuja di sekolah ini. Aku nggak mau itu terjadi, apalagi teman-teman selalu banding-bandingin kita berdua. Ma–makanya aku ngelakuin semua itu,” jelasku dengan panjang lebar.

“Tapi Kenapa harus kayak gini Sha? Kamu tau, Aku hampir aja dikeluarin dari sekolah ini padahal aku murid baru Sha. Tapi, untungnya Bu Saras ngasih toleransi buat skorsing aku selama seminggu. Dan yang lebih parahnya, aku dibully habis-habisan sama teman-teman,” ujar Luna dengan menggebu-gebu.

Aku mengangkat kepalaku. “Maafin aku Lun, aku salah. Aku akan bertanggung jawab atas semua perbuatanku. Aku bakalan temui Bu Saras dan jelasin semuanya supaya kamu nggak diskors dari sekolah ini.”

“Sebenarnya, aku udah maafin kamu bahkan walaupun kamu nggak minta maaf. Tapi, untuk pengakuan kamu, emang paling benar kalau jelasin ke Bu Saras tentang semuanya supaya nggak ada salah paham.”

Mendengar perkataan Luna membuat hatiku berdenyut. Atas segala kesalahan yang sudah kuperbuat tapi dia masih mau memaafkanku.

Aku memeluk Luna dengan air mata yang berderai. Selama ini, aku selalu mencari apa kelebihan dari Luna yang membuat semua orang menyukainya. Yah, sekarang aku sudah menemukan jawabannya. Kebaikan hatinya ‘lah yang membuat dirinya menang, kebaikan hatinya yang membuat Luna mengalahkanku. Itu jawabannya.

Sekarang, aku akan mempertanggungjawabkan kesalahanku. Aku akan menerima segala hukuman yang diberikan. Bahkan, hukuman yang diberikan kepadaku nantinya mungkin tidak akan impas dengan apa yang sudah kuperbuat kepada Luna.

Tapi, aku berjanji akan berubah mulai dari sekarang. Tidak lagi merasa iri, tidak lagi jahat kepada Luna ataupun orang lain. Aku janji untuk itu.

Dan … Terima kasih juga untuk gadis menyeramkan yang sudah hadir dalam mimpiku dan membuatku sadar akan kesalahanku.

•SELESAI•

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Baca Juga  Resep Mie Gomak Goreng, Santapan Sehat yang Kental Akan Bumbu Khas Batak

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait