by

Cerpen: Heal Me to be Myself

Allen tampak sedang berdiri di depan cermin. Ia tersenyum tipis mengamati bayangan dirinya. “Bagaimana rasanya selalu berada di sisi ku?” ujarnya seraya melepas ikat rambutnya. “Apa kau tak bosan?” lanjutnya seraya tersenyum tipis?

“Kau yang selalu membutuhkanku untuk berada di sampingmu sampai saat ini, bukan?” ujar suara dari balik cermin. Allen menatapnya lekat kemudian ia terdiam sejenak.

Sejak kepergian tumpuan hidup satu-satunya yaitu ibunya, Allen merasa sangat kesepian. Ayahnya yang memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang janda mengharuskan Allen memiliki saudara tiri yang lebih muda darinya. Bahkan perhatian sang Ayah pun nyaris terkuras untuk sang adik tiri. Ayah selalu bersikap kasar dan menekan Allen untuk menjadi seperti apa yang mereka harapkan.

“Ayah selalu memanjakan Zaviar. Apakah ayah lupa kalau Allen anak kandung ayah?” tanya Allen malam itu ketika ayah sedang berada di ruang kerjanya. Ayah seketika menghentikan pekerjaannya namun tetap terdiam tanpa memandang Allen sekalipun.

“Apakah semudah itu ayah melupakan mama?” lanjut Allen masih dengan menatap dalam ayahnya yang tak sekalipun menoleh ke arahnya. Namun entah mengapa ayah tak sekalipun mengucap sepatah kata. Tiba-tiba dering telepon ayah memecahkan keheningan malam itu. Ayah merogoh sakunya dan tampak berbicara serius dengan orang di seberang.

“Ya, saya segera ke sana,” ujar ayah menutup teleponnya seraya melangkah pergi dengan terburu-buru meninggalkan Allen. Bukan kali pertama Allen bertanya seperti ini kepada ayah dan tak kunjung mendapat jawaban apapun. Ia semakin merasa kesal berada di keluarga ini serta merasa dirinya tidak berarti dan tak ada yang mengerti dirinya. Ia hanya terdiam lalu beranjak ke kamar untuk tidur.

“Mengapa kau di sini Allen?” tanya Zaviar keesokan paginya saat ia terbangun dan mendapati Allen telah duduk di sofa kamarnya.

Allen hanya tersenyum dan memandang Zaviar dengan sinis. “Haruskah aku menjawab pertanyaanmu? Bukankah seharusnya aku yang bertanya mengapa kau berada di kamarku?” jawabnya tenang.

“Kamarmu? Apa kau sudah gila?” Zaviar beranjak dari kasur dan menghampiri Allen. “Beraninya kau bicara seperti itu padaku?”

Allen segera menepis tangan mungil Zaviar yang hampir saja mendarat di pipinya. “Sadarlah, ini rumahku dan kau jangan berbuat semena-mena di sini!” ucap Allen beranjak meninggalkan Zavier yang masih cukup kesal dengan sikap yang ditunjukkan Allen. Ia tampak keheranan bagaimana Allen bisa bersikap seperti itu padanya. Itu bukan sikap yang selalu Allen tunjukkan biasanya.

Pagi ini semua keluarga sudah berada di meja makan, termasuk Allen dan Zaviar. Tante Zahra, mama tiri Allen telah menyiapkan segelas susu cuklat untuk Allen dan segelas jus jeruk untuk Zaviar. Tiba-tiba dengan sengaja Allen menyenggol gelas Zaviar hingga terjatuh dan tumpah membasahi bajunya. Semua yang berada di meja makan terkejut.

“Apa yang kamu lakukan, Allen?” teriak Zaviar kesal.

“Ah, ya maaf aku tidak sengaja.” Ia tersenyum tipis. “Mungkin gelasnya terlalu licin jadi kamu kesulitan memegang dengan benar,” sindirnya lirih.

“Kamu pasti sengaja melakukannya,Allen!” bentak Zaviar seraya beranjak dari kursinya. Ia menoleh kepada ayahnya mengharapkan pembelaan. Ayah menghentikan makannya dan menatap Allen dengan tatapan tajam. Allen pun menyadarinya dan dengan tenangnya ia beranjak berdiri sebelum Ayah sempat mengucapkan sepatah kata.

“Allen harus berangkat kuliah, selamat pagi semuanya,” Allen berdiri dari kursinya lalu melangkah.

“Berhenti Allen!” ujar Ayah menghentikan langkah Allen sejenak. “Bersikaplah dewasa untuk –“ ucapnya terpotong ketika Allen berbalik badan dan tersenyum. Ia memejamkan mata dan kedua tangannya membekap telinga seraya perlahan berjalan mundur.

Zaviar pun semakin kesal dibuatnya. Ia heran mengapa Allen tampak berbeda pagi ini. Apa yang menyebabkan seorang Allen yang pendiam menjadi sosok yang pemberani seperti itu.

Allen terburu-buru masuk ke kelas dan tanpa sengaja justru menabrak seorang pria hingga ia terjatuh. “Aduh!” teriaknya. “Harusnya kau tau aku sudah terlambat dan terburu-buru mengapa justru menabrakku dengan sengaja,” omelnya seraya memungut bukunya yang berserakan di lantai.

Tiba-tiba pria di hadapannya mengulurkan tangan. Allen terkejut dan menatapnya. Sepasang bola matanya menangkap bayangan sosok pria dengan senyum yang cukup menawan. Dengan cepat Allen menepis tangannya dan memalingkan wajahnya. “Ternyata ka rupanya,” ujarnya sambil berdiri. “Kau seharusnya minta maaf padaku karena sudah menghambat perjalananku.”

“Iya maaf ya,” ujar laki-laki di hadapannya. Allen hanya menghiraukannya dan lanjut pergi ke kelas. Pria itu hanya menatapnya dengan tersenyum. “Dia yang salah mengapa aku yang harus minta maaf?” ujarnya dalam hati.

Ya, dia adalah Aksara. Pria yang paling dikagumi di kampus Allen karena ia adalah putra satu-satunya pemilik kampus swasta ternama di Jakarta. Selain karena ia tampan dan cukup populer di kalangan mahasiswa, ia adalah seorang yang sangat multitalent dalam berbagai bidang baik seni, olahraga dan juga teknologi. Banyak wanita yang ingin berkencan dengannya namun ia sosok yang cukup dingin untuk didekati.

Allen tampak tidak bisa fokus dengan pelajaran hari ini. Ada beberapa kumbang yang tampak mengganggu pikirannya. Ada beberapa hal beterbangan yang cukup meresahkan. “Aksara?” gumamnya. Kemudian ia mengangkat tangan dan ijin untuk ke toilet sebentar. Allen beranjak dan segera pergi ke kamar mandi. Ia memandang dirinya di cermin lalu menapar lirih pipinya. “Apa yang kamu lakukan, Allen?” ujarnya. “Mengapa kau mengabaikan Aksara? Apa kau menyukainya?”

Baca Juga  Cerpen: Sudut Lingkaran

“Tidak, dia tidak bisa menyukaimu!” ujar suara dari balik cermin. “Ya aku menyukainya. Mengapa kau justru membuatnya jauh dariku? Apa kau ingin membuatku tetap berada dalam kesendirian?” ujar Allen membentak sosok yang berada di cermin. Tanpa Allen sadari Zaviar melihat Allen berbicara sendiri di cermin kamar mandi dan ia merasa aneh dengannya.

Malam ini terasa sangat sunyi nan hening. Bahkan suara jangkrik pun tak berani mengusik tidur lelapnya Allen.Tiba-tiba ia tersentak oleh suara teriakan dari lantai bawah. “Ayah……! Ma! Mamaaaa….!!! Ayah Ma..!” teriak Zaviar membelah keheningan malam. Suaranya keras lantang penuh kepanikan diiringi dengan tangisan.

Allen terbangun dan ia heran mengapa ia tidur di lantai dan dirasa tengkuknya sedikit linu. Namun ia kembali mendengar Zaviar berteriak dan Allen pun segera bangkit bergegas ke bawah untuk memastikan apa yang sedang terjadi.

“Ada apa Zaviar?” tanya Tante Zahra saat menghampiri Zaviar yang sedang berada di ruang kerja ayahnya. Zaviar hanya diam sambil menangis ketakutan. Tante Zahra pun sama, ia hanya terdiam kaku di ambang pintu menyaksikan hal yang sama.

Tak berapa lama Allen pun menyusul dan bertanya apa yang terjadi. “Ada apa sih te –” Allen terpaku diam. Ia tak mampu menyelesaikan kata-katanya begitu ia melihat pemandangan di hadapannya.

Bagaimana tidak, ia melihat Ayahnya telah terbujur kaku bersimbah darah di lantai. Ia seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan ini mungkin mimpi.

Zaviar segera menelepon ambulans dan juga polisi. Allen menampar pipinya berharap ia sadar dan ini hanya mimpi. Tapi ternyata ini semua kenyataan yang memang harus ia hadapi. Ia masih belum percaya dan kembali ke kamarnya. Saat ia membuka pintu kamarnya, ia melihat pisau berlumur darah di pojok kamar. Ia terkejut sekaligus bingung mengapa ada pisau di kamarnya. Ia berlari ke cermin dan menatap dirinya.

“Apa yang terjadi? Apa yang telah kamu lakukan?” tanya Allen pada sosok di balik cermin. Sosok itu hanya tersenyum. “Apa kau yang melakukan semua ini, Seira?” bentak Allen pada sosok itu. Ya, sosok itu bernama Seira. Ia adalah sisi lain yang hidup dalam tubuh Allen yang selama ini selalu mengambil alih pikiran Allen.

Allen tak pernah ingat apapun kejadian yang dilakukannya selama pikirannya dikuasai oleh Seira. Sejak kecil Allen berusaha untuk mengabaikan Seira. Namun perlahan seiring berjalannya waktu, ia menerima Seira sebagai temannya saat kesepian.

“Kau terlalu lemah untuk melakukannya, Allen. Lalu apakah itu salahku?” ujar Seira dengan senyum sinisnya. Allen terkejut dengan jawaban Seira. Mungkinkah ia yang melakukan ini? Mungkinkan ia yang menusuk ayahnya sendiri? Ia tidak memiliki sepotong ingatan pun untuk kejadian ini. Ia tak percaya bahwa ia telah membunuh ayahnya sendiri.

Allen berteriak  histeris dan melempar cerminnya. Ia kesal mengapa Seira selalu mengambil alih kendali tubuhnya dan melakukan hal yang di luar batas. Tanpa sengaja ia menjatuhkan lampu belajarnya hingga terjatuh dan pecah. Dari dalam lampu tersebut keluar sebuah kamera kecil yang aneh. Allen mengambil dan mengamatinya. “Kamera? Siapa yang meletakkan kamera disini? Apakah Seira?” gumamnya.

Suara sirine ambulans dan mobil polisi beriringan mendekati rumah Allen. Allen pun panik dan segera mengantongi kamera tersebut. Ia segera membungkus pisau yang ia temukan dengan kain karena ia takut polisi akan menemukannya. “Harus aku sembunyikan dimana ini?” gumamnya panik. Seira menatap ke sekeliling kamar dan ia menemukan lubang di plafon kamarnya. Ia pun berpikir untuk menyembunyikan pisau itu di sana.

Polisi memasang garis polisi di sekitar TKP untuk melakukan penyelidikan. Jasad Pak Tirta, ayah Allen pun diangkut oleh ambulans untuk dilakukan autopsi di rumah sakit. Tante Zahra dan Zaviar tampak memeluk satu sama lain sambil menangis.

Allen pun juga berlinang air mata memandang jasad sang Ayah sudah tak bernyawa. Sepertinya baru kemarin malam ia berbincang dengan ayahnya dan tak kunjung mendapatkan jawaban. Bahkan hingga kini beliau tiada, Allen masih bertanya-tanya. Semua itu tampak penuh berjejal di kepala.

Hari ini adalah hari pemakaman Pak Tirta setelah malam itu juga beliau dinyatakan meninggal oleh pihak rumah sakit akibat kehabisan darah. Hal ini merupakan pukulan telak untuk Allen, karena untuk kedua kalinya ia ditinggalkan untuk selamanya oleh orang yang sangat disayanginya. “Mengapa ayah dan ibu pergi tanpa berpamitan pada Allen? Mengapa kalian meninggalkanku sendiri? Apa kalian pikir aku cukup kuat untuk menanggung semua beban ini sendiri, Yah?” ucapnya ketika ia berada dipemakaman. Ia berbisik lirih pada batu nisan ayahnya. “Maafkan Allen,Yah. Ini diluar kendali Allen. Bukan ini yang Allen inginkan,” bisiknya diiringi air mata yang bercucuran.

Baca Juga  Membuat Mie Setan ala Gacoan Sendiri di Rumah? Siapa Takut! Berikut Resep Mie Gacoan Anti Gagal

Tante Zahra menghampiri Allen dan memegang pundaknya. “Sudah Allen ikhlaskan ayahmu supaya ia tenang di alam sana,” ujarnya menguatkan Allen. Dengan cepat Allen menepis tangan tante Zahra lalu berdiri dan meninggalkannya. Zaviar memandang Allen dengan sinis dan penuh curiga, namun Allen menghiraukannya dan terus melangkah pergi meninggalkan makam ayahnya.

“Aku rasa ada yang aneh, Ma.” ujar Zaviar berbisik padaTante Zahra. Tante Zahra hanya diam dan mengajak Zaviar untuk pulang. Sesampainya di rumah Allen merasa sangat lelah dan ia pun menghempaskan tubuhnya membentuk bintang besar di atas kasur. Ia membayangkan banyak hal dan kemungkinan jika ia masih bersama ayah dan ibunya hingga tanpa sadar ia terlelap. Tak berapa lama ia terbangun dan mengambil pisau yang ia sembunyikan. Ketika ia melewati cermin kamarnya ia menoleh dan tersenyum sinis.

Allen tau bahwa Zaviar dan tante Zahra belum kembali. Ia bergegas memasuki ruang kerja ayahnya yang masih terpasang garis polisi lalu memandang ke sekeliling. Ia mengenakan sarung tangan dan mengecek setiap sudut ruangan itu, hingga ia menemukan sebuah handphone yang ayahnya simpan di balik buku tebal. Allen mengambil dan mengantonginya lalu meninggalkan tempat itu. Malam itu ia pergi ke suatu tempat. Sebenarnya Allen enggan untuk datang kesana, tapi hal ini cukup penting dan hanya dia yang dapat membantunya.

Ting Tung…

Allen membunyikan bel. Tak berapa lama seseorang tampak membuka pintu dan cukup terkejut. “Allen,” gumamnya. “Apa gerangan yang membuatmu datang kemari?” ucap pria itu. Allen langsung saja menerobos masuk dan duduk di kursi sebelum pria itu menyilahkannya masuk. Allen mengeluarkan ponsel dan kamera yang ia temukan di ruang kerja ayahnya lalu di letakkannya di meja.

“Kau pasti tau maksudku,bukan?” ucapnya menatap pria itu dengan sinis.

Aksara tau apa yang menuntun Allen datang padanya malam ini. Allen ingin tau apa yang tersimpan dalam handphone dan kamera itu. “Mengapa aku harus melakukannya?” jawab Aksara dengan santai sambil mengambil minum untuk Allen.

“Kalau kau menyukaiku kau harus melakukannya.” jawabnya singkat.

“Kau terlalu menyebalkan,Allen.” ujar Aksara seraya meraih kamera itu. “Aku juga turut berduka cita atas – ”

“Lanjutkan saja tugasmu dan tak perlu banyak basa-basi. Aku tak punya waktu untuk hal itu.” Ujar Allen memotong perkataan Aksara. Aksara pun hanya terdiam mendengar jawaban sinis Allen dan kembali fokus menyelesaikan tugasnya. Tak perlu waktu yang lama, Aksara berhasil menyelesaikan tugasnya karena ia memang cukup handal di bidang teknologi.

“Jika aku telah menyelesaikan misi ku berapa bayaran yang akan ku terima?” tanyanya kemudian sambil memutar kursinya menghadap Allen.

“Kau bisa menjadi pacarku. Itupun jika kau mau,” jawab Allen dengan percaya dirinya. Aksara terkejut dengan sarkasme dari Allen yang dianggapnya cukup berani. “Simpan ini di sini hingga aku kembali esok hari. Jika aku belum juga kembali hubungi aku.” Aksara terkejut begitu Allen mengeluarkan pisau dari dalam tasnya lalu menitipkan padanya.

“Ssttt…!! Jangan berpikir macam-macam tentangku. Aku tidak seperti yang kau bayangkan,” ucap Allen seraya meletakkan jari telunjuknya di bibir. Ia pun segera pergi meninggalkan Aksara yang masih dengan sejuta kebingungan di otaknya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis ini?

Keesokan harinya Allen bangun kesiangan. Mungkin pagi ini ia akan terlambat lagi masuk kuliah. “Sial, kesiangan lagi.” Ia bergegas mandi dan bersiap-siap. Setelah itu di ia menuju meja makan untuk mengambil roti dan susu. Ia terkejut karena di meja tak terhidang sepiring pun makanan. Tidak biasanya tidak tersedia apapun untuk sarapan. Ia juga tidak menjumpai sosok Zaviar yang mengesalkan dan Tante Zahra pagi ini. Kemana mereka?

“Tante Zahra…..” panggil Allen menghampiri kamar Tante Zahra. Ia mengetuk pintu dan tak ada jawaban. Ia langsung membuka kamar dan ternyata memang tidak berpenghuni. Allen keheranan. Ia pun naik ke atas untuk mengecek kamar Zaviar dan benar saja, tidak ada siapapun disana. Kemana mereka berdua pergi sepagi ini? Apa mereka belum kembali selesai pemakaman kemarin? Ia ingat sesuatu lalu berlari ke kamarnya dan mengecek pisau yang ia sembunyikan. Betapa terkejutnya ia karena pisau itu sudah tidak ada. Tiba-tiba ponselnya berdering. Rupanya Aksara mengiriminya pesan. Allen terkejut bagaimana Aksara bisa menghubunginya.

Jangan lupa ambil barangmu

“Barang?” tanya Allen setelah membaca pesan Aksara. “Mungkinkah….”

Allen segera menuju rumah Aksara. Dengan sedikit gugup ia berbicara terbata-bata. Aksara juga merasa aneh dengan sikap Allen yang berbeda dengan yang ia temui semalam. Bahkan ketika Aksara menyerahkan pisau itu pada Allen, ia tampak ketakutan.

“Mengapa pisau ini ada padamu?” Tanya Allen

“Kau semalam yang memberikannya padaku, Al. Kau memintaku untuk menyelesaikan ini dan kau belum melihatnya.” Aksara menunjukkan ponsel yang semalam Allen berikan. Allen mengambil dan memeriksanya. Ia membuka apa isi dalam ponsel itu dan ternyata banyak  video rekaman CCTV yang tersimpan. Allen melihatnya dengan seksama dan penuh perhatian.

Baca Juga  Cerpen: PAKAI HATI

Dari semua rekaman yang Allen lihat, terjawablah semua pertanyaan Allen selama ini. Terungkap bahwa sebenarnya bukan Allen yang tertekan melainkan sang ayah. Allen mengira bahwa ayahnya lebih menyayangi adik tirinya dan mengabaikannya.

Namun semua itu salah. ayah melakukan semua ini karena tekanan dari Tante Zahra yang sebenarnya ingin memisahkan Allen dengan Pak Tirta. Tante Zahra ingin Allen membenci ayahnya karena lebih menyayangi Zaviar. Jadi ayahnya memasang CCTV kecil di kamar Allen untuk memantaunya dari kejauhan kalau-kalau ia disakiti oleh ibu tirinya.

Hal yang membuat Allen lebih terngaga adalah kenyataan bahwa ayahnya meninggal, karena menolak menandatangani surat ahli waris yang diajukan ibu tirinya. Ternyata selain ingin menjauhkan Allen dengan Pak Tirta, Tante Zahra juga ingin menguasai harta sepenuhnya.

Malam itu Tante Zahra mengirim seorang pembunuh bayaran untuk membunuh Pak Tirta dan Allen. Namun sayangnya ketika memasuki kamar Allen, pumbunuh itu justru bertemu dengan sosok Seira. Yang terjadi adalah Seira melakukan perlawanan dan pisau yang akan menusuknya terlempar. Namun Seira terkena pukulan yang keras hingga ia pingsan. Setelah itu ia terbangun sebagai Allen dan menyaksikan ayahnya tewas terbunuh.

“Jadi Tante Zahra yang tega melakukan semua ini?” Allen terduduk lemas mengetahui kenyataan ini. Aksara yang mengetahui kenyaatan ini juga segera melapor ke polisi. Mereka bergegas pulang ke rumah dan mereka menemukan Zaviar dan Tante Zahra, sedang mengemas barang-barang mereka dan beberapa dokumen.

“Kalian mau kemana?” bentak Allen mengagetkan mereka.

“Apa urusan kau, Allen.” Jawab Tante Zahra

“Sudahlah Tan, kita sudah tau semua kejahatan kalian. Untuk apa kalian mengelak? Kami sudah memanggil polisi untuk menangkap Tante.” Ujar Aksara.

“Polisi? Harusnya kamu Al yang ditangkap polisi. Aku tau kamu yang membunuh ayahmu sendiri. Aku tau kamu menyembunyikan barang bukti, kan?” sahut Zaviar menuduh Allen.

“Bukan aku, tapi Mamamu.” Jawab Allen enteng.

“Apa yang mama lakukan?”

“Mama mu yang merencanakan pembunuhan Pak Tirta dan juga Allen. Sayangnya ia tak berhasil membunuh Allen.” jawab Aksara berusaha menjelaskan. “Kau benar-benar tidak tau atau berpura-pura tak tau?”

“Apa buktinya kalau saya pelakunya? Kamu jangan asal menuduh.” ucap Tante Zahra sedikit gugup.

“Kita sudah serahkan buktinya ke polisi Tante dan jangan khawatir mereka akan segera datang.”

Tak berapa lama polisi datang dan langsung menangkap Tante Zahra atas tuduhan perencanaan pembunuhan. Zaviar meronta ronta memohon agar tidak menahan ibunya dan justru menyalahkan Allen lah pelaku yang sebenarnya.

“Mama saya tidak bersalah, Pak. Allen adalah pembunuhnya.” teriak Zaviar.

“Semua bisa dijelaskan di kantor polisi” jawab salah seorang polisi sembari memasang borgol di tangan Zaviar dan Tante Zahra lalu membawa mereka ke mobil.

“Bagaimana sekarang? Siapa yang lebih pantas berada disini?” ucap Seira melirik sinis pada Allen.

“Tentu saja aku, ini rumah ku dan mereka hanya tamu.” jawab Allen dengan percaya diri. Seira tertawa. “Mengapa?” tanya Allen heran.

“Maksudku siapa yang lebih pantas menguasai tubuhmu?” ujar Seira. “Bukankah aku yang lebih layak?” lanjutnya.

Allen kembali terdiam dan menatap Seira dalam-dalam. “Aku adalah tuan rumah dan kau tamunya.”

“Kau kalah karena kau lemah. Itulah alasan aku lebih layak,bukan?” jawab Seira lantang.

“Kau adalah roh imajiner yang tercipta dari kelemahanku. Mungkinkah aku kalah dari kelemahanku sendiri. Sekali lagi kutegaskan padamu bahwa kau hanya tamu dan jangan bertindak melebihi batasanmu.” tegas Allen kepada Seira. Seira cukup kesal dibuatnya. Tapi ia pun sadar bahwa ia tak berhak mengontrol Allen sepenuhnya. Dengan segala rasa kecewa dan kekesalan yang ada, Seira melangkah pergi meninggalkan Allen. Namun langkahnya terhenti seketika.

“Terima kasih telah menjadi bagian dari diriku dan melengkapi kekuranganku. Apa kau akan pergi begitu saja tanpa pamit kepada tuan rumah?” ucap Allen. Perkataan Allen tak lantas membuat Seira berbalik badan. Ia justru mengabaikannya dan pergi begitu saja.

Hari ini Allen mengunjungi makam ayahnya ditemani Aksara. Allen mengungkapkan segalanya dan meminta maaf kepada ayahnya atas apa yang ia lakukan selama ini. Ia tak menyangka bahwa ayah begitu menyayanginya. Seira menatap mereka dari kejauhan seraya tersenyum tipis.

“Dasar bodoh,” gumamnya sebelum ia lenyap bersama hembusan angin senja. Allen menoleh ke belakang dan ia mendengar sayup suara Seira.

“Akan kupastikan aku adalah rindu yang tak bisa kau ulang.” Suara itu kian menghilang. Allen pun memandang Aksara di sampingnya dan bergumam “Terima kasih Seira.”

TAMAT

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Penulis : Afrida Safitri

Gravatar Image
Literasi adalah media penyampaian imajinasi seseorang yang dituangkan melalui kalimat demi kalimat yang mampu membawa susana hati para pembacanya terhanyut dalam cerita.

Comment

Artikel Terkait