by

Cerpen: Hadiah untuk Ayah

Tiga tahun lamanya aku tidak menziarahi makam ayah. Kini rindu sudah tak terbendung lagi. Aku berencana ingin mengunjungi makam ayah yang telah lama tak disinggah.

Kusisiri rumput-rumput yang sedang menari tertiup oleh angin. Kupandangi satu persatu setiap makam yang berjejeran. Hingga aku sampai di makam ayah.

Kupandangi pusara ayah yang telah usang. Kucabut satu persatu rumput liar yang tumbuh disana.

” Assalamualaikum ayah.” Ucapku meski kutahu takkan ada yang menjawabnya.

” Ayah maafkan aku yang sudah lama tidak berziarah ke makammu.” Sesalku penuh sedih.

Teringat olehku semasa ayah masih bersamaku dan keluargaku. Ayah adalah sosok yang kuat. Ia mampu menyembunyikan kesusahan hatinya demi kebahagiaan anak-anaknya.

” Ayah, aku ingin menimba ilmu di pesantren.” Ucapku kala itu. Dan ayah mengiyakan permintaanku. Waktu itu aku tidak tahu biaya pendidikan lebih tinggi dibanding pendapatan ayahku setiap hari. Belum lagi adik-adikku juga butuh biaya pendidikan. Namun karena hati ini terlalu bergejolak ingin menimba ilmu tetap kuteruskan.

Namun siapa sangka perjuanganku di pondok pesantren terhenti separuh jalan. Karena tak mampu untuk membiayai hidup di sana. Aku memikirkan adik-adikku yang masih sekolah. Dan aku mengambil keputusan untuk pindah sekolah. Lagi-lagi aku merepotkan ayahku. Akhirnya ayah menjemputku untuk pulang. Untuk ongkos yang didapat ayah menggadaikan motornya.

Dan aku sungguh menyesali keputusanku untuk bersekolah di pesantren. Karena aku, lagi-lagi ayahku dihadapi rasa bingung memikirkan dimana aku akan pindah sekolah. Karena setiap sekolah mempunyai aturan yang berlaku.

Hingga akhirnya aku mendapatkan sekolah yang mau menerimaku. Namun, jarak tempuhnya sungguh memakan waktu yang lama. Untungnya ada Bus yang menjemput anak-anak sekolah di sekitaran sana.

Tak sadar telah luruh air mata bersama kenangan. Kini aku mengingat hari terakhir bersama ayah.

Baca Juga  Cerpen: Misteri Hutan Terlarang

Saat itu…

“Zea, Sebentar lagi ayahmu pulang. Jangan lupa seduh kopi untuk ayahmu.” Pinta ibuku di dalam kesibukkannya.

Aku pun menyalakan kompor untuk merebus air dan menyajikan kopi untuk ayah. Setelah itu aku menggoreng telor untuk makan malam kami nantinya.

Suara motor ayah terdengar di luar sana. Pertanda ayah ingin pulang. Dengan tidak sabar ayah meminta untuk membuat kopi tanpa air panas. Karena ia berpikir aku belum memasak air panas.

” Kopi ayah sudah Zea siapkan nih, yah.” Cengirku kala itu.

Ayah mengambil secangkir kopi dan meneguknya. Dengan waktu yang singkat kopi telah habis diminumnya. Aku tak merasa heran karena ayah memang suka minum kopi.

Adzan maghrib tiba masing-masing dari kami mulai berkemas untuk sholat maghrib. Setelah sholat selesai ayah meminta untuk ibuku untuk menghidangkan makan malam. Dan ayahpun menyantap makanan bersama adik-adikku. Dengan diselingi oleh bertengkaran adik-adikku. Namun ayah tetap tenang dan tetap melahap sepiring masih di tangannya.

Pertengkaran adik-adikku masih aja berlanjut. Hingga akupun memarahi keduanya. Namun kemarahanku ternyata mengganggu ayah yang sedang menahan sakit. Ayahpun, memarahiku karena membuat suasana menjadi kacau. Dengan kesal aku beranjak kerumah bibiku.

Setelah cukup kekesalanku mereda, aku mematikan televisi dan beranjak pulang kerumah. Rumah kami hanya berjarak setapak.

Betapa terkejutnya diriku, melihat keadaan ayah menahan sakit perut. Tak pernah aku melihat ayah selemah ini sebelumnya.

“Bawakan segelas air hangat untuk ayah.” Pinta ibu yang sedang panik. Akupun langsung mengambilnya dengan perasaan sedih. Ada rasa sesal terhadap sikapku yang lalu. Kini, kumelihat ayah merintih kesakitan.

Aku membuatkan susu dan mengambil roti untuk ayah. Ibu langsung menyodorkan gelas berisi susu yang kubuat tadi, disusuli dengan menyuapi roti. Namun perut ayahku menolaknya. Ia muntahkan semua makanan yang telah ditelannya tadi.

Baca Juga  Cerpen: Perjalanan Hidupku

“Bawakan aku kerumah sakit.” Pinta ayahku. Karena tidak tahan menahan sakitnya. Kemudian saudara-saudaraku membopong ayah membawanya ke mobil tetanggaku. Hatiku sangat sedih waktu itu. Aku ingin ikut mengantar ayah. Namun aku harus menjaga adik-adikku.

Di sepanjang malam, aku hanya menangis memikirkan kondisi ayahku. Tidurku tak lelap sesekali aku terbangun. Hingga subuh tiba, aku bersiap untuk sholat dan mendo’akan ayahku. Lalu memberi kabar kepada bibiku melalui pesan. ” Bi, ayah dilarikan kerumah sakit.” Selang berapa menit balasan dari bibi masuk ke notif gawaiku. ” iya Zea, bibi sedang dirumah sakit. Do’akan ayahmu.” Tulis pesan bibi dari sana.

Akupun berdo’a untuk kelancaran operasi ayah. Karena adikku memberi tahuku bahwa ayah akan dioperasi.

Ada notif pesan dari bibi lagi. ” Zea sediakan kasur kecil di ruang depan ya!”. Pinta bibi secara tiba-tiba.

“Apakah ayah sudah selesai menjalani operasi?”. Tanyaku seorang diri.

Ternyata apa yang menjadi dugaanku salah. Ayah bukanlah selesai menjalani operasi. Namun, ayah pergi meninggalkan kami semuanya. Begitu singkatnya ayah bersama kami. Hanya semalaman ia sakit. Kemudian ia pergi untuk selamanya.

Betapa pedihnya hati ini. Berulang kali bibir ini mengucap istighfar sambil mengelus dada agar kudapati ketabahan di sana. Warga di kampung terkejut mendapati berita meninggalnya ayah. “Baru kemarin saya melihatnya duduk di depan teras.” Kata pak Anton di seberang sana. Aku tak menghiraukan keadaan di sekitarku. Yang kutahu aku hanya sedih.

Tak terasa, sudah 1 jam aku mengingat memoriku bersama ayah. Aku menghapus air mata yang sedari tadi telah meluruh.

” Ayah, maafkan aku yang gagal menjadi sarjana. Karena setelah kepergian ayah, aku menjadi tulang punggung keluarga.” Gumam hatiku.

Baca Juga  Cerpen: I'm Sorry

Aku tahu semua orang mungkin kecewa dengan keputusanku. Yang menikah sebelum sarjana. Tidak bisa membahagiakan kedua orang tua dengan gelar sarjanaku. “Ayah, aku tahu semua kecewa. Karena aku siswi yang berprestasi. Semua harapan bertumpu padaku. Tapi ayah, keadaan tak memungkinkan aku harus kuliah.

“Aku tahu ayah, dengan popularitas orang-orang akan menghormati seseorang.” Ucapku bertubi-tubi meluapkan perasaan sedihku.

” Bahkan ayah, aku terasa malu jika bertemu guru-guru dan teman-temanku. Karena aku tak menyandang gelar sarjana.”

“Namun ayah, takkan kubiarkan pendidikan ku sia-sia. Takkan kubiarkan perjuanganmu sia-sia.” Karena ilmu yang kudapati akan selalu kubawa di kehidupan sehari-hari.”

“Aku hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi semua orang, meskipun tiada popularitas yang kupunya.”

“Namun ayah, aku selalu punya do’a untukmu dan ibu. Hadiah sederhanaku. Aku akan mendoakanmu di sepanjang sholatku, di sepanjang malamku.”

“Tiada lagi yang bisa kubalas untukmu selain do’aku. Memohon agar diluaskan tempatmu. Ayah, sudah lelah di dunia. Aku berdo’a agar ayah mendapat tempat istirahat yang indah.”

Angin bertiup kencang mendungpun datang. Dan kutahu saatnya aku harus pulang. Karena jika tidak, aku akan diguyur hujan deras.

“Ayah, saatnya aku harus pulang.” Aku rindu ayah. Aku berharap kelak aku akan berkumpul lagi bersama keluargaku diakhirat nanti.” Ucapku penuh harap.

Semoga Allah mengabulkan cita-citaku yang satu ini. Cita-cita agar bertemu kembali di kehidupan yang abadi.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait