by

Cerpen : Glaukoma

Glaukoma, satu kata itu yang sedang memenuhi pikiranku dari tadi, aku sedang di dalam bus menuju perjalanan pulang ke rumah. Tatapanku kosong melihat perjalanan dari kaca di samping. Aku kalut, aku takut, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya.

Bagaimana jika batas waktuku lebih cepat dari perkiraan dokter Lita. Ah sudahlah, aku ga mau memikirkannya. Ini mungkin kutukan buatku karena membenci laki-laki brengsek itu. Tapi aku tidak peduli karena dia tidak pantas untuk mendapat tempat di rumah kami.

Saking sibuknya aku dengan pikiran itu, tidak terasa bus telah berhenti di halte tempat pemberhentian. Aku turun dengan tatapan nanar, berjalan gontai menuju rumah yang jaraknya tidak terlalu jauh. Aku hanya tinggal bersama seorang kakak yang hebat, bagaimana tidak, dia bisa menggantikan sosok ibu yang meninggal 3 tahun yang lalu, meskipun aku tau itu tidak mudah baginya.

Tiba-tiba gemericik hujan turun membasahi bajuku, aku mempercepat langkahku dengan berlari kecil dan terlihatlah pintu rumah yang berada beberapa meter di depan. Aku pun masuk, membuka pintunya, melepas sepatuku dan meletakkannya di rak yang terletak di pojok.

“Hei Shane, baguslah kamu udah pulang, gimana hasil pemeriksaannya? baik-baik aja kan?” tanya kakak sambil meletakkan secangkir coklat panas di meja makan.

“Well, hasilnya buruk. Dokter Lita bilang aku akan buta, dan aku cuma punya waktu paling lama satu tahun itu pun bisa lebih cepat dari itu.” Jawabku sambil meminum coklat panas yang disediakan kakak.

“Shane … kamu serius? ka— kamu ga bercanda, kan?”
“Serius lah kak, nih baca aja hasil pemeriksaannya.” Aku pun memberikan surat hasil pemeriksaan dokter Lita.
“Kak, aku ke kamar dulu ya, mau mandi, bajuku basah ga nyaman banget.” Kataku dengan berlalu menuju ke kamar. Ya kakak tidak menyahut masih kaget dengan hasil pemeriksaanku.

Ah sial, kepalaku pusing sekali, mungkin berendam air panas akan sedikit meringankan sakitnya, pikirku. Satu jam kemudian aku sudah selesai mandi, memakai baju sweater yang hangat, sangat pas dengan suasana hujan yang sedang turun dan aku pun terlelap.

Kringgggg, suara alarm mengganggu membuatku terpaksa bangun karena deringnya yang berisik itu. Aku pun kembali kedalam rutinitas harian menjadi guru di suatu sekolah swasta.

“Pagi kak.” Ucapku yang sudah siap duduk di depan meja makan.
“Pagi juga Shane, bagaimana perasaanmu sekarang?” tanyanya.
“Kak, ga usah khawatir, aku baik-baik aja kok, lagian aku pasrah kalau emang takdir aku harus buta.” Jawabku dengan memasukkan sepotong sandwich ke dalam mulut.

Baca Juga  Cerpen: Heal Me to be Myself

“Shane, kakak pasti mengusahakan yang terbaik buat kamu, jangan dipendam semuanya sendiri yaa, cerita ke kakak apa yang kamu rasain, biar lebih lega.” Ucap kakak sambil tersenyum sendu.
Aku hanya mengangguk menimpali perkataannya itu. Sebelum pergi ke sekolah aku selalu mampir ke kedai coffee milik temanku, Amaris namanya.

“Hei Shane, pesan seperti biasa, kan?” tanya Amaris dan aku pun menggangguk. Amaris dekat dengan teman kampusnya, Dayron namanya. Aku sebenarnya ga setuju Amaris dekat dengannya karena aku pernah melihatnya jalan dengan perempuan berambut pendek di sebuah mall tapi, Amaris tetap meyakinkan aku kalau Dayron seorang laki laki yang baik.

Setelah menghabiskan menu yang aku pesan aku pun pergi ke sekolah. Sebenarnya menjadi seorang guru itu tidak mudah seperti yang terlihat, butuh kesabaran yang banyak, bukan hanya sebagai pengajar tapi juga pendidik seperti kata Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani yang artinya di depan menjadi teladan, di tengah membangun karya, dan mendorong dari belakang. Ya aku sangat menikmati profesi menjadi guru ini.

Jam mengajar telah usai aku pun berniat pulang ke rumah. ketika sampai di rumah aku mendengar suara laki-laki itu, wajahku langsung memanas mencoba meredam emosi yang aku ingin keluarkan.

“Hei Nak, aku dengar kamu terdiagnosis glaukoma, bagaimana ka—”
“Keluar, keluar dari rumah ini sekarang!” bentakku sebelum dia menyelesaikan perkataannya. Ya dia ayahku, tapi itu berlaku sejak 6 tahun yang lalu. Sekarang dia hanya laki-laki brengsek yang selingkuh dengan sekretarisnya, dan aku sangat membencinya. Bagaimana bisa dia menduakan ibu yang sangat tulus dan mendampinginya dari awal dia memulai bisnis perusahaannya.

Setelah laki-laki brengsek itu keluar aku terduduk lemas, aku teringat lagi sosok ibu dan glaukoma yang mengejarku, aku pun menangis dalam pelukan kakak.

“Hei Shane bangun, kita akan jalan-jalan sekarang.” Teriak kakak dari luar kamar yang masuk ke telingaku. Aku pun bangun, membuka mataku dan gelap. Aku mencoba berkali-kali mengerjapkan mataku tapi hasilnya tetap sama warna hitam, hanya kegelapan yang aku lihat.

“Ke— kenapa padahal ini baru 2 bulan dari ayah datang, ternyata satu tahun itu harapan semu.” Aku bergumam.

Kakiku menapak di lantai, mencoba berdiri meskipun tidak seimbang, aku berjalan menuju keluar kamar.
“Shane tolong ambilkan kotak tisu itu.” Perintah kakak.
Aku mencoba berjalan seperti orang yang masih bisa melihat tapi nyatanya susah, tubuhku terhuyung, menabrak kursi di depan.

Baca Juga  Cerpen: Misteri Hutan Terlarang

“Shane kamu kenapa? kamu ga bisa lihat kotak tisu nya?” tanya kakak dengan suara yang bergetar, aku hanya terdiam.
“Padahal kotak tisu itu di depan kamu.”
Dan aku pun ambruk, kaki ku lemas, aku tidak kuat menerima kenyataan pahit ini. Ya sekarang aku sudah benar-benar buta, mataku tidak bisa melihat lagi keindahan dunia. aku teriak aku menangis dan kakak memelukku dengan erat.

Setelah kehilangan penglihatan, aku sempat down, depresi tapi ada kakak dan Amaris yang menemaniku, mereka selalu menguatkan aku. Mungkin aku juga bersyukur masih bisa diberi kesempatan untuk melihat indahnya dunia ini, untuk melihat warna yang beragam itu, sebelum hanya hitam yang sekarang aku lihat.

Aku sudah berhenti mengajar, terasa sulit dengan kondisiku sekarang, tapi rutinitas yang tidak aku tinggalkan yaitu datang ke kedai Amaris, diam di sana menikmati coffee dan cookies yang enak dan tentu berbincang dengan Amaris yang selalu membuat suasana hatiku kembali baik.

“Shane, lagi mikirin apa?”
“Duh, jantungku serasa mau copot, kamu ngangetin aja.” Timbalku sambil mengelus dada.
“Yaaa lagian sih kamu diem bengong gitu, kayak lagi ada sesuatu yang kamu pikirin.” Amaris memegang tanganku.
“Kamu benar, aku kepikiran tentang masa depanku, ada ga ya laki-laki yang mau nerima aku yang buta ini.”
“Pasti ada, sekarang kamu cuma belum menemukannya, kamu cantik , pintar, pasti ada yang akan menerima kamu.” Hiburnya.

“Kamu beruntung sekarang sudah menikah dengan Dayron, dulu aku menganggap dia laki-laki yang buruk tapi ternyata dia bisa menjadi partner hidupmu dengan baik.” Aku tersenyum tulus
“Ya aku beruntung dan kamu pun kelak pasti akan seperti itu, manusia itu diciptakan dengan berpasang-pasangan. jangan sedih yaa.” Hibur Amaris menenangkan.
Aku tersenyum, tenang mendengar kata-kata nya dan aku belajar untuk mempercayai itu.

“Kak, aku jalan-jalan dulu ke taman ya.” Aku berteriak takut suaraku tidak terdengar.

“Iyaa hati-hati Shane, jangan pulang terlalu larut.” Timbal kakak.
Aku berjalan menggunakan bantuan tongkat yang ada lonceng kecil di bawah, menyedihkan memang tapi ini yang membantuku karena belum ada orang yang bisa mendampingiku.

Ketika sampai di taman, aku mengeluarkan biolaku, ya meskipun aku udah ga bisa melihat, kemampuan memainkan biola masih ada dalam diriku.

“Wah itu suara yang sangat indah sekali.” Kata seorang pria setelah aku selesai memainkan lagu.
“Terima kasih.” Aku menjawab dengan kaku
“Boleh kan aku mendengarnya sekali lagi, lain waktu. Aku sangat menyukainya.”
“Tentu, boleh sekali. Setiap rabu dan sabtu aku selalu datang ke taman ini.”
“Siap, akan aku ingat. Kalau boleh tau siapa nama mu?” tanya nya.
” Shane Lucy Emildhape, kamu bisa panggil aku Shane.” Aku menjawab sambil tersenyum.
“Nama yang sangat cantik, terdengar bersinar sama seperti orangnya. Dan perkenalkan namaku Erlan Rashad, kamu bisa panggil aku Erlan.”

Baca Juga  Cerpen: Sudut Lingkaran

Lalu semenjak pertemuan pertama itu, hampir tiap rabu dan sabtu kita bertemu, berbincang hal-hal yang menarik, dan suatu ketika Erlan pun mengundangku untuk bertemu dengan keluarganya.

Kita sepakat untuk berangkat hari sabtu, Erlan menjemput aku di rumah. dan pagi itu pun kita berangkat ke rumah orang tuanya.

Setelah dua jam perjalanan, kita sampai di rumah orang tuanya, terdengar suara seorang ibu yang menghampiri aku dan Erlan.
“Syukurlah Nak, kalian sampai dengan selamat, jadi ini perempuan yang sering kau ceritakan?” sambil memegang tanganku, Erlan mengangguk dan wajahku terasa memanas mendengar aku yang sering diceritakan kepada ibunya, aku benar-benar malu sekaligus senang.

“Kamu benar Nak dia sangat cantik, ayo Shane kita makan di dalam.” Ajak ibu erlan dan aku semakin tersipu mendengar pujiannya. Memang hari ini aku memakai dress berwarna pastel yang senada dengan sepatuku, kakak yang membantuku untuk berdandan cantik hari ini.

Ibu Erlan sangat ramah dan membuat aku merasa nyaman berbincang dengannya, ketika sibuk berbincang aku mendengar suara orang yang aku kenal memanggilku.
“Sha— shane itu kamu nak? kenapa bisa ada di sini?” tanya ayah dengan suara khasnya.

Meskipun aku tidak bisa melihat, aku tau kalau itu suara laki-laki brengsek itu. “A—Ayah, tinggal disini?” aku menelan ludah, mencengkram dressku dengan kuat.

“Ya ini rumah ay—”

Aku bergegas pergi, lari darisana meskipun berkali kali aku menabrak barang dan terjatuh, tapi aku tetap mencoba untuk pergi sejauh mungkin. hatiku hancur, rasanya aku tidak percaya semua ini.

Jadi Erlan yang aku sayangi adalah anak hasil dari perselingkuhan ayah dengan sekretarisnya? Ya Tuhan ini sungguh tidak masuk akal! aku terus berlari menjauh dengan terhuyung-huyung, tak tahu harus kemana. Memang benar manusia hanya bisa berencana, Tuhan lah yang menentukan dan aku pun terjatuh, ambruk semuanya gelap dan kesadaran ku hilang.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

20 comments

Artikel Terkait