by

Cerpen: “Dunia Lena”

“Aku kesini ingin pamitan sama kamu, dan aku mohon rasa yang kamu miliki selama ini tolong aku minta tolong lupakan rasa itu hapus rasa itu karena aku akan segara menikah” ujar Lena dengan tetesan air mata.

“6 tahun aku nunggu kamu pulang agar kita bisa bertemu, 6 tahun juga aku selalu merindukanmu, dan sekarang kamu di depanku tepat di hadapanku, dengan konyolnya kamu bilang aku harus pergi dari kamu, kamu menyuruhku pergi dari hidupmu hanya dengan sebuah alasan yang tak mampu aku terima, tega kamu ya” ucap Bagas

“Aku ngga bermaksud, dulu aku menyuruhmu memilihku tapi kamu tidak melihatku, dan sekarang aku minta maaf”

Pernahkan dunia seakan akan tidak berpihak pada kehidupan, ketika asmara yang sudah ada sejak 6 tahun lamanya harus dilupakan untuk kehidupan yang baru, ketika kehidupan yang tidak sesuai dengan keinginan, rasa yang muncul hanyalah gaduh yang tak karuan.

Itulah yang dialami Lena, kisah asmara yang terpendam 6 tahun lamanya harus bertepuk sebelah tangan, dengan pilihan yang ia terima sangat menyulitkannya, tentang masalah kehidupanya yang hadaapi selama bertahun-tahun untuk bertahan hidup, dan inilah kisah dunia Lena

Waktu itu Lena yang menerami tagihan kosan yang ia tinggali harus segera di bayarkan

“Lena, kapan kamu bayar kosan ibuk? sudah 3 bulan kamu nunggak, ibu lagi butuh uang” ucap ibu-ibu kosan.

“Iya buk, tunggu lagi sebentar ya buk pasti saya bayar buk” jawab Lena

“Secepatnya ya Lena”

“Iya bukk”

Lena berpikir keras ia tidak tau harus berbuaut apa ingin meminta uang kepada orang tuanya, ia takut akan menyusahkan kedua orang tuanya akan memeras keringat deminya, yang sudah banyak biaya yang dikeluarkan untuk pendidikannya, tapi ia harus bagaimana dengan keadaanya sekarang, ia datang dari desa menuju kota orang untuk menuntun pendidikan dengan beruntungnya, ia mendapatkan beasiswa tapi sayang uang beasiswanya tidak cukup untuk menyambung hidupnya, Lena mau tidak mau memutuskan untuk menelpon orang tuanya

“Assalamualaikum pakk” ucap Lena kepada bapaknya melalui teleponnya

“Waalaikumsalam” jawab bapak Lena

“Pak, Lena butuh uang buat bayar kosan bapak ada uangkan?” tanya Lena

“Ada kok nakk, sudah bapak siapkan tapi cuman setengah tidak apa-apa kan”

“Iya pak tidak apa-apa”

“Kalau begitu nanti siang bapak kirimkan kamu”

“Allhamdulilah, iya pak kalau begitu, Lena lanjut belajar dulu ya, bapak sehat-sehat di sana, jaga kesehatan, dan kirimkan salam sama  ibuk jga Lena ndak bisa lama-lama telepon” ujar Lena

“Iya nak, kamu hati-hati juga ya di sana”

“Iya pak”

Lena menutup teleponnya ada rasa bersedih dan ada rasa bahagia di dalam benaknya, ia sedih mendengar ucapan ayahnya yang akan mengirimkan setengah bayar kosan, ia sediih karena mengetahui keadaan keuangan keluarganya, apa yang bisa ia buat sedangakan lulus sarjana ssaja belum, ia bahagia karena bisa membayar setengah kosannya beban yang ia pikul berkurang walaupun sedikit

kling kling

Suara hpnya Lena berbunyi, ia melihat ke arah teleponnya, ia melihat pesan teks dari nama Bagas, ia membuka hpnya

Bagas

“kamu kapan pulang??, sudah 6 tahun kiita tidak betemu, sejak saaat itu, aku masih disini setia menunggu kamu”

Lena

“Aku gatau kamu ngomong begini, apakah kamu bener-bener rindu sama aku, atau aku cuman bahan candaan kamu”

“Maksud kamu, ngomong kayak gitu gimana, aku serius sama kamu, dari zaman smp akku nungguin kamu Len”

“kamu ngga perlu bohong ga, aku tau kamu punya pacar, dan sekarang kamu bilang gini ke aku, kamu anggap aku apa?”

“Iya aku punya pacar di sini, tapi jujur hatiku iitu cuman buat kamu, aku gatau rasa apa yang haadir yang buat aku pacaran sama dia”

“Terus untuk apa kamu pacaran sama dia?? buat senang-senang?? jahat kamu gas”

“Ngga gitu Len, aku gatau kenapa aku pacaran sama dia, tapi aku masih mengharapkanmu”

“kamu masih mengharapkanku tapi kamu masih pacaran sama dia, kalo benar-benar kamu serius saama aku, putusin dia, maka aku akan terima kamu”

“Aku gabisa Len, mutusin dia”

Hahah kenapa?? dia lebih kaya? lebih sempurna? lucu ya gas, padahal aku lebih dulu kenal kamu, dibandingkan dia”

“Aku ga mungkin mutusin dia gitu aja Len, walaupun aku duluan kenal kamu, ntah kenapa aku belum siap buat mutusin dia”

“Lucu yaa scenario yang kamu buat”

“Len ngga gitu, aku dari dulu suka sama kamu, tapi aku gabisa mutusin dia secepat ini ga mungkin, Len aku mohon kaum jangan ngilang lagi”

Pesan terakhir bagas hanya dilihat oleh Lena, batinnya tersakiti saat mendengar semua percakapannya dengan bagas, hatinya sakit seakan-akan ditusuk, perasaan yang ia pendam harus tersakit, namun ia mulai menyadarkan diri bahwa ia dengan bagas hanya bisa berteman.

Waktu terus berjalan, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 14:00, dan ia ingat ada sesuatu di kampusnya yang akan ia kerjakan.

Beberapa menit kemudian Lena sampai di kampusnya

“Len” sapa Rani

“Eh Rani”

“Mm gua mau kasih tau sesuatu ke lo”

“Apa tuh”

“Uang yang lo pinjem kemarin, boleh ngga aku ambil soalnya aku butuh bangett, sorry ya Len harus nagih gini”

“Ohh iya, tunggu sbebentar lagi ya, tunggu uangku terkumpul”

“Iya Len gue tunggu, ngomong-ngomong ada berita bagus buat kamu”

“Apa Ran”

“Cafe deket kosan aku itu lagi nyari karyawan baru, kamu bisa masuk saa kerja sambil kuliah ya gpp tambah uang jajan kamu”

“Masa?? boleh aku coba nih, ya walaupun nanti aku harus bagi-bagi waktu kan tugas lumayan banyak dan aku baru semester 6”

“Iya Leen, ntar aku bantu-bantu deh” ujar Rani

Lena sedikit kegirangan dengan informasi yang ia terima dari Rani tentang pekerjaan.

“Ran, lo bisa ngga anterin gua besok ke cafe itu?”

“Bisaa-bisa Len, jam berapa”

“Jam jam 08:30 ya aku otw jemput kamu Ran”

“Oke Len aku tunggu”

Hari keesokan tiba, Lena dan Rani pergi ke cafe itu

“Ran, kalo gue ga keterima gimana?”

“Tenang aja lo pasti keterima kok”

“Baik mba Lena, kami sudah memeriksa berkas-berkas anda, dan saya sampaikan bahwa mba bissa bekerja besok ya” ujar manager cafe itu

“Allhamdulilah, aku keterima Ran”

“Iya Len aku ikut seneng, congrats ya and semangat ya”

“Iya Ran”

“Pak saya ucapkan terimakasih banyak pak, saya pasti akan bekerja dengan sungguh-sungguh” ujar Lena

Hari demi hari dilalui, waktu demi waktu berjalan, sampai akhirnya studi Lena selesai, dan waktu 1 tahun berlalu, waktu yang berlalu cepat Lena hadapi dengan lika liku sulitnya hidup yang ia hadapi sampai akhirnya ia lulus dngan gelar sarjananya.

Hari itu 1 bulan sebelum kepulangannya ke kampung halamannya, ia pergi ke sebuah tempat yang pertama ia kunjungi waktu pertama kali datang ke tempat itu, dan sekarang ia akan berkunjung untuk terakhir kalinya ke sana sebelum waktunya pulang kampung halaman.

Sesampai di sana Lena duduk di suatu tempat dimana ia duduk berada pertama kalinya, tanpa sadar matanya tertuju kepada sosok yang sangat ia ingin tau, karena pertama kali ia bertemu ia melihat bahwa orang itu sama dengannya seakan-akan setengah dirinya ada di orang itu.

“Jodoh” hanya itu yang ada dipikirannya saat di tempat itu, namun jalannya mungkin sudah ditentukan oleh sang kuasa, orang yang ia lihat mendekatinya dan bertanya kepadanya, dan pada saat itu Lena saangat merasa bahagia

“Permisiii, mbak sedang ngapain disini” ujar orang itu

“Mmm ngga ada, cuman ingin salam perpisahan sama tempat ini” jawab Lena

“Kalau boleh tau mbaknya mau kemana”

“Saya mau pulang ke Kalimantan, study saya sudah selesai di sini”

“Ooo mbak dari kalimantan, saya juga kalimantan, kalau boleh tau mba bagian mana”

“Saya kalimantan barat”

“”samaa saya juga kalimantan barat, tapi kok saya ndk pernah lihat mbak ya ke sini??”

“Mmm saya jarang kesini, kalau mas nya gimana”

“Saya ke sini cuman buat bacaa-baca buku sama kumpul sama temen-temen soalnya suasana di sini enak”

“Ooo gitu ya”

“Iya mba, rencananya mba kapan pulang?”

“Kayaknya satu bulan lagi deh”

“Ooo, kalau saya seminggu lagi”

“Hmm selamat pulang ya” ujar Lena

“Iya mbak juga ya, ngomong-ngomong nama mba siapa??”

“Lena, kalau masnya siapa”

“Deni” jawabnya

“Ooo deni iya-iya, boleh saya minta whatsAppmu buat temenan salnya kita satu asal”

“Mmm boleh, ini ya nomerku 082*****”

“Okei makasih ya Lena”

“Sama sama Deni”

Waktu demi waktu berjalan, sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 19:00, Lena beranjak pergi dari duduknya untuk pulang karena sudah malam, ia pun pamit dengan Deni ang sedari tadi teman ia mengobrol.

Sampai di kosannya Lena ia menerima pesan dari sebuah nomer tidak dikenal yang ternyata itu adalah Deni.

Deni

“Ini aku Lena, Deni”

Lena

“Iya Deni”

“ada apa?”

“Ndak ada cuman mau memastikan nomernya aktif apa ngga??

Beberapa menit berlalu Lena dengan asiknya berbalas pesan dengan Deni, sampai akhirnya kegembiraannya terhenti ketika melihat pesan masuk atas nama Bagas.

Bagas

“Len, apa kabar kamu?”

Pesan Bagas hanya diterima Lena tanpa ada balasan dari Lena, Lena berpikir sudah cukup ia tersakiti dengan Bagas.

Hari demi hari berlalu sampai akhirnya hari kepulangan Lena, ia sangat senang ingin secepatnya bertemu dengan keluarganya, begitu juga ia ingin bertemu dengan Deni yang selama ini selalu membuatnya bahagia.

Sampainya bandara ia sudah dijemput oleh Deni, hatinya sangat bahagia saat melihat itu, mereka pun berangkat menuju rumah Lena, di tengah jalan Deni bercerita kesan ia melihat Lena saat pertama kalinya dan rasa yang ia rasakan sampai detik itu.

“Len aku mau ngomong sama kamu” ucap Deni sambi di atas motornya

“Iya Den kamu mau ngomong apa”

“Menurutku ini waktu tepat len, ya walaupun di atas motor hehe”

“Iy gapapa kok”

“Len, semenjak aku liat kamu aku merasa kamu itu beda, waktu aku mendekatimu aku ingin tau kamu itu seperti apa dan benar kamu itu seperti dugaanku kamu orang yang aku cari selama ini, rasa yang aku pendam sudah ada sejak hari iu Len, dan sekarang aku mau ngomong, apakah kamu mau nikah sama aku??”

Lena sempat kaget mendengarnya namun hatinya sangat bahagia, sampai ia tidak bisa memutuskan jawabannya hari itu

“Mmm, aku butuh waktu Den buat jawab pertanyaan kamu” ujar Lena

“Iya Len aku tunggu jawaban kamu”

Lena sampai di rumah, ia sangat disambut meriah dengan keluarganya, ia sangat senang melihat kedua ornag tuanya masih sehat sama seperti sedia kala walaupun rambutnya sudah putih.

Hari demi hari dilalui, sampai akhirnya bagas kembali menghubungi Lena.

Bagas

“Lena, aku tau kamu sudah pulang kan?”

“Izinkan aku Len buat ketemu sama kamu untuk pamitan dan ada yang mau aku omongin”

Lena memikirkan sejenak perkataan Bagas, ia setuju ingin bertemu, sekaligus ia ingin bicara bahwa ia akan lupakan semua tentang rasa dia kepadanya

Lena

“Okeii, kita ketemu dimana tempat kita pertama kali ketemu 6 tahun lalu”

Mereka tiba di tempat itu, mereka duduk berhadapan dan Lena memulai percakapannya

“Aku ke sini ingin pamitan sama kamu, dan aku mohon rasa yang kamu miliki selama ini tolong aku minta tolong lupakan rasa itu hapus rasa itu karena aku akan segara menikah” ujar Lena dengan tetesan air mata.

Air matanya tak sanggup ia tahan di depan orang yang sudah ia sukai bertahun-tahun dan kini ia harus melepaskan rasa itu.

“6 tahun aku nunggu kamu pulang agar kita bisa bertemu, 6 tahun juga aku selalu merindakanmu, dan sekarang kamu didepanku tepat dihadapanku, dengan konyolnya kamu bilang aku harus pergi dari kamu, kamu menyuruhku pergi dari hidupmu hanya dengan sebuah alasan yang tak mampu aku terima, tega kamu ya” ucap Bagas

“Kamu yang tega gas, dari dulu aku nunggu kamu tapi kamu lebih milih dia, udahlah gas mungkin kisah kita cuman sampai di sini, kita tidak ditakdirkaan bersama kita hanya ditakdirkan sebatas teman, lupakan rasa itu gas, bahagialah sama pilihanmu yang sekarang” ujap Lena dengan air mata yang terus mengalir.

“Okee Len, mungkin hanya sampai di sini kisah kita, aku berdoa semoga kamu bahagia, aku akan coba lupakan rasa ini” ucap Bagas dengan wajah sedih

Lena tak mampu menahannya ia bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari tempat itu diiringi isakan tangisnya, rasa sakit yang ia terima rasa penantian yang ia jalani harus berakhir di sana.

Dan Lena memilih untuk melanjutkan hidupnya dengan pendamping yang ia pilih yaitu Deni.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

1 comment

Artikel Terkait