by

Cerpen: Don’t Believe (Fake Friend)

Judul: Don’t Believe (Fake Friend)

Cast: Bila, Rena, Imma dan Hefa

Author: Sukaesih

Apa arti kebersamaan?Tentu saja saling menjaga satu sama lain dan juga saling melindungi siapapun sebagai sahabat bukankah harusnya begitu.

Mereka berteman sejak masuk sekolah menengah atas. Pertemuan pertama tentu saja saat MOS sama seperti pertemuan-pertemuan teman lainnya. Kebetulan juga memilih jurusan kelas yang sama saat itu.

Kini sudah saatnya jenjang akhir pendidikan untuk mereka yang telah melalui masa-masa terindah bersama-sama selama sekolah. Saling bercanda tawa dan saling berbagi keluh kisah sampai cerita aneh sekalipun, mungkin untuk waktu yang akan datang mereka tidak akan banyak bertemu iyakan? Mereka pasti memilih jalan mereka masing-masing setelah ini, mungkin ada yang melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi lagi, dan juga mungkin ada yang memilih bekerja sambil kuliah nantinya juga yang mungkin memilih untuk bekerja menjadi tulang punggung keluarga.

“Tak terasa ya? Sudah 3 tahun saja kita bersama—Kalian ada rencana mau kemana setelah ini?”

Keempat gadis itu termasuk yang tadi bertanya saling melempar tatapan.

“Kau mau kemana Bil? Ahh—palingan kamu mah kuliah ya–Secara keluarga kamu mampu buat nyekolahin kamu lagi” Niatnya bertanya malah terkekeh canggung setelah itu, iri? Sudah pasti!

Siapa sih yang tidak mau mendapat pendidikan tinggi?Pasti banyak yang menginginkannya. Berhubung masalah ekonomi tak mendukung juga otak yang pas-pas’an untuk berharap beasiswa.

“Tidak, aku tidak akan kuliah Ren. Aku mau kerja saja. Mungkin nanti nyusul kuliahnya sambil kerja”Jawab gadis yang bernama Bila

“Loh kenapa? Sudah enak dikasih biaya orang tua.”Celetuk Rena temannya tersebut

“Bukan begitu…”

“Heh Rena, Sudah sih mungkin Bila punya pilihan hidup sendiri kenapa kamu ngatur deh” Salah satu dari mereka ikut bergabung dalam obrolan teman itu

“Ya aku cuma berpendapat Hef..”Sungut Rena

“Ya kamu tak harus begitu juga sama dia Ren…”Salah satunya lagi bicara membela Hefa yang tadi bicara.

Hefa mengangguk setuju dengan ucapan temannya itu.”Betul tuh kata Imma”Ucap Hefa begitu mendapat dukungan dari Imma.

“Sudah ah, kenapa jadi bertengkar gara-gara aku hehe…Ngomong-ngomong kalian mau kemana nih setelah lulus?” Bila mencoba melerai perdebatan kecil itu dengan mengalihkannya, giliran dia yang mempertanyakan pertanyaan yang sebelumnya Rena lontarkan tadi

“Belum ada planning, tapi palingan kami kerja haha” Balas Hefa diangguki Rena dan juga Imma

Bila mengangguk-anggukan kepala mengerti

“Oh aku, mau pamit dulu sebentar ke toilet ya”Ucap Bila

“Oh iya Bil, mau dianter?”

“Tak perlu terimakasih”Bila sedikit menyungging senyum tipis kemudian berlalu meninggalkan teman-temannya.

Teman-temannya tersebut hanya menatap kepergian Bila dengan wajah yang sulit diartikan.

“Apaan sih sok banget merakyat padahal dia selalu sombong punya barang-barang baru sama kita-kan?”

“iya–Padahal selalu pamer secara tidak langsung cih!”

“Sudah biasa sih sikapnya sok manis begitu padahal mah menyebalkan!”

Saat mereka bertiga tanpa Bila begini-lah akhirnya. Mereka membicarakan teman mereka yang beruntung lahir dari keluarga berada. Namun sikap Bila yang mungkin di depan mereka sok polos, seakan merakyat pada mereka kaum menengah di atas rata-rata, walau begitu memang kenyataan Bila suka memberitahukan benda atau apapun yang ia beli pada mereka, dan itu mungkin terkesan secara tidak langsung pamer pada mereka.

“Lihat tadi? Pas Rena nanya jawabannya tak akan kuliah kita lihat aja nanti iyakan?”Ujar Imma dengan mimik wajah tidak sedap menggosipi temannya bernama Bila itu.

Rena mengangguk setuju.” Entah hanya aku atau kalian juga merasa,tapi semakin lama aku merasa jengah sama Bila ck!” Sungut Rena yang terkesan menyinyir.

“Iya loh! Aku juga sama!Mau  ngejauhin dia-nya ngedeketin terus iyakan? Kalau pun kita jauhin nanti pasti teman-teman yang lain nanya tentang dia—Beranggapan kita musuhanlah atau semacamnya” Balas Hefa tak kalah lebih menyinyir tentang Bila.

“Sudahlah, lagian sebentar lagi lulus. Kita juga tak bakal ketemu dia lagi..Nikmati saja kebosanan bersamanya ck!”

“Betul…Betul…Betul” Imma menyetujui dengan nada logat ipin salah satu animasi terkenal.


Hari berikutnya masih menikmati masa-masa dimana sebentar lagi benar-benar lulus dari sekolah menengah atas ini.

“Bil!” Panggil Imma ketika melihat Bila yang sedang berdiri dipapan mading, membaca jadwal praktek akhir siswa tingkat 3 sebagai nilai tambahan di-ijazah dan juga data nilai rapot.

“Eh Imma, mana yang lain?” Tanya Bila sedikit mencari kedua temannya yang lain.

“Oh pergi kedepan izin membeli alat tulis sekalian mau foto copy katanya.” Ucap Imma dengan wajah yang berseri-seri.

Ia seakan lupa tentang apa yang mereka bicarakan waktu kemarin. Apa memang sebuah pertemanan memang harus selalu begitu ya? Membicarakan salah satu ketika mereka tidak ada, bukankah selama ini mereka telah bersama? Setidaknya melewati banyak waktu bersama-sama bukankah cukup untuk menjadi kesan? Entahlah.

“Kamu lagi ngapain?” Tanya Imma sembari melihat apa yang barusan Bila lihat dipapan mading.

“Melihat jam jadwal praktek terakhir”Jawab Bila dengan kembali melihat mading tersebut.

“Oh kelas kita sedikit dipercepat dari kemarin ya?” Imma menunjuk-nunjuk kelas mereka yang berada diurutan paling atas jadwal praktek akhir itu.

“Iya, mungkin sistemnya bergilir”Jawab Bila lagi dengan mengangguk-anggukan kepala.

“Sepertinya begitu sih…”

Di lain tempat disebuah tempat foto copy dimana Hefa dan Rena yang ditugaskan pergi oleh guru mereka.

“Eh Imma cerita tidak sama kamu?” Tanya Hefa

Rena sedang membereskan lembar foto copy’an yang sudah hampir selesai.

Baca Juga  Cara Membuat Bika Ambon Khas Medan, dijamin Lembut dan Bersarang!

“Cerita apa?”Tanya Rena balik sedikit melirik Hefa

“Kalau ke aku sih cerita,kamu tahu-kan pacarnya si Angga katanya selingkuh tahu—Selingkuhnya sama siapa coba–”

“Sama si Ghea anak kelas sebelah!” Lanjut Hefa dengan nada sedikit meninggi.

“Oh ya? Wah dasar perebut emang si Ghea mah. Sudah bukan hal aneh sih setiap cowok bakalan kepincut sama dia secara dia juga cantik ketimbang Imma ck!” Balas Rena kemudian memasukan lembaran foto copy’an itu ke dalam plastik yang diberikan oleh pemilik toko.

“Perlu apa lagi dek?”Tanya pemilik toko begitu tugas foto copy sudah selesai.

“Oh itu mbak, mau 2 pulpen cair sama doubletip,sudah…”Ucap Rena

Pemilik toko mengangguk sambil mengambil benda yang tadi Rena sebutkan di etalase.

“Emang iya sih kata kamu Ren, tapikan setidaknya selingkuhnya yang jauhlah masa satu sekolah. Kalau aku jadi Imma jelas malu kalau cerita ini tersebar ck!” Celetuk Hefa setelah beberapa detik obrolannya sedikit terganggu.

Rena mengangguk sambil menenteng plastik berisi kertas-kertas foto copy tadi.” Lagian Imma juga dari awal dekat sama Angga seperti jelas sedang dimanfaafkan saja. Seperti obat kebosanan Angga begitulah—karena kudengar rumor kalau Angga itu tukang mainin cewek katanya.”

Pemilik toko menyerahkan benda yang diperlukan mereka tadi diatas etalasenya.

“Berapa jadinya mbak?”Tanya Hefa kepada sang pemilik toko.

“Rp.10.000,- dek”Jawab pemilik tokonya dengan ramah

“Oh sebentar…”Hefa meronggoh saku roknya mengambil uang yang dipegang dia.

“Terimakasih ya mbak”Ucap Hefa dan Rena bersamaan

“Ya terimakasih kembali.”

Hefa dan Rena kemudian berlalu pergi untuk kembali ke Sekolah dengan berjalan kaki kebetulan toko foto copy hanya berjarak beberapa langkah dari sekolah mereka.

“Kalau kamu tahu kenapa tak memberitahu Imma?” Tanya Hefa masih membahas soal tadi

Rena melirik Hefa sebentar sambil tersenyum miring.” Buat apa? Memangnya Imma bakalan percaya? Kau tahu dia-kan? Dia egois pasti aku memberitahunya hanya akan jadi bahan keributan nantinya. Biarkan saja dia merasakannya untuk mengetahui tentang si pacarnya itu dengan sendirinya.” Ujarnya.

Hefa mengangguk-anggukan kepala saja sebagai respon.

“Iya juga percuma, capek-capek mulut memberitahunya ck!” Ucap Hefa kemudian.

“Iyalah.”

Sekarang apa? Imma juga jadi korban bahan pembicaraan teman ini? Apa mereka sebenarnya layak disebut sahabat jika begini? Untuk apa pertemanan ini berlangsung lama kalau hanya untuk saling membicarakan keburukan masing-masing teman di saat tidak ada salah satunya?

*

“Eh Ma, Kamu tak mau cerita soal pacar kamu sama kita?”Ujar Rena bertanya kearah Imma yang tengah memakan bakso pesanannya.

“Hefa sudah bilang sama kamu?” Nada Imma terdengar terkejut namun setelahnya biasa saja lagi karena sudah menduga kemungkinan Hefa akan menceritakannya pada Rena.

Rena hanya mengangguk singkat, Imma hanya menatap Hefa kemudian menghela nafas pelan untuk beberapa saat.

“Memangnya ada apa Ma?”Bila yang tidak tahu apa-apa bertanya polos yang sedari tadi menyimak tanpa tahu apa yang sedang dibahas saat ini.

Imma melirik Bila kemudian kembali menghela nafas.” Begini–Angga selingkuh sama Ghea anak kelas sebelah!” Ucap Imma dengan nada kesal namun ia berusaha menahan diri.

“Hah!”

“Alasannya dia selingkuh itu apa Ma?” Tanya Rena yang dalam hati sedikit tidak sabaran menunggu cerita inti karena alasannya belum diketahui, bahkan Hefa juga belum tahu selain karena alasan fisik antara kedua gadis itu.

“Angga memang beberapa hari ini berubah,bahkan chat aku saja jarang dibalas alasannya main game-lah atau ketiduran terus tak lama kemudian— Aku dichat Reno adik kelasku mantannya Ghea katanya Angga sudah lama sering jalan sama Ghea. Begitulah..” Cerita Imma dengan raut murung.

Bila yang berada di sampingnya mengusap bahu Imma seakan merasa kasihan.

“Kamu dekat sama adik kelas mantannya Ghea dari kapan?” Tanya Hefa yang diangguki Rena dan Bila menatap Imma dengan wajah penasaran.

Imma sedikit meminum jus jeruknya sebentar sebelum berlanjut cerita.” Dia pernah satu SMP denganku dan—Dia juga pernah ngungkapin perasaannya sama aku tapi aku tolak karena saat itu aku juga sudah punya pacar” Ucap Imma kemudian.

“Hah! Waaaahhh kau populer juga ya…”Pekik Hefa

Imma hanya tersenyum.” Tidak juga sih ck!”

“Tapi aku selalu iri sama hubungan Rena sama Haris. Seperti tidak pernah bertengkar bahkan jarang dibahas” Lanjut Imma melirik Rena yang sedang melahap mie ayamnya kemudian Rena mendongak menatap Imma.

“Cih, aku hanya malas mengumbar hubungan pacaran.” Balas Rena dengan sunggingan senyum.

“Iya juga Ren, kayaknya Haris tipe anak yang baik iyakan?” Tanya Bila menatap Rena di depannya.

“Tidak juga, menyebalkan iya ck!” Rena kembali melahap makanannya.

“Tapi Rena langgeng sama Haris dari pertama sekelas terus sampai kabar menyebar di kelas kalau kalian pacaran kelihatannya adem ayem sampai di tahun terakhir ini haha” Ucap Imma lagi

“Ah itu mah tips-nya saling mengerti aja, aku juga tidak banyak menuntut padanya biarkan dia dengan dunianya aku tak mau mengusiknya juga sebaliknya untukku. Ya begitulah” Balas Rena lagi menatap Bila yang sedang tersenyum tipis padanya.

“Jadi kamu bagaimana sekarang Ma?”

“Ya mau bagaimana lagi, putus jalan terbaik-kan?” Imma melirik teman-temannya satu persatu.

Mereka mengangguk mengiyakan.

“Yasudah makan buru takut keburu masuk” Ujar Imma setelahnya.

Mereka mengangguk lagi kembali fokus dengan menu makanan masing-masing karena takut kehabisan jam istirahat juga.


“Untuk anak kelas 12 di masa-masa persiapan Ujian Nasional ini kalian harus fokus belajar di rumah ya? Karena Ujian Praktek telah berakhir 2 hari lalu, kalian harus belajar serius untuk saat ini agar nilai akhir kalian memuaskan paham?”

Baca Juga  Harapan Sekeping Hati di Bulan Juni

“Baik bu!”D engan kompak para murid kelas 12 menjawab pidato kepala sekolah yang berdiri dimimbar ketika upacara pagi ini.

“Dan untuk para adik kelas,kalian juga jangan malas belajar meskipun waktu kalian masih lama tetap saja nanti akan segera menggantikan posisi kakak kelas iyakan? Baiklah mungkin tak akan banyak ibu sampaikan dipagi hari yang cerah ini. Semoga kalian selalu bersemangat tentang hal apapun jangan banyak mengeluh, dan kuncinya berusaha belajar karena kalian bukan ditingkat masa sekolah dasar dan kalian bukan anak-anak kecil yang baru mengenal lingkungan. Karena kehidupan kedepannya akan lebih banyak yang akan kalian alami lebih dari cobaan belajar disekolah.Semangat!” Ibu kepala sekolah turun dari atas mimbar mengakhiri pidatonya.

Kemudian petugas upacara pagi ini kembali melanjutkan acara selanjutnya, sampai menuju tahap terakhir pembubaran upacara kemudian.

“Huh!”

“Yaampun panas sekali~”Desah Bila sambil mengipas-kipas wajahnya dengan buku tulis miliknya kemudian meneguk air yang ia beli sebelum upacara tadi.

“Bila, tugas B.Indonesia sudah belum?Yang cara membuat lamaran pekerjaan dan juga cara mencari lowongan pekerjaannya?” Tanya Hefa menghampiri meja Bila.

“Memangnya hari ini?” Tanya Bila polos

Hefa mengangguk.”Iya, jangan-jangan kau belum lagi ya?”Tuduh Hefa

“Sudah kok, cuma aku pikir hari Kamis nanti dikumpulinnya.”Jawab Bila dengan tersenyum enteng.

“Oh aku pikir belum,kau menulisnya sendiri atau mencari di google?”Tanya Hefa lagi

“Dari—”

“Hefa kamu sedang apa?” Tanya Rena saat hendak duduk di kursi sebelah Bila

“Tanya tugas B.Indonesia kamu sudah belum?”Tanya Hefa kali ini ke arah Rena.

“Ada tugas?! Memang hari ini ya?” Pekik Rena terkejut.

“Iya, kau belum?”

Rena menggeleng lalu langsung membuka ponsel miliknya mencari tugasnya dimesin pencarian google. Di sekolahnya memang tak melarang membawa ponsel namun harus tahu batasan saat main ponsel begitulah peraturannya.

“Untungnya pelajarannya setelah istirahat. Bisa selesai sebelum jam pelajarannya” Ucap Rena masih mencari-cari jenis tugas yang akan ia salin di bukunya itu.

Kemudian ribut-ribut para murid yang tadi berisik kini menghambur menuju tempat mereka masing-masing untuk duduk rapi karena guru pelajaran pertama telah hadir. Hefa pun melakukan hal yang sama kembali ketempat duduknya dengan terburu-buru.

“Baik anak-anak, kita bahas bab kemarin.Sekertaris kelasnya mana?”

“Saya pak!”

“Baik,kamu tolong catat ini terlebih dahulu setelah itu akan bapak jelaskan.” Ujar guru tersebut lagi sembari menyerahkan buku LKS kearah si sekertaris yang telah berdiri dihadapan guru tersebut.

“Baik pak” Dengan patuh si sekertaris kelas langsung mencatat di papan board sesuai perintah guru.

Yang lainnya mulai melakukan kegiatan mencatat juga apa yang dicatat oleh sekertaris kelas didepan papan board sana. Sedangkan gurunya duduk sembari memeriksa absen kelas juga beberapa berkas miliknya.

*

“Baiklah untuk pelajaran terakhir hari ini sebagai PR ibu akan memberikan tugas kelompok belajar. Dikumpulkan minggu depan—Buat makalah tentang alam, buat semenarik mungkin itu bisa menjadi poin tambahan juga untuk penilaian.” Ujar ibu guru sembari membereskan barangnya di meja karena sebentar lagi jam pulang sekolah akan segera tiba.

“Kelompok bebas apa ditentukan ibu?”Tanya ketua kelas

“Bebas saja ya. Yang penting kalian kerja sama dalam tim oke—”

Kriiiiinggg

“Baiklah terimakasih untuk hari ini. Sampai bertemu dipertemuan berikutnya” Lanjut ibu guru kemudian menenteng barang miliknya dan melangkah pergi mendahului para murid yang kini tengah sibuk beres-beres barang masing-masing.

“Hef, kamu pulang duluan saja ya–“Ucap Rena masih membereskan barangnya yang tersisa di meja..

“Kenapa? Kamu mau kemana?” Tanya Hefa penasaran

“Aku mau pulang sama Haris”Jawab Rena

“Oh—Baiklah.”

“Aku duluan ya—“Rena langsung memakai tas gendongnya dan pamitan pada temannya

“Iya”

“Rena tak pulang bareng sama kita?”Tanya Bila yang mulai menghampiri Hefa

“Katanya pulang sama Haris”Jawab Hefa kemudian memasang tas gendongnya dipunggung.

Bila hanya mengangguk saja setelah itu.

“Imma mana?”Tanya Hefa

“Itu di depan pintu lagi nunggu—Tapi sepertinya lagi ngobrol deh sama orang” Bila menujuk Imma yang sudah berdiri didepan pintu kelas namun kelihatan seperti sedang mengobrol dengan seseorang tapi tak tahu siapa karena terhalang tembok juga.

“Iya siapa ya? Ayo samperin”Hefa menggandeng tangan Bila untuk melangkah pergi segera menghampiri Imma di depan sama

“Ma–Oh!”

“Angga!”Bila terkejut melihat Angga yang kemarin menjadi pacar Imma tapi sekarang sudah mantanan

“Kamu sedang apa Ga?”Tanya Hefa penasaraan menatap Angga serius.

“Oh kalian mau buru-buru pulang ya—Yasudah, aku pergi dulu ya Ma. Maaf ganggu tadi”Ujar Angga sambil tersenyum melangkah pergi tanpa menjawab pertanyaan Hefa barusan.

“Tak jelas!”Cibir Hefa

“Imma, kamu tadi sedang apa sama dia?”Tanya Bila dengan raut penasaran ketara

“Tak ada hehe, Ayo pulang—“Imma langsung pergi mendahului Hefa-Bila menghindari pertanyaan mereka

Bila dan Hefa saling melirik curiga langsung mengejar langkah Imma minta penjelasan.

“Tak ada sungguh Hef…Bil…”Balas Imma lagi bergitu diserbu pertanyaan menuntut dari temannya itu

“Kamu bohong ya?”Tanya Bila memicing curiga.

“Mana ada!”

“Oh, Rena pulang sama Haris ya?Aku selalu iri sama hubungan mereka haha ck.”Tanya Imma sambil sekalian mengalihkan topik pembicaraan

“Iya mereka kalau ibarat rumah tangga sudah harmonis banget ya haha”Bila terkekeh menanggapi itu

“Tapi teman-teman Haris itu—“Hefa menggantungkan kalimatnya ragu.Ia juga sudah jengah menutupi fakta sebenarnya tentang pacar Rena tersebut. Cuma Hefa juga belum berani mengatakan pada Rena langsung takut dia marah.

Baca Juga  Cerpen: Terlepas Dari Bayangan

“Kenapa?”Keduanya terdengar penasaran

“Sudah hampir sebulan aku sama dia chat’an tapi sebenarnya tak ada hubungan apa-apa tapi juga— Dia jujur ganggu banget buat aku.”

“Hah!”

“Maksudnya—”


Hefa meminta ceritanya dirahasiakan oleh teman-temannya pada Rena,hari ini dia tak masuk sekolah katanya sakit. Akhirnya mereka kurang satu personil teman hari ini.

“Rena?”

“Apa Bil?”Sahut Rena menatap Bila

“Rena!”Kali ini panggilan dari Imma sembari menghampiri meja mereka berdua dengan terburu-buru

“Kenapa sih!”Dengus Rena jengah

“Rena kamu jangan marah ya, tapi kami ingin jujur sama kamu takut kamu nyesel nantinya”Ujar Imma

“Iya Ren”Tambah Bila

Mereka sepakat ingin menceritakan masalah Haris pada Rena padahal Hefa memintanya untuk merahasiakannya. Entah kenapa mereka juga tak mau kalau Rena tersakiti, sedangkan Hefa berada dalam zona nyaman bersama pacar orang, siapa tahu sekarang bilang tidak suka diwaktu lain entah kapan pasti perasaan itu munculkan? Sebagai teman hanya ingin mencegah perselingkuhan yang mungkin akan terjadi antara teman sendiri begitulah.

“Apa sih!”

“Haris sudah berubah Ren!”Imma semakin bersemangat membongkar kedok Haris pacarnya Rena

“Dia ngedeketin Hefa sudah berjalan sebulan. Tapi Hefa bilang tak suka tapi juga masih direspon.”Bila kali ini yang melanjutkan.

“Hah!Bohong kalian!”

“Serius Ren, kami tidak bohong! Buat apa bohong”Ujar keduanya kompakan

“Seriusan?!”

Keduanya mengangguk sambil melanjutkan cerita panjangnya yang diceritakan Hefa kemarin pada mereka.

Rena sungguh tak menyangka pada Haris ditambah lagi sama sahabatnya itu yang telah lama bersama tapi begitu—Memang tak ada niatan merebut Haris tapi kenapa dia masih merespon pesan dari pacarnya itu kalau tidak suka!


Sebulan berlalu semua murid kelas tingkat
akhir telah benar-benar fokus belajar menuju Ujian Nasional dua mingguan lagi—Sedangkan hubungan sebuah pertemanan yang terjalin dari semasa kelas 1 sampai dengan sekarang itu berakhir!Berakhir hanya karena satu lelaki! Mereka bercerai berai. Hefa yang hidup menyendiri setelah itu dan juga Rena yang masih berteman dengan kedua yang lain seperti Bila dan Imma namun juga jarang sering bersama. Rena juga sedikit membatasi diri beteman dengan siapapun sekarang ia hanya berteman sewajarnya. Sedangkan Imma dan Bila mereka masih terlihat bersama namun saling sibuk juga dengan dunia mereka masing-masing Bila yang fokus belajar karena keluarganya menginginkan dia lanjut pendidikan lagi dan Imma yang kembali lagi berpacaran dengan Angga entah bagaimana ceritanya mereka bersama lagi tapi ya itu yang terjadi, mereka juga sibuk dengan masa pacaran mereka itu bahkan Imma lebih sering sama Angga ketimbang sama teman-temannya sekarang.

Jangan tanya bagaimana sebuah pertengkaran antara teman sebulan lalu tejadi—Itu cukup heboh di kalangan siswa setingkat sampai ke tingkat adik kelas. Tentu saja mereka berkelahi hebat saat pulang sekolah membuat janji temu disebuah tempat yang kemudian disaksikan beberapa adik tingkat dan teman sekelasnya secara kebetulan. Dan berita itu menjadi bahan pembicaraan yang saat itu seperti mendadak heboh bak selebriti. Yang akhirnya begini—Diantara mereka tak saling akrab lagi seperti layaknya musuh tak saling menyapa bahkan bicara seperti dulu. Segampang itu mengakhiri hubungan teman yang sedari dulu selalu bersama kini hanya saling berpisah menyibukan diri masing-masing.

Tentu saja mereka menjadi bahan pembicaraan banyak orang yang dari dulu selalu bersama hanya karena perkara lelaki semuanya menjadi berakhir tidak sedap. Banyak gunjingan-gunjingan tak mengenakan tapi diabaikan oleh mereka toh ini sudah benar-benar kejadian. Daripada menjadi tambah masalah dengan orang lain lebih baik diam saja.

Memang terkadang hal baik dan buruk datang tak terduga.Tapi kejadian ini terjadi karena memang pada dasarnya Tuhan membenarkan kemauan mereka bukan? Mereka yang satu sama lain tidak tulus saling berteman maka Tuhan mengakhirinya dengan seperti ini. Jangan salahkan apapun pada dasarnya ini hukum alam sebagai tahap awal beratnya kehidupan. Setelah ini mereka akan lebih banyak diberi cobaan lebih dari hal seperti ini.

Maka belajarlah tulus tentang hal apapun, karena sesuatu keburukan akan selalu dibalas dengan keburukan meskipun pada akhirnya diri tersakiti, setidaknya kalau tulus memaafkan dan tulus dalam banyak hal pasti akan selalu ada kebaikan setelahnya.Juga—memilih lingkup pertemanan juga penting agar kedepannya saling menjaga dan menghormati setiap pihak, jika kita baik pada orang lain pasti orang lain juga akan menjadi lebih baik lagi terhadap kita benar bukan?

Halo, perkenalkan nama saya Sukaesih (Suke) dari Cikarang-Bekasi. Memiliki hobi menulis saat duduk di bangku tingkat SMA merasa bahwa menulis cukup menarik akhirnya mencoba-coba iseng membuat cerita absurd tapi akhirnya banyak yang suka. Aku mulai menulis diakun wattpad @keiyskke awalnya ragu tapi mencoba dan bersyukur ternyata di luar dugaan setidaknya beberapa orang menyukai karya absurdku. Semoga dengan mengikuti acara lomba ini bisa mengapresiasi diri sendiri untuk mencoba banyak hal dan belajar banyak hal. Terimakasih kepada pihak pengada acara lomba ini telah memberikan kesempatan pada saya untuk berani mencoba hal baru. Semoga diberi kelancaran dalam segala hal kepada para pihak pengada acara ini.🙏🙏

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait