by

Cerpen: “Déjà Vu”

Gabriella adalah gadis cantik berusia 15 tahun. Dia tinggal di sebuah apartemen mewah di kota. Dia memiliki seorang kakak perempuan bernama Lilly. Kakaknya sangat suka sekali mengoleksi boneka tua dan seringkali berbicara sendiri. 

“Kakak, ayo makan. Seharian kakak belum makan, nanti kakak sakit.” Rayu Ella. 

“Tidak, kakak sedang memikirkan sesuatu.” Jawab kakaknya. 

Sudah dua tahun ini kakaknya selalu bertingkah aneh. Dulu, kakaknya tidaklah seperti ini. Semenjak mereka tinggal di apartemen mewah itu, kakaknya selalu saja bertingkah aneh. Konon, dari kata orang-orang yang pernah tinggal di situ, mereka juga merasakan banyak keanehan. Bahkan, ada keluarga mereka yang meninggal semenjak beberapa bulan tinggal di situ. Mereka pun memutuskan untuk pindah dari apartemen itu. 

“Ayah, sudah dua tahun semenjak kita tinggal di sini kakak selalu saja bertingkah aneh. Apakah kita tidak pergi saja dari sini?” Pinta Ella kepada sang ayah. 

“Kamu percaya dengan kata orang-orang itu?” Tanya ayah. 

“Tidak ayah, aku hanya khawatir dengan keadaan kakak saja.” Jawab Ella. 

Ayahnya tidaklah setuju untuk pindah dari apartemen itu. Tidak mudah menyerah, Ella pun menemui dan meminta bantuan dari temannya yang indigo bernama Jeanneth. 

Di kelas, Ella pun mencurahkan segala isi hatinya kepada Jeanneth. Dia pun menceritakan semua keanehan yang terjadi di rumahnya. 

“Kamu harus pindah dari situ, ada roh jahat yang ingin membunuhmu.” Ucap Jeanneth. 

“Aku? Aku baik-baik saja selama ini. Lalu, bagaimana dengan kakakku?” Tanya Ella. 

“Kakakmu itu sudah dikuasai roh jahat dan dialah yang akan menjadi alat perantara untuk membunuhmu. Mungkin, sebentar lagi. Roh jahat itu hanyalah mencari waktu dan kesempatan yang tepat untuk membunuhmu.” Ucap Jeanneth. 

“Jeanneth, tolonglah aku. Aku mohon, bantulah aku dan datanglah ke rumahku.” Pinta Ella. 

“Mungkin, besok di hari minggu aku akan datang dan menginap di rumahmu. Tetapi, sebelum itu, ini, ambillah boneka tua ini.” Ucap Jeanneth. 

“Boneka tua apa ini? Ini seperti milik kakakku.” Tanya Ella. 

“Boneka ini akan selalu melindungimu dan jangan takut, karena boneka ini akan aktif di malam hari untuk melindungimu dan mengusir para roh jahat yang berusaha akan mendekatimu.” Jawab Jeanneth. 

“Terimakasih banyak, Jeanneth.” Ucap Ella. 

Pada malam harinya setelah membawa boneka itu, Ella banyak merasakan hal aneh. Seperti ada suara seseorang yang mengiris jarinya sendiri menggunakan pisau, suara almari terbuka dan tertutup sendiri, dan lain sebagainya. Dia pun mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Dia mematikan lampu kamarnya dan mencoba melihat apa yang terjadi sambil memeluk boneka tua pemberian Jeanneth itu. 

Terkuaklah! Satu menit setelah Ella mematikan lampu kamarnya, ada hantu perempuan bugil yang perlahan mendekat menuju kasurnya. Hantu itu merangkak keluar dari dalam lemari tua yang tidak ada seseorang pun yang memiliki kuncinya ataupun berani membukanya. Spontan Ella langsung berteriak dan menghidupkan lampu kamar yang berada di sampingnya. 

Anehnya, hantu itu langsung hilang. Almari itu yang terbuka pun tertutup lagi. Ella pun segera tidur tanpa mematikan lampu kamarnya itu lagi. Dia memeluk erat-erat boneka tua itu. Dia merasakan hawa dingin menusuk tulang dan dia pun merasakan seperti ada roh jahat yang mendekat. 

Baca Juga  Cerpen: Rumah Pohon Berbagai Cerita

Namun, anehnya, Ella pun terbangun tiba-tiba dan terkejut karena boneka tuanya itu menghilang dari pelukannya. Waktu menunjukkan pukul dua tepat dini hari. Kemudian, ada suara menggedor-gedor pintu. Ella pun tidur lagi dan tidak mau tahu apa yang terjadi. 

Keesokan harinya, Ella pun menceritakan kejadian itu kepada keluarganya. Sang kakak pun mengajaknya untuk pergi ke psikiater. Namun, Ella tetap menolak dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Ella sudah curiga, pasti ada maksud dan tujuan tertentu yang akan dilakukan oleh kakaknya. 

Pada hari minggu paginya, kakaknya menyeretnya untuk masuk ke dalam mobil dan berangkat ke psikiater. Namun, Ella menolaknya karena Jeanneth akan datang ke rumahnya pagi ini juga. 

“Kakak, tetapi Jeanneth akan kesini! Aku mohon kakak, aku tidak mau ikut!” Teriak Ella. 

Sang kakak pun langsung menyetir mobil dan tidak memperdulikan lagi adiknya itu. Ella yang duduk di sampingnya tiba-tiba merasakan ada yang merasuki kakaknya itu. Mata Lilly tiba-tiba memerah dan wajahnya mengeluarkan keringat yang luar biasa. 

Setelah tiga puluh menit perjalanan, mobil mereka seakan-akan hilang kendali dan terus-menerus akan menabrak seseorang ataupun kendaraan lainnya. Tepat pada pertigaan yang di bawahnya ada jurang, sang kakak mulai mencekik leher adiknya itu. Ella pun berteriak kencang dan berusaha untuk melepaskan tangan kakaknya yang mencekik lehernya itu. 

Akhirnya, mereka pun mengalami kecelakaan besar dan mobil mereka masuk ke dalam jurang. Mereka berdua pun dibawa ke rumah sakit. Keduanya pun mengalami luka parah, terutama Ella yang mengalami koma akibat pendarahan di kepalanya. 

Kedua orang tua mereka pun menangis melihat keadaan kedua anaknya itu. Lima jam kemudian, Lilly pun sadarkan diri dan keadaannya pun mulai membaik. 

Lima hari kemudian, Ella masih tidak sadarkan diri. Ayah dan ibunya pun tidak berhenti menangis. Mereka kemudian dikejutkan oleh kedatangan Jeanneth yang kemudian panjang lebar bercerita dan menyuruh keluarga mereka segera pindah dari apartemen itu. 

“Ella, aku tahu. Kamu sedang bermimpi dan melihat sesuatu di sana. Namun, kamu harus segera sadar. Bangunlah, Ella. Kamu harus bisa keluar dari pintu itu!” Bisik Jeanneth ke telinga Ella. 

Tiba-tiba, tubuh Ella berkeringat dan tubuhnya bergerak-gerak. 

“Kakak! Hentikan! Tolong! Jangan bunuh aku!” Teriak Ella yang mengejutkan seluruh warga rumah sakit. 

“Cari dan ambil boneka tua pemberianku itu, Ella!” Suruh Jeanneth. 

Ella pun memegangi lehernya. 

“Jeanneth! Itu berada di kamarku dan aku harus naik lagi!” Teriak Ella sambil kesakitan. 

“Cepat, Ella! Ayo, kamu pasti bisa!” Ucap Jeanneth. 

Lima belas menit kemudian, Ella pun sadarkan diri dan memeluk Jeanneth. 

“Jeanneth, kepalaku pusing dan aku tidak ingat apa-apa.” Ucap Ella sambil memegangi kepalanya. 

“Sudahlah, tenang. Kamu tidak apa-apa.” Ucap Jeanneth. 

Dokter pun memeriksa keadaan Ella dan memperbolehkan Ella untuk pulang besok pagi. 

“Terima kasih banyak, dokter.” Ucap kedua orang tua Ella. 

“Ibu, aku ingin pergi dari apartemen itu! Aku takut, ibu!” Ucap Ella sambil memeluk ibunya. 

“Baiklah, nak. Kita pasti pindah, tenang saja ya!” Jawab sang ibu. 

Keesokan harinya, Ella pun pulang bersama keluarganya. Dia masih merasakan pusing yang luar biasa dan hal aneh dari tubuhnya. Dia seperti telah melihat sesuatu, tetapi entah dimana dia pernah melihatnya. 

Baca Juga  Kelopak Bunga yang Mekar

“Ayah, nanti malam hujan deras ayah. Sebaiknya ayah berangkat bekerja pakai mobil saja.” Saran Ella. 

“Tidak, ayahmu sudah hampir terlambat. Ayah akan pakai motor saja, nanti macet kalau pakai mobil.” Jawab sang ayah. 

Ayahnya pun pergi berangkat bekerja menggunakan motor. Sementara itu, ibunya sedang asyik memotong rumput tiba-tiba dikagetkan oleh Ella. 

“Ibu, memotong rumputnya nanti saja ya. Sebentar lagi mati lampu, alangkah baiknya kalau ibu memasak nasi dan mengecas hp ibu terlebih dahulu.” Ucap Ella. 

“Darimana kamu tahu? Kita kan kemarin baru saja membayar listrik.” Tanya sang ibu. 

“Sudahlah ibu, ayo cepatlah!” Ucap Ella. 

“Ya, baiklah.” Ucap sang ibu. 

Satu jam kemudian, ternyata benar mati lampu. Untung baterai hp mereka sudah dicas penuh karena mati lampunya sangat lama. 

Malam harinya, hujan deras. Sang ayah pun terkejut karena perkataan putrinya itu benar-benar terjadi. Ketika sampai di rumah, sang ayah kedinginan karena basah kuyup. 

Selama tiga hari setelah kepulangannya dari rumah sakit, Ella tidak merasakan gangguan apa-apa. Tetapi, dia seakan-akan dihantui oleh rasa tidak enak dan pernah melihat sesuatu kejadian di masa yang akan datang. Dia masih bingung, dengan melihat tali yang selalu mengganggu dan menghantui kepalanya itu. Dia takut kalau akan terjadi apa-apa kepada kakaknya, Lilly. 

Keesokan harinya, Bibi menelepon Ella. Bibi berbicara kalau dia akan naik bus untuk pergi ke luar kota hari ini. Namun, tiba-tiba Ella merasakan sakit kepala dan melihat akan terjadi kecelakaan besar siang ini. Karena takut hal tersebut akan terjadi, Ella pun menyuruh bibinya untuk membatalkan perjalanannya itu. 

“Bibi, tolong tidak usah pergi hari ini. Besok saja, ya. Ella takut, nanti ada kecelakaan besar bibi.” Saran Ella. 

“Ella, kamu kenapa? Apakah Kamu masih sakit?” Tanya bibi. 

“Tidak, Bibi. Ella hanya memiliki firasat buruk saja.” Ucap Ella. 

“Baiklah, bibi membatalkan perjalanannya, ya.” Ucap bibi. 

“Baiklah bibi, terimakasih banyak.” Ucap Ella. 

Ternyata benar, pada pukul dua belas siang tepat, bus yang akan ditumpangi oleh bibinya itu mengalami kecelakaan. Mereka pun melihat beritanya di televisi. Bibinya pun menelepon Ella lagi dan menangis sekaligus berterimakasih banyak. 

“Ella, ternyata firasatmu itu benar sekali. Terimakasih banyak, ya.” Ucap bibi. 

“Iya bibi, sama-sama.” Jawab Ella. 

Seperti itu terus, Ella pun seringkali menyelamatkan seseorang ataupun orang lain dari marabahaya. Namun, sore itu, Ella mulai merasakan keanehan lagi. Dia melihat tetesan darah dan tali yang tiba-tiba muncul dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Dia pun menjadi stress dan ketakutan. 

Di saat dia berjalan, pasti selalu ada seseorang yang membuntutinya. Dia pun melihat fenomena lampu di kamar mandinya yang tiba-tiba hidup dan tiba-tiba mati dengan sendirinya. Dia seperti pernah melihat dia melewati tempat itu dan dia pun berlari ketakutan. Tetapi, Ella tidak ingat pernah melihatnya dimana. 

“Astaga, apa ini? Kepalaku pusing sekali.” Ucap Ella. 

“Oke, baiklah. Lebih baik kalau aku tidur saja sekarang.” Ucap Ella. 

Namun, hantu itu pun datang lagi. Pada pukul sebelas malam, ada seseorang yang menggedor-gedor pintu kamar Ella. Spontan karena déjà vu nya, Ella pun berusaha memberanikan dirinya untuk membuka pintu dan mengikuti alur yang telah dia lihat sebelumnya. 

Baca Juga  Maria is Dead

Ella melihat seseorang yang berjalan di depannya. Ella pun terus mengikutinya. Setelah sampai di lantai paling bawah, hantu itu berhenti. Ella pun berhenti. Perlahan, hantu itu menoleh ke belakang. Ternyata, hantu itu adalah kakaknya sendiri. Maksudnya, sang kakak telah dirasuki oleh roh jahat. 

Hantu itu lantas mengejar Ella dan spontan Ella pun berlari sambil berteriak. Namun, anehnya para anggota keluarga lainnya tidak ada yang terbangun maupun tidak ada yang mendengar suara teriakan Ella. Ella berlari dari lantai bawah menuju lantai atas. Apartemen itu sangat luas dan mewah sehingga sulit dan memerlukan waktu yang lam untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. 

“Tolong! Berhentilah kakak! Sadarlah kakak! Jangan bunuh aku!” Teriak Ella. 

Ella sampai di kamarnya dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Namun, anehnya hantu itu sudah berada di depannya lagi. Ella pun membuka pintu kamarnya lagi dan lari menuju tangga bawah lagi. Ella pun sudah tidak ada tempat lagi untuk berlindung dan bersembunyi. Dia kemudian ingat alur cerita yang telah dia lihat lagi, kemudian berusaha pergi ke kamarnya lagi untuk mengambil boneka tua pemberian Jeanneth. 

Akhirnya, Ella bisa melakukannya dan menodongkan boneka itu ke arah hantu itu. Hantu itu pun hilang dan pergi. Ayah ibunya pun terbangun dan mengetahui peristiwa tersebut sekaligus percaya bahwa di apartemen mereka banyak dihuni oleh roh jahat. Mereka pun berencana untuk pindah di pagi harinya. 

Namun, pada pagi harinya. Mereka semua terkejut karena Lilly tidak kunjung keluar dari kamarnya. Pintu kamarnya dikunci dan dipanggil tidak ada suaranya. Mereka semuanya pun panik dan terpaksa mendobrak pintu kamar milik Lilly. Alhasil, mereka semuanya shock karena Lilly sudah meninggal tergantung di kamarnya sendiri. Ella pun shock dan menjerit. Dia sangat menyesal karena tidak bisa menyelamatkan nyawa kakaknya. 

Rupanya, arti tali dan tetesan darah itu adalah petunjuk akan ada peristiwa yang terjadi kepada kakaknya itu. Namun, ini bukan sepenuhnya kesalahan Ella. Ini lebih ke kesalahan kedua orang tuanya yang tidak mau diajak pindah dari tempat itu. Mereka pun mengubur jenazah putri sulung mereka. 

Mereka pun segera pindah dari apartemen itu. Namun, mereka juga masih seringkali lewat di situ. Anehnya, sekaligus membuat trauma, selalu saja ada penampakan Lilly yang melambaikan tangannya di jendela lantai tujuh. Ella adalah salah satu dari anggota yang sering melihatnya. Bahkan, dia pernah melihat kakaknya berada di belakang pintu gerbang apartemen itu. Tetangga yang di sebelahnya pun juga mengaku sering melihat penampakan Lilly berjalan, di apartemen mewah itu dan juga tidak jarang mengejutkan para pengemudi yang lewat di sana. 

Terakhir, setelah ada peristiwa ini, mereka baru percaya kalau perkataan orang-orang mengenai roh jahat itu pastinya nyata dan benar adanya. Mereka akan lebih berhati-hati untuk memilih rumah maupun apartemen. Mereka akan mencari tahu asal-usul tempat tinggal yang akan mereka huni terlebih dahulu, kepada orang-orang sekitar agar tidak ada jatuhnya korban jiwa lagi. Mereka akan selalu mencintai dan mengenang Lilly, walaupun kini sudah tidak ada. 

TAMAT 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.