by

Cerpen: Cahaya di Tengah Corona

Namaku Reina, aku adalah anak bungsu dari seorang pengusaha yang ternama di kota ku, saat ini aku sedang menempuh pendidikan di luar kota, tepat nya aku berkuliah di salah satu universitas swasta di kota Bogor. Saat ini aku berada di semester 7 dan sedang melakukan kuliah kerja nyata (kkn) di satu kampung kecil di kota ini.

Jika ditanya apakah KKN yang aku jalani asik seperti yang sering terdengar dari kakak tingkat dan teman-temanku? Jawabannya tentu saja, TIDAK. Mengapa begitu? Ya karena aku melaksanakan kkn pada masa pandemi atau biasanya orang-orang sebut kkn angkatan corona. Jujur saja, tidak ada satu hal pun yang menarik dari kegiatan yang aku jalani.

Karna keputusan dari pihak kampus, setiap mahasiswa di wajibkan untuk melaksanakan kkn di daerah atau kampung masing-masing. Mulai dari kkn hanya sendiri, aku harus memberikan ide kreatif untuk mengembangkan diri dan lingkungan sekitarku, trus tidak ada teman bertukar fikiran pula, ahh membosankan.

Sama seperti hari-hari sebelum nya saat ini aku berada di Balai Desa, sedang mengatur posisi kamera agar pas dan dapat merekam setiap sisi ruangan. Jam sudah menunjukan pukul 08.00 wib, namun belum satupun anak-anak yang biasa nya belajar bersama hadir di ruangan ini.

“Selamat pagi, kak Re” sapa enam orang anak yang masuk ke dalam ruangan itu, aku membalas sapaan mereka dengan senyum hangat dan segara menyuruh mereka untuk duduk di tempat yang telah di sediakan. Aku sengaja memberi jarak di yang cukup jauh agar tetap menjalankan protocol kesehatan, karna hampir dua tahun corona masih betah saja berada di Indonesia.

“Kenapa kalian terlambat hari ini?” Tanya ku pada ke enam anak itu.

“Maaf kak, tadi kami menunggu Adit tapi dia tidak bisa hadir kak” jawab salah seorang anak bernama Pandu.

“Kenapa kok Adit tidak datang?” Tanyaku lebih lanjut, karena selama 28 hari aku berada di sini dan mengadakan kegiatan belajar bersama, Adit merupakan salah seorang anak yang paling rajin.

“Kami tidak tau kak, saat kami ke rumah Adit, dia tidak ada di rumah kak” jawab Manda.

Jawaban dari teman-teman Adit membuat aku penasaran kenapa anak ini? Tidak mungkin anak rajin seperti dia memilih untuk tidak ikut belajar tanpa ada alasan yang jelas.

Namun aku memilih untuk melanjutkan proses pembelajaran dulu, sebenar nya di sini aku hanya membantu mereka untuk mengerjakan tugas yang mereka dapat dari sekolah, karna sangat sulit bagi anak-anak seperti merka untuk mengikuti kegiatan pembelajaran online, apalagi mereka harus membuat tugas sendiri karena orang tua mereka harus berkerja di kebun atau ladang sepanjang hari, selain itu kegiatan ini bisa aku jadikan salah satu isi laporan KKN ku nanti.

Baca Juga  Resep Coto Makassar: Semangkuk Kehangatan di Balik Nikmatnya Coto Makassar

Mengajar mereka membuat ku makin menyadari dampak dari pandemi untuk dunia pendidikan tidak main-main. Anak-anak seusia mereka yang seharus nya belajar di sekolah dan menikmati indahnya masa anak-anak, yang akan segera berakhir malah harus berada di rumah dan sibuk dengan tugas yang aku sendiri kadang tidak tau cara mengerjakannya.

Seperti biasa setelah pulang sekolah aku akan langsung pulang ke rumah nenek ku, karena selama KKN aku tinggal di rumah nenek. Namun di tengah perjalanan aku melihat Adit sedang duduk di bawah pohon di pinggir jalan, dengan reflek aku memanggil anak itu, mungkin hanya untuk sekedar bertanya mengapa dia tidak datang untuk belajar hari, dengan begitu rasa penasaran ku juga akan sedikit berkurang.

“Dit! Adit!!!!” Panggilku dari atas motor, namun saat melihat ku anak itu langsung berdiri dan lari kearah kebun teh, hal yang membuat banyak pertanyaan di benak ku apa yang terjadi padanya?. Awal nya aku mencoba untuk mengejar dia, tapi saat di tengah kebun teh aku tidak lagi melihat keberadaan Adit.

Dengan rasa penasaran yang masih sama esoknya aku kembali ke tempat kemarin aku melihat Adit, karena hari ini dia juga tidak datang untuk belajar bersama. Namun kali ini Adit tidak ada di sana, setelah meletakan motorku di pinggir jalan aku segera memasuki kebun teh.

Pokoknya hari ini aku harus bertemu dengan anak itu, karena hari ini merupakan hari terakhir ku di kampung, besok siang aku harus kembali ke kota dan berkuliah seperti biasa nya, ya walau masih dalam keadaan daring. Karena masa pandemic kkn yang lazim nya 40 hari dipersingkat menjadi hanya 30 hari saja.

Sudah hampir tiga jam aku mengelilingi kebun teh namun aku tidak melihat Adit, karena hari sudah mulai sore aku memutuskan untuk pulang dan mendatangi rumah Adit karna dia pasti ada di rumah jika hari sudah malam.

Seusai maghrib aku bergegas untuk ke rumah Adit karena tidak sopan menurutku bila harus bertamu terlalu malam. Aku berjalan kaki sambil menikmati sejuknya angin malam pedesaan, karena besok aku tidak lagi merasakan suasana seperti ini. Saat sampai di depan rumah Adit, aku melihat dia sedang duduk di tengah rumah sambil membaca sebuah buku LKS yang telah usang.

Baca Juga  Roti Buaya Lambang Setia

Keinginanku untuk mengetuk pintu terhalangi oleh ibu Adit yang datang dari dapur membawa segelas air putih dan singkong yang telah di rebus.

“Nak, kamu harus istirahat” ujar ibu Adit sambil meletakan air dan singkong rebus di atas meja bambu di tengah rumah sederhana itu.

“Iya bu, setelah ini Adit istirahat” ujar anak itu lembut sambil melihat ke arah ibunya.

“Maafkan ibu ya nak, karna adik mu sakit jadi handphone mu yang seharus nya untuk belajar harus di jual, untuk berobat adik mu dan kebutuhan rumah”

“Gak apa-apa kok bu, yang penting adik sehat dan kita bisa makan. Kan Adit juga sudah janji sama ayah buat jaga Airin dan ibu”

”Ayah mu pasti di atas sana bangga melihat kamu nak” ucap ibu Adit sambil memeluk dirinya.

***

Jam sudah menunjukan pukul 10.45 wib, dan aku masih duduk di bawah pohon di tepi jalan. Ya, setelah tadi malam mendegar percakapan Adit dan ibu nya aku memutuskan untuk pulang dan tidak jadi bertemu Dengan adit, karena suasana nya tidak memungkinkan.

Dan sekarang aku sudah berada di tempat saat aku melihat Adit beberapa hari lalu, dengan harapan hari ini dia datang kembali ke sini. Mungkin aku akan menyampaikan ucapan perpisahan dan beberapa buku sekolah yang mungkin bermanfaat bagi Adit kedepan nya.

Setelah menunggu puluhan menit akhirnya Adit muncul. Namun sama seperti hari sebelumnya, ia langsung pergi saat melihat kehadiran ku di bawah pohon itu. Aku berusaha mengejarnya namun lari nya sangat kencang. Syukur nya lari Adit terhenti saat ke enam teman nya menghadang dari depan. Ini memang sudah di rencanakan karna aku tau Adit pasti akan lari saat melihat kehadiran ku.

“Maaf kak Reina, Adit gak bisa ikut belajar lagi” ujar nya sambil menundukan kepala.

Aku hanya menaikan alis, agar Adit melanjutkan perkataannya.

“Aa, Adit tidak punya hp lagi kak untuk belajar online” lanjut nya dengan terbata

“Jadi cuma itu alasan kamu?” Tanya ku kemdian.

“Adit malu kak, Adit takut nanti di ejek sama teman-teman” ujar anak itu polos.

“Kita gak akan mengejek kamu kok” ujar Manda.

Baca Juga  Cerpen: Heal Me to be Myself

“Benar kita kan teman, mana mungkin kita jahatin kamu” sambung Pandu

“Kalau kamu gak ada hape, kamu bilang aku jangan kabur. Kan kamu bisa berdua sama aku, pasti aku pinjemin hp aku” sambung Pandu. Diikuti oleh anggukan teman-teman lainnya sambil tersenyum hangat.

Aku pun menjelaskan pada Adit kalau teman-temannya sangat menyayangi dirinya, karna sejati nya teman itu akan selalu ada saat kita susah. Kemudian aku mengeluarkan sebuah handphone lama ku dari kantong, meski handphone lama tapi kualitas nya masih sangat bagus, dan sayang juga hp masih bisa dipakai hanya jadi hiasan di kamarku.

Saat aku memberi nya hp wajah Adit sangat riang, walau pada awal nya dia menolak karena takut di marahi ibu nya dan dia tidak tau harus menjelaskan apa pada ibunya, namun setelah aku berjanji akan menjelaskan sendiri pada ibu nya barulah Adit mau menerima hp pemberianku.

Setelah dari rumah Adit aku langsung pulang ke rumah nenek sekalian untuk pamitan karna cucunya ini akan pergi lagi, untuk waktu yang lama dan mungkin akan susah pulang jika orang tua ku juga tidak pulang kampung.

Dari masa KKN yang singkat ini aku belajar bahwa banyak orang yang membutuhkan dari pada kita, bahkan hp yang selama ini ku jadikan pajangan dan tidak lagi terpakai dapat menjadi cahaya masa depan seorang anak yang begitu pintar.

Dari KKN ini juga aku tau banyak yang terkena dampak di masa pandemic, bahkan jauh lebih susah di banding aku. Aku yang sudah mempunyai berbagai fasilitas saja mengeluh dalam menjalankan pembelajaran daring, sedangkan orang lain yang serba kekurangan memiliki jiwa semangat belajar yang sangat tinggi. Semoga saja pandemic ini cepat berlalu sehingga semua orang dapat menjalankan aktifitas seperti biasa kembali.

“kak Reinaaaa!!!!!” Teriakan seorang anak dari belakangku saat aku mulai melajukan motorku.

Anak itu datang membawa satu buah kalung sederhana yang terbuat dari tali satin yang di pintal, ia menyerahkan itu padaku. Kata nya sebagai tanda terima kasih dan kenangan-kenangan. Setelah itu aku kembali melanjutkan perjalanan ku.

“kak Re, sampai ketemu lagi di kota, nanti aku akan kuliah di tempat kakak kuliah!!!!!!!!”

-selesai-

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

11 comments

Artikel Terkait