by

Cerpen: Buku Diary Dinda

Part 1

“Ibu, baju seragamku mana?”

“Di lemari pintu kedua sayang!”

“Okay, ketemu ibu”

“Ya sudah, cepat sarapan. Ini udah telat. Nanti macet”

“Iya ibu sebentar, aku pakai rok dulu”

Beberapa saat kemudian, Dia pun menghampiri ibunya yang sudah menunggunya di meja makan. Seperti biasa, mereka berbicara satu sama lain mengenai rencana hari itu. Dinda memang masih bersekolah tapi dia telah dipercaya oleh ibunya untuk mengelola sebuah butik.

Hal tersebut sebenarnya, bukan keinginan ibunya. Namun, keinginan Dinda sendiri. Karena ia merasa memiliki potensi di bidang fashion dan dia senang terhadap hal tersebut. Selain itu, ibunya melihat dia memiliki minat terhadap bisnis. Sehingga akhirnya, ibunya memperbolehkan ia mengelola salah satu butik milik ibunya.

Meskipun brandnya menggunakan nama Dinda sendiri. Meskipun begitu, Dinda tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang siswa. Setelah sarapan, mereka pun berangkat dan karena asyik mengobrol seperti biasanya, tidak terasa sudah di sekolah.

“Ibu, gerbangnya mau ditutup, cepat mau salim”

Okay, love you honey”

Love you too mom, Assalamualaikum

“Waalaikumsalam, hati-hati”

“Okay”

Dinda pun, masuk ke dalam kelas. Di sana ada Rani yang telah menjadi sahabat Dinda sejak SD atau sekolah dasar. Ia terlihat sangat murung sekali. Lalu Dinda mencoba mendekatinya,

“Hai Ran, how are you today

Bad

“Kenapa?”

“Biasa ibuku selalu ngomel tiap hari karena tadi aku kesiangan. Parahnya lagi membanding-bandingkan aku dengan anak teman-temannya.”

“Ibumu bilang apa?”

“Ran, kamu tuh kok bisa ya begini. Padahal anak-anak teman-temannya ibu tuh pada disiplin, rapi dan prestasi. Sementara kamu, urak-urakan dan sering mendapatkan peringkat terakhir. Liat tuh si Dinda, dia sudah mampu mengelola butik meskipun masih sekolah”, sambil meragakan gaya bicara ibunya.

Baca Juga  Cerpen: Patah

“Terus kamu jawab apa? “

“Apalagi kalau bukan, masa bodo. Tapi di dalam hati, hahahaha”

“Dasar”

“Eh Din, aku sebenarnya , iri tahu sama kamu?”

“Iri-iri terus kamu, kenapa? Kamu iri aku cantik dan memesona? Hahah

“Bukan, aku iri sama kamu yang memiliki ibu sangat paham dan asik kayak tante Scarlet”

“Ran, lu ingatkan kata gue?”

“iya, apa yang terlihat indah, belum tentu indah. Setiap keindahan pasti akan ada celah”

“Pinter”

“Tahu ah Din, aku nggak nemuin celah sedikitpun dalam hidupmu. Kamu kaya iya, cantik iya, popular iya, pinter secara akademisi iya juga meskipun juara dua terus, mandiri dan punya usaha juga iya. Hal yang tidak kalah penting adalah kamu punya ibu yang sangat baik, ayah yang sangat perhatian sama kamu, ya meskipun ayah kamu keluar kota mulu tahun ini kayak kereta api haha

“Dasar, gitu-gitu juga ayah ngurusin bisnis keluarga. Karena yang ingin dibangun adalah bisnisnya bergerak di bidang game, maka ayah yang keluar. Kamu tahu sendiri, ayahku candu banget sama game. Jadi dia lebih mengerti dibandingkan dengan ibu yang lebih memilih ngurusin usaha pemasarannya, karena banyak rekan kerjanya yang doyan makan”

“ Gokil sih keluarga kamu Din”

“Keluarga kamu juga gokil kok, kata ibu”

“Gokil kenapa?”

“Mamah kamu kan termasuk rekan bisnis ibu ya dan kata ibu tante Ira doyan banget makan duren, sementara papah kamu sangat benci durian karena aromanya. Suatu ketika, tante dan ibu habis meeting dan makan durian tuh kan ya, eh mereka malah mabok duren dan para suami nggak mau bertemu sampai dua hari.”

Baca Juga  Bukan Hanya karena Uang Saja, Ini Seharusnya Alasan Luhur Menjadi Guru

“oh yang kejadian dua hari lalu itu, gara-gara duren Din. Aku pikir berantem dong”

“Nggak Rin, aku punya sesuatu untuk kamu. Tapi ini rahasia!”

“Apa?”

“Ini, dibaca ya. Jangan sedih lagi rin!”

“Inikan buku diary kamu, kok dikasih ke aku!”

“Baca aja!”

Part II

Tanggal 12, Januari

“Malam ini, mamah mimpi buruk lagi. Aku sangat khawatir sekali. Ayah selalu bilang bahwa ibu akan baik-baik saja. Namun, hampir setiap malam aku selalu mendengar kegelisahan ibu di balik tembok kamar. Bu, maafin Dinda ya, kalua Dinda belum bisa bantu ibu”

Tanggal 15 Februari

“Mamah hari ini menangis, aku tidak tahu sebabnya apa. Ditambah ayah yang belum pulang dari perjalanan bisnisnya. Aku coba untuk mengetuk pintunya. Ia dengan segera menyeka air matanya. Namun, matanya terlihat sembab. Aku tak sanggup bertanya apa-apa lagi. Aku hanya bisa memeluk Ibu. Dan bilang, bahwa aku sangat menyayanginya. Akhirnya, kami pun menangis tersendu-sendu hingga tertidur”

Tanggal 08 Maret

“Aku gak tenang malam ini karena ayah telah di rumah. Karena selama ini yang berhasil menenangkan ibu adalah ayah. Namun, entah malam ini ibu Kembali menangis. Aku langsung menghampiri ibuku. Ibu langsung memelukku dan minta maaf, jika dia belum bisa menjadi seorang ibu yang baik untukku. Aku bingung, aku cuman bilang, bahwa aku sangat mencintai ibuku. Setelah ibu tertidur, aku diantarkan oleh ayah ke kamarku.

Ayah mulai cerita mengenai trauma ibu ketika di masa lalunya. Kepercayaan telah dipatahkan oleh keluarga, sahabat, maupun pasangannya dulu. Bahkan sebelum sama ayah, ibu tidak ingin menikah. Ibu menceritakan segala hal kepada ayah, hingga akhirnya ayah dan ibu saling memahami satu sama lain sekaligus memutuskan untuk menikah.

Iya sangat takut, jika nanti ia akan menelantarkan anaknya. Bukan dengan cara membuangnya ke panti asuhan atau ke mana. Akan tetapi lebih kepada, mengabaikan keperluan ingin didengarkan, dididik dengan baik, menghargai anak-anaknya, dikasihi, dan dapat menjadi teman untuk anaknya. Ia takut, jika apa yang ia rasakan akan dirasakan pula oleh anaknya.

Dan sampai sekarang, rasa sakit itu masih ada dalam diri ibu. Parahnya , ibu tidak dapat mengungkapnya ke nenek. Karena dulu pernah mengungkapan perasaan nya. Malah ia di cap menjadi anak yang tidak bersyukur dan durhaka. Bahkan pernah ibu dipermalukan di depan umum oleh nenek. Meskipun sebenarnya nenek saying sama ibu, hanya caranya saja yang kurang cocok mungkin dengan karakter ibu. Sehingga, rasa sakit itu masih ada.”

Part III

“Dinda”, sambal memeluk Dinda

Baca Juga  Jangan Malas-malasan Lagi! Ikuti 5 Cara Bangkitkan Semangat Baru Ini

“Kenapa?”

“Sorry, aku nggak tahu bahwa kamu mengalami hal ini”

“Sudah aku katakan setiap keindahan pasti akan ada cela. Bahkan, pernah suatu kali aku iri padamu. Karena mamahmu dapat mengungkapkan isi hatinya tanpa ragu, sementara ibu tidak. Dia terlalu menjaga perasaan orang lain, sehingga perasaan terabaikan. Aku lebih suka ibu tidur nyenyak seperti mamamu Ran”

“I’m sorry Dinda. Bahkan aku tidak dapat membaca buku diary tersebut sampai halaman terakhir.”

“It’s okay tidak apa-apa!”

Mereka pun akhirnya menyadari bahwa setiap orang memiliki lukanya masing-masing. Sehingga tidak ada yang perlu dikirimkan dari satu sama lain.

Comment

Artikel Terkait