by

Cerpen: Bukan Bab Patah Hati

Di keheningan malam yang temaram. Di tengah rembulan yang remang, kemelut datang tanpa diundang. Menyelimuti sendu yang beriringan dengan gemercik bulir bening langit. Mendiami sudut kamar, mengubur semua rasa yang mati, karena berkali-kali dipatahkan oleh seseorang yang dikira terang.

Gerimis yang sedari tadi jatuh dengan mesra di pekarangan rumah, menyembunyikan sembab di pelupuk mata bergelayut sendu, saling bertautan. Sayup terdengar suara jangkrik bersautan dengan suara kodok di pinggir kolam, meredam isak yang sedari tadi tertahan.

Larik barisan diksi bersenandung dari tarian jemari yang sedang merangkak. Kata demi kata terlahir menciptakan puisi, yang isinya tentang irama suasana lara hati yang tengah ruai. Mata yang sedari tadi basah, tak lama terlelap dalam kalutnya hati.

***

Keesokan harinya, langit Yogjakarta tidak seperti biasanya. Mentari merekah mengisyaratkan hal baik akan terjadi. Perempuan berjalan menuju kampusnya setelah turun dari angkutan umum. Langkah kakinya tanpa ragu membawanya ke jalanan panjang aspal menuju kampusnya.

Ia tak memedulikan cuaca yang menaungi paginya, dengan earphone yang menyubal kedua indra pendengarnya, dan diamnya tak mengindahkan orang-orang di sekitarnya yang sedang bercumbu mesra dengan lawan jenis. Langkahnya menyibak kerumunan massa, untuk menuju kelas dan kebetulan hari ini adalah ujian akhir di semester tujuh ini.

Saat di ambang pintu, kedua sahabatnya menyambut kedatangan perempuan itu dan respon darinya datar, tidak ada balasan senyum seperti yang tergambar dari raut muka sahabatnya.

Namun, kedua sahabatnya paham dengan tingkah laku perempuan itu. Binta salah satu nama sahabat perempuan itu, bercerita tentang hubungan dengan lelaki yang selama ini jadi primadona hati. Ia hanya memberikan selamat dan kembali ke tempat duduk. Ia tidak ada gairah untuk membahas persoalan cinta, rasanya sudah mati, dan terkubur bertahun-tahun lalu.

Ia pernah menjadi sosok perempuan paling bahagia di masa SMA, naas hubungannya berakhir karena teman baiknya dulu merenggut mahkota hatinya dari singgasana cinta dan saat itu juga keluarga yang ia anggap rumah, malah porak-poranda karena kehadiran wanita penggoda di bahtera rumah tangga ibu dan ayahnya. Sejak saat itu ia susah sekali berhubungan dengan lelaki manapun dan lebih menutup diri.

***

Ujian berlangsung, karena suasana hening dan sarayu yang masuk melalui celah-celah fentilasi udara membawa hawa kantuk yang teramat. Matanya terpejam dan pikirannya menggambarkan sosok lelaki dengan wajah yang masih abstrak. Lelaki itu seolah tersenyum dan menoleh ke arahnya, ia tersentak dan terbangun dari tidurnya karena tiba-tiba selarik alunan terlontar dari bibir lelaki yang tak pernah ia temui.

“Nayaka?” ucap lelaki itu yang membangunkan tidurnya. Nada yang terdengar pun seperti diakhiri tanda tanya. Nay mengangkat kepalanya melihat sosok lelaki di hadapannya.

“Siapa, kamu?” Nay berteriak. Membuat kedua sahabatnya menoleh dan memberikan kode seperti bertanya.

“Nay, cuci muka dulu!” pinta Bu Salimah.

Nay beranjak dan diikuti Binta salah satu sahabatnya.

Binta yang masih mengekor, langkahnya terhenti melihat Nay tiba-tiba berhenti.

“Nay, ada apa?” tanya Binta cemas.

“Aku merasa ada yang aneh,” keluh Nay.

“Ada apa? Sini cerita,” ucap Binta.

“Enggak apa-apa, laki-laki di sebelahku siapa?”

Haish, itukan Mas Pandu. Kamu sudah duduk bersebelahan dengannya selama seminggu saat UAS ini,” jelas Binta.

“Enggak, aku ngerasa dia bukan Mas Pandu. Dia orang lain yang aku temui di mimpi, meskipun itu samar aku merasa itu dia,” bantah Nay.

“Bagaimana bisa? Jelas-jelas kita sudah satu kelas sama dia tiga tahun. Bagaimana mungkin wajahnya berbeda, sana cuci muka!” perintah Binta.

Nay masuk ke kamar mandi dan membasuh mukanya.

Tak lama mereka kembali dari kamar mandi, dari kejauhan Nay memperhatikan wajah Mas Pandu. Saat dirinya sudah dekat dengan Pandu, Nay mengucek matanya ia berharap dia adalah Pandu yang ia kenal sebelumnya.

“Nay, enggak usah kayak gitu. Berkali-kali kamu mengucek mata sosok Pandu yang sebelumnya kamu kenal jadi wajahku untuk sementara,” beber lelaki itu.

Nay pindah tempat duduk dan menjauh dari lelaki yang ia anggap aneh dan laki-laki itu tetap tersenyum simpul ke arah Nay, sampai ia menggidik geli.

***

Pagi yang awalnya terik berganti dengan awan membumbung hitam pekat. Hujan deras memayungi kota Yogyakarta. Nay yang nekat menerobos hujan, ia rela kebasahan daripada pulang terlambat untuk mengurus ibunya yang sakit. Langkahnya terhenti saat ia merasa di atas kepala ada seseorang yang memberikan payung. Ia menoleh dan betapa terkejutnya melihat lelaki aneh itu mengikuti dan memberikan payung.

Please, Aku enggak kenal kamu, jadi tolong jangan ikuti aku, paham!” tutur Nay. Ia mencoba berlari, tapi tangannya ditahan lelaki aneh yang membuatnya berteriak saat ujian tadi.

“Lepas! Kalau enggak, kamu aku tendang pake jurus taekwondo-ku,” ancam Nay.

“Ok-ok, aku lepasin, tapi bawa payung ini bersamamu, aku enggak mau kamu sakit, ingat kamu punya riwayat penyakit tipus,” ucap lelaki itu sontak membuat Nay terbelalak mendengar ucapannya.

Batin Nay berbicara, bagaimana bisa dia tahu banyak tentangku, bahkan aku saja tak mengenalnya.

“Enggak usah terkejut gitulah, kamu sih enggak mempersilahkan aku buat memperkenalkan diri,” saran lelaki misterius itu.

“Ok! Kamu siapa?” sosor Nay.

“Ini mau berhenti di sini sampai banjir? Atau kita ngobrolnya di rumah saja, aku rindu ibumu,” tawar lelaki itu, terkesan sok tahu tentang kehidupan Nay.

Tanpa kata apa pun yang terlontar dari bibir Nay, lelaki itu paham kalau Nay memberikan izin. Mata Nay menganalisa setiap gerik yang ada pada lelaki itu. Dilihatnya dari atas sampai bawah, saat mereka duduk berjejer di angkutan umum.

“Enggak usah heran kayak gitu, Nay, aku memang ganteng, kamu nanti suka aku,” tegur lelaki itu membuat Nay membuang muka karena ulahnya terpergok.

“Siapa juga yang lihatin kamu,” bantah Nay, menolak seolah dia tidak bersalah.

“Mana ada perempuan yang tidak tertarik dengan pesonaku,” goda lelaki itu.

“Ha? Aku tertarik denganmu,” cibir Nay.

“Aku tipe pemilih, lo,” kata mereka bersamaan. Membuat Nay mendelik, membulatkan matanya. “Ok! Kita ketemu sampai di sini saja.”

“Lo, kan aku belum ketemu ibu kamu.”

“Enggak usah, kamu jelaskan semua di sini saja, kita turun!”

“T-ta-tapi, Nay,” rintih lelaki itu.

“Ok, enggak usah dijelaskan. Aku pergi.”

“Aku jelaskan semua, kita turun dulu, ya, cari tempat yang asik buat ngobrol,” pinta lelaki itu.

Mereka berdua turun dari angkutan umum, cuaca sedikit gerimis dengan air di jalanan kota masih menggenang. Mereka berdua mencari kedai kopi untuk sejenak berbincang dan menghangatkan tubuh.

Lelaki itu membawa dua gelas kopi selir, pas sekali dengan takaran kebiasaan Nay setiap harinya. Tanpa ada penolakan, tangan Nay langsung mengibas, meraup uap aroma khas kopi tubruk dan sisa ambung di udara.

“Enggak usah berlama-lama lagi, sebenarnya kamu siapa?” tanya Nay sesaat setelah ia menyeruput kopi hangatnya.

“Ok! Aku jelaskan semua, tapi semua yang aku bilang ini nyata adanya dan aku enggak mengada-ngada. Aku sebenarnya anak kamu,” beber lelaki itu. Membuat Nay menoleh dan mendelik. “Ok-ok, maaf kalau aku sebelumnya enggak panggil kamu mama, aku takut nanti kamu teriak-teriak histeris pas di kampus tadi, dan maaf juga kalau ini terdengar enggak mungkin,” imbuh lelaki itu.

“Wait-wait, ini aku enggak mimpi, ‘kan? Hey, Anda bagaimana bisa saya punya anak sebesar ini sedangkan saya tidak pernah punya pasangan sejak lima tahun terakhir. Ini kamu dari acara prank-prank itu, ya? Biar nambah viewers di-channel YouTube-mu,” kilah Nay yang tidak percaya dengan ucap lelaki itu.

“Sudah kuduga, mama enggak akan percaya.”

“Stop! Jangan panggil aku mama!” protes Nay, dan langsung menyentil dahi lelaki yang mengaku anaknya. “Namamu siapa? Aku mau seaching  di-google atau channel Youtube-mu,” tambah Nay yang semakin gusar.

“Dhananjaya Albiru, bisa dipanggil Dhanan, aku dari masa depan, Ma. Tepatnya 20 tahun setelah ini, kalau mama cari aku di google atau sejenisnya enggak akan ketemu.”

“Ya Allah, ini orang kenapa pranknya niat banget,” desis Nay.

“Mama pas muda cantik banget, ya. Enggak salah papa sering cerita tentang mama, kalau wanita yang ia sukai ternyata sangat cantik,” puji Dhanan.

“Oh, suamiku siapa? Maksudnya papamu?” tanya Nay menggebu.

“Nama papa Seno, mantan mama dulu saat SMA yang direbut teman baik mama.” Setelah mendengar penjelasan dari Dhanan, Nay langsung terkekeh, bagaimana bisa laki-laki yang sangat dia benci bisa kembali dalam pelukannya. Nay percaya kalau Dhanan ini hanya mengada-ngada.

“Mana bisa aku kembali bersama lelaki itu,” sungut Nay yang emosinya meletup-letup.

“Aku tahu, Ma … Mama masih ada rasa sama papa, tapi mama pendam, kehadiranku di sini, ingin menyatukan hubungan mama sama papa,” jelas Dhanan.

“Enggak usah, aku pulang! Sekali lagi kamu, Dhananjaya Albiru tidak perlu mengikuti lagi dan tidak perlu repot-repot membantuku untuk kembali lagi dengan lelaki itu,” cecar Nay dan langsung meninggalkan Dhanan yang sendirian di kedai tersebut.

Langkahnya begitu cepat saat ia mendengar suara Dhanan memanggilnya dari kejauhan.

“Ma … Ma … tolong dengerin, Dhanan. Ini penting banget, alasan Dhanan yang lain ke masa sekarang apa.” Suara Dhanan mengeras, ketika ia melihat ibunya berlari menjauh darinya. Karena kelelahan Nay berhenti menghela napas dalam-dalam, betapa terkejutnya ia mendapati Dhanan sudah ada di hadapannya.

“Astaghfirullah hal adzim.” Nay yang terkejut langsung mengelus dada. “Eh, kok bisa tiba-tiba ada di sini?” tanya Nay heran.

Dhanan terkekeh melihat ekspresi wajah Nay. “Dhanan dari awal sudah menjelaskan kalau Dhanan dari masa depan, alat Dhanan canggih, sengaja buat mama capek lari-larian terus Dhanan datang di hadapan mama,” ucap Dhanan panjang lebar.

Dengan napas yang masih tersengal-sengal, Nay menjewer telinga Dhanan, “Keterlaluan, mau jelaskan apa lagi?”

“Mama sudah percaya, kalau Dhanan anak mama dari masa depan dan datang untuk membantu mama dekat dengan Seno?”

“Enggak.”

“Ma, waktu Dhanan tidak lama, cuman dua hari. Mama harus percaya kalau Dhanan ini anak mama.”

“Sekarang belum, enggak tahu nanti gimana.”

“Pertama Mama berdiri di pinggir sini.” Dhanan menginstruksikan pada Nay untuk mengikuti apa perkataannya. Nay yang polos mengikuti arahan dari Dhanan, tak lama kemudian lampu sepeda motor menyilaukan mata Nay yang hampir saja tertabrak, Nay yang tertenggun kakinya lemas tidak bisa menghindari laju motor yang begitu cepat, untung pengendara motor itu dengan sigap mengerem motor dan bannya membekas di aspal. Pengendara itu turun ingin sekali memakai Nay.

Saat ia akan memarahi, Nay, “Mbak, sengaja ya … eh, Nay … kamu kenapa di tengah jalan sendirian? Ayo pulang, aku antar,” ucap lelaki itu. Dia adalah Seno mantan Nay lima tahun lalu.

“Maaf, Sen … tadi aku ambil gelang aku yang jatuh.”

“Ayo aku bonceng!” ajak Seno.

“Enggak usah, Sen … aku bisa pulang sendiri,” tolak Nay. Seno tidak ingin penolakan langsung ia memakaikan helm yang kebetulan ia bawa saat baru saja mengantarkan ibunya berbelanja.

***

“Nay, sudah lama kita enggak ketemu, apa kabar?” tanya Seno di tengah perjalanan pulang.

“Baik.”

“Aku sudah lama putus dari Alya.”

“Oh.”

“Nay, kita bisa enggak kayak dulu lagi?”

Nay bergeming tidak ingin merespon ucapan Seno.

***

“Alasanku kembali ke masa lalu dan bertemu dengan Nayaka Kahiyang atau lebih dikenal dengan nama Nay. Aku memang dari masa depan, setelah sepuluh tahun kami menikah, aku meninggal dunia dan saat itu juga Nay sangat terpukul. Aku tidak ingin melihat Nay menangis dan aku kembali ke masa sekarang untuk menghentikan pertemuanku dengan Nay,” batin Dhanan sebelum ia bertemu Nay di masa sekarang. Dia melihat arloji buatannya menunjukkan waktu 15 jam sebelum dia kembali ke masanya.

“Nay, maaf aku banyak berbohong padamu, senang sekali bisa melihatmu lagi, aku begini karena aku takut kamu akan kehilanganku dan semoga usahaku menyatukanmu kembali adalah jalan satu-satunya,” ungkap Dhanan ketika ia melihat Nay dan Seno berboncengan. Matanya mengeluarkan bulir bening yang sengaja ia tahan saat melihat Seno bersama Nay. Sesak di dada melihat pertemuan itu. Namun, ini adalah pilihannya, ia hanya berharap skenario yang ia buat adalah yang terbaik.

***

Keesokan hari, sebelum Nay berangkat ke kampus, ia mampir ke toko buku dan membeli beberapa novel keluaran terbaru bulan ini, dari kejauhan Nay melihat seorang pemuda dengan gestur tubuh yang mirip sekali dengan Dhanan. Nay perlahan mendekati pemuda itu dan mulai menyapa.

“Dhanan,” sapa Nay sedikit ragu.

Pemuda itu menoleh dan melihat Nay seperti asing. “Oh, iya, siapa?”

“Ha? Cepat banget amnesia padahal baru kemarin kita ketemu.”

“Mohon maaf, Mbak, saya benar-benar tidak mengenal anda.”

Pemuda itu menggeleng dan langsung menuju kasir. Tatapan Nay kosong sesaat melihat hal yang terjadi. Tiba-tiba tangan menepuk pundak Nay dan membuyarkan lamunannya.

“Nay, hai …,” sapa Seno.

“Seno,” balas Nay.

“Kita ketemu lagi, Allah baik banget sama aku, bisa-bisanya kita dipertemukan kembali,” ucap Seno terlihat wajahnya sangat bahagia.

“Hanya kebetulan, enggak lebih.” Nay menekan kata terakhir untuk memperjelas ucapannya.

***

Nay berjalan ke kampus dan dari belakang pundaknya di tepuk kembali dengan tangan laki-laki. Ia yang sangat kesal dan langsung menoleh bersiap untuk menghajarnya dengan jurus baru yang ia pelajari.

“Sekali lagi kamu ikutin aku, kupatahkan tanganmu, Sen,” erang Nay menarik tangan lelaki yang menepuk pundaknya.

“Aduh … Ma, sakit,” keluh Dhanan.

“Oh, maaf aku kira Seno.”

“Enggak apa-apa, salahku memang. Gimana-gimana kemarin sukses sama Seno?” tanya Dhanan antusias.

“Aku enggak senang sama sekali. Sudahlah, toh nantinya aku sama dia bersatu enggak usah disatuin sekarang,” bantah Nay yang kesal.

“Ya … gimana, ya, Ma. Dhanan ingin lihat masa pacaran mama sama papa waktu muda dulu,” goda Dhanan.

“Aku enggak mau bahas dia lagi. Oh iya, aku tadi ketemu kamu di toko buku, dan respon kamu aneh banget beda enggak kayak sekarang.”

“Masa? Aku dari tadi di balkon kampus, Ma. Lihat mama jalan sendirian, terus aku samperin,” sahut Dhanan.

“Bener kok aku enggak salah orang,” terang Nay. “Jelas banget mirip kamu, terus pas aku sapa dia noleh, cuman dia radak buluk sedikit.” Nay menjelaskan ciri-ciri lelaki yang ia temui dan membantah kalau dia tidak salah orang.

“Apa Nay bertemu denganku sewaktu aku masih kuliah? Ah … gawat, kalau dia bertemu denganku lagi, tandanya usahaku sia-sia dan Nay dan Dhanan akan bersatu kembali di masa depan,” batin Dhanan.” Mungkin wajahku pasaran, tapi mana ada ya orang seganteng Dhanan wajahnya obralan,” ejek Dhanan. Ia terkekeh saat mendeskripsikan dirinya.

“Sudahlah, aku enggak peduli, ayo ke kantin, aku traktir!”

“Asik.” Ekspresi Dhanan kegirangan.

***

Mereka berdua banyak bercerita tentang pengetahuan, bagaimana kehidupan di masa sekarang dan masa depan. Nay sangat menikmati momen ini.

“Ma … berdiri di sana dekat penjual bakso,” pinta Dhanan.

“Untuk apa?”

“Tunggu saja, nanti juga mama tahu.” Dhanan menunggu waktu menunjukkan pukul, 09.05 dan pas sekali ada penjual es yang membawa pesanan untuk pembeli, dengan sengaja Dhanan membujungkan kakinya supaya penjual itu tersandung dan es yang ia bawa tumpah ke baju Nay. Tak lama kemudian Seno datang sebagai penolong, ia menutupi baju Nay yang basah dengan hem kota-kota yang ia kenakan dan membawanya menjauh dari kerumunan.

“Yes! Berhasil, maaf Nay. Aku sengaja membuatmu seperti itu dan saat itu juga aku yang membantumu, bukan Seno,” lirih Dhanan.

***

“Thank, ya, Sen.”

“Iya sama-sama, Nay. Nay aku mohon kita kembali seperti dulu, ya?”

“Aku tidak bisa, rasaku sudah mati denganmu. Aku sudah tidak tertarik lagi denganmu, anggap saja pertemuan kita beberapa kali ini hanya kebetulan, bukan takdir,” berondong Nay.

Seno terdiam dan mencari cara supaya mereka bisa kembali bersama.

“Nay, sebagai gantinya karena sudah nolongin kamu, nanti malam kita keluar. Sekali ini saja, Nay.”

“Ok!”

***

Kafe ‘Rindu Jiwa’ tempat di mana Seno menyatakan cinta pada Nay waktu dulu. Sekarang mereka kembali ke tempat yang sama dengan perasaan yang berbeda. Seno banyak bercerita tapi Nay tidak tertarik dengan pembasahan yang diciptakan Seno, ia malah terbayang saat mereka bertukar pikiran bersama Dhanan. Nay yang merasa sangat bosan dia berpamitan untuk pulang dengan alasan perutnya kram karena datang bulan.

***

Nay mencari Dhanan di tempat biasa mereka bertemu, di sana terlihat Dhanan sendiri, dan merenung.

“Dhanan, kebetulan sekali aku bertemu denganmu,” sapa Nay.

Ia terkejut dengan kehadiran Nay.

“Mama, sini duduk! Oh, iya, Ma … tugas Dhanan di sini sudah selesai, Dhanan mau pamit.”

“Secepat ini?”

“Iya, Dhanan sudah bantu mama dan Dhanan boleh minta satu permohonan untuk mama?” tawar Dhanan.

“Silahkan!”

“Dhanan harap jangan sapa laki-laki yang mirip Dhanan, kalau ketemu abaikan saja, itu permohonan Dhanan, Ma,” pinta Dhanan sebelum ia kembali ke masanya.

Tanpa banyak tanya Nay mengangguk paham, ia tidak ingin tahu apa alasan dari permohonan Dhanan.

“Ma … Dhanan sayang mama, Dhanan pamit, selamat tinggal,” ucap Dhanan seolah mereka tidak bisa bertemu kembali. Nay membalas lambaian tangan Dhanan. Entah mengapa perpisahan itu menyesakkan dada Nay, air matanya meluber. Ia tidak tahu apa penyebabnya, bagaimana terasa pedih ditinggalkan seseorang yang baru saja ia temui dua hari lalu.

***

Dhanan kembali ke masanya, rumah yang awalnya terpanjang beberapa foto pernikahan mereka, kini kosong. Dhanan hanya menangisi perpisahan mereka, dan ini adalah yang terbaik untuk mereka, pikirnya.

***

Hari setelah perpisahannya dengan Dhanan terasa begitu sepi. Saat ia berada di kelas dan melihat wajah Mas Pandu berubah seperti semula dan seperti yang ia kenal sebelumnya. Bayangan Dhanan masih saja menghantui. Pikiran Nayaka tidak karuan, entah kenapa.

Selesai jam kuliah Nay langsung pulang di pertengahan jalan Nay berniat mencari lelaki yang sangat mirip dengan Dhanan di toko buku. Ia menunggu lelaki itu dan memperhatikan setiap orang-orang berlalu lalang keluar masuk toko. Ia sangat berputus asa dan keluar dari toko tersebut.

Tepat dihadapannya ia berpapasan dengan lelaki itu.

“Dhanan,” sapa Nay tanpa ragu.

Lelaki itu menoleh.

“Hai,” kata Nay dengan senyum mengembang.

~Sehebat apa pun mesin waktu yang kamu ciptakan untuk mengubah takdir, jika kamu adalah tujuan berlabuhku, kamu bisa apa?  ~ Nayaka Kahiyang.

SELESAI

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait