by

Cerpen: Buaya Sungai Inhil

Dum pak busssss, dummm pakk busssssss, hamparan ombak di pinggiran sungai indragiri hilir (Inhil) yang dijuluki negeri seribu jembatan, yang saya lewati 1 kali dalam 1 tahun, ketika pulang kampung saja, melewati begitu besarnya rintangan dan hambatan, detak jantung seakan tertahan dan berasa nyawa di tenggorokan.

Hanya menggunakan speed boat yang berukuran mini dengan muatan kurang lebih 10 orang, angkutan yang menjadi mainan ombak laut Inhil, menimbulkan sorakan-sorakan besar penumpang ketika ditimang-timang olehnya.

Namun Saya tak gentar, apa lagi takut, tidak lahhhh, udah biasa, lagi pun mau jumpa keluarga jugakan, melepas rindu, mau kumpul-kumpul dan sebagainya.

Inhil itu mayoritannya orang banjar, akan tetapi dalam berkomunikasi satu sama lain itu menggunakan bahasa melayu, kenapa? Karena negeri yang dijuluki seribu jembatan ini juga banyak warga pendatangnya, seperi dari Jawa, sulawesi, sumatra barat dan daerah-daerah lainnya, berhubung bahasa melayu lebih mudah dimengerti, maka dalam berinteraksi satu sama lain bahasa keseharian yang digunakan iyalah bahasa melayu.

Lanjutt, Sungai Inhil juga dikenal banyak buayanya, buaya sungai ya, bukan buaya darat. Nah, dulu ketika saya pulang kampung, speed boad yang saya tumpangi tersenggol sesuatu dan membuat mesin speed boad-nya mati, semua penumpang mulai panik, salah satu penumpang ibu Nur namanya bertanya kepada supir.

Ibu Nur : Apee tu pir..?
Supir : Ntahlah buk, cube aku tengok dulu yee,
Ibu nur : Hah,, yelah, tengoklah, hati-hati ye.
Supir : macam kayu jee, besa pulak tu.
Ibu nur : Tolak pakai kayu pir,

Saat supir menepikan benda itu menggunakan kayu, tiba-tiba,, BUZZZZZZ speed boad yang berukuran mini yang kami tumpangi bergetar dasyat, ternyata benda yang berbentuk kayu tersebut ialah seekor buaya penghuni sungai.

Supir : Ya ALLAH buaye buk, besa pulak tu, (ucap pak supir kepada penumpang sambil gemetaran)

Mendengar itu semua membuat kami menjadi tambah panik, pak Kodiu juga salah satu penumpang berdiri bertanya keepada supir.

Pak kodiu : Mane die..?
Supir : Hilang dah pak, dah lari mungkin,
Pak kodiu : Dah lah, ceepat hidupkan meesin tu, lame-lame di sini kang na’as kite,
Supir : Iye pulak ye, yeelah ( supirpun kembali menghidupkan mesinnya dan kamipun beranjak dari lokasi mengerikan itu).

Begitulah sungai Inhil tepatnya di desa soren. Kec. Gaung. Kab. Indragiri hilir, banyak sekali buaya, seperti yang saya katakan tadi, buaya sungai ya, bukan buaya darat, maklum warga +62 kalau tak diingatkan, suka salah kaprah hehe, maaf.

Baca Juga  Resep Choco Banana Cake

Bukan hanya di kampung saya saja desa Soren, melainkan sungai-sungai di desa lainnya pun juga banyak buayanya, bahkan ada salah satu warga sebagai nelayan menjadi korban ataupun mangsa dari hewan buas tersebut, tidak hanya satu atau dua nelayan saja yang menejadi korba bahkan lebih dari itu.

Nah, dulu juga pernah saya mengalami yang namanya hampir na’as di sungai, ketika itu saya masih duduk di banggku SMP, berhubung saya ini memiliki hobi memancing maka saya memilih menghabiskan waktu libur sekolah itu dengan memancing, waktu itu saya memancing tidak sendiri melainkan berdua bersama teman saya yang bernama Andi. Mancing ikan di sungai menggunakan perahu berukuran kecil dengan persiapan yang dibawa, antaranya peralatan pancing pastinya, lalu nasi bungkus dan satu buah jenis parang.

Tepat pukul 09.00 WIB kami bertolak dari pelabuhan menuju TKP, (tempat pemancingan), awalnya aman-aman saja, buah hasil dari pancingan pun sudah banyak kami dapatkan, seperti ikan baung, udang galah dan lain-lain.

Tapi kami masih merasa hasilnya masih sedikit waktu itu pukul sudah menunjukan jam 12.00 siang, maklumlah manusia, masih bocah tidak ada puas-puasnya. Kami lanjut dangan beralih TKP, perut sudah lapar sambil menunggu pancing disambar ikan kamipun lanjut makan, asik-asik makan sampai habis, sialnya ternyata saya lupa mambawa air minum, hah maklumlah kalau dah mancing lupa seegalanya.

Saya : Mintak minum ndi, aku lupe pulak bawak minum, haha
Andi : Teengoklah dalam tas tu,
Saya : (Ketika saya memeriksa tas tersebut air minum juga tidak ada) mane ndii? Tak ade ha, kosong. (rupanya dia juga lupa membawa air minum) hmmm nasib-nasib.
Andi : minum ae sungai ajelah kite kalau macam tu,
Dari pade tekak kering. Hahahaha.

Saya dan andi pun terpaksa minum menggunakan air sungai. wkwkwkwkwk. Dengan perut kenyang kamipun santai sambil menunggu sambaran ikan, tak lama setelah itu, kami mendengar hempasan gelombang yang cukup besar, membuat kami bingung, melihat di sekeliling tidak ada kendaraan lain yang lewat, hati sudah mulai sedikit panik, ketika saya menoleh ke pinggiran sungai terlihatlah seeekor buaya yang turun dari daratan menuju ke sungai, dan itu membuat kami sangat-sangat panik sebab jaraknya cukup dekat dengan perahu kami, kurang lebih antara delapan sampai sepuluh meter.

Baca Juga  Cobain Tahu Penyeimbang Yin Yang

Andi : Matilah kite, mati, mati, mati ( kocar-kacir)
Saya : Macam mane ni…? ( kebetulan ada pohon keecil di samping perahu, tanpa berpikir panjang kami pun memajat pohon itu penuh ketakutan)
Andi : kitee panjat kayu ni, cepat, ceepatlah pegang tangan aku
Kami berduapun sudah sampai di atas pohon tersebut. Dan sialnya lagi, di atas pohon terseebut ada tawonnya, haha haha haha.
Andi : ape ni yang gigit kepale aku..? sakettt
Saya : aku juge adee yang gigit punggung aku
Andi : set**n, lebah rupe dee, patotlah sakeet

Kocar-kacir lagi, wkwkwkwk, turun naik perahu lagi lupa dengan buaya yang tadi, bergegas dayung pulang dengan kondisi badan sudah bonyok diserang tawon. Sesampainya dipelabuhan teringatlah,,

Andi : kitekan bawak parang,
Saya : iye ye, kalau tau tadi tak susah-susah macam ni manjat, lawan ajee buayee tu deengan parang ni (sok jago pula)
Andi : dah gile kau, itu buaye bukan ayam yang bise dibantai pakai parang, wkwkwkwk, ( teringat kembali) ngapee kite tak mintak tolong tadi..? yeekan..?)
Saye : dah la, kalau dah dalam situasi macam tu semuee bise lupe, besok macing lagi kitee..?
Andi : ampun dah, ni keejee gile, aku belum nak mati lagi, tunggu bebinilah dulu nanti, kalau nak mati, matilah,
Saya & andi 🙁 teertawa bersama) haha haha haha

Seperti itulah ceritanya, dulu yang saya juluki buaya sungai Inhil ini, dulunya aman-aman saja, tidak ada korban jiwa dan sebagainya, akan tetapi karna sering diganggu oleh manusianya maka buaya tersebut menjadi jahat, jadi bukan salah buaya juga sepenuhnya, melainkan juga akibat dari ulah manusia itu sendiri.

Kita sebagai makhluk ciptaan tuhan baik kita sebagai manusia ataupun ciptaan lainnya seperti hewan buas dan sebagainya, pasti akan marah dan menyerang balik apabila merasa terancam, maka hiduplah dengan saling melindungi satu sama lain. Alam tidak akan pernah mengusik kita apabila kita tidak mengusiknya. Di samping itu, alam memang bukan sahabat kita, tetapi juga jangan dianggap sebagai musuh manusia. Terima kasih. Wassalamu’alaikum.

Cerpen ini merupakan kisah nyata yang pernah penulis alami, dan penulis kemas dengan kesan dan pesan agar menjadi pesan dan hiburan tersendiri bagi para pembaca lintashaba semua.

Baca Juga  Cerpen: Dilema Ustadzah Karima

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

ANDS.21

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait