by

Cerpen: Awalazam

Pagi yang cerah. Awan bak kapas putih tersapu angin berarak mengambang di dirgantara. Langit biru cerah membentang luas menaungi bumi. Cahaya mentari pagi lembut membilas kehidupan, memberi kekuatan untuk menjalani hari.

Kicau merdu burung ikut gembira menyambut, saling bertaut harmonis membentuk melodi alam. Orang-orang terlihat sibuk beraktivitas, tenggelam dalam dunianya masing-masing.
Hangat. Uap putih mengepul dari air yang mendidih membentuk kapas sutra tipis, perlahan sirna memudar di cakrawala. Kuseduh kopi hitam dengan ditemani gula manis, menyeruak aroma harum memberi semangat memulai pagi.

Dengan ditemani dua temanku, kami membuka halaman baru memulai hari dengan seduhan dalam sebuah cangkir. Seloroh percakapan saling terlontar diantara kami. Entah buncahan senda gurau atau arus pembahasan sebuah topik, dengan ditemani secangkir kopi menjadi sekapur sirih sebagai pembuka pagi.

“Pernahkah kau berpikir, bahwa sisi timur dari bumi juga merupakan sisi barat,” sebuah pernyataan tiba-tiba keluar dari lisan temanku yang jangkung tubuhnya. Agak unik memang. Kugelengkan saja kepalaku. Ia kembali melanjutkan celotehnya

“Lihat saja matahari itu. Mungkin terlihat terbit dari timur. Namun dari belahan bumi yang lain, matahari yang memang hanya satu itu justru terlihat terbenam di horizon barat,” tertawalah diriku dengan temanmu yang lainnya, yang kulitnya hitam manis. Begitulah pagi kami, silih berganti diisi dengan pemikiran yang sudah lama menari-nari di dalam otak mengalir dengan lembut.

Tanpa terasa, air di masing-masing gelas kami sudah kosong, sebagai pertanda bahwa sesi cengkrama akan berakhir. Dengan kemelut rencana dipikiran, kami beranjak meniti langkah masing-masing, menjalani hiruk pikuk kehidupan.

Langkahku saling bertaut berkesinambungan menaiki tangga. Rasanya pagi ini tanganku ingin menggoreskan tinta di kertas putih. Kuambil benda persegi panjang warna hitam pekat dengan sebuah pena, lantas mendekam di ujung tangga lantai tiga.

Baca Juga  Resep Sambal Tumpang

“Apakah kau tidak lelah teman? Kulihat dari kemarin sibuk sekali kau dengan buku dan pena. Hati-hati nanti kalau kau sampai masuk ke dalam buku,” seloroh seseorang melontarkan canda. Kusunggingkan saja senyum ke arahnya.

Nampaknya memang tidak sopan duduk di tangga yang menjadi tempat lewat anak asrama. Namun tetap ku tak acuh, kembali fokus ke urusanku. beberapa orang lewat dengan cemilan di tangannya sempat menawariku, yang dengan halus ku tolak tawarannya. Rasanya perutku sudah kenyang terisi dengan seduhan kopi.

Hamparan angkasa biru menjadi panorama di spotviewku saat ini. Sepasang burung emprit terlihat mesra bermain di genteng rumah, menganggap dunia serasa milik berdua. Dedaunan nampak hijau disiram cahaya matahari, terlihat gembira menerima bantuan sang baskara untuk memasak pasokan pangan.

“Hufft…” kuhembuskan nafas lega, menghirup segarnya oksigen pagi.Segera kubuka lembaran baru di buku memoriku, menggoreskan tinta hitam yang membekas di permukaan putih. Rasanya ingin kulukiskan pagi ini.

Pagi yang sama, yang setiap hari bergulir ganti dengan gelapnya malam. Pagi yang sama, yang mataharinya terbit menyinari semesta dari horison timur. Pagi yang sama, yang mengawali titah manusia mengukir sejarah baru.

Namun entahlah, sesering apapun pagi menyambut kehidupan, aku merasakan sesuatu di dadaku. Entah itu perasaan senang, lega, atau bersyukur bisa bertemu dengannya. Aku merasa ia selalu bahagia tersenyum membimbing manusia melaksanakan tugas. Sesering apapun ia menebar kebahagiaan, rasanya tidak pernah hati ini lelah menyambut.Sesering apapun, entah sampai kapan.

Inilah pagi yang menemaniku menggoreskan tinta pada halaman baru. Entah sekejam dan sejahat apa dunia mengusik, pagi selalu menyunggingkan seulas senyum, seraya berkata, “Hai kawan, tersenyumlah! Aku akan selalu ada untuk menemanimu. Ayo kita jalani hari ini bersama-sama.”

Baca Juga  Cerpen: "Dunia Lena"

Malam sunyi. Hari cerah telah digantikan oleh kegelapan yang merangkak. Langit nampak kelam menyembunyikan taburan kerlip bintang. Bulan malu menampakkan wajahnya, bersembunyi di balik gumpalan awan hitam.

Angin semilir berhembus melambaikan dedaunan, membelai kulit dengan lembut nan sejuk. Hanya beberapa anak yang terlihat masih berkubang dalam genangan ilmu. Suasana di asrama malam ini memang agak berbeda dari biasanya.

Entah kenapa juga denganku. Malam-malam biasanya aku selalu hanyut terbawa arus, membuka jendela dunia baru. Menyingkap lembar demi lembar kertas dari sebuah buku, meniti satu persatu barisan aksara. Menyerapnya, lalu kusari dan kutuangkan melalui goresan tinta pada kertas catatan pribadiku.

Malam ini perasaan itu terasa menguap entah kemana. Rasa malas dengan manja memelukku, mengajakku ke pangkuannya agar merebahkan diri dan segera menutup mata. Apakah karena efek kurang tidur? Ayolah, sudah berapa banyak waktu yang terbuang hanya karena menuruti nafsu.

Sepertinya malam ini aku memang tidak tertarik menyelam di lautan pengetahuan. Tapi mengapa? Apakah aku sedang dalam keadaan seperti mereka, anak-anak pemalas yang kesehariannya hanya diisi candaan dan lontaran obrolan yang entah berguna menghasilkan sesuatu atau tidak.

Kadang aku sempat heran. Apakah mereka tidak pernah berpikir untuk menghargai jerih payah orang tua mereka, yang setiap harinya membanting tulang dengan keringat mengucur deras hanya demi yang terbaik untuk mereka anak-anaknya, yang diberi tumpuan harapan oleh orangtua mereka agar menjadi pribadi yang sukses, dan mempunyai segudang potensi yang bermanfaat esok hari nanti.

Atau mungkin mereka masih tertelan kegelapan yang masih pekat menyelimuti, belum menemukan lentera pelita tujuan. Mereka belum mendapat sebuah dorongan motivasi yang bahkan bisa didapat dari hal sekecil apapun.

Baca Juga  Cerpen: Assalamualaikum Mak, Abah!

Mungkinkah malam ini aku yang kehilangan lentera pelitaku? Kehilangan sebuah motivasi pendorong untuk terus maju. Mungkin aku harus sedikit menyelam dalam relung fikirku.

Segera kupejamkan mataku, mencoba memasuki secercah cahaya yang terlihat silau di depanku. Kuambil ancang-ancang, lalu sekuat tenaga kuhempaskan tubuhku memasuki kilau cahaya tersebut Silau.

Mataku tidak bisa menangkap penglihatan, masih putih di sekelilingku. Kutunggu sejenak, berangsur-angsur pandanganku dapat melihat kembali keadaan sekitarku. Mataku tertuju pada sosok lelaki yang memakai jas putih dengan stetoskop tergantung di lehernya.

Rautnya terlihat berkonsentrasi, bersitegang menangani seseorang di depannya yang tergeletak lemas dengan banyak selang infus menjuntai bak tentakel. Segala upaya ia kerahkan demi mempertahankan kelangsungan hidup pasien di depannya tanpa menyerah, Ia akhirnya berhasil menyambung nyawa seseorang. Senyum syukur dengan hembusan nafas lega keluar dari para dokter memenuhi ruangan darurat itu.

Wush!

Tempat di sekelilingku tiba-tiba berubah, digantikan sebuah ruang dengan ratusan jajar buku tertata memenuhi tiap sudut. Seseorang terlihat konsentrasi mengetik di depan sebuah komputer. Ia terlihat mencoba menuangkan buncahan pikiran yang meluap dari otaknya.

Tiba-tiba aku merasakan sengatan listrik mengalir menjalar di permukaan otakku, seperti ada sesuatu yang kembali. Yeah, sebuah keinginan kuat menjadi perantara Tuhan menyambung nyawa manusia. Atau mungkin menjadi seseorang yang menuangkan ide dan karyanya dalam barisan aksara.

Sepertinya keinginan-keinginan itu bangkit kembali di dalam relung hatiku, mendorongku kembali untuk lebih dalam menyelami samudra pengetahuan, menyimpannya dan memanfaatkannya untuk membantuku terbang menggapai bintang impian.

Tulisan ini merupakan naskah lomba menulis cerpen yang disenggarakan oleh redaksi Lintashaba.com. Panitia lomba maupun redaksi tidak mengedit naskah yang masuk.

Comment

Berikan Komentar Untuk Tulisan Ini

Artikel Terkait